Halo!

Tapak Tapak Jejak Gajahmada - Chapter 07

Memuat...
Tapak Tapak Jejak Gajahmada

Chapter 07

"Tapi terkadang ada beberapa pedagang yang membawa banyak tukang pukul dalam perjalanan mereka," kata temannya mengingatkan.

"Cuma kelas tukang pukul pasar, cukup aku sendiri yang menangani," kata prajurit brewok itu penuh percaya diri.

"Bagus, kamu sendiri saja yang berangkat," kata kawannya sambil mencibirkan bibirnya.

Maka pada keesokan harinya, saat hari sudah terang pagi, terlihat beberapa kelompok prajurit telah mulai meninggalkan Kotaraja Singasari.

Mereka menuju ke beberapa tempat tertentu yang dianggap sering dilalui oleh para pedagang keluar masuk Kotaraja Kediri dari berbagai penjuru.

Sementara itu, jumlah petugas prajurit sandi sengaja ditambah agar dapat lebih saksama lagi memantau semua perkembangan yang terjadi, terutama di Kotaraja Kediri.

Ternyata prajurit Singasari yang bertugas memutuskan jalur perdagangan memang sungguh dapat diandalkan, mereka telah melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya dan tidak bergeming manakala seorang pedagang mencoba menguji kesetiaan mereka.

"Kami sudah mendapat upah yang cukup sebagai seorang prajurit, bawalah kembali semua barang-barang kamu," kata seorang perwira prajurit kepada seorang pedagang yang mencoba bermain mata kepadanya.

Namun di beberapa tempat para prajurit Singasari harus berlaku keras ketika para pedagang dengan para pengawalnya mencoba menerobos jalan dengan paksa.

Satu-dua hari Kotaraja Kediri memang belum merasakan dampak apa pun dari penutupan jalur perdagangan mereka.

Namun setelah dua pekan berlalu, baru para warga Kotaraja Kediri merasa terganggu, terutama beberapa barang yang tidak dapat dipenuhi warganya sendiri menjadi langka, atau ada barangnya, namun harus ditukar dengan harga yang cukup tinggi.

Beberapa saudagar Kediri yang dekat dengan pihak istana Kediri sudah mencoba melaporkannya kepada para pejabat istana.

Bukan main galaunya Maharaja Kediri mendengar laporan dari beberapa pejabat istana ketika mendengar berita tentang penutupan jalur perdagangan.

"Orang-orang Tumapel itu harus diberi pelajaran," kata Maharaja Jayakatwang kepada semua pejabat istana di ruang Maguntur Raya dengan suara penuh kemarahan.

"Hamba mohon izin paduka untuk mengerahkan prajurit Kediri menghalau penutupan jalur perdagangan itu," kata Patih Kebo Mundarang.

"Hari ini kuizinkan dirimu untuk bertindak memberi pelajaran kepada orang-orang Tumapel itu, juga kepada siapa pun yang mengganggu kedaulatan kekuasaanku," kata Maharaja Jayakatwang kepada Patih Kebo Mundarang.

"Titah Baginda akan hamba laksanakan," kata Kebo Mundarang kepada Maharaja Jayakatwang.

Demikianlah, setelah usai pertemuan di ruang Maguntur Raya, Kebo Mundarang langsung memanggil beberapa perwiranya.

"Kita harus bersihkan semua jalur perdagangan dari para pengacau," kata Patih Kebo Mundarang kepada beberapa perwiranya.

"Para pengacau terpencar dalam beberapa titik jalur," kata salah seorang perwiranya.

"Menurut hamba jalur menuju Ujung Galuh adalah jalur utama yang harus dibersihkan terlebih dahulu," kata salah seorang Senapatinya kepada Patih Kebo Mundarang.

"Bagus, kuberikan untukmu dua ribu prajurit Kediri untuk membersihkan jalur menuju Ujung Galuh," kata Patih Kebo Mundarang kepada Senapatinya itu yang bernama Senapati Jaran Pekik.

Bukan main bangganya Senapati Jaran Pekik yang dipercayakan melaksanakan tugas itu, terbayang dalam pikirannya sebuah Bandar Ujung Galuh yang besar yang akan segera dikuasai.

"Setiap hari para saudagar akan datang kepadaku meminta sebuah perlindungan," kata Senapati Jaran Pekik dalam hati membayangkan keuntungan pribadi yang akan didapat di samping pujian sang Patih tentunya.

Demikianlah, pada hari itu juga Senapati Jaran Pekik sudah menyiapkan prajuritnya yang akan dibawanya keluar dari Kotaraja Kediri.

Terlihat kesibukan di sebuah barak prajurit yang tidak jauh dari istana Kediri, beberapa prajurit yang besok akan berangkat tengah menyiapkan dirinya.

"Gagal sudah rencanaku untuk izin pulang kampung," kata seorang prajurit Kediri kepada kawannya.

"Bukankah pekan lalu kamu sudah izin pulang kampung?" bertanya kawannya itu.

"Ketika pulang kampung, aku tertarik kepada seorang gadis tetanggaku yang sudah semakin cantik," kata prajurit itu kepada kawannya.

"Aku mengerti, kamu minta izin pulang kampung lagi untuk meminta orang tuamu datang melamarnya," kata kawannya itu mencoba menebak pikiran kawannya itu.

"Benar, itulah yang kupikirkan. Aku takut gadis itu keduluan dilamar orang lain," kata prajurit itu dengan wajah bersungut.

"Kalau memang jodoh, tidak akan lari ke mana-mana," kata kawannya mencoba menghibur.

"Maksudmu meski gadisku itu akhirnya sudah menjadi janda?" kata prajurit itu sambil berkacak pinggang memandang kawannya yang langsung pura-pura sibuk membersihkan senjatanya.

Kawannya itu sepertinya tidak memedulikan lagi prajurit itu, terlihat asyik sendiri menyapu punggung pedangnya dengan minyak dan menggosoknya perlahan.

Beberapa prajurit Kediri saat itu memang sedang menyiapkan dirinya, menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk perjalanan mereka, yang dikabarkan dengan begitu sangat mendadak.

Namun sebagai seorang prajurit mereka memang harus siap sedia setiap saat. Kapan pun, meski di tengah malam sekalipun.

Namun ternyata prajurit sandi Singasari sudah berada di hampir setiap penjuru Kotaraja Kediri.

Berita tentang akan berangkatnya dua ribu prajurit Kediri sudah mereka dapatkan.

Dan mereka tidak harus menunggu hari esok, hari itu juga seorang prajurit sandi Singasari keluar dari Kotaraja Kediri, memacu kudanya membawa berita yang sangat penting itu.

Prajurit sandi itu terus memacu kudanya tanpa berhenti, bahkan ketika hari menjelang malam.

Dalam pikirannya justru malam hari sepanjang jalan menjadi sepi dan tidak seorang pun memperhatikan dirinya terutama ketika harus melewati sebuah jalan padukuhan.

Namun di sebuah bulakan panjang, prajurit sandi Singasari itu menghentikan kudanya tepat di sebuah rumah yang terpisah dan terkucil dari banyak rumah di sebuah padukuhan.

Ternyata rumah itu adalah rumah penghubung jalur sandi para prajurit sandi Singasari yang sengaja dibangun antara Kotaraja Kediri dan Kotaraja Singasari untuk berbagai keperluan.

"Rawatlah kuda itu dengan baik, setengah hari perjalanan kami tidak beristirahat," kata prajurit sandi itu kepada seseorang kawannya di rumah itu sambil melompat ke punggung kuda baru.

"Semoga selamat sampai di tujuan," kata kawannya itu kepada prajurit sandi yang menjawabnya dengan sebuah senyuman sambil langsung menghentakkan perut kuda yang ditungganginya itu dengan kakinya.

Maka terlihat kuda itu seperti kaget terhentak mengangkat kedua kakinya dan langsung melangkah berlari diiringi pandangan mata kawan prajurit sandi itu.

Sebentar saja kuda dan prajurit sandi itu sudah menghilang di kegelapan malam.

Sepanjang malam prajurit sandi itu terus memacu kudanya tiada henti, dan ketika warna langit malam mulai memerah di ujung pagi, baru ia terlihat melambatkan laju kudanya dan berhenti di sebuah jalan di pinggir sebuah hutan.

Terlihat prajurit sandi itu bersandar di sebuah batang pohon besar dan membiarkan kudanya beristirahat, minum, dan merumput di sebuah sungai kecil yang tidak jauh dari tempatnya bersandar.

Dan ketika suasana hutan dan jalan tempatnya beristirahat sudah mulai berwarna bening pagi, prajurit sandi itu kembali melanjutkan perjalanannya ke Kotaraja Singasari yang sudah tinggal setengah hari perjalanan lagi.

Demikianlah, ketika matahari mulai bergeser ke sisi barat kaki langit, prajurit sandi itu terlihat sudah memasuki gerbang Kotaraja Singasari.

"Beristirahatlah, aku akan ke istana membawa beritamu," kata Arya Kuda Cemani kepada prajurit sandi itu di rumahnya.

Arya Kuda Cemani yang sudah menerima berita tentang pasukan Kediri yang akan menggempur jalur perdagangan sampai ke Ujung Galuh langsung saat itu juga menemui Raden Wijaya di pasanggrahannya.

"Hari ini pasukan Kediri baru sepertiga perjalanannya menuju Ujung Galuh," kata Raden Wijaya ketika menerima berita dari Arya Kuda Cemani di pendapa utama bersama Mahesa Amping.

"Saatnya pasukan khusus ke arena," kata Mahesa Amping kepada Raden Wijaya.

"Malam ini juga kita berangkat bergabung dengan beberapa prajurit kita yang berada di jalur Ujung Galuh," kata Raden Wijaya kepada Mahesa Amping.

"Tugas kita menghambat dan mengurangi jumlah mereka yang akan langsung disapu bersih dua ribu pasukan kita yang sudah menunggu di Ujung Galuh," Raden Wijaya kembali berkata menyampaikan rencana dan siasat perangnya.

"Siapa yang Raden percayakan memimpin pasukan kita di Bandar Ujung Galuh?" bertanya Arya Kuda Cemani kepada Raden Wijaya yang diam-diam mengagumi siasat perang Raden Wijaya yang dilihatnya sudah semakin matang.

"Aku percayakan kepada Ranggalawe membawa dua ribu pasukan kita ke Bandar Pelabuhan Ujung Galuh," kata Raden Wijaya kepada Arya Kuda Cemani.

"Dua ribu pasukan kita menunggu pasukan Kediri yang sudah patah semangat dirongrong pasukan khususmu selama di perjalanannya, sebuah siasat perang yang hebat," kata Arya Kuda Cemani memuji jalan pikiran Raden Wijaya.

"Ujung Galuh adalah bandar pelabuhan yang sangat penting bagi Kediri, menguasai Ujung Galuh sama artinya menguasai urat leher Kotaraja Kediri," kata Raden Wijaya menyampaikan pandangannya kepada Arya Kuda Cemani dan Mahesa Amping di pendapa utama.

Sementara itu, sang senja yang bening mewarnai lengkung langit menyapa sang surya yang terlihat redup rebah di ujung barat bumi.

"Besok kalian sudah dapat berangkat ke Bandar Ujung Galuh," kata Raden Wijaya kepada Ranggalawe dan beberapa perwiranya di pendapa utama yang sengaja diundang untuk mendengarkan beberapa penjelasan penting yang harus diketahui oleh mereka.

"Kami mohon diri menyiapkan para prajurit," kata seorang perwira mewakili kawan-kawannya kepada Raden Wijaya setelah mereka merasa cukup mengerti apa yang harus dilakukannya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment