Halo!

Sepasang Cermin Naga - Chapter 95

Memuat...
Sepasang Cermin Naga

Chapter 95

Juga sekaligus sebagai penguji apakah Kim-mou-eng itu sungguh-sungguh mencintaimu. Jangankan hanya ilmu, jiwa pun jika perlu sanggup dikorbankan.

"Tapi Kim-mou-eng itu rupanya gagal!" Swat Lian menggigil.

"Apakah kau tidak percaya ayahmu?" Akhirnya, orang tua ini menepuk pundak anaknya. "Pergi dan tenangkan dirimu, anak baik. Renungkan dan pikir baik-baik kata ayahmu ini. Kalau Kim-mou-eng betul mencintaimu, seharusnya dia tak menampik!"

Swat Lian akhirnya mengguguk. Betapapun, dia jadi cemas dan khawatir melihat ketegaran ayahnya. Ayahnya tak mau tahu perasaannya dan tetap bersikeras. Emas kawin yang diminta memang aneh, tapi Swat Lian berusaha mengerti. Ayahnya adalah seorang jago dan juga bengcu, nafsunya pada ilmu silat memang besar dan meluap. Ayahnya itu memang tak mau dikalahkan oleh siapa pun, kecuali Bu-beng Sian-su.

Karena berkali-kali ayahnya memprovokasi dengan menyatakan Kim-mou-eng tak mencintainya dengan sungguh-sungguh lantaran tidak mau memberikan Cui-sian Gin-kang dan Lu-ciang-hoat, akhirnya gadis ini bingung dan meloncat pergi, menangis di kamarnya sementara Hu Beng Kui membiarkan. Biarlah anak gadisnya itu menumpahkan air mata dan merenung. Swat Lian memang harus mengerti dan mau melihat semuanya itu.

Kim-mou-eng juga dianggap ingkar janji karena pemuda itu tak menepati kata-katanya. Hu Beng Kui juga menekankan hal itu pada putrinya, sehingga Swat Lian semakin bingung. Namun, karena cinta adalah kekuatan yang tak terhitung, akhirnya Swat Lian meninggalkan ayahnya dan minggat menuju ke utara untuk menemui kekasihnya.

Di sana, mereka bertemu dan akhirnya gadis ini mengguguk. Kim-mou-eng, yang sedang termenung dan duduk mengerutkan kening, terkejut melihat kedatangan putri Hu Beng Kui ini. Swat Lian menubruk dan tersedu-sedan di situ. Ketika Kim-mou-eng tertegun dan mengusap rambutnya dengan lembut, langsung saja gadis ini menegur, "Kim-twako, kenapa kau meninggalkan ayah tanpa memberi tahu kepadaku? Kenapa diam-diam pergi meninggalkan aku?"

"Maaf," Kim-mou-eng tergetar. "Aku dan ayahmu... aku..."

"Aku sudah tahu, Twako. Ayah memang terlalu. Tapi seharusnya kau tak meninggalkan aku begitu saja hanya karena ayah!" Swat Lian yang matanya tajam bersinar-sinar memandang kekasihnya, lalu bangkit berdiri. "Apakah kau hendak memutuskan hubungan kita? Apakah kau tak mencintaiku lagi?"

Kim-mou-eng terkejut. "Lian-moi, jangan salah paham. Aku tidak memutuskan hubungan kita, melainkan karena aku dan ayahmu tak ada kecocokan. Ayahmu meminta emas kawin yang aneh. Dia..."

"Aku tahu!" Gadis ini memotong. "Ayah menghendaki Lu-ciang-hoat dan Cui-sian Gin-kang-mu, Twako. Ayah tak mau kau mengalahkannya dan karena itu menginginkan ilmumu. Dia ingin menjadi jago dan tak mau memedulikan perasaan putrinya!"

"Hm," Kim-mou-eng girang karena merasa didukung. "Kalau kau sendiri bagaimana, Lian-moi? Apakah aku harus menyerahkan dua ilmuku yang paling tinggi itu?"

Swat Lian tertegun. "Terserah kau, Twako," suaranya lirih. "Ayah bilang bahwa kesungguhan cintamu sedang diuji. Aku pribadi percaya cintamu. Tapi ayah, ah!" Gadis ini menutupi mukanya, menangis. "Apa yang harus kulakukan, Twako? Kenapa kalian berdua laki-laki tak mau menghiraukan perasaan wanita dan masing-masing tak mau mengalah? Apakah aku harus mati di antara kalian berdua?"

