Chapter 08
Dan senja pun akhirnya berlalu manakala wajah malam mulai muncul, membawa senyum rembulan kuning bulat mengintip di pucuk atap rumah panggung di depan pendapa utama Pasanggrahan Raden Wijaya.
"Kita berpisah tempat dan tugas, semoga keberuntungan selalu mengiringi langkah kita," kata Rangga Lawe ketika akan pamit dari Pendapa Utama untuk melihat kesiapan para prajurit Singasari malam itu yang akan berangkat keesokan harinya.
Dan angin malam yang dingin sepertinya terus setia menemani para prajurit yang berjaga di gardu ronda di muka pintu gerbang Istana Singasari, ketika mata mereka melihat beberapa bayangan penunggang kuda keluar dari lorong gelap istana yang lengang, semakin mendekati mereka.
Empat orang prajurit penjaga terlihat semuanya keluar dari gardu ronda menyongsong ketujuh bayangan penunggang kuda yang menjadi semakin jelas ketika mereka semakin mendekat berjalan ke arah keempat prajurit peronda itu. Keempat prajurit peronda itu akhirnya dapat melihat jelas ada tujuh orang penunggang kuda, namun wajah ketujuh penunggang kuda itu masih terhalang keremangan malam.
"Siapakah gerangan ketujuh penunggang kuda itu?" Terlihat keempat penjaga yang lengkap membawa senjata tombaknya itu dengan penuh hormat meletakkan satu telapak tangan tegak di depan dada mereka sambil sedikit menundukkan badannya setelah mengetahui siapa gerangan ketujuh penunggang kuda itu.
Ternyata ketujuh penunggang kuda itu adalah Raden Wijaya dan Senapati Mahesa Amping yang berjalan beriringan. Dengan senyum penuh, Senapati Mahesa Amping menyapa keempat penjaga itu sambil melambaikan tangannya saat melewati mereka.
Di belakangnya terlihat Gajah Pagon beriringan dengan Ki Sukasrana.
Sementara di belakang, yang terakhir adalah Ki Sandikala yang berjalan beriringan bersama Ki Bancak dan Argalanang.
Malam itu mereka akan segera bergabung dengan beberapa prajurit yang sedang bertugas di jalur perdagangan Kotaraja Kediri menuju Ujung Galuh.
Terlihat mereka sudah keluar dari gerbang Istana, diikuti pandangan mata keempat prajurit peronda yang terus mengikuti langkah kaki kuda yang semakin menjauh dan akhirnya menghilang terhalang kegelapan malam di jalan Kotaraja Singasari yang masih lengang itu.
"Mari kita berpacu mengusir dingin malam," kata Raden Wijaya kepada Mahesa Amping sambil menghentakkan perut kudanya dengan kakinya agar berlari kencang. Melihat Raden Wijaya telah memacu kudanya berlari, Mahesa Amping langsung mengejar, ikut menghentakkan perut kudanya agar segera berlari mengejar kuda Raden Wijaya.
Maka kelima kawannya, yang melihat Mahesa Amping dan Raden Wijaya telah memacu kudanya, tidak ingin tertinggal jauh. Mereka pun ikut memacu kudanya mengejar Mahesa Amping dan Raden Wijaya yang sudah jauh dari mereka.
Demikianlah, di malam gelap dan dingin itu terlihat tujuh penunggang kuda berpacu menyusuri jalan tanah yang sepi seperti tujuh bayangan hitam, berlari saling mengejar dengan pakaian dan rambut mereka berkibar dihembus angin sepanjang jalan.
Kuda-kuda mereka ternyata adalah kuda-kuda pilihan yang dapat berlari kencang serta kuat berjalan seharian tanpa henti.
Akhirnya mereka telah sampai di persimpangan jalan menuju Kotaraja Kediri.
Terlihat Raden Wijaya memperlambat laju kudanya, diikuti oleh keenam kawannya yang juga turut memperlambat laju kuda mereka.
"Temaram langit sudah bertebar warna merah pagi, mari kita temui mereka di Hutan Simpang," kata Raden Wijaya kepada keenam kawannya itu sambil melompat turun dari punggung kudanya.
Terlihat ketujuh orang itu sudah mulai memasuki Hutan Simpang sambil menuntun kuda-kuda mereka masuk lebih jauh lagi ke dalam Hutan Simpang itu, menyusuri jalan setapak yang biasa dilalui oleh para pemburu atau orang-orang yang memiliki kepentingan tertentu di hutan itu.
Sementara itu, sang pagi sudah mulai membangunkan kicau burung di Hutan Simpang itu.
Terlihat cahaya matahari menerobos melalui daun dan dahan, menghangatkan tanah hutan.
"Mereka tengah mengintai kita," bisik Raden Wijaya kepada Mahesa Amping yang sama-sama mempunyai pendengaran sangat tajam, telah mengetahui bahwa ada banyak mata tengah bersembunyi di sekitar mereka.
"Keluarlah kalian, kita orang sendiri," kata Mahesa Amping dengan suara keras, memecah kelengangan suasana Hutan Simpang di pagi itu.
Terlihat beberapa orang bermunculan dari berbagai tempat persembunyiannya, langsung mendekati Raden Wijaya dan rombongannya.
Orang-orang yang muncul itu ternyata para prajurit Singasari.
"Ampunkan hamba yang mencurigai kehadiran Tuanku," kata seorang prajurit perwira kepada Raden Wijaya.
"Justru kami yang harus meminta maaf, datang tiba-tiba," kata Raden Wijaya kepada prajurit perwira itu, pemimpin prajurit yang ada di Hutan Simpang.
Setelah memastikan keselamatan masing-masing, prajurit perwira itu bercerita beberapa hal mengenai tugas mereka menghadang semua pedagang yang masuk dan keluar menuju Kotaraja Kediri.
"Tugas kalian sekarang adalah menghambat pasukan Kediri yang akan mengamankan jalur ini dan menguasai Bandar Pelabuhan Ujung Galuh," kata Raden Wijaya kepada prajurit perwiranya, menceritakan tentang rencana dan siasatnya untuk menghambat dan mengganggu pasukan Kediri.
"Hamba akan menyampaikan tugas ini kepada semua prajurit," kata prajurit perwira itu pamit di hadapan Raden Wijaya untuk menemui semua bawahannya.
Setelah prajurit perwira itu pergi, Raden Wijaya dan keenam sahabatnya terlihat tengah membuat sebuah rencana untuk menyambut kedatangan pasukan Kediri yang diperkirakan akan melewati Hutan Simpang itu.
"Merobohkan pohon di kiri kanan jalan ketika pasukan Kediri lewat?" tanya Ki Sukasrana ketika mendengar salah satu siasat Raden Wijaya, apalagi dilihatnya bahwa pohon kayu di sepanjang Jalan Simpang rata-rata sangat besar, tidak bisa dipeluk oleh dua tangan orang biasa.
"Aku sendiri yang akan melakukannya," kata Raden Wijaya kepada Ki Sukasrana sambil tersenyum.
"Tapi aku hanya dapat melakukannya pada satu sisi, siapa yang dapat melakukannya di sisi lain?" kata Raden Wijaya, memandang keenam sahabatnya untuk meminta pertimbangan dari mereka.
"Ki Sandikala dapat melakukannya," kata Mahesa Amping sambil memandang Ki Sandikala.
Dan saat itu, semua pandangan mata tertuju hanya kepada Ki Sandikala.
"Mungkin aku dapat melakukannya, tapi tidak secepat Raden Wijaya," kata Ki Sandikala kepada Raden Wijaya sambil merangkapkan kedua tangannya.
"Bila saudaraku Senapati Mahesa Amping yang menunjuk, aku sudah langsung percaya bahwa Ki Sandikala pasti dapat melakukannya," kata Raden Wijaya. Ia percaya kepada Mahesa Amping, dan diam-diam menaruh hormat pada Ki Sandikala yang selalu mengenakan pakaian jubah hitam yang menandakan dirinya adalah seorang guru suci dari sebuah aliran agama.
Terlihat Ki Sukasrana dan Gajah Pagon diam-diam melirik ke arah Ki Sandikala yang belum begitu lama dikenalnya, membayangkan bahwa pendeta yang jarang bicara itu dapat menumbangkan pohon besar, dan tidak hanya satu pohon besar.
"Ternyata pendeta sahabat Mahesa Amping adalah seorang yang sakti," kata Ki Sukasrana dan Gajah Pagon dalam hati masing-masing.
Sementara itu, Ki Bancak dan Argalanang, yang sudah mengenal siapa Ki Sandikala sebagai seorang pemimpin besar persaudaraan Padepokan Teratai Putih di Jawadwipa dan Balidwipa, merasa yakin akan kemampuan dan kesaktian guru suci itu.
"Seratus prajurit Singasari di tempat persembunyiannya langsung membidik pasukan Kediri yang sedang kacau menghindari pohon tumbang, sebuah rencana dan siasat yang hebat," kata Argalanang memuji siasat Raden Wijaya.
"Mereka pasti tidak membiarkan diri mereka menjadi umpan anak panah; pasti beberapa di antara mereka akan mencari arah sumber para pembidik gelap itu," kata Gajah Pagon memberikan pandangannya mengenai rencana dan siasat Raden Wijaya.
"Saudaraku ini sering bermain-main dengan kabut," kata Raden Wijaya sambil memandang Mahesa Amping.
Saat itu juga, semua pandangan tertuju ke arah Mahesa Amping.
Melihat semua mata memandangnya, Mahesa Amping membalas pandangan semua sahabatnya.
"Aku hanya punya sedikit kemampuan membuat sebuah kabut," kata Mahesa Amping sambil mengangguk kecil sebagai tanda setuju dengan tugas yang diberikan kepadanya, yaitu membuat kabut yang akan menutupi pandangan sekaligus melindungi para pembidik gelap.
Terlihat Raden Wijaya sedikit tersenyum melihat anggukan kepala sahabatnya Mahesa Amping. Diketahui bahwa Mahesa Amping bukan hanya dapat membuat kabut, bahkan lebih dari itu; ia pernah disaksikan sendiri mampu membuat badai hujan lebat dengan kemampuan dan kesaktiannya.
"Dulu kemampuannya sudah begitu luar biasa, aku tak tahu lagi sudah sampai di mana saat ini kemampuan saudara seperguruanku ini," kata Raden Wijaya dalam hati, membayangkan tingkat tataran ilmu Mahesa Amping saat ini.
Sementara itu, matahari di atas Hutan Simpang sudah merayap singgah di atas puncak lengkung langit. Cahayanya masuk menerobos di antara celah daun dan dahan, menghangatkan rumput halus yang tumbuh di atas tanah yang tidak terhalang mendapatkan sinar matahari langsung.
Terlihat para prajurit Singasari telah tersebar di antara Hutan Simpang, di kanan kiri jalan di atas pohon tinggi dan tersembunyi, menanti pasukan Kediri yang telah diperhitungkan pasti akan melewati jalan itu.
Para prajurit Singasari itu telah siap sebagai pembidik gelap yang akan menghujani jalan dengan anak panah mereka.
"Pastikan bahwa panah sendarenmu dapat aku dengar," kata seorang prajurit Singasari kepada kawannya yang sama-sama ditugaskan sebagai prajurit pemantau berantai.
"Pastikan juga bahwa telingamu masih bisa mendengar," kata kawannya itu sambil tertawa.
Terlihat seorang prajurit Singasari tengah naik ke sebuah pohon kayu yang cukup rindang.
Akhirnya prajurit itu telah mendapatkan sebuah batang yang dianggapnya sudah begitu nyaman, di mana ia dapat bersandar sambil menunggu perintah menghujani jalan dengan anak panah ketika musuh lewat.