Halo!

Tapak Tapak Jejak Gajahmada - Chapter 17

Memuat...
Tapak Tapak Jejak Gajahmada

Chapter 17

Namun, kembali ia kaget dan penasaran tidak karuan melihat serangannya dapat dielakkan dengan begitu mudah oleh Mahesa Amping.

"Ternyata kepentinganmu di barak ini hanya ingin mencari keringat, mari kita bermain menghangatkan dingin malam ini," kata Mahesa Amping dengan sikap siap melayani orang itu.

"Jarang sekali ada orang yang dapat lolos dari seranganku," kata orang itu sambil memperhatikan Mahesa Amping dari kaki sampai ke kepala.

Namun, ketika matanya beradu pandang dengan mata Mahesa Amping, diam-diam ia mengakui bahwa sorot mata Mahesa Amping begitu kuat, seakan nyalinya hilang seketika, terserap daya tarik yang begitu kuat ke dalam bola mata Mahesa Amping.

Orang itu sepertinya tengah menghentakkan semangatnya, mencoba mengusir kegentarannya dengan langsung menerjang Mahesa Amping dengan sebuah tendangan yang datang begitu cepat, meluncur seperti anak panah yang melesat dari busurnya.

Kembali Mahesa Amping dengan mudah menghindari serangan itu dengan sedikit bergeser ke samping. Namun, kali ini Mahesa Amping tidak diam menunggu, tetapi langsung balas menyerang, memukul dengan tangan terbuka ke arah pinggang lawannya yang terbuka.

Betapa kagetnya orang itu mendapatkan serangan yang tertuju pada arah pinggangnya yang terbuka.

Maka, dengan terpaksa ia melenting, menjatuhkan diri berguling, dan berdiri dengan cepat, lalu langsung menyerang kembali Mahesa Amping, kali ini dengan sebuah pukulan tangannya mengarah ke dada Mahesa Amping.

Tetapi kembali, dengan mudah Mahesa Amping dapat lepas dari pukulan yang cepat dan sangat keras itu hanya dengan memiringkan sedikit tubuhnya, sambil balas menyerang dengan sebuah pukulan tangan tertuju ke arah pangkal paha yang terbuka, seperti sudah dapat dengan cepat mengetahui letak kelemahan jurus pukulan lawannya itu.

Kembali orang itu harus melenting, melemparkan tubuhnya ke tanah dan berguling, segera bangkit kembali hanya untuk menghindari pangkal pahanya terhantam pukulan tangan Mahesa Amping.

Mahesa Amping tidak segera menyusul orang itu, hanya berdiri dengan senyumnya.

"Siapakah kamu yang dapat mengetahui rahasia jurusku ini?" kata orang itu penuh penasaran melihat Mahesa Amping dengan mudah menghindari serangannya, bahkan sudah tahu di mana letak kelemahan jurus serangannya itu.

"Aku bukan siapa-siapa, tetapi aku dapat bermain bersamamu dengan jurus perguruanmu," kata Mahesa Amping sambil membuat sebuah kuda-kuda siap melakukan sebuah serangan.

Betapa kagetnya orang itu melihat kuda-kuda Mahesa Amping yang tidak lain adalah salah satu jurus andalan perguruannya sendiri.

Ternyata orang itu memang belum mengenal Mahesa Amping yang telah memahami berbagai jenis aliran gerak kanuragan di Jawadwipa dan Balidwipa.

Bahkan, dengan kecerdasannya yang luar biasa, ia dapat merangkum segala jenis aliran kanuragan menjadi sempurna di tangannya.

Dan Mahesa Amping telah membuktikan kata-katanya dengan menyerang orang itu dengan jurus pukulan perguruannya sendiri.

Maka, di malam yang dingin itu terlihat sebuah pertempuran dua orang, layaknya dari satu perguruan yang sama, saling menyerang dan balas menyerang.

Orang itu seperti tidak percaya dengan apa yang dilihatnya; Mahesa Amping dapat melakukan serangan dan menghindar benar-benar menggunakan ilmu jurus pukulan perguruannya sendiri.

Namun, semua itu tidak berlangsung lama. Mahesa Amping hanya ingin menunjukkan bahwa ia telah mengenal dengan baik jurus aliran lawannya.

Maka, dalam sebuah serangan yang tidak diduga-duga, di mana Mahesa Amping yang telah memahami di mana letak kelemahan jurus aliran lawannya itu, telah berhasil menyarangkan sebuah pukulan telak di sisi kiri paha orang itu.

Untungnya, Mahesa Amping hanya menggunakan sepersepuluh dari kekuatan tenaga pukulannya itu.

Meski begitu, pukulan itu sudah membuat orang itu terlempar dan merasakan sebelah kakinya lumpuh.

Mahesa Amping tidak mengejar orang itu, hanya perlahan melangkah mendekatinya sambil melepas senyumnya.

"Ternyata kisanak dapat melakukan semua jurus aliran kami dengan sempurna, lebih sempurna dari yang dapat aku lakukan. Aku mengaku kalah kepadamu," kata orang itu kepada Mahesa Amping, penuh kekaguman menatapnya.

"Maaf jika aku bermain terlalu keras hingga membuat kakimu lumpuh. Mudah-mudahan esok kakimu sudah dapat pulih sediakala," kata Mahesa Amping kepada orang itu, yang mengetahui bahwa pukulannya tidak akan menimbulkan luka parah, hanya kelumpuhan sementara saja.

Sementara itu, apa yang terjadi atas dua orang temannya yang lain? Ternyata Ki Sandikala tidak ingin banyak berkeringat di malam yang dingin itu.

Hanya dengan dua kali tepuk di tengkuk leher kedua orang itu sudah membuat keduanya pingsan dan tidak dapat berbuat apa pun ketika Ki Sandikala mengikat tangan keduanya.

Bersamaan dengan pingsannya orang yang menebar ajian sirep gelap ngampar, pudar pula angin keruh yang membuat setiap orang merasa mengantuk.

"Kupikir aku bisa menonton lebih lama lagi," kata seseorang yang muncul dari keremangan malam. Ia ternyata adalah Raden Wijaya, tengah mendekati Mahesa Amping dan lawannya itu.

Tidak lama berselang, Ki Sandikala telah muncul bersama dengan dua orang yang sudah terikat tangannya.

Betapa kagetnya kesepuluh prajurit yang tengah mendapat giliran jaga malam itu, yang terbangun dari tidurnya.

Api unggun masih sedikit menyala di tengah-tengah mereka.

"Kalian baru saja terlepas dari ilmu sirep yang kuat," kata Ki Sandikala dengan senyumnya kepada kesepuluh prajurit peronda itu.

"Apa yang telah terjadi saat kami tertidur?" tanya salah seorang prajurit, merasa bersalah dan berharap tidak ada kejadian yang merugikan penghuni barak.

"Tidak ada kejadian apa pun, hanya ada tiga orang tamu yang perlu kalian layani dengan baik," kata Ki Sandikala sambil menunjuk keluar barak ke arah di mana Mahesa Amping dan Raden Wijaya tengah menjaga ketiga tawanan barunya.

Serempak, kesepuluh prajurit itu sudah langsung berjalan ke arah yang ditunjuk Ki Sandikala.

"Satukan ketiga orang ini bersama tawanan lainnya, kalian harus menjaganya lebih hati-hati lagi," kata Raden Wijaya kepada kesepuluh prajurit yang sudah datang mendekatinya.

Demikianlah, ketiga tawanan itu sudah dibawa masuk ke dalam barak.

Sementara itu, Raden Wijaya, Mahesa Amping, dan Ki Sandikala ikut mengiringi mereka masuk kembali ke dalam barak.

"Ternyata aku harus banyak belajar lagi agar dapat terhindar dari segala sirep," kata Ranggalawe yang juga sudah terbangun mendengar kedatangan Raden Wijaya, Mahesa Amping, dan Ki Sandikala.

