Chapter 23
"Apa yang ingin diminta oleh Raden Wijaya sebagai imbalan menarik semua pasukan liarnya itu?" tanya Raja Jayakatwang, menyela perkataan Adipati Arya Wiraraja.
"Raden Wijaya hanya menginginkan perkenan Tuanku memberinya Tanah Ujung Galuh sebagai daerah swatantra baginya. Dan Raden Wijaya telah berjanji untuk mengakui kedaulatan Kediri sebagaimana kedaulatan Singasari," ujar Adipati Arya Wiraraja kepada Raja Jayakatwang.
"Katakan, apa keuntungannya untukku?" tanya Raja Jayakatwang, menguji pandangan Adipati Arya Wiraraja yang dikenal sangat cemerlang itu.
"Sebagaimana yang hamba katakan, Raden Wijaya hanya menerima sedikit dari yang akan Baginda dapatkan," jawab Adipati Arya Wiraraja sambil memandang wajah Raja Jayakatwang, mempelajari raut muka yang mencerminkan isi hatinya.
"Pengakuan kedaulatan Kediri dari Raden Wijaya adalah juga pengakuan dari semua raja di Jawadwipa. Itulah yang akan Baginda dapatkan, sebuah keuntungan besar dari tanah kecil tak berarti yang diinginkan oleh Raden Wijaya," lanjut Adipati Arya Wiraraja yang melihat raut muka Raja Jayakatwang berubah cerah.
"Raden Wijaya memang tidak akan dapat meminta apa pun dariku. Jika ada perkenanku, itu hanyalah hadiah dari seorang saudara. Katakan kepada Raden Wijaya bahwa aku berkenan memberinya hadiah tanah swatantra di Ujung Galuh. Dalam waktu dekat, aku akan mengutus orangku sendiri untuk menyampaikan kekancingan tanda perkenanku kepadanya," kata Raja Jayakatwang yang merasa gembira membayangkan arti pengakuan kedaulatan dari seluruh raja di Tanah Jawa, yang sebagian besar adalah kerabat dan keluarga istana Singasari.
"Sabda Paduka adalah pusaka, dan hamba merasa bahagia bahwa ternyata Tuanku Baginda adalah seorang yang pemurah dan berhati kasih. Semoga nagari ini menjadi tempat yang menyejukkan bagi semua para sudra, menjadi nagari yang aman untuk para waisya, dan para kstria sepanjang masa tidak akan pernah melepaskan pedangnya di tanah yang tidak ada peperangan. Berbahagialah para kawula diperkenankan memiliki putra dewata yang turun di takhta istana Kediri ini," kata Adipati Arya Wiraraja dengan merangkapkan kedua tangannya penuh hormat di hadapan Raja Jayakatwang.
Bukan main gembira hati Raja Jayakatwang menerima pujian Adipati Arya Wiraraja. "Semoga Raden Wijaya secepatnya memenuhi kesepakatannya. Perkenanku kepada kalian hari ini telah kupenuhi," kata Raja Jayakatwang sambil bangkit berdiri dan melangkah keluar, diiringi para prajurit pengawal pribadinya.
Adipati Arya Wiraraja, Mahesa Amping, dan Ki Sandikala segera berdiri setelah bayangan Raja Jayakatwang tidak terlihat lagi di Pura Kartika. Di luar pintu utama Pura Kartika, seorang lurah prajurit tengah menunggu mereka. Ketiganya berjalan kembali ke arah gerbang istana Kotaraja Kediri. Dua orang prajurit dan seorang pekatik telah menunggu mereka di sana.
"Terima kasih telah menerima kami dengan baik," kata Ki Sandikala dari atas punggung kudanya.
"Semoga keselamatan menaungi perjalanan kalian," jawab lurah prajurit itu sambil melambaikan tangan.
Lurah prajurit, dua prajurit, dan seorang pekatik mengiringi langkah kuda mereka yang berjalan perlahan menyusuri jalan Kotaraja Kediri saat senja mulai turun. Mentari tampak menggantung di ufuk barat. Mahesa Amping, Adipati Arya Wiraraja, dan Ki Sandikala sudah berada di jalan menuju gerbang Kotaraja Kediri.
"Ternyata Ki Sandikala dapat berperan sebagai prajurit Tanah Perdikan Songenep yang baik," ujar Adipati Arya Wiraraja ketika mereka melewati regol gerbang Kotaraja Kediri.
"Tuan Adipati juga sangat mumpuni dalam bertutur kata. Hamba melihat Raja Jayakatwang seperti pembeli di hadapan pedagang canggih yang memasarkan dagangannya, hingga yang ada dalam bayangan Raja Jayakatwang hanyalah keuntungan besar," sahut Ki Sandikala.
"Raja Jayakatwang tidak terpikir bahayanya membeli seekor anak harimau," timpal Mahesa Amping yang disambut tawa oleh Ki Sandikala dan Adipati Arya Wiraraja.
"Kelihatannya kita akan bermalam di padukuhan kemarin," kata Ki Sandikala sambil menatap langit yang mulai redup.
"Sepanjang malam ditemani suara gemericik air," kata Mahesa Amping.
"Dan sepanjang malam bercerita tentang perjalanan tiga orang pengembara," tambah Adipati Arya Wiraraja yang sangat menikmati perjalanan itu.
Sementara itu, pada hari dan waktu yang sama, Raden Wijaya masih berada di antara para pekerja yang membangun benteng besar di Tanah Ujung Galuh.
"Hari sebentar lagi gelap, mari kita kembali ke barak," ajak Ranggalawe.
"Dua pekan lagi, benteng besar akan berdiri di Tanah Ujung Galuh ini," ujar Raden Wijaya sambil memandang bangunan benteng yang sudah setengah jadi.
"Apakah kita akan menarik semua kekuatan prajurit kita di Kotaraja Singasari?" tanya Ranggalawe dalam perjalanan menuju barak.
"Semua menunggu lawatan ayahandamu, Adipati Arya Wiraraja, di Kotaraja Kediri," jawab Raden Wijaya.
Temaram warna langit senja di atas Bandar Ujung Galuh masih ramai dipenuhi orang yang lalu-lalang. Pucuk-pucuk tiang layar perahu kayu bergoyang dipermainkan ombak kecil di pinggir dermaga Selat Madura.
"Tadi siang Ki Bekel menawarkan kayu jati tebangannya tahun lalu yang sudah lama direndam di sungai," kata Raden Wijaya kepada Ki Bancak, Ranggalawe, dan Argalanang di barak prajurit malam itu.
"Selalu ada keberuntungan untuk kita," sahut Argalanang.
"Semoga keberuntungan selalu mengiringi jalan kita," tambah Ki Bancak.
Angin semilir mengiringi malam di antara gerak langkah para buruh yang memanggul barang. Terdengar tawa beberapa wanita dari rumah bordil, menggoda para kelana yang singgah di Bandar Ujung Galuh. Malam itu, Ki Sukasrana dan Gajah Pagon bersama beberapa prajurit Singasari bertugas berjaga. Raden Wijaya telah memutuskan bahwa keamanan di Tanah Ujung Galuh menjadi tanggung jawab prajurit Singasari.
"Bandar Ujung Galuh ini tidak pernah sepi," kata Gajah Pagon kepada Ki Sukasrana sambil menyusuri pantai di bawah kerlap-kerlip pelita.
"Hari ini adalah malam pertama kita mengamankan Bandar Ujung Galuh, pasti akan ada gesekan," kata Ki Sukasrana yang paham suasana pelabuhan.
Belum habis ia bicara, terdengar jerit wanita yang berhamburan keluar dari sebuah rumah bordil. "Mari kita lihat apa yang terjadi," ajak Gajah Pagon. Namun, sebelum mereka mendekat, seorang lelaki terlempar keluar dari rumah itu, diikuti oleh seorang prajurit Singasari.
"Biarkan prajurit itu bekerja," kata Ki Sukasrana sambil menahan lengan Gajah Pagon.
"Katakan kepada pemimpinmu bahwa mulai malam ini keamanan di Bandar Ujung Galuh berada di tangan pasukan Raden Wijaya," tegas prajurit muda itu kepada lelaki yang tertatih-tatih bangun. Ternyata, keributan itu berasal dari perkelahian di antara mereka.
"Pimpinan kami tidak takut kepada siapa pun, juga tidak akan gentar meski menghadapi seratus pasukan Singasari seorang diri," ancam orang itu sebelum pergi.
"Orang itu adalah anak buah Ki Balap dari padukuhan seberang yang datang setiap malam untuk meminta uang keamanan," lapor pemilik rumah bordil kepada si prajurit.
"Besok mungkin kerja kita akan lebih berat lagi," ujar Gajah Pagon yang mendengar percakapan itu.
"Kita akan lihat apakah mereka berani menghadapi kita," sahut Ki Sukasrana sambil tersenyum.
Malam itu di Bandar Ujung Galuh sepertinya keributan kecil di rumah bordil telah terlupakan. Hanya suara ombak kecil yang terdengar membentur tiang dermaga. Sayup-sayup terdengar suara kentongan bernada dara muluk dari arah Padukuhan Galuh, tanda bahwa suasana masih aman terkendali.
"Ki Balap dan gerombolannya sudah bertahun-tahun menguasai Bandar Ujung Galuh ini, pasti mereka akan berusaha mempertahankan keadaan itu," kata Gajah Pagon kepada Ki Sukasrana saat mereka duduk di tepian dermaga.
"Besok kita akan meminta izin kepada Raden Wijaya untuk menyelidiki keberadaan dan rencana mereka," balas Ki Sukasrana.
"Ternyata menjaga Bandar Ujung Galuh ini tidak semudah meronda di benteng prajurit. Kita berhadapan dengan berbagai kepentingan yang tidak terlihat dari luar," pungkas Gajah Pagon.