Chapter 98
Ada sesuatu yang agaknya tidak beres di jiwa murid Hu Beng Kui itu. Ketika nenek ini membentak dan mengejar lagi, tiba-tiba Hek-bong Siauw-jin muncul di situ dan mencegat.
"Hayo, kau ke sini!" Namun, hampir tak dapat dipercaya, tiba-tiba Gwan Beng melejit.
Sama seperti tadi, pemuda itu lolos melewati tubuh si setan cebol, menyelinap, dan sudah lari lagi. Ketika setan cebol itu membentak dan meloncat menyambar, ternyata pemuda ini mengelak sehingga jari iblis itu pun luput mengenai pundaknya.
"HEI, gila!" Hek-bong Siauw-jin terkejut, marah, dan berkelebat, lalu nenek Naga Bumi pun mengejar.
Toa-ci juga berkelebat dan tiba-tiba pemuda itu sudah dikurung dari tiga penjuru. Namun, ketika masing-masing menggerakkan lengan untuk menangkap, pemuda itu lolos dengan cara yang aneh sehingga Gwan Beng tertawa-tawa dan meneruskan larinya.
"Heh-heh, tangkap aku, nenek-nenek busuk. Hayo kejar dan tangkap aku!"
Naga Bumi dan dua temannya tertegun. Mereka terkesiap dan saling pandang, masing-masing memahami bahwa sesuatu yang luar biasa terjadi pada diri pemuda itu. Tiba-tiba Siauw-jin melengking dan membentak lagi, ia mencabut senjatanya dan mau membabat.
"Jangan bunuh!" Nenek Naga Bumi berseru. "Ada sesuatu yang tidak beres pada pemuda ini, Siauw-jin. Tangkap dan robohkan saja!"
Siauw-jin menggeram dan terpaksa menyimpan sabitnya, lalu menubruk. Dari kiri dan kanan, dua temannya yang lain juga menyambar dan menerkam, sementara Toa-ci menampar. Nenek ini gusar dan marah karena merasa dipermainkan. Ketika tiga orang itu bergerak hampir berbarengan mengulurkan lengan, tepat sekali tamparan Toa-ci mengenai pelipis pemuda ini.
"Plak!" Gwan Beng terbanting.
Lima lengan yang sudah meringkus dan mencengkeramnya tak dapat membuat pemuda itu lolos lagi. Gwan Beng mengaduh, tapi tertawa-tawa. Ketika tiga lawannya terbelalak dan mendengus heran, di sana terdengar teriakan Cam-kong dan nenek Ji-moi.
"Hei, jangan kabur!"
Kiranya di tempat ini juga terjadi keanehan. Hauw Kam, yang dikejar Cam-kong dan nenek Ji-moi, ternyata mampu mempermainkan kedua lawannya. Mula-mula nenek Ji-moi dielak terkamannya, luput, dan pemuda itu meneruskan lari. Nenek ini terbelalak karena pemuda itu melejit, bergerak, dan tahu-tahu sudah menyelinap di bawah ketiaknya, lolos dan memberobot seperti belut. Entah bagaimana, murid Hu Beng Kui itu kabur lagi.
Ketika nenek ini gemas dan mengejar lagi, sebuah tamparan jarak jauh membuat pemuda itu terguling, bangkit, dan lari lagi. Nenek Ji-moi tertegun. Sama seperti encinya di sana, nenek ini melihat lawannya tak apa-apa, padahal seharusnya pemuda itu terbanting dan roboh, tak mungkin dapat lari lagi. Maka, melihat pemuda itu lari dan tertawa lagi, nenek ini menjadi gusar dan marah. Ia menghantam, dan murid Hu Beng Kui itu terpelanting. Untuk kedua kalinya, pemuda itu bangkit dan lari lagi.
Ketika nenek Ji-moi geram dan membentak nyaring, tiba-tiba Cam-kong berkelebat dan berada di depan untuk menangkap pemuda itu, namun Hauw Kam melejit dengan cara yang aneh dan luar biasa. Ketika Cam-kong dibuat bengong dan pemuda itu lolos, Ji-moi berseru agar menghantam saja pemuda itu.
"Serang, kalau perlu bunuh!"
"Hm," Cam-kong menggeleng, melihat sesuatu yang lain. "Kita tangkap saja, Ji-moi. Jangan bunuh. Pemuda ini menjadi lain dan menyimpan sesuatu yang aneh."
"Ah, persetan bocah itu, Cam-kong. Bunuh dan habisi saja!"
"Tidak, Hek-bong Siauw-jin bisa marah. Ji-moi, kita tangkap dan bekuk saja!"
Cam-kong yang bersinar-sinar menubruk lagi, tiba-tiba menampar. Tangan bergerak dan serangkum tenaga sedot meluncur dari lengannya. Ketika pemuda itu berteriak kaget, tersentak, dan terhisap, Hauw Kam melesat dan terbang mundur ke telapak kakek ini.
"Cuh!" Hauw Kam tiba-tiba meludah, mengejutkan Cam-kong sehingga tenaga sedot berhenti.
Cam-kong memaki dan tentu saja marah. Ketika waktu itu dipergunakan Hauw Kam untuk tertawa dan lari lagi, Cam-kong terbelalak dan Tok-ong muncul.
"Bocah, ke sini kau!" Gerengan itu mengejutkan si pemuda. Hauw Kam tertegun dan merandek, langkahnya terhenti. Tapi, ia tertawa dan melejit ke kiri, tiba-tiba bergerak dan lolos lewat ketiak kakek tinggi besar itu.
"Ha-ha, kau kakek bau, Tok-ong. Bajumu apek!"
Tok-ong terbeliak. Dia menggeram, meloncat lagi, dan membentak. Namun, ketika dia menubruk dan menerkam punggung, tiba-tiba Hauw Kam menggaruk pasir dan dengan kakinya pemuda itu melemparnya ke arah Tok-ong sambil tertawa-tawa. Tok-ong memaki, mengibas runtuh, dan segera berkelebat. Dia marah dan gusar. Namun, begitu lawan tertangkap, tiba-tiba Hauw Kam menggigit telinganya, membuat kakek ini berteriak-teriak.
"Ha-ha, kejar aku, Tok-ong! Ayo kejar!"
Tok-ong membentak. Tiba-tiba dia melepas pukulan jarak jauh yang dahsyat, menghantam dan kesiur angin dingin menyambar pemuda itu. Tapi, ketika Hauw Kam terbanting dan berteriak kesakitan, ternyata pemuda itu bangun kembali dan mau lari sambil tertawa-tawa. Tok-ong terbelalak. Pukulannya tadi seharusnya membuat pemuda itu terlempar atau setidaknya pingsan.
Namun, ketika Hauw Kam mau melarikan diri dan tertawa mengejek kakek itu, tiba-tiba Cam-kong dan Ji-moi sudah berkelebat, menampar, dan mencengkeram tengkuk pemuda itu. Ketika Hauw Kam menjerit dan roboh bagai kelinci, nenek Ji-moi sudah menentengnya di kiri kanan bersama Cam-kong, persis seperti mendapat ayam yang mau disembelih.
"Jangan bunuh pemuda ini. Dia mendapatkan sesuatu yang luar biasa!"
Tiga orang itu terbelalak. Hauw Kam, sama seperti suhengnya, juga hanya mengenakan cawat yang minim. Beberapa bulan ini, dua pemuda itu ditawan Hek-bong Siauw-jin dan nenek Naga Bumi; setengah ditelantarkan namun mereka tetap kuat. Kurang makan dan minum tak membuat mereka kurus atau sakit. Dua murid Hu Beng Kui ini memang luar biasa dan termasuk pemuda-pemuda jempolan.
Ketika Cam-kong terbelalak memandang pemuda itu dan Hauw Kam tertawa-tawa ditenteng mereka, tiga iblis yang lain berkelebat dan Toa-ci serta teman-temannya muncul, membawa Gwan Beng.
"Sialan, pemuda ini aneh. Dia gila tapi hampir dapat meloloskan diri. Tubuhnya licin dan lincah seperti belut!"
"Eh, bocah ini juga, Toa-ci. Tadi kami bertiga harus kucing-kucingan sebelum mampu membekuknya. Ada sesuatu yang luar biasa."
"Hm, begitukah? Kalau begitu kita periksa atau tanya Togura!" Nenek Toa-ci memanggil muridnya. Ketika Togura menghadap dan anak itu tampak ngeri memandang dua pemuda ini, Togura ditanya tentang asal kejadian itu.
"Tadi mereka main-main di dalam kerangkeng, mengadu jari. Tapi ketika mereka tertawa dan saling dorong, tiba-tiba kerangkeng ditekuk melengkung dan mereka pun lolos."
"Kau tak melihat sesuatu yang ganjil?"
"Tidak, Subo. Kecuali jari mereka yang tiba-tiba begitu kuat dan ampuh!"
"Hm, dan mereka pun memiliki gerakan selincah monyet. Apa yang mereka dapatkan?"
"Coba ambil pisau!" Hek-bong Siauw-jin tiba-tiba berseru. "Tetak jari mereka, Toa-ci. Lihat apakah putus atau tidak!"
"Hm, bagaimana kalau sabitmu?" Toa-ci menoleh.
"Boleh."
Hek-bong Siauw-jin mencabut dan melempar senjatanya. Lalu, dengan dingin, nenek Toa-ci menyambar tawanannya, Gwan Beng, dan membacok kelima jari pemuda itu. Sabit pun terpental dan Gwan Beng mengaduh, tapi jari tangannya tak apa-apa, kebal!
"Coba yang satu itu!" Nenek Naga Bumi kini berseru, meminta Hauw Kam.
Ketika pemuda itu dilempar dan diserahkan Toa-ci, dengan bengis dan dingin pula nenek ini membacok jari pemuda itu. Senjata mental, dan akhirnya lengan atau pundak pemuda itu dibacok. Dua tiga kali Hauw Kam berjengit, namun pemuda ini tidak apa-apa.
Ketika semua orang tertegun dan saling pandang, Cam-kong mendesis. "Kekebalan alamiah! Makan atau minum apakah dua pemuda ini? Siapa mencekokinya sejenis jamu?"
"Ih, kami tak ada yang memberikan sesuatu, Cam-kong. Dua bocah ini memang kebal secara alamiah, bukan akibat sinkang. Tapi dari mana dan bagaimana mereka mendapatkan semuanya ini?"
"Hm, tanya pemuda itu, Toa-ci. Kompres dan suruh dia mengaku."
Nenek ini bergerak. Gwan Beng disambar dan ditekan tengkuknya, menjerit tapi lalu tertawa-tawa. Ketika nenek itu membentak dan bertanya makanan atau minuman apa yang diperoleh hingga mereka dapat seperti itu, pemuda ini memberi jawaban yang tidak keruan.
"Kami minum air kencing. Ha-ha, kau juga mau minum air kencing kami, Toa-ci? Kau ingin kebal seperti kami?"
"Plak!" Nenek ini menampar, membuat Gwan Beng terbanting. "Jangan main-main, bocah. Hayo mengaku dan tidak usah bohong!"
Gwan Beng tiba-tiba menangis. Seperti anak kecil saja mendadak pemuda itu melolong-lolong; tamparan atau pukulan nenek Toa-ci tadi membuatnya kesakitan. Ketika nenek itu terbelalak, marah, serta mengerutkan kening, tiba-tiba pemuda itu bergulingan dan mencakar-cakar mukanya sendiri.
"Toa-ci, kau jahat. Kau nenek jahat."
"Hm," Cam-kong tertegun. "Bocah ini terganggu jiwanya, Toa-ci. Percuma menanyakannya dalam keadaan begini. Sebaiknya tempatkan lagi di kerangkeng dan kurung dia!"
"Kalau lolos?" Cam-kong mengeratkan kening.
"Sebaiknya Naga Bumi atau Siauw-jin membawanya kembali, Cam-kong. Atau kita masukkan mereka ke palung!"
"Benar," Hek-bong Siauw-jin tiba-tiba berseru. "Kita masukkan ke palung, Cam-kong. Buang mereka di sana dan kita dapat pergi!"
"Hm, kalau begitu terserah. Kita masih harus menemui Hu Beng Kui dan tidak boleh direpotkan dua bocah ini. Terserah kalian dan barangkali Togura dapat menjaga di atasnya!"
"Baik!"
Toa-ci menyambar Gwan Beng dan melemparnya pada nenek Naga Bumi, lalu berseru memanggil muridnya, meminta Hauw Kam diserahkan pada Hek-bong Siauw-jin. Segera mereka berenam berkelebat ke puncak.