Halo!

Sepasang Cermin Naga - Chapter 94

Memuat...
Sepasang Cermin Naga

Chapter 94

"Dan ingat janjimu kepadaku!"

"Tapi, ah!" Kim-mou-eng pucat dan merah padam berganti-ganti. "Kau licik dan curang, Hu-taihiap. Itu... itu tak mungkin kuberikan!"

"Hm!" Jago pedang itu tiba-tiba tertawa mengejek. "Kalau begitu, kau tak dapat menghargai puteriku, Kim-mou-eng. Kau tak dapat memberikan apa yang paling berharga dari yang kau punya. Kalau begitu, cintamu terhadap puteriku kurang sungguh-sungguh!"

"Tidak, tapi... ah!" Pendekar Rambut Emas itu bingung. "Emas kawin yang kau minta di luar kebiasaan, Hu-taihiap. Kau mau mengakali aku!"

"Siapa yang mengakali? Anakku hanya patut didapatkan oleh orang yang benar-benar mencintainya, Kim-mou-eng. Kalau begini saja kau tak mampu, apalagi kalau puteriku meminta jiwamu!"

Kim-mou-eng tertegun. Jago pedang itu sudah duduk lagi di kursinya, pipa cangklong diisap, dan Hu Beng Kui pun kembali memutar kursinya menghadap jendela. Tampak bahwa jago pedang ini menjadi acuh dan dingin setelah Kim-mou-eng tak mau menepati janji. Itu memang berat. Ketika Pendekar Rambut Emas itu terbelalak dan marah memandang jago pedang ini, Hu Beng Kui mengusir dengan menggerakkan pipanya tanpa menoleh.

"Kau pergilah. Aku tak mau bercakap-cakap lagi dengan orang yang tak dapat dipegang mulutnya. Lebih baik kau jauhi pula putriku daripada mendapatkan suami yang tak dapat tepat janji."

Kim-mou-eng terpukul. Hebat dan tajam sekali apa yang dikatakan jago pedang itu, jauh lebih hebat dan tajam daripada jika ia dibunuh. Kim-mou-eng menggigil dan marah, tapi juga bingung menghadapi jago tua itu. Kalau dia menyerang, tentu Hu Beng Kui akan mengejeknya sebagai pemuda liar yang tidak tahu sopan santun karena lamarannya ditolak lalu marah-marah. Ungkapan orang akan kebiadaban bangsa Tartar akan semakin menonjol, sehingga ia jadi serba salah. Namun, karena kemarahan yang tak dapat ditekan, Pendekar Rambut Emas itu meremas hancur sebuah patung singa.

"Hu-taihiap, kau licik dan curang. Aku bukan orang yang tak dapat menepati janji, tapi baiklah kupikirkan dulu permintaanmu itu. Aku datang sebulan lagi!"

"Hm, kenapa sebulan? Kalau tidak sanggup, bilang saja tidak sanggup, Kim-mou-eng. Aku tak perlu menunggu anak gadisku menjadi perawan tua. Kalau kau berat, aku tidak memaksa. Pergilah dan jangan temui puteriku lagi!"

"Wut!" Kim-mou-eng yang tak tahan lagi berkelebat pergi dan lenyap. Ia meninggalkan jago pedang itu dengan rasa marah sekaligus gemas karena yang diminta Hu Beng Kui bukanlah sembarang emas kawin. Ia terlanjur menyanggupi karena mengira yang diminta adalah emas permata sebagaimana layaknya orang melamar anak gadis.

Ketika Pendekar Rambut Emas itu meninggalkan lawannya dan si jago pedang tenang-tenang saja mengisap cangklongnya, kebiasaan yang akhir-akhir ini mulai diminati, Swat Lian yang menunggu di belakang menjadi tak sabar. Tadinya, gadis ini girang dan senang karena telah dilamar oleh kekasihnya tercinta, Kim-mou-eng yang hebat dan gagah perkasa. Tapi ketika sejam ditunggu tak ada apa-apa dan Kim-mou-eng juga tak kembali ke taman, gadis ini gelisah dan tak nyaman. Dia tak mendengar suara-suara ribut pertempuran, jadi ayahnya dan kekasihnya memang tidak saling menyerang. Namun, ketika dua jam ditunggu kekasihnya tak muncul juga dan sore pun sudah berganti gelap, gadis ini bangkit berdiri dan mondar-mandir. Sejam kemudian lewat lagi dan Swat Lian benar-benar gelisah; akhirnya ia tak tahan dan berkelebat ke kamar ayahnya.

Begitu melihat ayahnya duduk menghadap jendela dan kursi putar itu digerakkan, gadis ini tertegun dan bertanya, "Ayah, mana Kim-twako?"

Kursi putar itu bergerak. "Pergi." Jawaban ayahnya hambar dan enteng. "Bocah she Kim itu tak dapat memenuhi emas kawinnya, Lian-ji. Malu dan akhirnya pergi."

Swat Lian pucat. "Pergi? Tanpa memberitahuku?"

"Ya, Kim-mou-eng malu padamu pula, anak baik. Biarlah, tak usah dipikir dan cari saja yang lain."

"Ayah...!"

"Hm!" Jago pedang itu bangkit berdiri dan kini memandang tajam puterinya. "Kim-mou-eng tak sungguh-sungguh mencintaimu, Swat Lian. Lebih baik tak usah pikirkan dia dan lupakan kisahmu!"

"Tidak!" Gadis ini menangis, tiba-tiba mencengkeram lengan ayahnya. "Pasti ada sesuatu yang terjadi, Ayah. Kim-twako mencintaiku sungguh-sungguh dan tak mungkin aku melupakan dia. Coba ceritakan padaku apa pembicaraan kalian!"

"Tak ada bicara apa-apa, semuanya kosong," jago pedang itu masih hambar. "Kim-mou-eng tak dapat memenuhi emas kawinnya, Lian-ji. Dan dia pun pergi."

"Apa yang Ayah minta?"

"Sebuah kehormatan untukmu."

"Apa?"

"Hm, perlukah kau tahu?"

"Tentu, aku yang bersangkutan di sini, Ayah. Aku yang berkepentingan. Ceritakan padaku apa permintaanmu dan bagaimana Kim-mou-eng pergi!"

Hu-taihiap ragu.

"Kenapa Ayah diam?" Swat Lian mendesak. "Ceritakan padaku, Ayah. Atau aku pergi menyusulnya!"

"Lian-ji!"

"Biar, kau mau berahasia, Ayah. Kau tak jujur. Kau mau menyembunyikan persoalanmu di sini!"

Swat Lian yang menarik lepas tangannya dan mau pergi tiba-tiba disambar ayahnya dan disuruh duduk. "Eh, nanti dulu. Dengarkan!"

Hu Beng Kui terpaksa menceritakan permintaannya. Mendengar itu, puterinya terbelalak, bangkit berdiri, dan Swat Lian tiba-tiba marah. Ketika sang ayah selesai bercerita, gadis ini berseru, "Ayah, kau rupanya licik. Kau curang dan ada maksud di sini. Kau... ah, tahu aku... Kau rupanya tak mau kalah dengan Kim-twako dan menghendaki Lu-ciang-hoat dan Cui-sian Ginkang itu. Kau ingin menang sendiri dan tidak menghiraukan puterimu. Kau egois!"

Swat Lian yang marah membanting-banting kakinya tiba-tiba berkelebat, namun kembali disambar ayahnya.

"Nanti dulu!" Hu Beng Kui terkejut. "Kenapa kau menyalahkan aku? Kenapa kau bilang aku egois?"

"Tentu saja!" Gadis itu membanting kaki kirinya. "Kau pura-pura tidak tahu betapa Kim-mou-eng berat memberikan ilmunya, Ayah. Kau bisa malang-melintang dan mengalahkannya lagi. Kau ingin di atas Kim-mou-eng dan tak mau orang lain mengunggulimu. Kau egois dan tidak mempedulikan nasibku!"

"Eh, kenapa dengan nasibmu? Bukankah dengan begitu Kim-mou-eng membuktikan cintanya yang kurang sungguh-sungguh kepadamu? Aku tak mau dikata begini, Swat Lian. Aku meminta karena untuk kepentinganmu kelak!"

"Tidak bisa, Ayah bohong! Ayah berlindung di balik semua kata-kata itu. Kalau Kim-twako marah-marah dan tidak mau menikahiku, maka hancurlah diriku!"

"Kenapa begitu?"

"Lihat!" Gadis ini marah. "Kau tahu sendiri orang luar membicarakan kami, Ayah. Orang luar telah mencap diriku sebagai kekasih Kim-mou-eng, isteri atau calon isteri Kim-mou-eng. Kalau sekarang Kim-mou-eng marah dan membiarkan aku, bukankah namaku bakal hancur dan merana? Orang akan menganggapku sebagai gadis tak tahu malu, Ayah. Mereka bisa menghinaku dan merendahkan diriku!"

"Akan kubunuh orang yang bicara begitu!" Hu Beng Kui membentak dengan mata bersinar-sinar. "Tak ada orang yang berani mengataimu seperti itu, Lian-ji. Kecuali kalau... kau sudah berhubungan dengan Pendekar Rambut Emas itu!"

Swat Lian terbelalak. "Ayah mengira kesucianku ternoda? Ayah mau menganggapku..."

"Tidak, dengar dulu," sang jago pedang menahan kata-katanya yang hampir terlanjur. "Aku tidak menuduhmu begitu, Swat Lian. Melainkan justru dengan kenyataan ini kita tak perlu takut omongan orang. Kau masih perawan, kau bukan janda atau gadis ternoda. Tak perlu takut omongan orang karena kau bukan sisa Kim-mou-eng!"

"Benar, tapi aku tak mau mencari orang lain, Yah. Aku hanya ingin menjadi isterinya dan mencintai Kim-twako!"

"Itu yang tidak benar. Kim-mou-eng mencintaimu setengah hati, anak baik. Pendekar Rambut Emas itu tak sungguh-sungguh dan hanya pura-pura saja..."

"Tidak, kau yang tak benar, Yah. Aku yakin dan tahu bahwa Kim-twako mencintaiku sungguh-sungguh. Kaulah yang menjadi penghalang dan hanya mementingkan dirimu saja. Kau tak mau kalah dengan Kim-mou-eng dan sengaja ingin merampas ilmunya. Kau sombong dan tidak memperhatikan anakmu. Kau egois!"

Swat Lian yang tersedu-sedu dan sudah dicengkeram ayahnya tiba-tiba dibentak dan dihardik. "Swat Lian, omongan apa ini? Kaukira aku tak memperhatikan kebahagiaanmu? Bodoh! Justru dengan itu aku memperhatikan dirimu, anakku. Aku tak mau kau direndahkan Kim-mou-eng dan kelak disia-siakannya. Aku sengaja meminta ilmunya itu agar kau tahu rahasianya, kelak tidak di bawahnya dan dapat menghajarnya kalau dia main gila! Kau kira apa lelaki zaman sekarang? Tak dapat dipercaya, anak baik. Suka main gila dan mencari wanita lain. Nah, kalau dia menyerahkan dua ilmunya itu dan kita di atasnya, maka dia tak berani main-main terhadapmu dan namaku pun sebagai bengcu tetap terjaga. Masa aku harus kalah dengan menantuku?"

Swat Lian tertegun.

"Dengar, kalau Kim-mou-eng betul mencintaimu, seharusnya tak perlu berat dia menyerahkan ilmunya, anakku. Apa pun sanggup diberikannya padamu asal dia mencintaimu sungguh-sungguh."

"Tapi Ayah hendak mempelajari ilmu itu!"

"Benar, karena kedudukanku sebagai bengcu, Swat Lian. Kalau dia main gila dan kelak menghinaku, maka aku dapat menghajarnya dan dia tak akan berkutik. Bukankah sebagai mantu dia harus menghormat mertuanya?"

Swat Lian bingung. Gadis ini jadi diombang-ambingkan oleh kata-kata ayahnya. Dia tahu bahwa ayahnya tak mau kalah dengan Kim-mou-eng, hal yang ternyata sudah diakui pula oleh ayahnya. Tapi karena takut Kim-mou-eng meninggalkannya dan dia bisa mati kurus, gadis ini menangis dan tersedu-sedu kembali.

"Eh, hapus air matamu," sang ayah kembali membujuk. "Kim-mou-eng itu sudah mendapat kehormatan besar menerima dirimu, Swat Lian. Dia itu pemimpin suku liar dan duda pula. Besar keberuntungannya mendapatkan kau yang masih gadis dan perawan. Bukankah duda mendapat gadis berarti untung si duda, rugi si gadis? Nah, diminta ilmunya berarti kerugian si gadis terbayar, anak baik."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment