Chapter 12
Senapati Jaran Pekik memutuskan untuk bermalam di bibir hutan Konjaran, di tempat terbuka agar pasukannya dapat segera melihat dari segala penjuru jika musuh tiba-tiba datang menyergap.
Di ujung senja, pasukan Kediri itu telah membangun gubuk-gubuk darurat dari kayu, ranting, dan daun kering yang banyak mereka temui di sekitar hutan untuk menghindari angin dingin malam.
Akhirnya, malam perlahan datang menyelimuti langit di atas bibir hutan Konjaran.
Terlihat beberapa prajurit berkelompok menyalakan api unggun, mengisi malam yang dingin sambil berbincang hal-hal yang menyenangkan, mencoba melupakan perjalanan esok hari.
"Mereka bermalam di bibir hutan Konjaran," kata seorang prajurit pemantau kepada Raden Wijaya.
"Artinya ada kesempatan yang cukup bagi prajurit kita yang baru datang dari Bandar Ujung Galuh untuk beristirahat," kata Raden Wijaya kepada prajurit pemantau itu, sekaligus memerintahkan semua pasukannya untuk beristirahat malam itu.
Tidak seperti pasukan Kediri di bibir hutan Konjaran, dari 78 pasukan Raden Wijaya, tidak ada satu pun yang berani membuat api unggun atau gubuk darurat untuk melindungi diri dari dinginnya embun malam.
Mereka hanya berbaring beralaskan tanah kering di bawah langit malam.
Namun, kerimbunan semak ilalang ternyata adalah tempat terhangat di malam hari.
Mungkin itulah sebabnya banyak burung bermalam di sekitar semak ilalang yang hangat.
"Burung kecil ini merasa kakiku sebagai induk semangnya," pikir seorang prajurit Singasari dalam hati sambil tersenyum, melihat seekor burung kecil menyusup rapat di ujung kakinya.
Demikianlah, dua pasukan di tempat yang berbeda tengah melepaskan rasa penatnya, memejamkan mata, mencoba melupakan rasa tegang dan kecemasan yang kadang melintas dalam diri mereka, bayangan peperangan yang pernah mereka hadapi, juga bayangan peperangan yang akan mereka hadapi.
Namun, semua itu langsung menghilang bersama rasa kantuk yang merebut dan menyembunyikan semua pikiran mereka di alam tidur, alam batas antara sadar dan terbangun di awal pagi, alam yang penuh misteri tak terjawab akal.
Dan yang pasti, malam itu mereka tertidur nyenyak, bahkan ada yang bermimpi.
Meski ada juga yang tertidur tanpa mimpi.
Celakanya, ada beberapa orang yang tidak bisa tidur semalaman.
Akhirnya, sang pagi datang membangunkan tidur mereka.
Terlihat kesibukan di awal pagi di bibir Hutan Konjaran dari beberapa prajurit Kediri yang bertugas di dapur umum, menyiapkan makanan untuk para prajurit.
Bau harum daging kijang ternyata sangat menggoda di pagi itu.
Ternyata, beberapa prajurit yang semalaman tidak bisa tidur diam-diam menyelinap ke tengah Hutan Kanjoran.
Hasilnya, dua ekor kijang untuk tambahan sarapan pagi mereka.
Senapati Jaran Pekik merasa gembira melihat semangat prajuritnya yang telah kembali seperti sedia kala, sebagaimana semangat mereka ketika berangkat dari Kotaraja Kediri.
Namun, Senapati Jaran Pekik terus mengingatkan para prajuritnya untuk tetap waspada.
"Mungkin saja musuh saat ini mengintai kita, jangan sampai kejadian di Hutan Simpang terulang lagi," kata Senapati Jaran Pekik kepada para perwiranya.
Demikianlah, Senapati Jaran Pekik telah menugaskan beberapa prajuritnya untuk bergantian berjaga di sekeliling mereka, juga menugaskan beberapa prajurit pemantau di depan jalan yang akan dilewati pasukannya.
Namun, ternyata semua kewaspadaan Senapati Jaran Pekik seperti sudah dapat dibaca oleh Raden Wijaya.
Itulah sebabnya, di pagi itu di Padang Konjaran, sepertinya tidak ada kegiatan apa pun.
Semua prajurit Singasari sudah diperintahkan sejak malam hari untuk berada di persembunyian masing-masing.
Maka, ketika dua prajurit pemantau Kediri datang mengawasi keadaan di Padang Konjaran, mereka tidak menemukan hal-hal yang mencurigakan.
"Aku melihat sekelompok burung prenjak datang dan pergi di padang ilalang itu, sepertinya mereka tidak menemui apa pun yang mengusik kehidupan mereka," kata seorang prajurit pemantau Kediri yang memiliki ketelitian tinggi mengamati keadaan kepada kawannya.
Ternyata prajurit itu tidak pernah terpikir bahwa para prajurit Singasari adalah orang-orang pilihan yang terlatih dalam segala medan penyamaran.
Mereka sudah dilatih dalam pendadaran sebagai prajurit sandi yang ulung, petarung hebat secara perorangan, dan juga dilatih untuk dapat bersatu dengan alam hingga senyap tak terlihat.
Seperti itulah mereka bersembunyi di sekitar padang Kanjoran, diam tak bergerak, bersatu dengan alam padang ilalang.
Maka, tidak heran bila beberapa burung prenjak tidak terusik dengan kehadiran mereka, seperti yang dilihat dan diamati seorang prajurit pemantau dari Kediri yang terus mengawasi keadaan di Padang Konjaran.
Sementara itu, pagi sudah mulai terang, matahari sudah mulai naik menghangatkan bumi dan menerangi langit pagi yang cerah berawan putih bersama semilir angin yang sedikit menggoyangkan ujung-ujung daun dan ranting kecil di pucuk pohon kayu yang tumbuh rindang memagari hutan Kanjoran.
"Siapkan semua prajurit, kita segera berangkat," kata Senapati Jaran Pekik kepada seorang perwiranya.
Maka saat itu juga, perwira kepercayaan Senapati Jaran Pekik memanggil seorang prajurit penghubung untuk memberitahukan seluruh prajurit agar siap melanjutkan perjalanan.
Demikianlah, saat itu terlihat iring-iringan pasukan Kediri tengah memasuki Hutan Kanjoran.
Mereka seperti kumpulan semut hitam yang masuk ke mulut gua hitam, menghilang di dalam kerimbunan hutan Kanjoran.
Semakin masuk ke dalam jalan di hadapan mereka, semakin rapat terhalang semak belukar.
Cukup lama pasukan segelapapan ini menyusuri hutan Kanjoran.
Akhirnya, mereka melihat cahaya sinar matahari semakin terang di hadapan mereka.
Cahaya yang mulai merayap naik di pagi itu adalah cahaya sinar mentari yang menerangi Padang Konjaran di muka hutan Konjaran.
Benar, mereka sudah mulai keluar dari hutan Kanjoran dan berada di tepi Padang Konjaran yang dipenuhi semak ilalang setinggi tubuh manusia.
"Kami sudah mengamati keadaan padang Konjaran sejak pagi, kami tidak menemukan apa pun yang mencurigakan," kata seorang prajurit pemantau kepada Senapati Jaran Pekik.
"Teruskan perjalanan kita," kata Senapati Jaran Pekik kepada perwiranya.
Maka, terlihat iring-iringan pasukan itu terus berjalan menembus padang ilalang Kanjoran.
Arah perjalanan mereka nampaknya lurus menuju hutan Galam.
Semakin masuk ke dalam padang ilalang Kanjoran, iring-iringan pasukan itu semakin tenggelam terhalang padang ilalang yang tinggi.
Hanya sebagian kepala mereka saja yang dapat terlihat dari kejauhan.
Sementara pasukan berkuda mereka masih dapat terlihat sebagian tubuhnya di punggung kuda-kuda mereka.
Akhirnya, terlihat seluruh pasukan itu sudah tenggelam di tengah padang ilalang Konjaran.
Hati Senapati Jaran Pekik dan hampir seluruh pasukannya memang cukup resah dan berdebar membayangkan tiba-tiba pasukan menyergap mereka dari tempat tersembunyi.
Mata dan pendengaran mereka selalu mewaspadai dan terus bersiaga dengan segala apa yang mereka lihat dan dengar di sepanjang perjalanan mereka di padang ilalang Konjaran.
Meski hati mereka terus mewaspadai dan siaga dengan apa yang mereka lihat dan dengar di sepanjang perjalanan di padang ilalang Konjaran itu, tetap saja menjadi terkejut seketika manakala pendengaran mereka mendengar suara dengung panah sanderan melintas di antara mereka.
Belum sempat mereka berbuat apa pun, tiba-tiba saja beberapa kawan di dekat mereka langsung rebah terkena anak panah yang menancap di tubuh mereka.
"Pembidik gelap!" teriak Senapati Jaran Pekik memberi peringatan kepada prajuritnya ketika dilihatnya beberapa prajuritnya sudah terkena anak panah gelap yang tidak diketahui datangnya, melesat dari balik kelebatan ilalang.
Belum habis suara Senapati Jaran Pekik, kembali beberapa prajuritnya terkena anak panah gelap.
Maka, sebagian prajurit Kediri yang masih selamat secara naluri langsung tiarap menyelamatkan diri masing-masing.
Ternyata keadaan inilah yang ditunggu oleh Raden Wijaya dan pasukannya.
Terdengar suara dengung anak panah membelah udara padang ilalang Konjaran.
Ternyata itulah tanda bagi lima ratus prajurit berkuda Singasari keluar dari persembunyiannya di hutan Galam langsung menuju lambung pasukan Kediri yang tengah bertiarap.
Sungguh pemandangan yang menggetarkan hati, lima ratus prajurit berkuda Singasari seperti air bah menghantam pasukan Kediri yang belum sempat bangkit terhantam terjangan pasukan berkuda Singasari, sementara mereka yang cepat bangkit berdiri sudah merasakan tebasan pedang dari pasukan berkuda Singasari.
Terjangan dan serangan itu datang begitu tiba-tiba, setengah dari pasukan Kediri sudah langsung susut berkurang.
Lima ratus pasukan berkuda Singasari dengan mudah membantai pasukan Kediri yang tidak siap dan tidak menduga serangan tiba-tiba itu datang layaknya air bandang menerjang dan menggulung apa pun dihadapannya luruh lantak hancur terurai.
"Hadang mereka!!" teriak Senapati Jaran Pekik memerintahkan pasukan berkudanya menghadang pasukan berkuda Singasari.
Terlihat pasukan berkuda Kediri yang berada di depan pasukannya berbalik arah ke belakang mencoba membantu kawan-kawan mereka yang tersisa dan masih selamat mempertahankan diri dari serangan prajurit berkuda Singasari.
Kembali sebuah kejutan tiba-tiba datang, entah dari mana muncul sekitar seratus prajurit berkuda dari kiri kanan menusuk pasukan berkuda Kediri yang tengah berlari membantu kawan-kawan mereka dari pembantaian lima ratus pasukan berkuda Singasari.