"Aku juga masih perlu belajar kepada dua sahabat ini untuk dapat melihat dan mendengar sesuatu di luar apa yang terlihat dan terdengar sebatas kasat mata di depan kita," kata Raden Wijaya kepada Ranggalawe sambil melirik kepada Mahesa Amping dan Ki Sandikala.

Ki Sandikala dan Mahesa Amping tidak menanggapi perkataan Raden Wijaya, hanya saling pandang dan mengangkat kedua bahu sambil tersenyum sebagai jawaban bahwa mereka sendiri tidak tahu akan bertemu dengan ketiga orang yang berniat buruk.

Di luar itu, mereka hanya mengikuti naluri dan kata hati.

"Hanya sebuah kebetulan keinginan untuk mencari udara segar, tidak sengaja menemukan tiga ekor ikan besar merapat di Sungai Kalimas," kata Ki Sandikala.

"Dan aku lebih sangat beruntung dapat mengikat dua ekor ikan segar tanpa luka sedikit pun," Ki Sandikala berkata lagi, yang ditanggapi tawa oleh mereka yang masih belum dapat tidur lagi di barak itu.

Pagi itu, matahari bersinar begitu cerah di atas dermaga bandar Ujung Galuh ketika dua buah perahu bertajuk terlihat bergeser meninggalkan tepian dan terus dikayuh semakin menjauhi arah pantai.

Kedua perahu bertajuk itu adalah rombongan Raden Wijaya yang akan menyeberangi Selat Madura untuk menemui penguasa Madura saat itu, yaitu Adipati Arya Wiraraja.

Raden Wijaya terlihat bersama Mahesa Amping dan Argalanang dalam satu perahu.

Sementara di perahu lainnya terlihat duduk berjajar Ranggalawe, Gajah Pagon, Ki Sukasrana, dan Ki Bancak.

Angin berembus sepoi semilir di atas Selat Madura mengiringi dua buah perahu bertajuk yang dikayuh menyusuri arah utara pantai Jawadwipa.

Terlihat dua buah perahu itu beriring berkelok bersama ke arah timur mendekati pantai Pulau Madura.

Layar tunggal di atas perahu terlihat telah dikembangkan, mendorong laju perahu mereka beriringan ditiup angin laut mendekati pantai Kalianget.

Matahari telah rebah di belakang mereka dengan cahayanya yang teduh saat hari masih terang jauh di awal senja. Dua buah perahu terlihat ditarik menjauhi lidah-lidah ombak tepi pantai yang landai.

Raden Wijaya dan rombongannya sudah sampai di tepi pantai Kalianget.

Sebentar mereka singgah di sebuah kedai perkampungan nelayan yang tidak jauh dari tepian pantai untuk sekadar beristirahat sejenak setelah seharian penuh duduk di atas papan kayu perahu, terpanggang angin laut yang menyengat di bawah matahari langsung tanpa penghalang apa pun.

Rombongan kecil itu sudah keluar dari kedai perkampungan nelayan, menyusuri jalan setapak yang arahnya terlihat lurus berhadapan dengan sebuah hutan.

Rombongan kecil itu pun akhirnya terlihat sudah mulai memasuki sebuah hutan yang dipenuhi pohon kayu tinggi menjulang ke langit, dan menghilang di kerimbunan pekat hutan alam.

Matahari senja terlihat tidak mampu lagi menembus celah daun dan batang pohon hutan yang rimbun.

Suasana hutan di pertengahan senja itu menjadi begitu mulai tersamar, teduh, dan gelap.

Namun, rombongan kecil itu masih mampu untuk melihat jalan setapak di tengah hutan itu dan terus mengikutinya sebagai tanda jejak jalan menuju ke arah Tanah Perdikan Songenep.

Matahari senja menyambut kedatangan mereka ketika telah keluar dari kerimbunan hutan, melangkahkan kaki menapaki sebuah bulakan panjang di muka bibir hutan itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment