Halo!

Tapak Tapak Jejak Gajahmada - Chapter 14

Memuat...
Tapak Tapak Jejak Gajahmada

Chapter 14

Kamu belum pantas menyandang gelar Senapati, di bawah bendera Singasari kamu hanya layak setingkat prajurit Lurah, berkata kembali Raden Wijaya sambil melempar pedangnya.

Aku tahu sebentar lagi kamu akan memberi isyarat agar seluruh prajuritmu datang membantumu, berkata Senapati Jaran Pekik dengan maksud memalukan Raden Wijaya di hadapan semua prajuritnya.

Dengan begitu masih ada kesempatan dirinya mengalahkan Raden Wijaya yang masih dianggapnya mempunyai tataran tingkat ilmu yang sejajar dengan dirinya.

Kamu salah Jaran Pekik, aku tidak akan meminta siapapun membantuku. Dan perlu kamu ketahui bahwa 91 prajurit Singasari adalah para ksatria sejati yang tidak akan turun di arena pertempuran antara dua Senapati, berkata Raden Wijaya dengan suara yang lantang.

Kalau begitu jangan sesali pedang yang sudah kamu lepaskan, berkata Senapati Jaran Pekik memekik dengan keras sambil menerjang berlari ke arah Raden Wijaya mengangkat pedangnya tegak lurus di atas kepala siap membelah kepala Raden Wijaya.

Terlihat Raden Wijaya masih bertolak pinggang manakala Senapati Jaran Pekik sudah semakin mendekatinya. Raden Wijaya masih tetap diam manakala Senapati Jaran Pekik tengah mengayunkan pedangnya bermaksud membelah kepalanya.

Bukan main kagetnya Senapati Jaran Pekik ketika pedangnya hanya berjarak satu jari dari kepala Raden Wijaya. Tiba-tiba saja dengan kecepatan yang tidak dapat terlihat oleh pandangan mata Senapati Jaran Pekik bahwa kedua tangan Raden Wijaya sudah menjepit pedang Senapati Jaran Pekik menahan luncurannya.

Bukan main kuatnya jepitan itu seperti melekat di antara kedua telapak tangan Raden Wijaya manakala dengan sekuat tenaga Senapati Jaran Pekik bermaksud menariknya. Mata Senapati Jaran Pekik seperti mendelik keluar tidak menyangka bahwa Raden Wijaya mempunyai kekuatan yang begitu hebat, merasakan jepitan tangan Raden Wijaya seperti sebuah dua bilah batu cadas hitam, begitu kuat menahan kekuatan tarikannya yang tidak bergeming sedikitpun.

Puncak keterkejutan Senapati Jaran Pekik adalah ketika hanya dengan sedikit sentakan dari kedua tangan Raden Wijaya, pedang digenggamannya sudah berpindah tangan. Dan Senapati Jaran Pekik seperti tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, entah dari mana dan dengan kecepatan yang tidak mampu dibacanya, tiba-tiba saja kedua pipinya merasakan tamparan yang begitu kerasnya nyaris merontokkan hampir seluruh gigi gerahamnya.

Terlihat darah segar mengalir dari celah bibirnya yang ikut pecah terkena tamparan keras dari Raden Wijaya. Hukuman yang terbaik dari manusia yang menjual darah saudaranya sendiri adalah menjadi budak hina seumur hidupmu, berkata Raden Wijaya kepada Senapati Jaran Pekik yang baru sadar bahwa selama ini Raden Wijaya hanya memberi angin kepadanya berpura-pura setingkat kemampuan dengannya yang ternyata Raden Wijaya mempunyai kemampuan yang jauh melampaui orang biasa, bahkan lebih tinggi lagi.

Ikat orang ini, berkata Raden Wijaya memanggil dua orang prajuritnya. Demikianlah, pertempuran dua pasukan itu memang telah berakhir, terlihat beberapa prajurit Singasari tengah mengumpulkan para tawanan menjadi satu dalam keadaan tangan terikat dan penjagaan yang ketat.

Sementara itu prajurit yang lainnya tengah memberikan perawatan beberapa orang yang terluka, kawan mereka sendiri dan beberapa prajurit Kediri yang terluka. Akhir dari sebuah peperangan memang sangat menggelikan, mereka yang membuat orang terluka, akhirnya mereka juga yang dengan suka rela penuh perhatian memberikan pertolongan merawat orang terluka itu, musuhnya sendiri.

Terlihat Ki Sandikala dan Mahesa Amping berada di antara beberapa prajurit Singasari yang tengah merawat orang yang terluka. Pengalaman dan pengetahuan mereka tentang pengobatan memang sangat dibutuhkan. Dan mereka mengobati semua orang saat itu tanpa membedakan mana prajurit Singasari dan mana prajurit Kediri.

Mereka diperlakukan dengan sama sebagai manusia sesama yang tengah membutuhkan pertolongan. Sementara itu matahari di atas Padang Konjaran sudah merayap menuruni kaki lengkung langit senjanya. Angin semilir berhembus lembut menyapu ujung-ujung ilalang.

Besok pagi kita harus menyempurnakan mereka yang telah menjadi korban di Padang Konjaran ini, berkata Raden Wijaya kepada Gajah Pagon dan Ki Sukasrana yang berada di dekatnya sambil memandang beberapa prajurit Singasari yang tengah mengumpulkan semua korban yang tewas dalam peperangan hari itu. Sisi lain dari manisnya kemenangan peperangan adalah rasa pahit kegetiran dalam duka melihat beberapa orang yang pernah bersama kita menjadi korban peperangan itu sendiri, berkata Ki Sukasrana yang melihat beberapa prajurit Singasari yang tewas menjadi korban peperangan hari itu.

Kita telah membeli harapan kita dengan harga yang cukup mahal, nyawa dan darah. Hari ini kalian berdua menjadi saksi ikrar hatiku untuk tidak menyia-nyiakan pengorbanan mereka. Aku berjanji akan menyebarkan kemakmuran dan kedamaian di atas tanah dimana darah mereka tumpahkan.

Ingatkan aku ketika aku lupa menjadi Raja Angkara, ingatkan aku ketika masih ada kawula yang masih harus menahan lapar di saat istana pura berpesta pora, ingatkan aku ketika titah dan fatwaku timpang dan condong tidak membela kesucian dan kebenaran, berkata Raden Wijaya dengan kesungguhan hati kepada Gajah Pagon dan Ki Sukasrana.

Terlihat Gajah Pagon dan Ki Sukasrana dengan penuh hormat merangkapkan kedua tangannya. Hari ini dan selamanya kami adalah sahabat tuanku yang akan terus menemani dalam suka dan duka. Hamba akan terus menjaga dan mengingatkan tuanku dengan suara yang mungkin pahit didengar, atau hamba mungkin dengan sangat terpaksa meluruskan dan mengingatkan tuanku dengan pedangku sendiri, berkata Ki Sukasrana mewakili Gajah Pagon kepada Raden Wijaya.

Semoga pedangmu tepat di ujung jantungku, seperti itulah seorang menjaga sahabatnya, berkata Raden Wijaya sambil menepuk pundak Ki Sukasrana dan Gajah Pagon merasa terharu mempunyai sahabat setia seperti mereka berdua. Dan saat itu langit senja perlahan menyingkir menepi tergusur keremangan warna malam.

Puluhan burung Prenjak turun menyelusup hilang ke dalam kerepatan rumpun ilalang untuk menghabiskan seluruh malamnya dalam kehangatan padang ilalang Konjaran, hingga pagi datang menjelang. Langit pagi di atas Padang Konjaran berawan kelabu seperti ikut berkabung ketika upacara penyempurnaan semua korban yang tewas dalam peperangan antara pasukan Kediri dan pasukan Singasari baru saja usai dilaksanakan.

Terlihat beberapa orang berjalan menunduk penuh duka berpisah untuk selama-lamanya dengan kawan dan saudaranya yang hari itu telah kembali ke kampung halaman abadi, alam di mana semua yang hidup akan kembali kesana. Kemana kira-kira kita akan membawa tawanan dan orang yang terluka itu, berkata Mahesa Amping kepada Raden Wijaya ketika mereka telah selesai melaksanakan upacara pemakaman.

Aku meminta persetujuan dan pendapat kalian, telah kuputuskan untuk saat ini membawa tawanan dan orang-orang yang terluka itu ke Bandar pelabuhan Ujung Galuh, berkata Raden Wijaya meminta pertimbangan Mahesa Amping dan Ki Sandikala atas keputusannya itu. Jilid 2 Bagian 1 "Aku setuju, sebagian prajurit Singasari ada di sana. Juga sebagai tempat yang paling dekat dari Padang Konjaran ini, berkata Mahesa Amping memberikan pandangannya.

Mungkin Ki Sandikala punya pandangan yang lain, berkata kembali Mahesa Amping mempersilahkan Ki Sandikala menyampaikan pandangannya. Hamba sependapat dengan tuan Senapati Mahesa Amping. Bahkan menurut hamba Bandar pelabuhan Ujung Galuh adalah sebuah tempat yang baik untuk memulai harapan dan cita-cita di masa depan, membangun kembali istana Tumapel di tanah baru sebagaimana yang dipikirkan oleh Ratu Anggabhaya bahwa ketika kita membuka jendela istana pura, mata kita tidak hanya memandang gunung, lembah dan hijaunya persawahan.

Tapi kita juga dapat melihat dari jendela istana pura hamparan lautan biru yang luas sejauh mata memandang, berkata Ki Sandikala memberikan pandangannya. Ketika di pulau Tanah Wangi-wangi, Ratu Anggabhaya banyak bercerita tentang cita-citanya membangun sebuah singgasana laut yang besar. Dan hamba melihat tanah di dekat Bandar pelabuhan Ujung Galuh adalah tanah yang baik membangun harapan itu, berkata kembali Ki Sandikala.

Mungkin Ki Sandikala punya pandangan tersendiri memilih Bandar pelabuhan Ujung Galuh, berkata Mahesa Amping meminta kembali Ki Sandikala mengurai pandangannya. Sebab tanah Ujung Galuh adalah pusat bumi, berkata Ki Sandikala sambil tersenyum memandang Raden Wijaya dan Mahesa Amping. Bagaimana Ki Sandikala dapat begitu yakin bahwa tanah Ujung Galuh adalah sebuah tanah pusat bumi, bertanya Raden Wijaya penuh penasaran.

Tanah itu timbul dan tenggelam seiring perjalanan waktu tiga ratus tahun, pulau pasak bumi, berkata Ki Sandikala dengan wajah penuh senyum. Pulau pasak bumi, aku pernah mendengarnya dari seorang guru pendeta istana, berkata Raden Wijaya penuh kegembiraan. Raja Jayakatwang pasti juga pernah mendengar cerita yang sama, dan kita telah mendahuluinya menemukan pulau pasak bumi lewat jalannya, menghadang dua ribu pasukan Kediri yang akan menguasa Bandar pelabuhan Ujung Galuh.

Tidak ada yang kebetulan di dalam dunia ini, berkata Ki Sandikala kepada Raden Wijaya dan Mahesa Amping dengan wajah dan senyumnya yang sareh. Lengkung langit biru di atas padang ilalang Konjaran begitu cerah ditandai matahari yang bersinar teduh terhalang awan tipis ketika sebuah iring-iringan panjang sebuah pasukan terlihat berjalan meninggalkannya.

Hari itu Raden Wijaya telah memutuskan untuk membawa pasukannya ke Bandar Ujung Galuh. Sebuah perjalanan yang tidak begitu panjang karena hanya berjarak sehari perjalanan berkuda. Namun kali ini mereka harus berjalan kaki dengan membawa begitu banyak orang yang terluka dan banyak tawanan perang yang harus dijaga dengan sangat ketat, sebab dapat saja mereka melarikan diri atau melakukan pemberontakan di dalam perjalanan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment