Chapter 96
"Lihat, Ayah, bahwa Kim-twako benar-benar mencintaiku. Dia rela berkorban untukku!"
"Ha-ha!" jago tua itu akhirnya gembira sekali. "Bagus sekali, Kim-mou-eng. Bagus! Kalau begitu, kau seorang gagah sejati!"
Hari itu, Kim-mou-eng memberikan ilmunya. Tanpa banyak bicara lagi, dia telah menyerahkan dua ilmu hebat miliknya, yakni Lu-ciang-hoat dan Cui-sian Gin-kang. Hu Beng Kui harus mempelajari selama sebulan sebelum paham betul. Namun, ketika dua ilmu itu telah diserahkan kepadanya, jago pedang ini berseri-seri dan mendadak, bagaikan petir di siang bolong, berkata, "Kim-mou-eng, kau calon mantuku yang baik. Tapi kau tentu ingat bahwa aku mempunyai dua syarat jika ingin mendapatkan putriku. Bukankah kau ingat bahwa syarat kedua belum kukatakan? Nah, syarat kedua adalah: kalahkan aku. Bulan depan semua orang akan berkumpul di sini untuk melihat apakah ada jago baru yang dapat menggantikanku menduduki kursi bengcu. Kalau kau gagal dan kebetulan ada pemuda lain yang dapat mengalahkanku, tentu saja putriku tak dapat kuserahkan padamu, melainkan kepada orang yang dapat mengalahkanku!"
Kim-mou-eng pucat. "Kau... kau bicara sebenarnya?"
"Hm, ada peraturan bahwa bengcu harus diuji setiap tahun, Kim-mou-eng. Kalau bengcu lama sudah rapuh, maka bengcu baru akan muncul dan menggantikan!"
"Keparat!" Kim-mou-eng mengepal tinju. "Kau menipu aku, Hu-taihap. Kau curang dan licik. Kau... ah!"
Kim-mou-eng berkelebat dan menyerang pendekar itu. Dia merasa ditipu dan dipermainkan, tentu saja marah dan kali ini tak dapat menguasai diri. Lu-ciang-hoat dan Cui-sian Gin-kang miliknya telah diserahkan, tak mungkin dia menang lagi menghadapi lawannya itu. Ketika Hu-taihap menangkis dan mengelak dengan ilmunya, Kim-mou-eng tergetar dan terdorong.
"Dukk!" Pendekar Rambut Emas itu terhuyung.
Sekarang Hu Beng Kui tertawa bergelak, matanya bersinar-sinar, dan wajahnya berseri-seri. Tadi, dengan Cui-sian Gin-kang, jago tua itu mengelak serangan Kim-mou-eng, menangkis, dan menggabungkan Lu-ciang-hoat-nya dengan Khi-bal Sin-kang. Hebat sekali ilmu gabungan itu. Kim-mou-eng terdorong dan hampir terpelanting!
Ketika Pendekar Rambut Emas itu menerjang kembali, jago pedang ini berkelebat dan tertawa mengejek, mengatakan bahwa Kim-mou-eng pemuda yang tidak teliti. Dulu, Pendekar Rambut Emas itu buru-buru pergi sebelum mendengar syarat kedua; itulah kesalahannya sendiri dan tak boleh pemuda itu marah-marah. Ketika Kim-mou-eng melengking dan menyerang dengan pukulan-pukulannya, jago pedang itu mengelak, berlompatan, menangkis, dan mementalkan serangan lawan. Sekarang terlihat jelas bahwa jago pedang ini lebih unggul. Kim-mou-eng selalu tergetar dan terdorong setiap menerima tangkisan gabungan dua tenaga Lu-ciang-hoat dan Khi-bal Sin-kang tersebut.
"Lihat, kau bodoh dan lemah, Kim-mou-eng. Kau belum pantas menjadi mantuku. Kalau kau begitu ceroboh dan bodoh seperti ini, tentu anakku bisa celaka di bawah lindunganmu. Sebaiknya kau kembali atau bulan depan mengadu ilmu denganku."
"Keparat, kau curang, Hu-taihap. Kau licik!"
"Tidak, kau yang salah, Kim-mou-eng. Kau tak mendengarkan atau bertanya dulu syarat keduaku itu. Kau bodoh!"
Kim-mou-eng yang terus menerjang namun selalu terhuyung oleh tangkisan lawan akhirnya didesak. Tak disangkanya Hu Beng Kui yang menjadi bengcu ini demikian licik; calon ayah mertuanya itu curang dan tidak tahu malu. Ketika dia terpental oleh sebuah pukulan keras dan jago pedang itu mengejarnya, sebuah tepukan membuat pemuda ini terguling-guling. Kim-mou-eng merasa habis harapan dan tertipu mentah-mentah. Karena melanjutkan pertempuran jelas tidak ada gunanya, Kim-mou-eng tiba-tiba berseru keras, memutar tubuhnya, dan berkelebat pergi.
"Baiklah, aku kalah, Hu-taihap. Tapi bulan depan aku pasti datang!"
Kim-mou-eng lenyap. Sekarang Hu Beng Kui tertawa bergelak atas kemenangannya. Dia telah memperoleh Lu-ciang-hoat dan Cui-sian Gin-kang, dua ilmu hebat yang dapat digabung dengan Jing-sian-eng dan Khi-kang, membuat jago pedang ini bagaikan harimau tumbuh sayap. Namun, ketika dia tertawa-tawa menikmati kemenangannya, mendadak putrinya muncul.
"Mana Kim-twako? Ada apa dia pergi?"
"Ah," jago pedang ini duduk. "Dia ingin menengok suku bangsanya, Lian-ji. Bulan depan akan datang."
"Kenapa Ayah bertempur?"
"Hm, kami main-main saja, anak baik. Tadi mencoba ilmu gabunganku dan Kim-mou-eng kalah. Aku sekarang menang dan kedudukan bengcu akan semakin kuat di tanganku!"
"Tapi Kim-twako pergi tanpa memberitahu aku. Pasti ada apa-apa, Yah. Kau barangkali menghinanya atau apa!"
"Tidak, aku... hm, aku hanya sekadar mengajukan syarat kedua, Lian-ji. Bahwa dia harus dapat mengalahkanku kalau ingin memiliki dirimu!"
"Ayah...!"
Hu Beng Kui tertawa lebar menyambar putrinya. "Apa? Kau kaget? Ha-ha, aku memang mengajukan dua syarat kepadanya, Anakku. Pertama menyerahkan Lu-ciang-hoat dan Cui-sian Gin-kangnya itu, sedang yang kedua adalah mengalahkan aku. Ha-ha, putri seorang bengcu tak boleh didapat begitu gampang. Kau duduklah!"
Hu Beng Kui melempar anaknya itu. Ketika gadis itu memaki dan hendak bangkit, mendadak jari ayahnya menekan pundak dengan kuat hingga ia roboh.
"Hm, kau pun sekarang tak dapat melawan ayahmu, Lian-ji. Kau harus tunduk dan menurut semua kata-kataku. Aku tak mau kau menjadi gadis liar yang berani terhadap ayahnya sendiri. Lihat, bukankah aku dapat merobohkanmu?"
Jari pendekar itu diangkat kembali, tenaga dahsyat yang menekan segera lenyap dan Swat Lian melompat bangun dengan kaget. Itulah gabungan Khi-bal Sin-kang dan Lu-ciang-hoat.
"Bulan depan akan ada pertemuan rutin di sini. Yang ingin menjadi bengcu dan menjajal kepandaianku akan kuhadapi. Kau jangan ke mana-mana, tinggal saja di sini dan bantu aku. Aku tak suka kau mengejar-ngejar pemuda itu, Lian-ji. Jaga nama ayahmu dan dirimu sendiri. Atau kau kukunci di sini dan tak boleh pergi!"
Swat Lian menangis. "Ayah terlalu," katanya. "Kenapa kau menipu dan berbuat curang begini? Kau licik, curang, dan pengecut!"
"Heh, pengecut? Jaga mulutmu, Swat Lian! Tanpa dua ilmu itu pun, belum tentu Kim-mou-eng dapat mengalahkan aku!"
"Kalau begitu, kembalikan itu pada Kim-twako! Beranikah kau mengembalikannya, Ayah? Beranikah kau bertanding hanya mengandalkan Khi-bal Sin-kang dan Jing-sian-eng?"
"Hm!" Jago pedang ini mendengus. "Di samping kepandaian, kita harus juga pintar, Swat Lian. Kalau Kim-mou-eng di atasku dan kelak membahayakan kedudukanku, tentu saja hal itu tak kuinginkan. Adalah kebodohannya kenapa dia tidak menanya syarat kedua itu."
"Bukan tolol!" anak perempuannya membentak. "Kaulah yang tidak disangka bisa melakukan itu, Yah. Sebagai bengcu, Kim-twako tentu tak menduga kau tak malu-malu menipu orang lain. Aku tetap menentang perbuatanmu ini!"
Hu Beng Kui marah. "Kau selalu membela Kim-mou-eng? Kau tak pernah sejalan dengan ayahmu? Sejak berdekatan dengan bocah she Kim itu, kau kian berani. Kau tak boleh bertemu dia lagi dan jangan coba-coba lolos!"
Jago pedang itu mengibas dan melumpuhkan dengan totokan di belakang lutut. Swat Lian mengeluh dan terpincang, tak dapat menggunakan Jing-sian-eng-nya lagi karena sang ayah mematikan pusat tenaga di situ. Hu Beng Kui berkelebat meninggalkan anak gadisnya dengan yakin. Namun, tiga hari kemudian, ketika dia mendengar dari pembantunya bahwa Hu-siocia tidak ada di kamarnya lagi, jago pedang ini berang. Dia mencari ke utara menuju tempat Kim-mou-eng, namun Kim-mou-eng juga tidak ada di tempat. Justru, jago pedang ini menemukan sepucuk surat dari ketua Khong-tong yang berasal dari Kim-mou-eng. Pendekar Rambut Emas itu menyatakan secara resmi kepada dunia kang-ouw bahwa bulan depan tanggal tujuh, dia akan menguji Hu-taihap untuk merebut kedudukan bengcu dan meminta dunia kang-ouw menjadi saksi.