"Hm!" Kim-mou-eng terharu dan menyambar kekasihnya. "Hal itu tak boleh terjadi, Lian-moi. Aku mencintaimu dan tetap mencintaimu! Aku hanya bingung dan tak senang melihat sikap ayahmu!"

"Benar, aku juga tak setuju, Twako. Tapi kupikir ayah ada benarnya. Kenapa kau keberatan memberikan ilmumu? Bukankah aku adalah calon istrimu juga? Kau dan ayah kelak menantu dan mertua, Twako. Kukira tak perlu berat memenuhi permintaannya kalau betul-betul kau mencintai diriku!"

"Ha," Pendekar Rambut Emas tertegun. "Ayahmu keras dan aneh, Lian-moi. Kadang-kadang dia dapat melakukan sesuatu yang di luar dugaan. Aku khawatir dia..."

"Begini saja," Swat Lian memotong. "Bagaimana kalau kita bersikap adil? Kau berikan ilmumu kepada ayah, Twako. Dan aku juga akan memberikan ilmu ayah kepadamu, Jing-sian-eng dan Khikang itu!"

Kim-mou-eng terkejut. "Kau tak setuju? Masih kurang?"

"Tidak!" Pendekar Rambut Emas tiba-tiba terkejut melihat pengorbanan kekasihnya. "Itu adil, Lian-moi. Aku setuju! Tapi, ah..." Pemuda ini mengerutkan kening, teringat hinaan Hu Beng Kui bahwa dia adalah seorang duda sementara Swat Lian adalah gadis. Duda mendapatkan gadis! Ketika Kim-mou-eng maju mundur mau menyatakan ini dan wajahnya tiba-tiba memerah, Swat Lian mencekal lengannya dan mengguncang.

"Apalagi? Kau masih disulitkan ayah?"

"Hm," tiba-tiba dengan halus Pendekar Rambut Emas melepaskan genggaman kekasihnya, memandang lembut namun juga tajam. "Kenapa kau lakukan semuanya ini, Lian-moi? Tidakkah kau menyesal jika kelak ayahmu atau orang lain mengatai kita?"

"Mengatai bagaimana?"

"Aku... aku hanya seorang pemimpin bangsa liar, juga duda! Kukira tak pantas mendapatkan dirimu yang putri seorang bengcu dan juga perawan!"

Swat Lian terkejut. Tiba-tiba dia teringat ucapan ayahnya. Ayahnya memang berkata begitu, dan kini Kim-mou-eng tampaknya tersinggung. Kekasihnya itu tampak terpukul dan terhina karena ayahnya memang kasar dan terlampau tajam berbicara. Tapi Swat Lian yang bebas memandang, kembali memegang lengan itu dan menggeleng tegas.

"Tidak, aku tak memedulikan segala kata orang, Twako. Aku tak peduli kau pemimpin bangsa liar atau tidak, tak peduli kau duda atau tidak. Yang kupentingkan di sini adalah kita saling mencinta dan kau tak terikat wanita lain. Itu saja!"

"Kau tak menyesal?"

"Kenapa? Untuk apa?"

"Hm, kau putri seorang bengcu yang terhormat, Lian-moi. Kedudukanmu lebih dihargai orang daripada aku!"

"Ah, aku menikah bukan dengan kedudukan, Twako. Aku menikah dengan dirimu, pribadimu. Utuh sebagai Kim-mou-eng! Apakah kau kira aku gila kedudukan dan nama? Apakah kau kira aku ingin menikah dengan orang yang tak kucinta? Tidak. Sekarang tinggal kau, Twako. Kalau kau benar mencintaiku, seharusnya kau berpikir dewasa dan tidak mengurusi embel-embel segala macam hal tadi. Lagipula, kau sebenarnya tak rendah; kau murid Bu-beng Sian-su yang namanya di atas ayah! Mau apalagi?"

Kim-mou-eng terharu. Swat Lian telah memeluknya dan terisak di dadanya. Jelas gadis ini tak suka membicarakan hal-hal yang tak ada hubungannya dengan cinta. Ketika dia balas memeluk dan mencium rambut itu, Swat Lian bicara gemetar, "Untuk omongan ayah, harap maafkan dia, Twako. Pandanglah mukaku dan jangan disimpan di hati. Aku menyesal dan tak ingin kau tersinggung."

"Baiklah, terima kasih, Lian-moi. Dan sekarang juga dapat kuputuskan bahwa aku akan memenuhi janjiku kepada ayahmu."

"Emas kawin yang aneh itu?"

"Ya."

"Kau mau memberikan Lu-ciang-hoat dan Cui-sian Gin-kangmu?"

"Ya, demi kau, Lian-moi. Ingin kutunjukkan pada ayahmu bahwa aku benar-benar mencintaimu!"

"Ooh!" Swat Lian menangis, tapi gembira bukan main. Ia mendekap dan menciumi dada kekasihnya. Tentu saja ini keputusan yang membuatnya bahagia bukan kepalang. Urusan sekarang sudah beres, gadis ini merasa plong. Ketika dia berkata bahwa Khi-bal-sin-kang dan Jing-sian-eng akan diberikan sebagai gantinya, tiba-tiba Kim-mou-eng mendorongnya halus dan tersenyum.

"Tidak usah, aku tak perlu mendapatkan ilmu ayahmu, Lian-moi. Kalau dia ingin mempelajari Lu-ciang-hoat dan Cui-sian Gin-kangku, biarlah itu kuberikan dan aku tak perlu imbalannya. Aku tahu bahwa ayahmu memang tak mau kalah denganku."

"Tapi itu tak adil," Swat Lian terbelalak. "Ayah bisa mengalahkanmu, Twako. Dia bisa menggabung dua ilmunya sendiri dengan ilmumu itu!"

"Tapi ada kau di sini, bukan?" Kim-mou-eng tersenyum. "Sudahlah, ayahmu hanya tak mau kalah, Lian-moi. Dan aku juga tak bermaksud mengunggulinya. Suhulah yang dulu memberikan Lu-ciang-hoat dan Cui-sian Gin-kang kepadaku, entah untuk maksud apa."

Ketika Swat Lian tertegun dan Kim-mou-eng meraih pinggang ramping itu, tiba-tiba Pendekar Rambut Emas ini telah mencium kekasihnya. Swat Lian pun mengeluh dan menyambutnya. Urusan itu tiba-tiba hilang dan tak terpikirkan lagi. Swat Lian hanyut dan mabuk dalam kegembiraannya. Ketika dua orang muda itu tenggelam dalam cintanya dan Swat Lian dapat tertawa, akhirnya Kim-mou-eng berkata bahwa mereka harus ke Ce-bu.

"Sekarang kita menghadap ayahmu. Aku ingin menyanggupi janjiku dan menunjukkan cintaku kepadamu."

"Dan kau tak ingin Khikang atau Jing-sian-eng?"

"Ah, tak perlu, Lian-moi. Toh kau di sisiku kelak. Biarlah ayahmu gembira dan kita berdua senang!"

Swat Lian mengangguk. Memang itulah jalan yang harus mereka lalui. Kim-mou-eng menyerahkan Cui-sian Gin-kang dan Lu-ciang-hoat, dan Hu Beng Kui akan melihat betapa Pendekar Rambut Emas ini benar-benar mencintai putrinya. Dua hal sekaligus akan ditunjukkan kekasihnya itu kepada ayahnya: Kim-mou-eng bukan pelanggar janji dan juga benar-benar rela berkorban demi dirinya. Bukti cinta yang cukup dalam dan sungguh-sungguh. Mau apalagi?

Begitu kekasihnya mengajak ke Ce-bu dan di sana Hu Beng Kui tertegun melihat kedatangan dua orang muda itu, jago pedang ini tak jadi marah-marah, karena tadinya dia bermaksud mencari putrinya yang menghilang.

"Kau dari mana?"

"Ke tempat Kim-twako."

"Dan sekarang datang bersama pemuda yang tak menepati janji ini?"

"Tidak, Kim-twako akan menepati janjinya, Ayah. Justru dia datang untuk menyerahkan emas kawin yang kau minta!"

Si jago pedang terbelalak.

"Benar," Kim-mou-eng maju dengan sikap tenang. "Aku akan menepati janjiku, Hu Taihiap. Dulu kukatakan pula kepadamu bahwa aku minta tenggang waktu sebulan. Ternyata waktu itu tak sedemikian lama; aku datang sebelum habis dan akan menyerahkan dua ilmuku kepadamu!"

"Kau tak main-main?" Hu Beng Kui tertegun.

"Pernahkah Kim-twako main-main?" Swat Lian berseru.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment