Halo!

Tapak Tapak Jejak Gajahmada - Chapter 16

Memuat...
Tapak Tapak Jejak Gajahmada

Chapter 16

Raden Wijaya berkata kepada Mahesa Amping dan Ki Sandikala, "Kita sudah mendapatkan dukungan kesetiaan dari hampir seluruh raja di Jawadwipa ini, semoga kita mendapatkan juga kesetiaan dari Adipati Arya Wiraraja."

Demikianlah, Raden Wijaya telah memerintahkan pasukannya untuk melanjutkan perjalanannya kembali. Dan semua bernafas lega manakala kuda Raden Wijaya mau melangkahkan kakinya berjalan, beberapa orang mengaitkannya dengan para penunggu Hutan Maja.

"Di hutan Maja ini pasti banyak penunggunya," berkata seorang prajurit berbisik kepada kawannya sambil berjalan. "Aku sependapat denganmu, di hutan ini memang banyak sekali penunggunya," berkata kawannya menanggapi perkataan temannya.

Terlihat iring-iringan pasukan Raden Wijaya telah keluar dari Hutan Maja, sinar matahari menyambut mereka dengan cahayanya yang terang benderang masih menggelantung di lengkung langit tengah merayap meninggalkan kaki langit. Akhirnya iring-iringan itu berhenti di tepi Kalimas.

Beberapa prajurit Singasari ternyata telah menyembunyikan beberapa rakit bambu di sebuah tempat. "Mungkin perlu beberapa kali angkut untuk membawa semua rombongan menyeberang ke Bandar Ujung Galuh," berkata salah seorang prajurit kepada Raden Wijaya.

Demikianlah setelah beberapa kali angkut pulang pergi menyeberangi sungai Kalimas, semua orang sudah dapat diseberangkan sampai di Bandar Ujung Galuh. Ternyata Bandar Ujung Galuh adalah sebuah Bandar yang cukup ramai, begitu banyak perahu besar singgah menaikkan dan menurunkan muatan dagangannya di Bandar itu.

"Selamat datang di Bandar Ujung Galuh," berkata Ranggalawe yang menerima iring-iringan itu di sebuah barak prajurit yang masih begitu sederhana yang berada tidak jauh dari pemukiman penduduk setempat. Setelah beristirahat dengan cukup, Raden Wijaya diajak berkeliling oleh Ranggalawe melihat keadaan di sekitar Bandar Ujung Galuh.

"Aku sudah memutuskan menjadikan Bandar Ujung Galuh ini sebagai pusat kekuatan kita," berkata Raden Wijaya kepada Ranggalawe. "Aku setuju, kita dapat mengendalikan jalur pelayaran perahu Jung Singasari sebagaimana dulu di Bandar Cangu," berkata Ranggalawe menyetujui keputusan itu.

"Aku perlu dukungan ayahandamu, Adipati Arya Wiraraja," berkata Raden Wijaya kepada Ranggalawe. "Kesetiaan Ayahku kepada keluarga istana Singasari tidak dapat diragukan lagi," berkata Ranggalawe kepada Raden Wijaya.

"Tapi aku perlu mendengar sendiri hal itu diucapkan di hadapanku," berkata Raden Wijaya kepada Ranggalawe. "Aku akan bersamamu, mengantarmu menemui ayahandaku," berkata Ranggalawe kepada Raden Wijaya.

Matahari senja di atas Bandar Ujung Galuh masih menggelantung di ujung tepi barat bumi ketika Raden Wijaya dan Ranggalawe datang kembali ke barak prajurit. "Lama sekali kalian meninggalkan kami," berkata Mahesa Amping menyambut kedatangan Raden Wijaya dan Ranggalawe di barak prajurit.

"Besok kita menyeberang ke Pulau Madhura," berkata Raden Wijaya kepada Mahesa Amping dan Ki Sandikala ketika sudah duduk bersama di sebuah barak prajurit. Akhirnya pembicaraan mereka pun berkembang, bukan hanya mengenai pertemuan mereka dengan Adipati Arya Wiraraja, tapi pembicaraan semakin jauh mengenai bagaimana mempertahankan Bandar Ujung Galuh dari para penguasa Kediri.

"Sepertinya kita perlu membuat kantong-kantong pertahanan yang dapat mencegah pasukan Kediri menyerbu ke Bandar Ujung Galuh ini," berkata Mahesa Amping memberikan sebuah usulan. "Untuk saat ini kita sudah mempunyai jaringan pasukan sandi yang cukup kuat, usulanmu mungkin akan kita laksanakan sambil melihat perkembangan," berkata Raden Wijaya memberikan tanggapannya atas usul Mahesa Amping itu.

Sementara itu, langit senja perlahan sudah mulai tergusur bergeser dan menghilang diselimuti warna gelap malam memenuhi langit di atas Bandar Ujung Galuh. Masih terlihat kesibukan para buruh angkut tengah memanggul barang untuk di muat di sebuah perahu kayu dagang.

Bandar Ujung Galuh memang seperti bandar besar lainnya saat itu yang tidak pernah sepi disinggahi oleh perahu-perahu dagang dari berbagai penjuru. "Saatnya aku dan Ki Sandikala berkeliling cari angin," berkata Mahesa Amping kepada Raden Wijaya dan Ranggalawe setelah tidak ada lagi yang mereka bicarakan.

"Silahkan, semoga dapat menemukan jalan pulang," berkata Ranggalawe menggoda. Demikianlah, terlihat Mahesa Amping dan Ki Sandikala tengah keluar meninggalkan barak prajurit. Mereka tidak langsung menuju dermaga bandar Ujung Galuh, tapi telah menuju ke arah pemukiman, ke arah Padukuhan Galuh.

Terlihat Mahesa Amping dan Ki Sandikala tengah menyusuri jalan padukuhan menuju ke arah tepi sungai Kalimas yang dibatasi oleh sebuah jalan setapak dipenuhi semak belukar. Ketika Mahesa Amping dan Ki Sandikala sudah hampir mendekati sungai Kalimas, samar-samar dilihatnya sebuah rakit baru saja merapat.

Penglihatan Mahesa Amping dan Ki Sandikala yang tajam dapat melihat jelas wajah ketiga orang yang baru saja merapat di tepi Sungai Kalimas itu. "Ketiga orang itu sangat mencurigakan," berkata Mahesa Amping kepada Ki Sandikala ketika melihat ketiga orang itu tengah menyembunyikan rakit mereka.

"Mari kita bersembunyi," berkata Ki Sandikala kepada Mahesa Amping. Disekitar tepi Sungai Kalimas itu memang dipenuhi begitu banyak semak belukar, jadi tidak ada kesulitan bagi Mahesa Amping dan Ki Sandikala untuk mencari tempat persembunyian di mana mereka dapat dengan leluasa mengamati gerak-gerik ketiga orang yang mencurigakan itu.

"Kakang Jaran Pekik pasti bersama tawanan lainnya yang dijaga sangat ketat oleh prajurit Singasari," berkata seorang lelaki paling di antara ketiga orang itu. "Tidak perlu khawatir, sahabatku Ki Kober punya gendam yang mumpuni," berkata seorang lelaki tua dengan rambutnya dibiarkan terurai sudah berwarna putih semuanya.

"Kita pasti dapat melepas Jaran Pekik," berkata kembali orang itu. "Gendamku sangat tajam dan tidak seorang pun luput saat aku melepaskannya," berkata seorang lagi yang terlihat bertubuh tinggi besar dengan kepala gundul tanpa sehelai rambut pun di kepalanya.

Ternyata pembicaraan mereka dapat didengar oleh Mahesa Amping dan Ki Sandikala yang punya pendengaran sangat tajam dan terlatih dari persembunyiannya. Semakin yakinlah keduanya bahwa ketiga orang yang mencurigakan itu ternyata memang punya maksud tidak baik datang di Bandar Ujung Galuh itu.

Terlihat Ki Sandikala dan Mahesa Amping telah keluar dari persembunyiannya mengikuti dari jauh ketiga orang itu. Setelah melalui jalan Padukuhan yang lengang, terlihat ketiga orang itu berhenti di sebuah tempat yang gelap tidak jauh dari barak prajurit.

Sebenarnya barak prajurit yang sederhana itu merupakan sebuah tajuk besar berbentuk persegi empat yang sekelilingnya hanya ditutup sebagian untuk menahan hempasan angin oleh potongan batang kayu pohon yang dibelah kasar. Sementara itu para tawanan ditempatkan di bagian tengah barak itu sehingga dapat dilihat dari segala tempat.

Malam itu angin basah semilir berhembus lewat celah-celah dinding barak membuat para prajurit merapatkan kaki dan tangannya melanjutkan tidurnya beralas ilalang dan daun kering. Ternyata udara malam itu memang agak lain, seperti begitu dingin menyejukkan membuat setiap orang di dalam barak itu menjadi ingin merebahkan badannya dan tidak dapat menahan rasa kantuknya sendiri, termasuk sepuluh orang prajurit yang saat itu mendapat giliran meronda terlihat semuanya rebah tidur berbaring di muka barak.

Rupanya keadaan suasana di sekitar barak itu bukan sebuah yang alami, tapi udara di sekitar barak itu ternyata sudah dicemari oleh sebuah ilmu aji sirep gelap ngampar yang telah disebar oleh salah seseorang yang sengaja melepasnya dari tempat yang tidak begitu jauh dari barak prajurit, di sebuah tempat yang gelap dan tersembunyi.

Ternyata yang melepas ajian sirep gelap ngampar itu adalah salah seorang dari ketiga orang yang baru saja datang merapat di bandar Ujung Galuh. "Tugasmu menjaga Ki Kober yang tengah merapal ajian sirep gelap ngamparnya, aku ingin melihat suasana di dalam barak," berkata seorang lelaki tua yang berambut putih kepada lelaki muda di sebelahnya.

Terlihat orang itu sudah mendekati barak prajurit, melangkahkan kakinya. Namun baru saja kakinya melangkah tidak begitu jauh tiba-tiba saja ada seorang yang entah dari mana datangnya telah menghadang dan menghentikan langkahnya.

"Semua orang di barak telah tertidur, jadi katakan saja apa kepentinganmu mungkin aku dapat membantu," berkata orang yang datang menghadang yang tidak lain adalah Mahesa Amping. "Aku ingin meminta kepalamu," berkata orang itu kepada Mahesa Amping yang menganggapnya hanya prajurit biasa yang secara kebetulan tidak terkena ajian sirep gelap ngampar dan telah bermaksud secepatnya melumpuhkannya dengan langsung menerjang menyerang Mahesa Amping.

Bukan main kagetnya orang itu ketika serangannya dapat dielakkan dengan mudahnya oleh Mahesa Amping. Padahal serangan itu dilakukan dengan kekuatan dan kecepatan yang cukup tinggi. Mahesa Amping tidak segera membuat serangan balasan, tapi hanya menunggu serangan lawannya datang.

Kembali dengan rasa penasaran orang itu sudah langsung membuat serangan baru, kali ini dilakukan dengan kekuatan dan kecepatan dua kali lipat dari sebelumnya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment