Halo!

Sepasang Cermin Naga - Chapter 99

Memuat...
Sepasang Cermin Naga

Chapter 99

Di sana terdapat sebuah palung dalam tempat kedua pemuda itu tidak dapat melarikan diri. Satu-satunya jalan keluar adalah dengan menariknya menggunakan tali, dan Togura disuruh menjaganya.

Ketika mereka tiba di sana, Hek-bong Siauw-in serta Nenek Naga melempar kedua pemuda itu. Hauw Kam dan suhengnya menjerit saat terlempar ke dalam palung yang dalam, sebuah lubang mirip sumur yang sangat tinggi. Di dalamnya gelap, dan suara kedua pemuda itu pun akhirnya lenyap.

Lama kemudian, terdengar suara berdebuk yang menandakan kedua pemuda itu telah terbanting di dasar palung. Nenek Naga menarik napas dan berseru, "Nah, sekarang kita dapat pergi ke Ce-bu. Togura, biar di sini dan jaga dua pemuda itu!"

Begitu nenek itu berkelebat turun gunung, persoalan Hauw Kam dan Gwan Beng terlupakan sejenak. Mereka terkurung dalam palung yang dalam, dan hanya pertolongan dari luar yang dapat menyelamatkan mereka. Hauw Kam dan suhengnya ternyata terganggu jiwanya dan gila; masing-masing tidak waras, namun entah bagaimana mereka memiliki kekebalan aneh.

Ketika yang lain menyusul nenek itu, Hu Beng Kui yang berada di Ce-bu tertegun mendapati keenam tamunya yang aneh datang dengan ilmu hitam sehingga tidak terlihat oleh mata biasa.

"Heh-heh, selamat bertemu, Hu-taihiap. Kami datang ingin mengikat persahabatan!"

Hu-taihiap yang sedang geram tiba-tiba bangkit berdiri, matanya berkilat. Namun, sebelum dia marah atau mengusir Enam Iblis Dunia itu, Cam-kong buru-buru mengangkat tangan sambil menyeringai. "Tunggu, jangan menyerang, Hu-taihiap. Dua muridmu ada di tangan kami. Kami ingin membicarakan sesuatu yang berhubungan dengan Kim-mou-eng!"

Hu-taihiap tertegun. "Kau mau mengadakan pertandingan, bukan?"

"Ah, apa pedulimu dengan ini, Cam-kong?" Hu Beng Kui membentak tidak bersahabat karena mampu menembus kehadiran keenam iblis itu dengan mata batinnya. "Kalian tak perlu turut campur, Cam-kong. Dan sekarang justru kalian kutangkap!"

"Jangan sombong!" Tok-ong yang temperamental tiba-tiba menggeram. "Meskipun kalah, kami dapat melarikan diri, Hu-taihiap. Kalau kami berpencar, kau tak akan dapat menangkap siapa pun dari kami!"

"Hm!" Jago pedang itu marah, matanya bersinar-sinar. "Kalau begitu, apa maksud kalian jika sudah tahu bukan tandinganku? Meskipun tak dapat menangkap kalian sekaligus, satu atau dua di antara kalian dapat kubunuh, Tok-ong. Sekali kutangkap, jangan harap kalian lolos lagi!"

"Sudahlah, kami bukan ingin ribut-ribut," Cam-kong tiba-tiba menyela. "Kami datang karena mendengar tentang pertandinganmu, Hu-taihiap. Kami memutuskan untuk membantumu mengalahkan Kim-mou-eng!"

"Ha-ha!" Jago pedang itu tertawa mengejek. "Kim-mou-eng atau siapa pun tak kutakuti, Cam-kong. Aku sekarang bukan Hu Beng Kui waktu kalian menangkap enam ketua partai. Aku sekarang jauh lebih hebat... wut!"

Hu Beng Kui menyambar dan tiba-tiba mencengkeram Tok-ong sambil mengeluarkan ilmu gabungannya, Khi-bal-sin-kang dan Lu-ciang-hoat. Kakek tinggi besar itu terpekik. Kilatan cahaya putih dari Lu-ciang-hoat membuat kakek itu terkejut dan mencoba menangkis, tetapi dia malah terbanting. Saat kakek itu menjerit bergulingan dan lima temannya terbelalak kaget, Hu Beng Kui sudah berdiri kembali di tempat semula dengan sombong.

"Nah, lihat, Cam-kong. Aku dapat merobohkan siapa pun di antara kalian dengan lebih mudah. Aku sekarang bukan Hu Beng Kui yang dulu."

"Itu Lu-ciang-hoat!" Nenek Naga Bumi berseru terbelalak. "Tapi tenaganya Khi-bal-sin-kang! Eh, kau mendapat ilmu baru, Hu-taihiap? Atau kau mencurinya dari Kim-mou-eng?"

"Ha-ha!" Jago pedang itu semakin congkak. "Aku menggabung kedua ilmuku, Nenek Siluman. Aku memperoleh itu dengan caraku sendiri. Kalian lihat, aku dua kali lipat lebih lihai daripada dulu. Apakah kalian masih hendak membantuku merobohkan Kim-mou-eng? Ha-ha, tanpa dibantu pun aku dapat mengalahkan lawanku, Naga Bumi. Kalian datang dengan maksud sia-sia. Sekarang justru kalian akan kutangkap. Mana dua muridku itu!"

"Nanti dulu!" Cam-kong terkejut sambil menggoyang lengan. "Kalau kau sudah sedemikian hebat dan merasa dapat mengalahkan Kim-mou-eng, maka kami justru akan membantunya untuk mengalahkan dirimu, Hu-taihiap. Kami akan berbalik arah dan mencari Pendekar Rambut Emas!"

Hu Beng Kui tertegun.

"Benar," Nenek Naga terkekeh. "Dengan dibantu kami berenam, tentu kau kerepotan, Hu-taihiap. Kalau kau tak dapat menerima maksud baik kami, tentu saja kami akan mencari Kim-mou-eng dan membantunya."

"Hm!" Jago pedang itu mendesis. "Kalian tak dapat membantunya, Nenek Siluman, karena sekarang juga kalian akan kubunuh!"

"Dan membiarkan dua muridmu mampus dimakan siluman?" Toa-ci menyambung sambil tertawa mengejek. "Jangan sombong, orang she Hu. Meskipun kau dapat mengalahkan kami, dua muridmu ada di tangan kami."

"Benar, tapi aku dapat membiarkan seorang di antara kalian hidup, Toa-ci. Aku akan memaksa yang satu ini untuk menunjukkan keberadaan muridku!"

"Ha, jangan pongah. Dengan menggigit putus lidah sendiri, yang kau tangkap ini akan mati, Hu-taihiap. Atau kami dapat menahan napas sampai tidak kuat. Kau tak dapat memaksa siapa pun dari kami untuk menunjukkan dua muridmu itu, kecuali kau tidak peduli!"

Hu Beng Kui terkejut. Dia mengerutkan kening dan marah mendengar itu. Memang benar, dengan menahan napas atau menggigit putus lidah sendiri, seseorang bisa mati. Dia tidak dapat memaksa. Karena Enam Iblis Dunia itu adalah tokoh-tokoh yang kepandaiannya sudah tinggi dan mampu melakukan hal tersebut, jago pedang ini tertegun dan bingung. Dia bimbang antara ingin membekuk mereka atau menerima tawaran untuk mengalahkan Kim-mou-eng.

"Bagaimana?" Cam-kong maju menyeringai. "Kau tinggal menerima atau menolaknya, Hu-taihiap. Kami akan pergi sesuai keputusanmu."

"Tapi aku dapat mengalahkan Kim-mou-eng!" Jago pedang itu tetap sombong. "Tanpa bantuan kalian semua, aku dapat merobohkan lawanku itu, Cam-kong. Seorang diri aku dapat memenangkan pertandingan ini!"

"Tapi kalau kami membantu Kim-mou-eng?"

"Hm, kalian jahanam keparat!" Jago pedang itu mendesis. "Untuk itu pun aku tak takut, Cam-kong. Tapi..."

"Tapi kau tentu kalah!" Nenek Naga Bumi tiba-tiba terkekeh. "Kami dapat mengacaukanmu dengan serangan-serangan kami, Hu-taihiap. Pendekar Rambut Emas itu pun tentu menang!"

"Hm, begini saja," Hek-bong Siauw-jin tiba-tiba meloncat sambil menyeringai. "Kami tetap di belakangmu, Hu-taihiap. Kami tak akan membantu Kim-mou-eng, tapi berikan sesuatu sebagai balas jasa untuk kebaikan kami. Pinjamkan sesuatu kepada kami berenam."

Hu Beng Kui mengerutkan kening. "Pinjam apa? Sesuatu apa?"

"Heh-heh!" Nenek Ji-moi kini maju. "Apa yang dikatakan Siauw-jin betul, Hu-taihiap. Kalau kau tak ingin kami membantu Kim-mou-eng, biarlah kami bersikap pasif dengan berdiri di belakangmu. Imbalannya adalah benda itu, pinjamkan sebentar!"

"Benda apa?"

"Cermin Naga!"

Begitu Hek-bong Siauw-jin berhenti berbicara dan lima temannya mengangguk, jago pedang itu tersentak, mundur, dan terbelalak. Cam-kong serta yang lain menyeringai lalu maju mengelilingi Hu Beng Kui.

"Hu-taihiap, kami semua sudah tahu bahwa satu dari sepasang Cermin Naga ada di tanganmu. Kelihaianmu kau dapat dari benda itu, bahkan mungkin sekarang dua-duanya ada di tanganmu. Nah, pinjamkan kepada kami dan kami tak akan memberitahukannya kepada orang lain!"

"Keparat!" Jago pedang itu membentak. "Lancang mulutmu, Nenek Naga. Kau ngawur dan bicara yang tidak kumengerti!"

"Ha-ha, tak usah bersembunyi!" Hek-bong Siauw-jin tertawa. "Kami tahu Cermin Naga ada di tanganmu, Hu-taihiap. Daripada kami memberi tahu semua orang dan mereka akan meluruk ke tempatmu, sebaiknya pinjamkan benda itu dan kami tak akan mengganggu. Bahkan, kalau perlu, dua orang muridmu itu ditukar dengan sepasang benda itu!"

"Heh-heh," Nenek Toa-ci menyambung. "Pantas kau demikian lihai dan mengagumkan, Hu-taihiap. Tak tahunya cermin dari Bu-beng Sian-su itu ada di tanganmu. Pinjamkan kepada kami sebentar dan kami tak akan membantu Kim-mou-eng!"

"Benar," Cam-kong menyeringai. "Minimal kami akan di belakangmu. Sewaktu-waktu kau memerlukan bantuan kami, tentu kami akan maju!"

"Tidak!" Hu Beng Kui membentak. "Aku tak tahu-menahu cermin yang kalian bicarakan, Cam-kong. Sebaiknya kalian pergi atau semua kuhajar!"

"Hm, ingin kami memberitahukannya kepada semua orang?" Nenek Ji-moi terkekeh. "Boleh, Hu-taihiap. Semua orang kang-ouw akan memusuhimu!"

"Keparat!" Hu Beng Kui berkelebat dan menghantam nenek itu. Wajahnya pucat mendengar ancaman tersebut. Nenek Ji-moi menghindar. Ketika jago pedang itu menggeram dan menyerang yang lain, Hek-bong Siauw-jin mengelak, disusul oleh Cam-kong dan empat lainnya. Hu Beng Kui marah dan khawatir. Rahasianya kini diketahui tokoh-tokoh sesat tersebut.

Ketika mereka terus menghindar, Nenek Ji-moi mencoba menangkis pukulan jago pedang itu.

"Dess!"

Nenek itu terlempar. Ji-moi terpekik kaget, segera setelah Tok-ong berteriak agar tidak mencoba menangkis pukulan jago pedang itu. Nenek itu terhuyung dan meloncat bangun.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment