Chapter 03
"Mari kita mencari tempat terbaik untuk menyergap utusan Kerajaan Wengker yang menurut beritanya telah keluar dari Kotaraja Wengker," berkata Raden Wijaya memerintahkan para prajuritnya.
Akhirnya mereka menemukan sebuah tempat yang cocok untuk menyergap buruan mereka.
Maka, secara bergiliran mereka melakukan pengawasan, dan juga beristirahat tentunya setelah sepanjang malam harus menahan kantuk untuk tetap berjalan secepatnya mencapai hutan itu.
"Mataku sudah begitu sepet, mengantuk berat," berkata Ki Sukasrana kepada Ki Bancak sambil rebah di sebuah akar pohon kayu di hutan itu.
"Meski semalaman tidak tidur, mataku tidak biasa tidur di pagi hari.
Perutku inilah biasa berkeruyuk saat pagi datang," berkata Ki Bancak sambil meraba bungkusan bekalnya.
Demikianlah, pasukan kecil itu dengan penuh ketaatan yang tinggi saling bergiliran melakukan pengawasan.
Bila mereka tampak berbaring tidur, tidak juga melepas kewaspadaannya.
Pendengaran mereka sudah biasa terlatih untuk terus waspada di segala keadaan, meski dalam istirahat tidur sekalipun.
Bisa dikatakan bahwa tidur mereka hanya tidur ayam.
Seperti itulah tidurnya seorang prajurit di setiap peperangan.
Bagi mereka, kelengahan sedikit adalah sebuah kemalangan yang tak bisa dihindarkan; taruhannya adalah nyawa mereka.
Itulah sebabnya mereka selalu mengutamakan kewaspadaan di mana pun mereka berada.
Bahkan, terkadang tiba-tiba saja mereka terkejut langsung bangkit berdiri dari tidurnya, meski ternyata suara istrinya membuka pintu kamar membawakan minuman wedang serai di pagi hari.
Begitulah jiwa dan perasaan para prajurit di mana pun.
Matahari di atas Hutan Banaran terlihat sudah bergeser sedikit dari puncaknya, namun kerimbunan batang dan daun di hutan itu telah membuat suasana alam hutan tetap teduh dan basah.
Hanya di beberapa tempat saja sinar matahari dapat menerobos langsung ke tanah kering, memberikan cahaya terang di sekitarnya.
Beberapa prajurit Singasari masih tetap melakukan pengawasan, sementara yang lainnya telah siap siaga di beberapa tempat yang tersembunyi di antara semak belukar dan batang pohon hutan yang besar dan rindang.
Ki Bancak adalah salah seorang prajurit Singasari yang saat itu telah mendapat giliran sebagai prajurit pengawas.
Terlihat dengan lincah dan berani naik ke sebuah cabang pohon kayu yang cukup tinggi.
Ketika mendapatkan sebuah batang yang cukup terlindung dari pandangan mata, Ki Bancak pun langsung duduk bersandar di atas cabang batang pohon itu.
Akhirnya yang mereka tunggu pun datang juga.
Terlihat di kejauhan sebuah iring-iringan sekelompok orang yang tengah berjalan memasuki Hutan Banaran menyusuri jalan setapak yang ada di dalam hutan itu.
Bila dihitung, jumlah mereka ada sekitar dua puluh orang.
Di tengah iring-iringan itu terlihat dua orang tengah memikul sebuah kotak peti yang cukup berat, dapat dilihat dari kayu pemikulnya yang sedikit melengkung menahan beban peti kayu itu.
Terdengar suara burung Jalak Bali yang panjang berkali-kali di antara suara binatang hutan lainnya yang kadang kala terdengar.
Ternyata suara burung Jalak Bali itu adalah sebuah isyarat dari salah seorang prajurit pengawas Singasari dari persembunyiannya yang melihat bahwa sasaran yang mereka nantikan tengah berjalan menuju arah mereka.
Terlihat salah seorang dari beberapa orang yang beriringan berjalan itu mengangkat tangannya, dan serentak semua orang yang tengah berjalan itu langsung berhenti.
Ternyata orang yang mengangkat tangan itu adalah pemimpin mereka, yang merasakan ada sebuah keganjilan.
"Aku sering lewat di hutan ini, dan baru hari ini kudengar ada suara burung yang aneh dan tidak pernah kudengar sebelumnya di hutan ini," berkata pemimpin itu yang masih belum menurunkan tangannya.
"Berhati-hatilah," berkata pemimpin itu yang merasa ada sesuatu yang harus mereka waspadai.
Pendengaran pemimpin mereka itu cukup peka, dapat membedakan suara burung yang menurutnya baru pertama kali didengarnya di hutan itu.
Dan ternyata kali ini kecurigaannya telah terbukti, tidak jauh dari tempat mereka berpijak, terlihat begitu banyak orang yang telah berlompatan keluar dari kanan dan kiri jalan setapak di tengah hutan itu.
Sekejap ada rasa terkejut yang sangat dari semua orang-orang yang baru datang itu, keteduhan cahaya yang remang di hutan itu telah membuat pikiran mereka menyangka ada banyak hantu hutan yang muncul.
Namun hanya sekejap, mereka akhirnya menyadari bahwa yang baru muncul begitu banyaknya adalah manusia seperti mereka.
Para prajurit Singasari telah keluar dari persembunyiannya langsung menghadang sekelompok orang yang baru saja memasuki Hutan Banaran.
"Aku ingin berbicara dengan pemimpin kalian," berkata Raden Wijaya yang telah maju beberapa langkah mendekati rombongan itu.
"Aku pemimpin di sini," berkata seorang yang tadi mengangkat tangannya, seorang yang bertubuh tinggi besar dengan otot-otot menonjol di hampir seluruh tubuhnya menandakan sebagai seseorang yang sangat kuat.
"Kami prajurit Singasari tidak ingin menanam permusuhan kepada warga Wengker," berkata Raden Wijaya kepada pemimpin rombongan itu.
"Bila memang tidak ada permusuhan kepada kami, beri kami jalan agar kami dapat melanjutkan perjalanan," berkata pemimpin rombongan itu.
"Silakan melanjutkan perjalanan kalian, tetapi tinggalkan peti kayu itu untuk kami," berkata Raden Wijaya kepada pemimpin rombongan itu dengan suara yang datar.
"Kami tidak bisa pergi tanpa barang itu," berkata pemimpin rombongan itu kepada Raden Wijaya. "Apakah kamu tidak bisa menghitung berapa jumlah kami?" kembali Raden Wijaya berkata kali ini dengan kerling dan senyum.
Terlihat pemimpin rombongan itu tidak langsung menjawab, rupanya ada sedikit kegentaran di dalam hatinya melihat musuh yang lima kali lipat jumlahnya, ditambah lagi dirinya sering mendengar bahwa seorang prajurit Singasari adalah seorang petarung yang tangguh.
"Kami harus mempertahankan barang yang kami bawa sampai ke tempat tujuan," berkata pemimpin rombongan itu kepada Raden Wijaya.
Diam-diam Raden Wijaya tersenyum dalam hati, telah memastikan bahwa pemimpin rombongan itu sudah menjadi sedikit gentar lewat garis wajah dan getar suaranya.
"Aku menawarkan sebuah cara yang baik untuk kalian pikirkan, mari kita bertarung secara perseorangan.
Bila kalian menang, silakan melanjutkan perjalanan kalian.
Namun bila kami yang menang, terpaksa kalian harus merelakan barang yang kalian bawa," berkata Raden Wijaya kepada pemimpin rombongan itu.
"Berpikirlah yang jernih, penawaranku bisa berubah," berkata kembali Raden Wijaya.
Terlihat pemimpin rombongan itu tengah berpikir untung dan ruginya penawaran dari pihak lawan.
"Bila mereka beradu senjata perang terbuka, pasukanku pasti hancur binasa," berkata pemimpin rombongan itu dalam hati menimbang-nimbang penawaran Raden Wijaya.
"Aku Rangga Gajah Mungkur menerima penawaranmu," berkata pemimpin rombongan itu dengan suara tinggi, sepertinya ingin menunjukkan kewibawaannya dan telah menunjukkan jati dirinya juga jati diri rombongannya yang ternyata adalah para prajurit dari Kerajaan Wengker di balik pakaian orang biasa yang mereka kenakan hanya sebagai penyamaran bahwa mereka membawa barang upeti yang berharga untuk diserahkan kepada penguasa Kediri.
"Sudah kuduga kalian adalah prajurit Kerajaan Wengker, silakan menampilkan tiga orang petarung terbaikmu," berkata Raden Wijaya.
Tanah jalan setapak di dalam hutan itu memang sangat sempit untuk sebuah pertarungan perseorangan.
Terlihat beberapa orang prajurit Singasari tengah membabat dan membersihkan semak belukar di kiri dan kanan jalan setapak itu.
Hasilnya lumayan untuk menyaksikan sebuah pertarungan antara perwakilan dari pasukan Raden Wijaya dengan salah seorang prajurit Kerajaan Wengker.
Terlihat pemimpin prajurit Wengker yang menyebut dirinya sebagai Rangga Gajah Mungkur itu memanggil orangnya untuk maju ke arena pertarungan yang telah disiapkan.
Semua mata memandang prajurit Wengker itu yang telah dipilih oleh Ki Rangga Gajah Mungkur, seorang yang berkulit hitam legam dengan perawakan tubuh yang tinggi, kekar berotot.
Terlihat prajurit Wengker itu telah melucuti senjatanya, karena pertarungan perseorangan memang sebuah pertarungan tangan kosong.
Sementara itu Raden Wijaya yang telah melihat wakil petarung pihak lawannya tidak langsung segera memanggil salah seorang prajuritnya, hanya memandang tajam wakil prajurit dari Wengker itu dengan pandangan penuh teliti sebagaimana seorang penyabung ayam tengah menelisik ayam jago lawan.
Entah apa yang dilihat dan dipikirkan oleh Raden Wijaya dari orang yang tengah diperhatikan itu.
Yang jelas terlihat bibir Raden Wijaya sedikit tersenyum dan berbalik badan menghadap para prajuritnya sendiri.
Terlihat hampir semua prajurit Singasari menahan napasnya, mereka tahu bahwa Senapati mereka, Raden Wijaya tengah memilih siapa yang akan dimajukan sebagai wakil dari mereka.
"Kemarilah, Ki Lurah Bancak," berkata Raden Wijaya memanggil Ki Bancak dengan panggilan lengkap dengan jabatan lurah di depan namanya.
"Tuan Senapati memilih hamba?" berkata Ki Bancak kepada Raden Wijaya setelah berdiri mendekat dengan suara yang datar penuh percaya diri yang tinggi.
Terlihat Raden Wijaya tersenyum memandang wajah Ki Bancak.
"Sahabat Senapati Mahesa Amping pasti orang pilihan, aku memilih kamu mewakili prajurit Singasari," berkata Raden Wijaya kepada Ki Bancak sambil memegang pundaknya mempersilakan Ki Bancak maju ke arena pertarungan.
Begitu tenangnya Ki Bancak maju melangkah ke tengah arena sebagaimana seorang petarung sejati melangkah dengan ayunan kaki yang tegap dan dada membusungkan ke depan penuh percaya diri yang tinggi.
Ternyata cara Ki Bancak berjalan ke tengah arena itu adalah sebuah cara menjatuhkan jiwa dan semangat lawan.
Dan benar saja, sikap dan cara berjalan Ki Bancak memang membuat jiwa dan semangat lawannya menjadi bimbang.
"Orang ini memiliki rasa percaya diri yang tinggi," berkata lawan Ki Bancak kepada dirinya sendiri dengan mata yang tetap tertuju kepada Ki Bancak yang semakin mendekat ke arahnya.