Halo!

Tapak Tapak Jejak Gajahmada - Chapter 20

Memuat...
Tapak Tapak Jejak Gajahmada

Chapter 20

"Maafkan aku, selama ini aku merasa sebagai seorang senapati besar pemimpin dua ribu prajurit Singasari, jauh lebih terhormat dari seorang bekel di sebuah padukuhan," berkata Ranggalawe kepada Raden Wijaya dengan polos mengakui kealpaannya.

"Mudah-mudahan Ki Bekel yang akan kita temui adalah seorang yang sabar, yang masih menanti seorang tamu asing untuk datang menemuinya," berkata Raden Wijaya kepada Ranggalawe dengan penuh senyum.

Menjelang awal malam, Raden Wijaya bersama Ranggalawe telah mendatangi rumah Ki Bekel.

"Kami sebagai penghuni baru di tanah Ujung Galuh ini merasa malu bahwa baru hari ini dapat datang beranjangsana menghadap Ki Bekel," berkata Raden Wijaya kepada Ki Bekel ketika mereka sudah diterima di pendapa rumahnya.

"Hamba sebagai seorang bekel merasa terhormat dikunjungi oleh seorang senapati besar Singasari sebagaimana tuanku," berkata Ki Bekel menyambut Raden Wijaya dan Ranggalawe di rumahnya.

Akhirnya Raden Wijaya menyampaikan maksudnya untuk membangun sebuah benteng di tanah Ujung Galuh dan meminta izin untuk mengambil beberapa batang pohon di hutan seberang Sungai Perigian.

"Hampir semua penduduk di sini telah mengambil bahan kayu mereka dari hutan seberang Sungai Perigian," berkata Ki Bekel, yang nampaknya tidak berkeberatan Raden Wijaya mengambil bahan kayu dari hutan tersebut.

Bahkan di luar dugaan, Ki Bekel telah menawarkan beberapa penduduk padukuhan untuk membantu membangun benteng prajurit di Tanah Ujung Galuh.

"Beberapa dari penduduk di sini adalah para undagi yang terampil memilih batang kayu yang paling baik untuk sebuah bangunan. Aku akan meminta mereka untuk membantu tuanku," berkata Ki Bekel menawarkan penduduknya untuk membantu pekerjaan membangun benteng di Tanah Ujung Galuh.

"Terima kasih atas segala penerimaan Ki Bekel kepada kami," berkata Raden Wijaya ketika akan berpamitan diri dari rumah Ki Bekel.

"Pintu kami akan selalu terbuka," berkata Ki Bekel mengiringi kepergian Raden Wijaya dan Ranggalawe sampai di ujung pagar rumahnya.

Setelah kembali pulang dari rumah Ki Bekel, Raden Wijaya dan Ranggalawe tidak langsung beristirahat, tetapi langsung membuat rancangan kasar di atas sebuah rontal.

Bayangan mereka melambung ke Benteng Bandar Cangu.

Hasilnya adalah gambar kasar sebuah benteng yang mirip dengan benteng yang ada di Bandar Cangu, hanya lebih besar dan dikelilingi panggungan sepanjang pagarnya.

"Besok kita sudah siap ke hutan seberang Sungai Perigian untuk mengambil bahan kayu yang baik di sana," berkata Raden Wijaya yang puas hari itu telah berhasil membuat sebuah rancangan kasar untuk menjadi dasar dan pegangan pembangunan benteng prajurit di Tanah Ujung Galuh.

Keesokan harinya, terlihat beberapa prajurit dan penduduk setempat tengah menyeberangi Sungai Perigian untuk mencari bahan kayu yang baik.

Sementara itu, beberapa prajurit sudah berada di atas tanah tempat benteng prajurit akan berdiri.

"Kita membangun benteng yang panjang membelakangi Sungai Kalimas," berkata Raden Wijaya memberikan pengarahan kepada para prajuritnya yang akan menyiapkan lahan dasar tempat berdirinya benteng mereka di Tanah Ujung Galuh.

Sementara itu, tidak jauh dari mereka terlihat iring-iringan penduduk padukuhan datang bersama Ki Bekel.

Ternyata mereka semua membawa berbagai sesajian.

"Kami akan melakukan upacara Pangruwak, agar pemilik bangsa halus yang menempati tanah ini berkenan mengizinkannya," berkata Ki Bekel kepada Raden Wijaya.

"Terima kasih untuk segala perhatian Ki Bekel. Entah dengan cara apa kami membalasnya," berkata Raden Wijaya merasa terharu atas dukungan dan perhatian para penduduk asli setempat atas rencananya membangun benteng di Tanah Ujung Galuh.

"Kami hanya sedikit berbuat. Para penduduk merasa telah punya arti ikut membangun benteng prajurit di Tanah Ujung Galuh ini," berkata Ki Bekel dengan penuh kegembiraan.

Hari itu, upacara Pangruwak dilaksanakan di atas tanah baru benteng prajurit mereka.

Sementara itu, di waktu yang sama, Mahesa Amping bersama Adipati Arya Wiraraja dan Ki Sandikala masih dalam perjalanan mereka menuju Kotaraja Kediri. Langkah kuda mereka sudah mendekati Jalan Simpang.

"Ternyata batang-batang pohon itu masih belum disingkirkan," berkata Mahesa Amping yang melihat banyak batang pohon yang melintang masih belum disingkirkan.

"Siapa yang telah merobohkan pohon-pohon ini?" bertanya Adipati Arya Wiraraja kepada Mahesa Amping.

Mahesa Amping secara singkat bercerita tentang apa yang terjadi beberapa hari yang lalu, tentang sebuah pasukan kecil Singasari yang telah berusaha merusak dan mengganggu pasukan besar Kediri yang tengah melakukan perjalanan menuju Tanah Ujung Galuh.

"Jadi kalian telah berhasil menghalau pasukan besar mereka?" berkata Adipati Arya Wiraraja merasa bangga dengan pasukan Raden Wijaya yang dapat menghalau pasukan Kediri.

Batang-batang pohon itu memang sedikit menghambat perjalanan mereka, maka terlihat mereka telah melaluinya dan terus berjalan di atas jalan tanah yang rata.

Tidak terasa mereka telah jauh dari Jalan Simpang, namun masih di atas jalan yang sama.

Akhirnya ketika matahari sudah mulai beranjak di atas puncaknya, bersamaan mereka telah mendekati sebuah padukuhan yang cukup ramai.

Terlihat mereka mendekati sebuah kedai di pasar padukuhan itu. Ternyata hari itu memang bersamaan dengan hari pasaran.

Pasar itu memang sudah mulai terlihat sepi, beberapa pedagang terlihat tengah menggulung barang dagangannya yang masih tersisa.

Sementara itu, kedai yang mereka datangi masih terlihat ramai, mungkin beberapa pedagang yang tengah beristirahat sebelum pulang kembali ke rumahnya yang mungkin agak jauh dari padukuhan itu.

Terlihat Mahesa Amping, Adipati Arya Wiraraja, dan Ki Sandikala tengah menambatkan kuda mereka di depan kedai itu dan langsung masuk ke dalam kedai itu.

Seorang pelayan lelaki terlihat mendekati meja mereka menanyakan pesanan makanan yang diinginkan.

"Kami akan segera membawa pesanan tuan," berkata pelayan itu setelah mendengar pesanan makanan dan minuman dari mereka bertiga dan langsung masuk menghilang ke dalam.

Mereka memang menunggu cukup lama, tetapi mereka bertiga memaklumi karena mungkin pengunjung saat itu sangat ramai.

Tapi tiba-tiba saja pendengaran mereka terusik dengan sebuah keributan yang datangnya dari luar kedai.

"Tuan berdua tetap di sini, biarlah hamba yang keluar melihat apa yang terjadi di luar," berkata Ki Sandikala kepada Mahesa Amping dan Adipati Arya Wiraraja sambil berdiri dan melangkahkan kakinya keluar kedai.

Bukan main terkejutnya Ki Sandikala ketika sampai di muka kedai melihat ada dua orang tengah beradu kata memperebutkan seekor kuda.

Dan kuda yang diperebutkan itu ternyata miliknya.

"Kamu bukan pemilik kuda ini, kenapa repot?" berkata seorang yang berperawakan tinggi besar dengan wajah garang berkumis lebat kepada seorang lelaki yang berusaha merebut tali kekang kuda dari orang berwajah garang itu.

"Aku bertanggung jawab terhadap semua milik pengunjung kedai ini," berkata lelaki itu sambil terus ingin merebut tali kekang di tangan orang berwajah garang itu.

Tiba-tiba saja tangan orang berwajah garang itu sudah bergerak bermaksud menampar wajah lelaki di dekatnya itu.

Tapi tamparan itu menemui tempat kosong. Orang yang akan ditampar wajahnya itu ternyata punya gerakan yang cukup gesit memiringkan wajahnya, namun tidak segera membalas tamparan itu melainkan dirinya melompat menjauh.

"Hargailah aku sebagai temanmu. Pemilik kedai ini telah mempercayaiku mengamankan kedainya," berkata lelaki itu terlihat masih menahan diri.

"Peduli setan dengan tugasmu, aku menyukai kuda ini," berkata orang berwajah garang itu sambil menarik tali kekang kuda bermaksud membawanya.

"Aku peduli sekali dengan kuda itu, karena kuda itu milikku," berkata seseorang yang tidak lain adalah Ki Sandikala yang datang menghadang orang berwajah garang itu, menghalanginya membawa kudanya.

"Minggirlah tuan, kawanku ini hanya iri aku tidak lagi luntang-lantung hidup tidak karuan seperti dirinya," berkata lelaki itu meminta Ki Sandikala menyingkir agar dia sendiri yang akan menghadapi orang berwajah garang itu yang ternyata kawannya juga.

Terpaksa Ki Sandikala menyingkir, ingin tahu apa yang akan dilakukan orang berwajah garang itu, namun telah siap melakukan pencegahan bila terjadi sesuatu yang merugikan pada lelaki yang nampaknya sangat sabar itu.

"Aku tidak iri padamu dan tidak punya kawan seperti dirimu," berkata orang berwajah garang itu sambil mencabut goloknya dan sudah langsung membabat tegak lurus tertuju arah kepala lelaki itu.

Awalnya Ki Sandikala akan memberi bantuan kepada lelaki itu, namun mengurungkan niatnya manakala dilihatnya dengan mudah lelaki itu mengelak dan sudah langsung menyerang orang berwajah garang itu dengan sebuah pukulan yang sangat cepat menghantam dada orang berwajah garang itu.

Tapi orang berwajah garang itu tidak membiarkan dadanya terhantam pukulan lelaki itu. Terlihat golok di tangannya telah berubah arah menyambar tangan lelaki itu.

Terlihat lelaki itu telah menarik kembali tangannya menghindari golok lawannya yang akan menyambarnya sambil melayangkan kakinya ke arah tangan lawannya yang tengah bergerak dengan senjata goloknya.

Orang berwajah garang itu telah merubah arah senjata goloknya balas menyerang lelaki itu. Demikianlah, dalam waktu cepat mereka berdua sudah terlibat dalam sebuah perkelahian yang seru.

Ternyata perkelahian itu sudah mencuri perhatian beberapa orang yang masih berada di pasar, juga orang yang ada di dalam kedai.

Dalam waktu cepat sudah banyak orang berkerumun berdiri tidak jauh dari perkelahian itu tanpa ada keberanian untuk melerainya.

"Lelaki itu punya kelebihan dari lawannya meski tidak bersenjata," berkata Ki Sandikala dalam hati yang sudah dapat menilai jalannya perkelahian itu.

Sebagaimana yang dilihat oleh Ki Sandikala, ternyata memang bahwa lelaki itu punya kelebihan dari orang berwajah garang itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment