Chapter 22
"Tuan Senapati Mahesa Amping ternyata sahabat muda pengembara hati. Perjalanan hati bagi hamba kadang bagaikan sebuah titian panjang yang memerlukan kehati-hatian. Begitulah kita menitinya hingga sampai ke seberang tanah abadi, tanah penuh sukacita, tanah adem tentrem yang di dalamnya tidak akan diliputi rasa sedih duka lara. Sejahteralah mereka yang telah melewati jalan titian panjang itu," kata Ki Sandikala dengan penuh semangat, seolah berbicara kepada dirinya sendiri.
"Ternyata aku bertemu dengan dua orang pengembara sejati," kata Adipati Arya Wiraraja kepada Ki Sandikala dan Mahesa Amping yang mulai dapat mengikuti arah pembicaraan keduanya mengenai pengembaraan hati.
"Semakin diri ini berpaut bersama kalian berdua, pantaslah kalian seperti tak pernah terpisahkan," sambung Arya Wiraraja kembali.
"Begitulah para pengembara menemukan sahabat sejati," sahut Ki Sandikala sembari tersenyum. "Untuk saling menjaga dan berbagi," tambahnya lagi.
Sementara itu, malam semakin larut. Suara deras riak air parit di samping banjar desa itu masih terus terdengar, menguasai keheningan malam yang berbalut desir angin dingin semilir yang menembus rangkaian anyaman dinding bambu.
Suara kentungan bernada dara muluk terdengar dari kejauhan, mungkin dari padukuhan sebelah, sebagai tanda hari sudah memasuki pertengahan malam dan kondisi saat itu dalam keadaan aman tenteram tanpa gangguan apa pun.
"Masih ada waktu untuk tidur beristirahat," kata Ki Sandikala menawarkan Adipati Arya Wiraraja dan Mahesa Amping untuk beristirahat lebih dulu.
"Biarlah hamba mendapat giliran jaga pertama malam ini," kata Ki Sandikala kembali sambil bergeser bersandar di sudut tiang bambu banjar desa dan meluruskan kakinya.
Malam pun akhirnya berlalu, menepi berganti pagi yang ditandai dengan cahaya mentari yang bersinar menerangi bumi. Pagi datang membawa suara kicau burung aneka warna, membangunkan seorang bocah gembala yang masih tampak mengantuk saat membawa kerbau-kerbaunya untuk merumput dan memandikannya. Sementara itu, seorang bocah laki-laki kecil bertelanjang lari mengikuti seorang ibu muda yang terlihat tergesa menyeret kain panjangnya di jalan padukuhan.
Matahari pagi telah menerangi suasana padukuhan tempat Mahesa Amping, Ki Sandikala, dan Adipati Arya Wiraraja bermalam di banjar desanya. Ternyata di belakang banjar desa itu terhampar petak-petak sawah berundak yang baru berumur sekitar dua pekan, terlihat tumbuh tegak di dalam lumpur yang basah.
"Syukurlah kalian dapat tidur nyenyak di banjar desa," kata lelaki pemilik rumah di sebelah banjar ketika mereka datang untuk berpamitan melanjutkan perjalanan.
Demikianlah, di pagi yang cerah di atas tanah yang masih basah berembun, tiga ekor kuda yang tegar berjalan perlahan di atas jalan padukuhan. Tiga orang di atas punggung kuda itu tampak menikmati udara pagi yang segar di antara rumah-rumah dan pohon-pohon tinggi di sepanjang jalan. Beberapa orang yang mereka lewati memperhatikan dengan saksama langkah perjalanan mereka bertiga sebagai tamu asing yang jarang terlihat melewati padukuhan tersebut.
Mungkin tiga ekor kuda tegar itulah yang membuat mereka tidak putus memandang, membayangkan jika saja bisa memilikinya untuk dibawa berkeliling tanah padukuhan setiap hari sebagai kebanggaan yang tak terperikan. Seorang bocah gembala yang tengah menunggu kerbau-kerbaunya mandi di sebuah kubangan pinggir jalan di ujung padukuhan terus memandangi ketiga penunggang kuda itu hingga mereka keluar dari regol gerbang padukuhan, menyusuri jalan tanah padat, dan akhirnya menghilang di sebuah tikungan jalan.
Lengkung langit biru dipenuhi awan putih bersama sang mentari yang berdiri tegak memancarkan cahaya penuh, hampir terasa membakar bumi. Siang itu, ketiga penunggang kuda tersebut telah memasuki gerbang Kotaraja Kediri. Mereka membiarkan kuda-kuda mereka melangkah di atas jalan tanah Kotaraja Kediri yang dipenuhi banyak rumah panggung bagus dengan tiang-tiang pilar kayu pendapa yang terukir indah.
Ketiga penunggang kuda itu akhirnya menghentikan kuda mereka ketika sampai di muka gerbang istana. Mereka turun dari punggung kuda dan langsung menuntunnya mendekati gardu jaga, tempat seorang prajurit keluar menyongsong mereka.
"Junjungan kami Adipati Arya Wiraraja ingin menghadap Paduka Tuan Baginda Raja, Penguasa Agung Kediri," kata Ki Sandikala sambil menyerahkan sebuah lempengan perak persegi yang ukurannya sedikit lebih kecil dari telapak tangan, berukir lukisan pedang kembar.
"Tunggulah di sini, kami akan menyampaikannya kepada pimpinan kami," kata prajurit pengawal istana itu seraya menerima lencana perak tersebut dan membawanya ke dalam.
Tata cara penerimaan tamu yang akan menghadap seorang raja memang sangat panjang dan berjenjang. Seorang prajurit pengawal pertama harus melapor kepada lurah prajurit. Selanjutnya, lurah prajurit menghadap perwira utama prajurit pengawal. Akhirnya, perwira tersebut menyampaikannya kepada prajurit kepercayaan raja.
"Adipati Arya Wiraraja datang ke istanaku?" tanya Raja Jayakatwang di pasanggrahannya kepada seorang prajurit pengawal pribadi yang menyerahkan pertanda berupa lempengan perak berukir lukisan pedang kembar tersebut. "Katakan bahwa aku akan menerima mereka di Pura Kartika."
Prajurit pengawal pribadi Raja itu keluar menemui perwira tinggi yang bertanggung jawab atas keselamatan raja dan keluarga istana. "Tuanku Baginda Raja berkenan menerima tamu itu di Pura Kartika," lapornya.
"Berikan kembali lencana ini kepada pemiliknya. Mereka diperkenankan menghadap Baginda Raja di Pura Kartika," kata perwira tinggi itu kepada seorang lurah prajurit.
"Hebat sekali pemilik lencana ini, bisa langsung diperkenankan menghadap Paduka Baginda Raja," gumam lurah prajurit dalam hati sambil mengamati lambang yang terukir di lempengan perak itu. "Biasanya harus menunggu dua atau tiga hari, bahkan ada yang tidak diperkenankan sama sekali."
Hanya mereka yang dekat dengan keluarga Istana Singasari yang mengetahui siapa orang yang berhak memegang lempengan perak berukir lukisan timbul pedang kembar itu. Hanya ada tiga orang yang memilikinya, dan salah satunya adalah Adipati Arya Wiraraja.
"Tuanku Baginda berkenan menerima kalian. Mari kuantar ke Pura Kartika," kata lurah prajurit kepada Ki Sandikala.
"Terima kasih," sahut Ki Sandikala sambil menerima kembali lencana perak yang merupakan identitas khusus milik Adipati Arya Wiraraja tersebut.
"Tinggalkan saja kuda kalian, prajurit kami akan mengurusnya," kata lurah prajurit sembari memerintahkan anak buahnya untuk membawa kuda-kuda tamu tersebut.
Lurah prajurit itu berjalan di depan, diikuti oleh Ki Sandikala, Mahesa Amping, dan Adipati Arya Wiraraja menuju Pura Kartika, sebuah bangunan khusus untuk menerima tamu kehormatan kerajaan.
"Selamat datang, Paman Adipati Arya Wiraraja. Sebuah kegembiraan dapat bertemu kembali dengan seseorang yang memiliki nama begitu cemerlang di masa silam," sambut Raja Jayakatwang di Pura Kartika. Ia duduk di atas altar beralas kulit harimau dengan pengawalan tiga orang prajurit setia di belakangnya.
Adipati Arya Wiraraja duduk berjajar bersama Mahesa Amping dan Ki Sandikala. "Terima kasih tak terhingga telah memperkenankan hamba untuk datang menghadap," kata Adipati Arya Wiraraja sambil merangkapkan tangan dengan penuh hormat. "Hamba sengaja datang menghadap Tuanku Baginda hanya sebagai orang tua yang memberanikan diri menjadi penyambung lidah bagi dua keluarga yang tengah bertikai. Raden Wijaya, atas nama keluarga Istana Singasari, telah mendatangi hamba yang rendah ini untuk menyampaikan beberapa kesepakatan."
"Apakah Raden Wijaya telah memercayai Paman Adipati Arya Wiraraja untuk mewakili dirinya memutuskan sebuah kesepakatan?" tanya Raja Jayakatwang sambil memandang Adipati Arya Wiraraja.
"Hamba tidak berani mewakili Raden Wijaya membuat kesepakatan langsung dengan Tuanku Baginda. Raden Wijaya telah mengirim utusannya sendiri yang juga akan menjadi saksi atas segala kesepakatan yang diputuskan. Utusan Raden Wijaya datang bersama hamba," jawab Arya Wiraraja.
"Hamba, Senapati Mahesa Amping, telah diperkenankan mewakili Raden Wijaya," kata Mahesa Amping sambil merangkapkan kedua tangannya memperkenalkan diri.
"Lekas katakan kesepakatan apa yang diinginkan oleh Raden Wijaya," ujar Raja Jayakatwang kepada Adipati Arya Wiraraja.
"Ampun Tuanku, hamba akan menyampaikan kesepakatan yang diinginkan oleh Raden Wijaya, yang menurut hamba jumlahnya terlalu sedikit dibandingkan dengan kebesaran yang Tuanku Baginda miliki saat ini. Sebagai gantinya, Raden Wijaya akan memberikan sesuatu yang besar. Raden Wijaya bersedia menarik semua pasukannya yang selama ini tersebar dan melakukan gangguan di jalur perdagangan Kediri," kata Adipati Arya Wiraraja, berhenti sejenak untuk menarik napas panjang.