Halo!

Sepasang Cermin Naga - Chapter 97

Memuat...
Sepasang Cermin Naga

Chapter 97

Itulah tantangan yang terang-terangan ditujukan padanya dan diketahui banyak orang pula. Tak pelak, jago pedang ini menghantam meja yang seketika melesak kakinya.

Ketika jago pedang itu mendelik dan ketua Khong-tong bersinar-sinar memandangnya, tosu itu membungkuk. "Demikianlah, pinto diminta menyampaikan ini, Taihiap."

Kim-mou-eng membuat tembusannya kepada semua ketua partai. "Sebenarnya tak ada calon baru dan kami siap menetapkan dirimu lagi sebagai bengcu. Maklum, tak ada di antara kami yang dapat menandingimu. Tapi karena Kim-mou-eng telah menantang dan kami diminta menjadi saksi, maka kami menerimanya dan sepakat melihat pertandingan itu."

"Keparat, kapan kau melihat Kim-mou-eng itu? Di mana?"

"Dua hari yang lalu, Taihiap. Di Khong-tong. Kim-mou-eng datang sendiri ke sana dan menyampaikan surat itu."

"Sendiri?"

"Ya, sendiri."

"Tidak bersama puteriku?"

"Tidak. Sendiri, Taihiap, tidak bersama siapa pun!"

"Jahanam, kalau begitu dia menyembunyikan puteriku!"

Hu Taihiap yang marah dan geram lantas berkata bahwa ia akan menerima tantangan itu, menyuruh ketua Khong-tong mengatur persiapan dan memberi tahu ketua-ketua yang lain. Dalam marahnya, jago pedang ini berkata akan mengalahkan Kim-mou-eng tak lebih dari dua puluh jurus. Hal yang justru mengherankan ketua Khong-tong, karena dulu Hu Taihiap merobohkan Kim-mou-eng tak lebih dari tiga jurus. Sekarang malah naik!

Ketika ketua Khong-tong berkata bahwa dua puluh jurus terlalu banyak karena Hu Taihiap dulu merobohkannya tak lebih dari tiga jurus, jago pedang ini tertegun.

"Kim-mou-eng sekarang lihai. Dia bukan Kim-mou-eng yang dulu!"

"Tapi kau pun hebat, Hu Taihiap. Enam Iblis Dunia pun roboh di tanganmu!"

"Sudahlah, aku tak mau berdebat tentang ini, Totiang. Beritahukan saja di luar bahwa aku akan merobohkan Kim-mou-eng dalam dua puluh jurus. Lebih dari itu, anggap saja aku kalah!"

Khong-tong-pangcu terkejut. Hu Beng Kui telah berjanji dan jago pedang itu menyuruh siarkan hal ini kepada semua orang. Dalam marah dan gusarnya, pendekar pedang itu lupa akan faktor "X" yang bisa saja terjadi. Namun, karena bengcu telah memerintahkannya dan ketua Khong-tong ini memang jauh di bawah si jago pedang, maka ia membalik dan berkelbat pergi.

Begitu berita itu disiarkan dan calon penantang bengcu diketahui orangnya, tiba-tiba dunia kang-ouw ribut. Ketua-ketua partai yang dulu mendengar cerita wakilnya tentang kekalahan Kim-mou-eng di tangan Hu Taihiap justru menjadi heran akan tantangan ini. Cerita dari mulut ke mulut pun menyebar. Mula-mula mereka heran bagaimana Kim-mou-eng yang dulu dikalahkan Hu Beng Kui berani menantang, menganggap Kim-mou-eng hanya mencari malu. Tapi ketika terdengar berita bahwa Kim-mou-eng mampu menghadapi Enam Iblis Dunia dan pertandingan di puncak Himalaya dulu hampir dimenangkan Pendekar Rambut Emas itu, orang pun geger.

"Wah, kalau Kim-mou-eng dapat mengalahkan Enam Iblis Dunia, maka kedudukannya sejajar dengan Hu Taihiap. Kalau benar berita itu, maka dia harus diadu. Siapa menang, dialah bengcu. Bagaimana pendapatmu, Khong-tong-pangcu?"

"Hm, pinto sendiri berpegang pada aturan, Suhu. Siapa menang, memang dialah bengcu. Tadinya pinto menganggap Hu Taihiap akan menduduki jabatannya itu karena agaknya tak seorang pun di antara kita yang mampu menghadapi jago Ce-bu itu. Pertemuan rutin ini hanya bersifat formal saja untuk mengukuhkan jabatan bengcu!"

"Benar, tapi bagaimana kalau Kim-mou-eng menang?"

"Ah, tentu dia bengcunya, Lo-suhu. Kita dan Hu Taihiap sendiri sudah membuat peraturannya."

"Tapi dia bangsa asing!" Ketua Hong-san, Yang Te Cinjin, tiba-tiba berseru. "Masa kita diperintah orang asing. Khong-tong-pangcu? Kalau pinto, biarpun Kim-mou-eng menang, tetap tak setuju diperintah olehnya!"

Ketua Khong-tong terkejut. "Bagaimana pendapatmu, Bu Kong Lo-suhu? Apakah kita harus menjilat ludah sendiri?"

"Mestinya tidak," Ketua Siu-lim itu menjawab. "Tapi pinceng bingung kalau bengcu dipimpin Kim-mou-eng, Totiang. Betapa pun, apa yang dikata Yang Te Cinjin benar. Kim-mou-eng itu orang asing, bangsa Tartar!"

"Tapi kalau dia dapat mengalahkan Hu Taihiap?"

"Ah, sudahlah," Ciu Sek, ketua Liong-san-pang, tiba-tiba mengakhiri. "Semuanya ini baru pengandaian, Sam-wi Pangcu. Karena pertandingan itu belum terjadi dan kalah menang juga belum diketahui, sebaiknya kita tak usah berdebat tentang ini. Biarlah kita lihat nanti saja kalau sudah ada penentuan."

Semua orang akhirnya berhenti. Mereka mengangguk karena sadar yang mereka bicarakan hanyalah sebuah pengandaian.

Di sebuah tempat sunyi, enam sosok tubuh tak bergeming di sebuah gua. Enam Iblis Dunia tampak membicarakan sesuatu dan akhirnya tertegun. Mereka saling pandang. Ketika semua memandang Cam-kong dan akhirnya berhenti pada Pembunuh Petir ini, Nenek Naga Bumi melengking.

"Kau biasanya pandai bicara, Cam-kong. Hayo putuskan ketentuan ini dengan sikap yang jelas!"

"Hm," Cam-kong, Pembunuh Petir itu bergerak. "Kita semua sudah tahu akan adanya pertandingan itu, Nenek Siluman. Dan kita sudah merasakan kelihaian Kim-mou-eng sekarang. Kalau aku pribadi menghendaki dua-duanya dibunuh!"

"Bagus, tapi dengan cara apa?"

"Inilah yang sulit, aku belum mengetahuinya."

"Bagaimana kalau kita bantu salah satu di antaranya?"

"Maksudmu?"

"Kita bantu seorang di antaranya untuk merobohkan yang lain, Cam-kong. Baru setelah itu yang satunya lagi kita bunuh!"

"Hm, mungkinkah? Dan siapa yang kira-kira akan kita bantu?"

"Hu Beng Kui!" Nenek Naga Bumi berseru. "Jago pedang itu tampaknya tak senang melihat Kim-mou-eng demikian lihai. Dulu kulihat gerakan tangannya yang hampir membokong Pendekar Rambut Emas itu, sebelum putrinya datang!"

"Begitukah?" Cam-kong tertegun. "Bagaimana dengan yang lain? Setujukah kau, Siauw-jin?"

"Heh-heh," Setan cebol ini terkekeh. "Aku setuju asal demi keuntungan kita semua. Kupikir memang lebih baik membantu jago pedang itu daripada Kim-mou-eng. Orang she Hu itu hanya bergerak sendiri, lain dengan Kim-mou-eng yang mungkin masih dilindungi gurunya, Bu-beng Sian-su keparat itu!"

"Hm, bagaimana kau, Tok-ong?"

"Aku setuju!" Kakek tinggi besar ini mengerang. "Setelah Kim-mou-eng dirobohkan, kita lalu membunuh si jago pedang itu. Tentu Hu Beng Kui sudah kehabisan tenaga diajak melawan Kim-mou-eng!"

"Benar, dulu jago pedang itu kewalahan menghadapi Kim-mou-eng. Kalau kita tak datang dan membantunya, tentu dia roboh kehabisan napas karena kalah usia!" Toa-ci, orang pertama dari Sepasang Dewi Naga, berseru.

Tiba-tiba mereka berseri-seri dan bulatlah keputusan untuk membantu Hu Beng Kui sebelum jago pedang itu dibunuh. Namun, ketika mereka siap meloncat meninggalkan gua, mendadak Togura, murid laki-laki Toa-ci dan Ji-moi, berkelebat masuk.

"Subo, dua pemuda itu lepas dari kurungan!"

Toa-ci dan adiknya terkejut. Mereka melesat keluar gua. Hek-bong Siauw-jin dan Nenek Naga Bumi pun menyusul.

"Keparat, apakah mereka dapat lolos?"

Toa-ci dan Ji-moi mengejar dua pemuda yang melarikan diri, yakni Hauw Kam dan Gwan Beng. Ketika Ji-moi dan kakaknya melengking menyambar, mendadak Hauw Kam dan Gwan Beng berpisah.

"Suheng, kau kiri. Aku ke kanan!"

"Baik, kita berpencar, Sute. Awas dua nenek siluman itu, heh heh!"

Gwan Beng yang tertawa dengan cawat minim tiba-tiba berkelebat menjauhi Toa-ci. Ia melesat seperti orang tidak waras, memasuki hutan penuh salju tanpa terlihat kedinginan. Toa-ci yang mengejar di belakang terkejut karena pemuda itu mampu berlari sangat cepat, melompat atau terbang menerjang apa saja tanpa memperdulikan kiri kanan.

Tiba-tiba Toa-ci mengayun tangan, serangkum pukulan dahsyat menghantam belakang pemuda itu. "Dess!" Salju berhamburan. Pemuda itu tampak terjepit di antara dua pohon, namun ia justru tertawa-tawa. Tadi ia terkena pukulan dan jungkir balik, tapi tidak apa-apa.

Toa-ci meremang. Anak muda ini seolah tidak waras, ia berlari menerabas seperti kijang diburu harimau. Ketika Toa-ci hendak mengayun lengannya lagi, Nenek Naga Bumi muncul di depan dan terkekeh.

"Heh-heh, ke sini, anak muda. Menyerahlah!"

Naga Bumi menggerakkan lengan untuk menangkap, tapi mendadak Gwan Beng melejit. Seperti lele atau belut yang licin, ia lolos dari cengkeraman si nenek.

"Ha-ha, kau nenek bau, Naga Bumi. Hayo tangkap dan kejarlah aku!"

Nenek itu tertegun. Tingkah Gwan Beng yang di luar kebiasaan membuat nenek itu mengerutkan kening.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment