Halo!

Tapak Tapak Jejak Gajahmada - Chapter 01

Memuat...
Tapak Tapak Jejak Gajahmada

Chapter 01

Pulau itu memang sangat jauh dari daratan yang terdekat, namun siapapun yang mengenal jalur pelayaran rahasia menuju pulau tempat kebun pala hidup di daratan Tanah Gurun, pasti akan singgah di pulau Tanah Wangi-wangi. Begitulah para pelaut menyebutnya.

Sebuah pulau yang berbukit subur hijau dan berpantai landai, di pulau inilah para pelaut datang singgah untuk memenuhi perahu jungnya dengan bekal perjalanan mereka, terutama bekal air tawar yang memang begitu sangat dibutuhkan dalam perjalanan pelayaran yang jauh.

Tuan Raja Jawa, begitulah semua warga penghuni pulau Tanah Wangi-wangi menyebut nama seorang tua yang sangat mereka hormati yang baru datang bersama keluarganya sekitar empat pekan yang lalu dan menetap di Pulau Tanah Wangi-wangi.

Siapakah Tuan Raja Jawa yang sangat dihormati oleh penghuni pulau Tanah Wangi-wangi itu? Tuan Raja Jawa itu tidak lain adalah Ratu Anggabhaya yang datang mengungsi dari Jawadwipa bersama seluruh keluarga istana Singasari.

Mereka mengungsi ke tempat yang begitu jauh hanya untuk memberikan kesempatan putra harapan mereka, yaitu Raden Sanggrama Wijaya, dapat berjuang merebut kembali tanah hak mereka dari seorang pengkhianat perebut tahta singgasana, seorang saudara dan keluarga sendiri, Raja Jayakatwang yang saat itu telah mengukuhkan dirinya sebagai Maharaja Jawadwipa Raya berkedudukan di Kediri.

Mereka para pengungsi keluarga istana Singasari itu datang ke Pulau Tanah Wangi-wangi diantar oleh seorang Senapati muda bernama Mahesa Amping, seorang Senapati muda yang berilmu tinggi yang sangat dekat dan sangat dipercaya oleh Raden Sanggrama Wijaya.

Senapati Mahesa Amping juga telah membawa keluarga dan beberapa kerabatnya dari Balidwipa untuk tinggal dan menetap di pulau Tanah Wangi-wangi.

Tuan Raja Jawa atau Ratu Anggabhaya diterima oleh para penghuni Pulau Tanah Wangi-wangi karena datang bersama seorang yang sangat begitu mereka hormati, yaitu Senapati Mahesa Amping yang pernah datang di Pulau Tanah Wangi-wangi bersama Kebo Arema sang Karaeng, putra mahkota pulau Tanah Wangi-wangi.

Mahesa Amping dan Kebo Arema adalah pahlawan mereka yang telah membebaskan Pulau Tanah Wangi-wangi dari penguasa kejam, para perompak laut yang berkuasa dan menjajah penghuni pulau Tanah Wangi-wangi dalam kurun waktu yang cukup lama, menciptakan banyak derita dan kemalangan.

Demikianlah, sejak saat itu ada dua keluarga baru yang tinggal di pulau Tanah Wangi-wangi, keluarga istana Singasari dari Jawadwipa dan keluarga Mahesa Amping dari Balidwipa.

Sebagaimana dalam kisah sebelumnya, dimana Senapati Mahesa Amping mengawal rombongan keluarga istana Singasari menuju tanah pengungsian hanya dikawani seorang sahabatnya yang bernama Ki Sandikala.

Ketika rombongan singgah di Balidwipa, Senapati Mahesa Amping tidak sampai hati bila harus meninggalkan Adityawarman, anak kandungnya sendiri serta kemenakannya, putra Raden Sanggrama Wijaya bernama Jayanagara, untuk waktu yang cukup lama yang saat itu tinggal dan masih menetap di Padepokan Pamecutan, sebuah Padepokan yang dibangun dan didirikan bersama Empu Dangka.

"Gajahmada dan ibunya juga harus kubawa serta," berkata Mahesa Amping dalam hati ketika akhirnya juga memutuskan untuk membawa Gajahmada, anak angkatnya, bersama ibunya, Nyi Nariratih, ke pulau Tanah Wangi-wangi.

"Aku sudah menempuh banyak perjalanan, dan pencarianku telah sampai kepada seorang manusia tempat dimana takdirku selalu ada bersamanya," berkata Pendeta Gunakara kepada Mahesa Amping ketika berbicara bersama memutuskan untuk membawa Gajahmada dan ibunya, Nariratih, ke pulau Tanah Wangi-wangi.

"Setelah sampai di pulau Tanah Wangi-wangi, aku akan segera kembali ke Jawadwipa untuk ikut berjuang bersama Raden Wijaya, untuk sebuah waktu yang cukup lama dan tidak dapat dipastikan kapan aku akan kembali bersama di pulau Tanah Wangi-wangi.

Kehadiran dan kesediaan Tuan Pendeta Gunakara untuk ikut bersama kami telah mengurangi beban dan kekhawatiranku," berkata Mahesa Amping kepada Pendeta Gunakara, mengijinkannya ikut bersama ke pulau Tanah Wangi-wangi.

Sebagaimana diketahui bahwa Pendeta Gunakara adalah seorang pengembara dari sebuah Wihara terkemuka di sebuah daratan Tibet yang ditugaskan untuk mencari titisan guru besarnya, Jamyang Dawa Lama, yang telah meninggal dunia.

Setelah menempuh banyak perjalanan, takdir membawanya menemukan titisan Guru besarnya dalam diri Gajahmada, anak kandung Nyi Nariratih, yang lahir pada hari yang sama disaat wafatnya Jamyang Dawa Lama, yang ditandai dengan adanya gerhana matahari.

Sebagaimana adat istiadat pada jaman itu, seorang yang terlahir disaat gerhana matahari harus mempunyai nama samaran.

Dan Mahesa Amping, sebagai ayah angkat Gajahmada, telah memberi nama lain untuknya, dengan nama Mahesa Muksa.

"Mudah-mudahan aku juga dapat menjadi seorang sahabat yang baik dalam perjalananmu," berkata Argalanang kepada Mahesa Amping, yang juga memutuskan untuk ikut bersamanya ke pulau Tanah Wangi-wangi.

"Aku memang perlu sahabat seperti dirimu, bukan hanya teman di perjalanan, tapi juga teman untuk berjuang bersama Raden Wijaya di Jawadwipa," berkata Mahesa Amping kepada Argalanang, sahabatnya itu, yang diketahui kesetiaannya dalam sebuah petualangannya di Tanah Melayu bersama Raden Wijaya dan Ranggalawe beberapa tahun yang telah lewat.

Sementara itu, Mahesa Amping merasa sangat berat hati meninggalkan Putu Risang, seorang pemuda yang punya bakat besar, yang telah dibimbingnya selama ini di Padepokan Pamecutan.

Namun, Mahesa Amping percaya bahwa di tangan Empu Dangka, pemuda ini akan tumbuh sebagai seorang ksatria yang tiada tanding.

Mahesa Amping juga merasa berat hati harus berpisah dengan Empu Dangka dan semua cantrik di padepokan Pamecutan.

"Jalanilah semua takdirmu, wahai anakku.

Aku merasa bahagia telah ditakdirkan bertemu dan pernah bersama denganmu," berkata Empu Dangka ketika melepas Mahesa Amping dan rombongannya keluar dari regol pintu gerbang halaman Padepokan Pamecutan menuju ke sebuah tempat yang jauh terpisah jarak lautan.

Demikianlah, ketika rombongan keluarga istana Singasari setelah singgah di Balidwipa untuk melanjutkan perjalanan mereka ke pulau Tanah Wangi-wangi, iring-iringan mereka menjadi bertambah lagi dengan ikutnya beberapa orang kerabat dan keluarga Mahesa Amping.

Dan mereka berlayar disaat yang tepat, disaat awal datangnya musim angin daya laut.

Sore itu, langit terlihat berawan cukup cerah di atas rumah panjang, sebuah rumah panggung yang cukup besar berdiri dekat pantai menghadap ke arah timur Matahari.

Rumah panjang itu adalah rumah adat yang dibangun oleh para penghuni Tanah Wangi-wangi sebagai tempat tinggal keluarga Kebo Arema sang Karaeng, yang sudah lama tidak ditempati namun tetap dirawat dengan baik.

Atas perkenan para penghuni Tanah Wangi-wangi, rumah panjang itu diserahkan kepada Mahesa Amping dan rombongannya yang baru datang untuk menetap di sana.

Angin bertiup semilir sejuk menyapu tiga orang yang terlihat tengah menuruni anak tangga rumah panjang.

Terlihat juga dua orang yang sudah cukup tua ikut mengiringi langkah kaki ketiga orang yang nampaknya akan berjalan menuju pantai.

Ternyata, ketika mereka tiba di bibir pantai, sebuah jukung terlihat sudah menunggu mereka.

Wajah kuning Matahari sore masih menggantung di barat Cakrawala langit biru di atas pantai pulau Tanah Wangi-wangi.

Di bawah sinar matahari sore yang teduh, wajah kelima orang itu dapat terlihat jelas, mereka adalah Mahesa Amping, Argalanang, dan Ki Sandikala, sementara di belakang mereka, dua orang yang ikut mengiringi adalah Ratu Anggabhaya dan Pendeta Gunakara.

"Musim Angin daya laut sebentar lagi akan berakhir, harus menunggu beberapa bulan lagi hingga datang kembali musim angin untuk waktu berlayar.

Dan kami tidak ingin datang terlambat di saat saudaraku Raden Wijaya tengah berjuang merebut kembali hak tanah Singasari," berkata Mahesa Amping kepada Ratu Anggabhaya yang ikut ke tepi pantai mengantar keberangkatannya menuju Jawadwipa.

"Doa kami menyertai kalian, sampaikan salamku kepada Raden Wijaya," berkata Ratu Anggabhaya kepada Mahesa Amping yang terlihat tengah akan melangkah naik ke atas jukung.

Terlihat sebuah jukung tengah didorong menjauhi pantai landai yang berombak kecil dan terus meluncur ke tengah laut diiringi tatapan mata Ratu Anggabhaya dan Pendeta Gunakara yang tetap berdiri di atas pasir putih di bibir pantai yang hangat di bawah cahaya matahari menjelang senja.

Ratu Anggabhaya dan Pendeta Gunakara masih tetap berdiri memandang jukung di mana Mahesa Amping, Argalanang, dan Ki Sandikala ada di atasnya terlihat merapat di sebuah perahu jung besar Singasari yang bersauh jauh dari bibir pantai yang landai.

Jukung Mahesa Amping adalah jukung terakhir yang ditunggu.

Matahari senja terlihat mulai rebah mencium hamparan laut datar di barat bumi, dan sebuah perahu jung besar terlihat sudah mulai bergerak perlahan ke arah di mana wajah bulat matahari bersinar di ujung barat bumi.

"Mereka bertiga sebagai angin segar, membawa berita kepada Raden Wijaya bahwa keluarganya di Tanah pengungsian selalu berdoa untuk perjuangannya," berkata Ratu Anggabhaya kepada Pendeta Gunakara ketika perahu jung besar Singasari terlihat menghilang jauh di ujung lengkung kaki langit, menghilang di ujung hamparan luas laut biru yang datar di ujung barat bumi, di ujung senja di batas malam yang akan segera datang memberikan mimpinya.

"Manusia hidup di atas mimpinya, seperti kita saat ini yang berdiri memandang sebuah mimpi yang berlayar jauh ke ujung tanah harapan," berkata Pendeta Gunakara dengan senyum sarehnya mengajak Ratu Anggabhaya kembali ke rumah panjang yang tidak begitu jauh dari pantai.

Mari kita tinggalkan Ratu Anggabhaya dan Pendeta Gunakara yang terlihat tengah berjalan kembali menuju rumah panjang yang tidak begitu jauh dari tepi pantai pulau Tanah Wangi-wangi.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment