Chapter 05
"Anak muda ini masih saja dapat menghindar," berkata pula prajurit Wengker itu dalam hati dengan penuh penasaran setiap kali menyerang dengan tataran ilmu yang telah ditingkatkan.
Demikianlah, semakin lama pertempuran itu berlangsung semakin cepat, hingga keduanya terlihat melesat seperti bayangan saling menyerang dan menghindar.
"Pantas Senapati Raden Wijaya memilih anak muda itu," berkata salah seorang prajurit Singasari yang pandangannya sudah kabur melihat pertempuran yang semakin cepat, mengagumi ilmu Gajah Pagon yang ternyata sudah begitu tinggi melampaui dirinya sendiri.
"Aku bersyukur tidak dipilih oleh Senapati Raden Wijaya," berkata kawan prajurit Singasari di sebelahnya, membayangkan dirinya akan menjadi bulan-bulanan pukulan lawannya.
Sementara pertempuran masih terus berlangsung dengan serunya, semua yang melihat pertempuran itu sepertinya terus menahan napas tegang manakala bahaya mengancam pada diri petarungnya, namun akhirnya mereka bernapas lega manakala petarungnya dapat keluar dari sergapan dan serangan lawan yang datang beruntun dan berlangsung begitu cepat.
"Tataran ilmu Gajah Pagon berada di atas ilmu lawannya," berkata Raden Wijaya dalam hati yang terus mengamati pertempuran itu.
Ternyata penilaian Raden Wijaya tidak meleset jauh dengan apa yang terjadi di arena pertempuran itu.
Ternyata memang tataran ilmu Gajah Pagon lebih di atas tataran ilmu lawannya.
Terlihat beberapa kali Gajah Pagon dapat dengan mudah mengelak setiap serangan prajurit Wengker itu yang semakin lama telah menguras banyak tenaganya.
Prajurit Wengker itu merasakan serangan Gajah Pagon semakin meningkat cepat dan sangat berbahaya, beberapa kali dirinya harus melompat jauh menghindari serangan yang begitu kuat dan cepat.
Dan akhirnya prajurit Wengker itu tidak dapat lagi mengimbangi kecepatan serangan Gajah Pagon yang telah meningkatkan tataran ilmunya lebih tinggi lagi.
Serangan Gajah Pagon tidak dapat lagi diikuti oleh pandangan mata lawannya, begitu tiba-tiba dan sangat cepat datang.
Desss! Sebuah tendangan Gajah Pagon yang dilambari tenaga cadangan dari inti kekuatan diri berhasil menembus dada prajurit Wengker itu.
Kasihan, prajurit Wengker itu merasakan seperti ditabrak tiga ekor kuda bersamaan, terlempar lima langkah jatuh terlentang di tanah merasakan tulang dadanya remuk patah, terlihat napasnya sesak tersengal merasakan sakit yang sangat.
Lama orang itu tidak mampu bangkit berdiri.
Terlihat dua orang prajurit Wengker datang menghampirinya, menggotongnya ke pinggir arena.
"Dua petarung Ki Rangga sudah kami kalahkan, itu artinya tidak perlu ada lagi petarung ketiga," berkata Raden Wijaya kepada Ki Rangga Gajah Mungkur, pemimpin prajurit Wengker.
"Kami mengaku kalah, kami juga tidak akan mampu menghadapi pasukanmu seandainya saja ada keinginanku mengelak kesepakatan yang sudah kita buat," berkata Ki Rangga Gajah Mungkur kepada Raden Wijaya.
"Ki Rangga rela meninggalkan barang upeti itu?" bertanya Raden Wijaya kepada Ki Rangga Gajah Mungkur.
"Bukankah itu kesepakatan kita?" bertanya balik Ki Rangga Gajah Mungkur kepada Raden Wijaya.
"Dari awal sudah kami katakan, bahwa tidak ada permusuhan apa pun antara kami dengan orang Wengker," berkata Raden Wijaya kepada Ki Rangga Gajah Mungkur dengan sedikit senyum di bibirnya.
"Bawalah kembali upeti itu, sampaikan salamku kepada Raja Wengker bahwa Kerajaan Singasari masih ada, selama itu pula tidak ada hak untuk para penguasa di Kediri menerima upeti dari siapa pun di Jawadwipa ini," berkata kembali Raden Wijaya kepada Ki Rangga Gajah Mungkur.
"Akan kusampaikan salammu kepada Raja kami, juga cerita tentang pasukan Singasari hari ini yang telah memberi kesempatan pasukan kecil dari Wengker untuk tetap hidup, tanpa korban dan darah. Cerita ini juga akan kami sampaikan kepada keluarga kami, istri dan anak-anak kami, agar mereka mengetahui kepada siapa terima kasih dihaturkan," berkata Ki Rangga Gajah Mungkur penuh haru.
"Kita sudah menyelesaikan tugas kita," berkata Raden Wijaya kepada pasukannya ketika melihat pasukan Wengker telah jauh menghilang di kerapatan Hutan Banaran.
Bukan main senangnya para prajurit Singasari itu bahwa tugas mereka telah selesai tanpa begitu banyak kesukaran, juga tanpa peperangan dan korban.
"Kita kembali ke Kota Raja Singasari," berkata kembali Raden Wijaya kepada semua prajuritnya yang disambut dengan sorak-sorai penuh kegembiraan.
Terlihat beberapa prajurit tengah mengemasi beberapa keperluan untuk perjalanan kembali mereka ke Kota Raja Singasari.
"Aku berharap setelah tiba di Kota Raja Singasari kita diliburkan dua-tiga hari," berkata salah seorang prajurit kepada kawannya.
"Dua atau tiga hari cukup untuk menemui keluarga, bercanda seharian dengan putraku yang baru bisa berjalan," berkata kawan prajurit itu menimpali perkataannya.
"Bercanda dengan putramu atau ibu dari putramu?" berkata prajurit itu menggoda kawannya.
Terlihat kawan prajurit itu hanya tersenyum tersipu, tidak menimpali godaan kawannya itu.
Sementara itu beberapa prajurit tampaknya sudah bersiap untuk melakukan perjalanannya kembali, sepertinya mereka sudah tidak sabar menunggu perintah meninggalkan Hutan Banaran secepatnya.
Demikianlah, menjelang matahari di atas Hutan Banaran terlihat sudah bergeser rebah di ujung barat bumi, menjelang suasana di sekitar Hutan Banaran sudah hampir begitu gelap karena sinar matahari yang redup teduh tidak mampu lagi menerangi Hutan Banaran yang kerap ditumbuhi banyak pohon kayu yang tinggi, rimbun, dan bercabang.
Terlihat iring-iringan prajurit Singasari telah keluar dari Hutan Banaran.
Dalam perjalanan pulang menuju Kota Raja Singasari, mereka tidak lagi harus berjalan melambung menghindari beberapa padukuhan, mereka berjalan melewati jalan-jalan yang biasa dilalui oleh banyak orang.
Di sepanjang perjalanan manakala melewati sebuah padukuhan, iring-iringan pasukan ini menjadi tontonan yang menarik orang-orang padukuhan.
Inilah yang diinginkan oleh Raden Wijaya, menunjukkan bahwa prajurit Singasari masih ada, masih siap kembali merebut takhta Singasari yang tersita.
"Hidup prajurit Singasari," berkata beberapa orang dari balik pagar halaman rumahnya menyongsong iring-iringan prajurit Singasari yang tengah melewati sebuah padukuhan.
"Kami sudah membawa perbekalan kami sendiri," berkata Raden Wijaya kepada seorang Demang ketika pasukannya harus bermalam di sebuah kademangan.
"Lumbung-lumbung kami tidak akan berkurang. Terimalah kegembiraan dan kebanggaan kami telah disinggahi para pahlawan kami, prajurit Singasari," berkata Ki Demang kepada Raden Wijaya yang menolak menerima sumbangan makanan. Demikianlah iring-iringan pasukan Raden Wijaya akhirnya setelah melakukan perjalanan beberapa hari telah sampai juga di Kota Raja Singasari.
Ternyata beberapa pasukan yang bertugas di beberapa tempat berbeda sudah lebih dulu sampai di Kota Raja Singasari.
Bukan main gembiranya Raden Wijaya mendapatkan laporan dari beberapa perwiranya bahwa mereka umumnya telah melakukan tugas dengan baik.
Beberapa hari kemudian Raden Wijaya telah mulai menuai atas apa yang telah dilakukan bersama seluruh pasukannya di berbagai tempat menggunting jalur upeti untuk penguasa Kediri.
Telah berdatangan utusan dari raja-raja di seluruh tanah Jawa menyampaikan dukungan dan kesetiaannya.
"Kami atas nama junjungan tuanku Raja Wengker menyampaikan dukungan dan kesetiaan kami," berkata salah seorang utusan dari Raja Wengker yang datang ke Kota Raja Singasari.
"Kami dari Kerajaan Pawetan siap menjadi sahabat perjuangan tuanku," berkata seorang utusan dari sebuah kerajaan Pawetan kepada Raden Wijaya menyampaikan dukungan dan kesetiaannya.
Dan banyak lagi dari berbagai daerah yang dulu pernah bersatu di bawah naungan Singasari Raya datang menyampaikan kesetiaannya, terutama mereka para raja yang masih kerabat dan keluarga dekat istana Singasari.
"Sampaikan salamku kepada junjungan kalian, bahwa kami mengucapkan rasa terima kasih tak terhingga atas kesediaan mendukung perjuangan kami, dan kami tidak akan meninggalkan sahabat setia dalam suka maupun duka," berkata Raden Wijaya kepada para utusan itu di pesanggrahan-nya di Istana Singasari.
Demikianlah, Raden Wijaya banyak menerima tamu utusan dari beberapa daerah yang menyampaikan kesetiaan mereka dan dukungannya.
Dan yang membuat Raden Wijaya menjadi begitu terharu manakala utusan resmi dari Kerajaan Sunda Galuh datang dari tempat yang begitu jauh.
"Guru Suci Dharmasiksa telah meminta kami datang menemui cucundanya, beliau sangat prihatin mendengar apa yang telah terjadi dan menimpa keluarga istana Singasari ini," berkata utusan itu kepada Raden Wijaya.
"Sampaikan salamku kepada Rama Dharmasiksa dan keluarga istana Sunda Galuh, bahwa cucunda dan keluarga tidak berkurang apa pun, hanya mohon doa restunya untuk perjuangan cucunda," berkata Raden Wijaya kepada utusan resmi dari Kerajaan Sunda Galuh itu.
"Salam tuanku kepada Guru Suci Dharmasiksa dan keluarga istana Sunda Galuh akan kami sampaikan," berkata utusan itu kepada Raden Wijaya sambil memohon untuk pamit diri.
Lama Raden Wijaya merenung seorang diri di pesanggrahan-nya ketika utusan dari Kerajaan Sunda Galuh itu keluar meninggalkannya.
"Seandainya hari ini kuminta pasukan segelar sepapan dari Kerajaan Sunda Galuh, pasti Rama Dharmasiksa akan mendatangkannya untukku," berkata Raden Wijaya dalam hati.
Sementara itu langit senja di atas Pesanggrahan Raden Wijaya di Istana Singasari sudah mulai meredup pergi berganti sang malam bersama rembulan bulat penuh yang tersenyum datang mengintip di ujung atap rumah panggung di depan pendapa utama.
"Malam ini rembulan begitu indahnya," berkata Arya Kuda Cemani kepada Raden Wijaya ketika muncul di tangga teratas di pendapa utama Pesanggrahan Raden Wijaya di Istana Singasari.
Arya Kuda Cemani malam itu sengaja datang seperti malam-malam sebelumnya menemani Raden Wijaya di pesanggrahan-nya.