Halo!

Tapak Tapak Jejak Gajahmada - Chapter 18

Memuat...
Tapak Tapak Jejak Gajahmada

Chapter 18

"Tanah Perdikan Sungenep sudah tidak jauh lagi," kata Ranggalawe yang sudah begitu lama tidak pulang ke kampung halamannya.

"Seperti baru kemarin kita meninggalkannya," kata Raden Wijaya kepada Mahesa Amping dan Ranggalawe. Ia teringat kembali saat pertama kali mengenal Ranggalawe dan membawanya dalam pengembaraan pertama. Mereka berguru bersama di Padepokan Bajra Seta, menjadikan ketiganya sebagai tiga orang bersaudara yang selalu bersama dalam suka maupun duka, serta saling berbagi kesetiaan.

Akhirnya, rombongan kecil itu memasuki regol depan Tanah Perdikan Sungenep. Mereka telah berada di jalan Tanah Perdikan yang dipenuhi deretan rumah di sepanjang jalan. Di antara rumah yang berjajar tersebut, terlihat sebuah rumah panggung yang paling besar.

Di depan rumah itu terdapat sebuah banjar desa, tepat di muka gerbang rumah panggung besar tersebut. Di sana tumbuh sebatang pohon beringin putih besar yang sudah berumur puluhan tahun. Pohon itu begitu rindang dengan dahan-dahan yang menjulur ke segala arah.

"Tuanku Ranggalawe!" seru seorang prajurit Tanah Perdikan di depan banjar desa saat mengenali Ranggalawe, putra junjungannya.

"Kulihat Ki Demak tidak pernah menjadi tua," sahut Ranggalawe yang juga mengenali prajurit tua itu.

Rombongan kecil itu kemudian masuk menuju pendapa rumah. Sementara itu, Ki Demak mendahului mereka melalui pintu samping untuk memberi kabar kepada Adipati Arya Wiraraja bahwa Ranggalawe datang bersama tamu lainnya. Sebelum rombongan sampai di bawah anak tangga pendapa, seorang lelaki tua muncul dari balik pintu utama.

"Akhirnya, aku masih dapat menemui kembali putraku," kata lelaki tua itu, yang tidak lain adalah Adipati Arya Wiraraja, menyambut kedatangan putranya dengan penuh sukacita.

"Bukankah kalian dua anak lelaki kawan putraku?" tanya Adipati Arya Wiraraja yang masih mengenali Raden Wijaya dan Mahesa Amping.

"Paman Adipati tetap gagah sebagaimana dahulu," kata Mahesa Amping kepada Adipati Arya Wiraraja yang memang masih terlihat tegar meski seluruh rambut dan janggutnya telah memutih.

Suasana di pendapa itu menjadi begitu meriah. Mereka saling bercerita tentang pengalaman masa lalu serta keadaan masing-masing selama berpisah. Malam itu, mereka masih membicarakan banyak hal, terutama mengenai perkembangan terakhir terkait runtuhnya Kotaraja Singasari.

"Awalnya, aku masih belum percaya tentang runtuhnya Kotaraja Singasari. Namun, kedatangan kalian telah meyakinkanku bahwa kejadian itu memang sebuah kenyataan yang harus diterima sebagai jalan dan takdir yang ditetapkan oleh Gusti Yang Maha Agung," ujar Adipati Arya Wiraraja. Matanya memandang jauh ke depan, melewati regol pintu gerbang, seolah menembus batas waktu saat ia masih menjadi prajurit Singasari yang setia menjaga keluarga istana.

Dalam kesempatan itulah, Raden Wijaya bercerita tentang apa yang telah dilakukannya hingga saat ini untuk membangun kekuatan baru guna menggulingkan Kediri yang kini menjadi penguasa baru di Tanah Jawa.

"Seluruh raja di Tanah Jawa telah mendukung dan menyatakan kesetiaan mereka di balik perjuangan kami," kata Raden Wijaya kepada Adipati Arya Wiraraja. "Kami para orang muda datang ke Tanah Perdikan Sungenep ini hanya untuk mengharapkan restu Paman Arya Wiraraja bagi perjuangan kami."

"Sepanjang hidupku, telah kuabdikan diri ini kepada keluarga istana Singasari. Ketika tubuh dan jiwa ini sudah rapuh, kuserahkan pula putraku, Ranggalawe, untuk melanjutkan kesetiaanku mengabdi bagi keluarga istana. Aku merestui perjuanganmu, wahai putra junjunganku, Pangeran Lembu Tal, cucunda terkasih Ratu Anggabhaya yang kucintai," kata Adipati Arya Wiraraja kepada Raden Wijaya, menyampaikan dukungan sekaligus restunya.

"Restu Pamanda Arya Wiraraja adalah doa dan kekuatan bagi perjuangan kami," sahut Raden Wijaya sambil merangkapkan kedua tangannya dengan penuh rasa hormat.

Diam-diam, Adipati Arya Wiraraja memuji tutur kata Raden Wijaya yang begitu halus dan tidak menunjukkan kesombongan sebagai seorang putra bangsawan. Ia menyukai anak muda itu dan teringat pada sikap serupa yang dimiliki oleh junjungannya, Ratu Anggabhaya.

"Raja Jayakatwang juga pernah meminta kesetiaan yang sama kepadaku melalui sebuah rontal yang seharusnya dibawa langsung oleh keponakanku sendiri, Wirondaya," cerita Adipati Arya Wiraraja kepada Raden Wijaya mengenai sebuah rontal rahasia.

"Mudah-mudahan Pamanda masih mengenali anak muda yang membawa rontal rahasia itu," ujar Mahesa Amping sambil meminta Adipati Arya Wiraraja melihat langsung salah seorang yang hadir di sana, yang tidak lain adalah Gajah Pagon.

"Aku memang sudah pikun, tetapi aku ingat bahwa kamulah anak muda yang membawa rontal rahasia itu. Setahuku kamu adalah putra sahabatku, Ki Pandakan," kata Adipati Arya Wiraraja setelah mengenali wajah Gajah Pagon.

"Maafkan hamba yang tidak menunjukkan jati diri sebenarnya sebagai seorang prajurit telik sandi Singasari," ucap Gajah Pagon kepada Adipati Arya Wiraraja sambil merangkapkan kedua tangannya penuh hormat.

"Sudah menjadi takdirku untuk tetap terlibat dengan apa yang terjadi pada keluarga istana Singasari. Mudah-mudahan buah pikirku ini masih dapat diterima sebagai jalan awal untuk membantu perjuanganmu," kata Adipati Arya Wiraraja.

"Buah pikir Pamanda adalah pusaka bagi kami. Di seluruh tanah kekuasaan Singasari, telah ada pepatah bahwa satu ujar Pamanda Arya Wiraraja dapat menggugurkan gunung besar. Kami merasa tersanjung bila Pamanda dengan senang hati memberikan jalan bagi kemenangan perjuangan ini," sahut Raden Wijaya dengan wajah ceria.

"Ananda Raden Wijaya telah memilih tempat yang baik, yaitu Ujung Galuh sebagai leher Jawadwipa. Ananda telah menguasai jalan napas di mana aliran darah yang mengalir selalu membutuhkannya setiap waktu," kata Adipati Arya Wiraraja, membenarkan pilihan Raden Wijaya yang menjadikan Bandar Ujung Galuh sebagai pusat kekuatannya. "Sebuah awal dan langkah yang menguntungkan."

"Kami bermaksud memupuk kekuatan secara diam-diam tanpa diketahui penguasa Kediri," jelas Raden Wijaya.

"Musuhmu akan memberikannya dengan senang hati," ujar Adipati Arya Wiraraja sambil tersenyum menatap semua yang hadir, yang saat itu memandangnya dengan penuh tanda tanya. "Yang kalian butuhkan saat ini adalah waktu dan kesempatan."

Adipati Arya Wiraraja menyapu pandangannya kepada semua orang di pendapa yang belum menangkap arah pembicaraan sang pengatur siasat perang ulung itu.

"Aku akan meyakinkan Raja Jayakatwang bahwa yang diinginkan Raden Wijaya hanyalah tanah Ujung Galuh yang kecil, sementara ia akan mendapatkan jaminan keamanan di semua jalur perdagangannya. Inilah yang akan kutawarkan kepada Raja Jayakatwang," lanjut Adipati Arya Wiraraja.

"Kami dapat menangkap maksud Pamanda. Penguasa Kediri tidak akan mengganggu keberadaan kami di Ujung Galuh, sehingga ada banyak waktu bagi kita untuk memupuk kekuatan besar di tempat yang tersembunyi," kata Raden Wijaya dengan gembira menerima siasat cemerlang tersebut.

"Aku hanya butuh perwakilan di antara kalian untuk menemaniku menemui Raja Jayakatwang, karena aku akan datang menghadapnya sebagai juru damai dari dua keluarga," pinta Adipati Arya Wiraraja.

"Aku dapat menemani Ayahanda," tawar Ranggalawe.

"Kamu adalah anakku. Raja Jayakatwang akan curiga jika anakku menjadi abdi di belakang keluarga istana Singasari," tolak Adipati Arya Wiraraja.

"Akulah yang akan menemani Pamanda ke Kotaraja Kediri. Aku datang sebagai seorang senapati wakil keluarga istana Singasari," ujar Mahesa Amping menawarkan diri.

"Bagus. Mereka akan yakin bahwa aku memang datang untuk mengusahakan perdamaian dengan membawa serta seorang senapati musuh mereka," kata Adipati Arya Wiraraja menyetujui.

Malam sudah jauh larut. Beberapa bintang masih terlihat berkelip di antara celah daun beringin di depan pendapa rumah Adipati Arya Wiraraja.

"Maaf Pamanda, bila kami tidak bisa berlama-lama di Tanah Perdikan Sungenep ini. Di Ujung Galuh saat ini ada beberapa tawanan yang perlu mendapat penanganan khusus. Jadi, besok kami sudah harus berangkat," kata Raden Wijaya menyampaikan rencananya untuk segera kembali.

"Bila itu keinginan Ananda Raden Wijaya, aku pun akan ikut bersama kalian besok agar kita sampai di Ujung Galuh bersama-sama," sahut Adipati Arya Wiraraja.

Keesokan harinya, Adipati Arya Wiraraja memanggil beberapa orang kepercayaannya dan memberikan pesan-pesan yang harus dilakukan selama ia tidak berada di Tanah Perdikan Sungenep.

"Setelah puluhan tahun, baru hari ini aku meninggalkan Tanah Perdikan Sungenep," ujar Adipati Arya Wiraraja kepada Raden Wijaya saat mereka melangkah keluar dari regol gerbang.

Adipati Arya Wiraraja berjalan di depan dengan wajah ceria, seolah menemukan kembali jalan lapang dan merasakan angin bebas menerpa wajahnya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment