Halo!

Tapak Tapak Jejak Gajahmada - Chapter 04

Memuat...
Tapak Tapak Jejak Gajahmada

Chapter 04

"Aku sudah siap, kawan," Ki Bancak berkata kepada lawannya dengan sikap yang begitu meyakinkan ketika mereka telah berhadapan.

"Aku juga telah siap untuk menghajarmu," prajurit Wengker itu berkata kepada Ki Bancak seraya langsung membuat kuda-kuda untuk segera menyerang lawannya.

Kaki prajurit itu tiba-tiba meluncur tinggi menghantam dada Ki Bancak dengan kecepatan dan tenaga yang cukup kuat.

Ternyata Ki Bancak memang sudah cukup siap menghadapi serangan awal lawannya itu. Kaki kiri Ki Bancak terlihat maju ke depan bersamaan dengan memiringkan badannya, gerakan itu dilakukan dengan sangat cepat.

Bukan main kagetnya prajurit Wengker itu melihat serangannya lewat begitu saja.

Bertambah kaget pula prajurit itu ketika tiba-tiba Ki Bancak merendahkan tubuhnya dan mengayunkan kaki kirinya setengah putaran menghantam kaki prajurit Wengker itu yang hanya bertumpu dengan satu kaki.

Serangan balik dari Ki Bancak itu berlangsung sangat cepat, membuat prajurit Wengker itu tidak dapat berbuat lain kecuali melompat menghindari kakinya terhantam putaran kaki Ki Bancak yang berputar cepat dan cukup kuat tenaganya.

Ternyata Ki Bancak sudah memperhitungkan dan membaca apa yang akan dilakukan oleh lawannya.

Maka, ketika lawannya melompat, Ki Bancak langsung mendorong kaki kanan lawannya yang masih terangkat.

Akibatnya memang cukup mencengangkan siapa pun yang menyaksikan pertarungan itu. Lawan Ki Bancak langsung terjengkang, tidak dapat menyeimbangkan tubuhnya lagi.

Buk!

Prajurit Wengker itu terlihat jatuh dengan punggung menghantam tanah basah Hutan Banaran.

Ki Bancak tidak segera memburu lawannya yang tengah terjatuh, tetapi langsung berbalik badan menghadap para prajurit Singasari sambil mengangkat satu tangannya tiga kali berturut-turut, diiringi sorak sorai gembira dari prajurit Singasari yang merasa kagum atas cara Ki Bancak yang mampu menjatuhkan lawannya dalam satu gebrakan.

"Hidup Ki Bancak!" beberapa prajurit Singasari berteriak penuh kegembiraan.

Terlihat Ki Bancak sudah berbalik badan kembali ke arah lawannya yang sudah bangkit berdiri.

Dengan penuh keyakinan dan kepercayaan diri yang tinggi, Ki Bancak sudah melangkahkan kakinya mendekati lawannya.

"Jangan terlalu gembira, tadi aku memang lengah," prajurit Wengker itu berkata kepada Ki Bancak dengan wajah penuh amarah memuncak seraya langsung mengayunkan tangannya ke arah Ki Bancak.

"Mencuri tenaga lawan!" Ki Bancak berkata sambil memiringkan badannya bersamaan dengan menggeser kaki kanannya persis sama seperti yang dilakukannya ketika menghindari serangan awal lawannya itu, tetapi kali ini diikuti dengan menangkap pergelangan tangan lawan dan menariknya searah dengan tenaga lawan.

Terlihat tubuh prajurit Wengker itu terhuyung ke depan, terbawa tarikan tangan Ki Bancak.

Namun, begitu prajurit Wengker itu berusaha dengan tenaganya menahan tarikan itu, tangan Ki Bancak dengan ringannya kembali mengikuti arah dan tenaga lawan.

Semua orang yang menyaksikan pertarungan itu sangat kagum dengan apa yang dilakukan oleh Ki Bancak.

Prajurit Wengker, lawannya yang berperawakan tinggi besar dan berotot itu, di hadapan Ki Bancak seperti seonggok karung kapas yang begitu ringan dipermainkan oleh Ki Bancak yang tampaknya sudah sangat menguasai ilmu rahasia mencuri tenaga lawan.

Ternyata Ki Bancak tampaknya tidak ingin menjatuhkan lawannya dengan segera, beberapa kesempatan telah dilepaskannya begitu saja.

Kelihatannya Ki Bancak bermaksud ingin menguras habis tenaga dan kekuatan lawannya dan membuatnya menjadi semakin putus asa.

Akhirnya Ki Bancak sudah dapat melihat bahwa lawannya memang sudah terkuras habis tenaga dan napasnya.

Maka, dalam sebuah serangan, dengan mudahnya Ki Bancak menangkap tangan lawan dan memelintirkannya hingga ke belakang pundaknya.

Sementara tangan Ki Bancak yang masih bebas telah mengunci mati prajurit Wengker itu dengan mencengkeram pinggang lawan.

Akibatnya, prajurit itu seperti merasakan napasnya putus, dan dengan mudahnya Ki Bancak mendorong prajurit yang tidak berdaya itu jatuh tersungkur mencium tanah.

Terlihat Ki Bancak telah melepaskan cengkeraman di pinggang lawan, namun masih mengunci tangan prajurit itu yang masih berbaring tengkurap.

"Berteriaklah bahwa kamu menyerah atau kupatahkan tanganmu," Ki Bancak berkata kepada prajurit Wengker itu sambil sedikit menambahkan pelintiran tangannya.

"Aku menyerah!" prajurit Wengker itu berteriak karena khawatir tangannya akan patah jika semakin dipelintir lagi oleh Ki Bancak.

Mendengar teriakan itu, Ki Bancak telah melepaskan kunciannya dan perlahan mundur menjauhi lawannya.

Seperti sebelumnya, terlihat Ki Bancak berbalik badan menghadap ke arah para prajurit Singasari yang tengah bersorak gegap gempita, merapatkan kedua tangannya di dada dan sedikit membungkukkan badannya penuh rasa terima kasih atas simpati yang diterima atas kemenangannya.

"Hidup Ki Bancak! Hidup Ki Bancak!" beberapa orang prajurit Singasari berkata mengelu-elukan Ki Bancak.

Sementara itu, tidak ada sedikit pun suara yang terdengar dari pihak prajurit Wengker. Mereka tampaknya tengah dipenuhi perasaan kecewa, petarung mereka dikalahkan dengan begitu mudah.

Terlihat Ki Rangga Gajah Mungkur bertolak pinggang menahan rasa kecewanya sambil mencari-cari siapa orang kedua yang akan dipilihnya.

"Jangan sampai mengecewakan diriku," Ki Rangga Gajah Mungkur berkata kepada salah seorang prajuritnya yang telah dipilih menjadi orang kedua yang akan turun bertarung.

Terlihat prajurit Wengker pilihan Ki Rangga Gajah Mungkur telah maju ke arena pertempuran.

Seperti sebelumnya, Raden Wijaya memperhatikan petarung lawan dari kaki hingga kepala, seakan mencari kelebihan dan kelemahan petarung lawan.

Tiba-tiba Raden Wijaya menangkap kilatan dari sorot mata petarung Wengker sebagai tanda bahwa orang bersangkutan telah menguasai dan mampu mengungkapkan inti tenaga cadangan di dalam dirinya.

Terlihat Raden Wijaya berbalik, dan segenap pasukannya seperti menahan napas menunggu apakah ia yang akan maju mewakili ke arena pertarungan.

Mata Raden Wijaya masih terus mencari, hingga akhirnya tertuju ke arah tubuh salah seorang prajuritnya yang masih muda dan cukup tampan.

"Aku yakin kamu mampu menandingi lawanmu," Raden Wijaya berkata kepada prajurit muda itu yang tidak lain adalah Gajah Pagon.

"Semoga hamba dapat memenuhi harapan Tuanku," Gajah Pagon berkata merapatkan kedua tangannya penuh hormat kepada Raden Wijaya.

Perlahan Gajah Pagon melangkah ke tengah arena.

"Persiapkan dirimu, anak muda," prajurit Wengker itu berkata, seakan meremehkan Gajah Pagon, pemuda di hadapannya.

"Aku sudah siap," Gajah Pagon berkata sambil mengheningkan diri, menyerahkan segala akal dan budinya kepada Yang Maha Memiliki Kekuatan.

"Lihat seranganku," prajurit Wengker itu berkata sambil menerjang Gajah Pagon dengan sebuah tendangan cukup kuat dan cepat.

Gajah Pagon adalah seorang yang selalu berhati-hati, tidak sedikit pun meremehkan lawannya.

Dengan sigap ia mengelak ke samping dan menyusul dengan melancarkan serangan balasan berupa tendangan ke arah tubuh lawan.

Melihat bahwa serangan awalnya dapat dengan begitu mudah dielakkan oleh Gajah Pagon, bahkan langsung membalas serangannya, prajurit Wengker itu menyadari bahwa pemuda itu bukan pemuda sembarangan.

Maka, sambil mengelak, prajurit Wengker itu kembali membuat serangannya dengan kecepatan dan kekuatan berlipat.

Bukan main cepatnya serangan pihak lawan yang juga telah didasari tenaga cadangan kekuatan dari dalam diri yang disalurkannya melalui tangan dan pukulannya.

Gajah Pagon, yang sudah berhati-hati di awal pertempuran, dapat merasakan kecepatan dan kekuatan lawan. Maka, dengan segera Gajah Pagon menghentakkan kecepatannya pada tataran ilmu berlapis ganda.

Bukan main kagetnya prajurit Wengker itu. Dengan kecepatan melampaui dirinya, Gajah Pagon dapat melesat menghindari pukulannya, bahkan membalas serangannya dengan pukulan mengarah ke pinggangnya yang terbuka, sebuah titik serangan yang cepat dan sangat sukar dihindarkan.

Terlihat prajurit Wengker itu menghindari serangan Gajah Pagon dengan melenting kayang ke belakang dan menjejakkan kakinya di tanah dengan begitu cepat dan indah.

"Maaf, aku telah meremehkanmu," prajurit Wengker itu berkata kepada Gajah Pagon yang ternyata bukan seorang pemuda biasa sebagaimana anggapannya semula.

Setelah berkata demikian, terlihat prajurit itu kembali menyerang Gajah Pagon, tentunya dengan kecepatan dan kekuatan yang berlipat.

Kembali Gajah Pagon dapat menghindar dan langsung menyerang balik dengan kecepatan yang melampaui lawannya.

Demikianlah, pertempuran semakin lama semakin seru, semakin cepat, dan sangat menegangkan karena keduanya terus meningkatkan kecepatan dan kekuatannya.

"Mereka masih sedang saling menjajaki tataran ilmu masing-masing," Raden Wijaya berkata dalam hati memperhatikan pertempuran yang sedang berlangsung.

Sebagaimana yang dilihat oleh Raden Wijaya, ternyata Gajah Pagon masih terus berusaha mengimbangi tataran ilmu lawannya dan tidak langsung menyerang lawannya dengan tataran ilmu puncaknya.

Akibatnya, pertempuran berlangsung menjadi semakin cepat, semakin keras, sangat seru, dan masih belum dapat ditebak siapa di antara keduanya yang mempunyai tataran ilmu lebih tinggi.

Gajah Pagon dapat merasakan angin pukulan lawan yang begitu keras dan kuat lewat setiap kali serangannya meleset di tempat kosong.

"Aku harus berhati-hati," Gajah Pagon berkata dalam hati menghadapi lawannya yang tampaknya punya kekuatan yang bukan sekadar fisik, tetapi kekuatan cadangan dari dalam diri yang dapat dihentakkan dan disalurkannya melalui tangan dan kakinya dalam setiap serangan, sebuah serangan pukulan yang sangat berbahaya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment