Halo!

Sepasang Cermin Naga - Chapter 93

Memuat...
Sepasang Cermin Naga

Chapter 93

Akhirnya ayah sadar. Semua kuceritakan tanpa kukurangi atau kutambahi. Ketika ayah tahu bahwa anak laki-laki itu adalah Dailiong, puteramu dengan mendiang isterimu, barulah ia mendusin dan mengakui kesalahannya. Sekarang ayah menyuruhmu menghadap, Twako. Kau diminta membicarakan diriku dengan meminangnya.

"Ayahmu merestui? Benar-benar merestui?"

"Ya, dan kau kutunggu-tunggu, Twako. Eh, mana Dailiong?"

"Kutitipkan pada seseorang. Tak cocok rasanya ke sini dengan seorang anak!"

"Hm, baiklah. Kalau begitu cepat, Twako. Masuk dan menghadaplah, Ayah di dalam!"

Kim-mou-eng berdebar. Tiba-tiba dia memasuki sesuatu yang asing, meminang anak orang. Dulu dengan mendiang isterinya tak ada pinang-meminang. Mendiang isterinya dan dia kebetulan adalah orang-orang yang sebatangkara, mereka juga suheng dan sumoi, kakak dan adik seperguruan. Maka, ketika Hu Beng Kui kini memintanya untuk datang menghadap dan membicarakan pinangan itu, mendadak muka pendekar ini merah dan gugup. Sudah menjadi bapak dari satu anak, namun terasa seolah jejaka saja. Lucu, Pendekar Rambut Emas itu maju mundur!

Ketika Swat Lian terkejut dan heran melihat tingkahnya, gadis itu menegur, "Ada apa? Kenapa tidak segera ke dalam?"

"Hm, aku... aku tegang, Lian-moi. Aku berdebar!"

"Berdebar karena takut Ayah menyerangmu?" Swat Lian salah tangkap.

"Ya, eh... begitulah," Kim-mou-eng berbohong. "Aku takut ayahmu menyerang, Lian-moi. Barangkali dia pura-pura saja."

"Tidak, aku tahu benar, Twako. Ayah sungguh-sungguh dan serius. Sudahlah, kau masuk dan hadapi ayahku!"

"Tidak kauantar?"

"Ih!" Swat Lian tiba-tiba semburat. "Mendengarkan pinangan orang malu rasanya, Twako. Aku... aku jengah!"

"Baiklah, kau di sini, Lian-moi. Biar kuhadapi ayahmu!"

Kim-mou-eng yang menetapkan hati menekan debarannya, akhirnya berkelebat dan meninggalkan gadis itu, lenyap di dalam. Swat Lian pun tersenyum simpul. Ada bahagia dan degup kencang yang membuat mukanya semburat merah. Ada kebahagiaan dan kesenangan di situ. Dia dilamar orang, kekasih yang dicintainya!

Ketika gadis itu menunggu dengan jari-jari bergerak ke sana kemari dengan gelisah, Kim-mou-eng sudah di dalam dan berhadapan dengan jago pedang itu, jago tua yang dulu bertempur habis-habisan dengannya di Himalaya.

"Kau sudah datang?" Suara itu terdengar dingin dan menyeramkan bagi telinga Kim-mou-eng. "Bagus, dan duduklah, Kim-mou-eng. Katakan apa maksudmu datang ke mari!"

Kalimat dan pertanyaan-pertanyaan itu mengandung banyak arti bagi Kim-mou-eng. Hu Beng Kui duduk membelakanginya, menghadap jendela, tahu kedatangannya tapi tak mau melihat. Entah dikarenakan jago pedang itu masih marah kepadanya atau tidak, Kim-mou-eng tak tahu. Lututnya gemetar dan aneh sekali Pendekar Rambut Emas ini merasa kelu, lidahnya tiba-tiba berat dan susah diajak bicara. Ketika Hu Beng Kui mendengus dan kembali mengeluarkan pertanyaannya yang dingin, Pendekar Rambut Emas maju dan membungkuk.

"Maaf, aku kemari karena Swat Lian, Hu Taihiap. Datang untuk... untuk meminangnya."

Kursi putar itu bergerak. Hu Beng Kui tahu-tahu memutar kursinya menghadapi Kim-mou-eng, sepasang mata yang berkilat dan bercahaya mengejutkan Pendekar Rambut Emas. Ketika Pendekar Rambut Emas tertegun dan terkesiap oleh mata lawannya, si jago pedang membentak dan mengepalkan tinju.

"Kim-mou-eng, kau datang bukan untuk meminta maaf dulu? Kau berani mati meminang anak orang dengan cara begini?"

"Maaf," Pendekar Rambut Emas berdegup. "Aku tak mengerti maksudmu, Taihiap. Kenapa harus minta maaf dan..."

"Bedebah! Kau membawa-bawa anak orang tanpa permisi, tidak perlu minta maaf? Kau membelakangi aku berdua dengan puteriku, tidak perlu meminta maaf? Aku orang tua terhina oleh sikapmu, Kim-mou-eng. Aku tersinggung dan terus terang menganggapmu pemuda liar yang tidak tahu aturan!"

Kim-mou-eng kaget.

"Dengar," jago pedang itu menggigil. "Orang melaporkan kepadaku rantang-runtang kalian, Kim-mou-eng. Orang memberitahukan kepadaku hal-hal yang membuat aku hampir membunuh anakku sendiri. Kau bangsa liar biadab, kau pemuda Tatar tak tahu sopan!"

Kim-mou-eng pucat. Disinggung-singgungnya kebangsaan dan kesukuannya tiba-tiba membuat pendekar ini menggigil. Kim-mou-eng merah padam dan hampir dia menerjang si jago pedang itu. Hu Beng Kui terlalu tajam dan kasar, sikapnya tidak bersahabat. Tapi teringat Swat Lian dan betapa dia amat mencintai gadis itu, akhirnya Kim-mou-eng menjura dan melipat punggungnya dua kali lipat.

"Maaf, aku terlupa semuanya itu, Hu Taihiap. Aku bersalah dan sekarang kusadari. Memang aku belum meminta izin, dan biarlah kini kuminta maaf secara sungguh-sungguh kepadamu. Maafkan aku!"

Namun, Hu Beng Kui yang tertawa mengejek dan menepuk lengan kursi ternyata tidak mau sudah menghinanya.

"Baik, enak saja kau meminta maaf, Kim-mou-eng. Kalau semua pemuda melakukan ini, tentu banyak gadis-gadis yang dibawa pergi dan si pemuda minta maaf belakangan. Hm, kini kutahu kabar di luaran itu. Bangsa Tatar rupanya kurang beradab dan hal itu menurun padamu. Baiklah, lalu apa maumu sekarang? Kau ingin mengajakku bertanding dan setelah itu membawa lari puteriku?"

"Hu Taihiap!" Pendekar Rambut Emas akhirnya membentak. "Omonganmu kian tajam dan tidak enak didengar. Kenapa kau membawa-bawa kesukuan dan bangsaku? Apa hubungannya mereka dengan diriku? Aku datang untuk meminang anakmu, Hu Taihiap. Dan tak usah kau menyakiti hatiku dengan kata-kata tajam!"

"Ha ha, ini cara Kim-mou-eng meminang anak gadis. Bagus, bagus sekali, Kim-mou-eng. Sungguh kian menunjukkan keliaran dan kekurangajaranmu! Heh, beginikah kau mengharap puteriku sebagai pendamping, Kim-mou-eng? Beginikah kau berhadapan dengan calon mertuamu?"

Kim-mou-eng tertegun.

"Keparat, puteriku bukan perempuan sembarangan, Kim-mou-eng. Seharusnya kuadakan sayembara untuk bakal suaminya. Tapi karena puteriku telah kaucemari dan nama baikku tersinggung, biarlah sayembara kutiadakan dan kau mendapat keistimewaan!"

Ketika Pendekar Rambut Emas itu terbelalak dan merah mukanya, Hu Beng Kui mengetukkan pipa cangklongnya, yang entah didapat dari mana.

"Kau tahu siapa yang kaulamar? Kau tahu siapa dirimu dan siapa aku?"

"Maaf, aku tak mengerti maksud tujuanmu, Hu Taihiap. Sebaiknya berterus terang saja dan katakan apa maumu!"

"Ha-ha, bagus, Kim-mou-eng, cocok sekali. Baiklah, kukatakan padamu apa maksudku!"

Memutar pipa cangklongnya dua kali di antara telunjuk dan jari tengah, jago pedang itu mendesis, tiba-tiba menghunjam dengan kata-katanya yang amat tajam dan berkarat.

"Kau tentu tahu bahwa aku adalah Bengcu. Swat Lian adalah puteri seorang Bengcu dan sebagai gadis dari seorang pemimpin dunia persilatan, tentunya kau harus menghargai diri puteriku di atas gadis-gadis lain, bahkan puteri kaisar sekali pun! Sedang kau, apa kedudukanmu, Kim-mou-eng? Kau hanya pemimpin dari sebuah bangsa liar, bangsa yang masih setengah biadab. Dan kau pun duda! Hee, mana ada keadilan di sini, Kim-mou-eng? Anakku masih seorang gadis, sedang kau duda! Emas kawin apa yang bisa kauberikan untuk menghargai puteriku sebagai calon isterimu setinggi-tingginya? Penghargaan dan penghormatan apa yang bisa kau berikan kepada Swat Lian? Jawab, aku ingin tahu pendapatmu, Kim-mou-eng. Sebelum puteriku kaurendahkan dengan kedudukanmu yang tidak sepadan itu!"

Kim-mou-eng tergetar. Tiba-tiba dia terhuyung dan pucat pasi mendengar kata-kata Hu Beng Kui ini. Dia dicap sebagai pemimpin suku biadab, lagi pula duda. Tak seimbang dengan puteri Hu Taihiap itu yang masih gadis! Ketika dia terhuyung dan seolah mendengar petir menggelegar di dalam telinganya, jago pedang itu bangkit berdiri dengan mata bersinar-sinar, mengejek.

"Jawab, apa emas kawinmu terhadap puteriku, Kim-mou-eng. Penghargaan apa yang bisa kauberikan kepada puteriku sebagai tanda cinta dan hormatmu!"

Kim-mou-eng gemetar.

"Ha-ha, kau tak bisa bicara? Kau menyadari kedudukanmu sebagai duda yang kini hendak mendapatkan seorang perawan?"

Pendekar Rambut Emas ini pun menggigil. "Ayo, jawab kepadaku, Kim-mou-eng. Kehormatan dan penghargaan apa yang bisa kau berikan kepada puteriku!"

"Hmm..." Kim-mou-eng akhirnya bicara, mirip geraman seekor harimau buas. "Tak kusangka kau gila harta dan kedudukan, Hu Taihiap. Tak kusangka kau hendak menjual puterimu dengan permintaan emas kawin yang agaknya selangit! Kau menghina dan menyinggung diriku. Baiklah, demi cintaku kepada Swat Lian, tentukan berapa peti emas yang harus kuberikan sebagai emas kawin. Sebutkan berapa kereta yang harus kuisi penuh dengan sutera! Nah, aku sanggup memenuhi permintaanmu, Taihiap. Tentukan dan sebut berapa jumlahnya!"

Kim-mou-eng marah bukan main, tentu saja tersinggung dan terhina dengan semua kata-kata itu. Dia tak takut ancaman emas kawin yang selangit, dia telah memiliki harta karun yang dulu diberikan kaisar kepadanya. Jumlah harta benda yang amat banyak! Tapi Hu Beng Kui yang tiba-tiba tertawa bergelak dan mundur bertolak pinggang, tiba-tiba berseru.

"Hee, kau sanggup memenuhi emas kawin yang kuminta, Kim-mou-eng? Kau tak ingkar janji dan menarik ludahmu?"

"Katakan, tak usah banyak cakap, Hu Taihiap. Aku berjanji dan akan melaksanakan permintaanmu!"

"Bagus, haaa haaa, bagus sekali. Langit dan Bumi menjadi saksi, Kim-mou-eng. Kalau kau ingkar, semoga setan dan iblis mengutukmu! Nah, dengarkan. Aku tak butuh emas permata, aku tak butuh emas atau sutera. Harta dan kekayaanku di sini lebih dari cukup. Emas kawin yang kuminta ada dua buah. Kalau kau sanggup dan berjanji memberikannya, baiklah kusebutkan di sini. Pertama, yang pertama, sederhana saja. Berikan Lu-ciang-hoat dan Cui-sian Gin-kangmu itu. Sedang yang kedua..."

"Apa?" Kim-mou-eng mencelat, kaget sekali. "Lu-ciang-hoat? Dan Cui-sian Gin-kang?"

"Ya, itu emas kawinnya, Kim-mou-eng."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment