Halo!

Tapak Tapak Jejak Gajahmada - Chapter 24

Memuat...
Tapak Tapak Jejak Gajahmada

Chapter 24

Setiap manusia telah dibatasi dan dikodratkan oleh Tuhan Yang Maha Esa jauh sebelum kelahirannya untuk menjadi apa di alam fana ini sebelum dipanggil kembali ke alam abadi untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Tugas kita sebagai seorang prajurit harus berani memberikan jaminan keamanan di mana pun kita berada, tentunya dengan cara yang benar dan bersih, kata Ki Sukasrana kepada Gajah Pagon.

Benar, dalam melaksanakan tugas keprajuritan di luar peperangan memang banyak sekali menghadapi berbagai macam godaan, terutama godaan memperkaya diri atau mengambil kesempatan untuk kepentingan pribadi, kata Gajah Pagon kepada Ki Sukasrana membenarkan perkataannya.

Begitulah seorang prajurit menjaga janji sumpahnya sebagai seorang ksatria untuk menjunjung tinggi kodratnya di mana pun berada, saat dalam suasana perang maupun suasana tenteram, kata Ki Sukasrana kepada Gajah Pagon.

Terlihat Gajah Pagon tersenyum sendiri.

Katakanlah jika kamu akan bicara, jangan disimpan di dalam hati, kata Ki Sukasrana kepada Gajah Pagon yang dilihatnya tersenyum sendiri, pasti ada sesuatu di dalam benaknya.

Aku teringat pada sebuah tugas pertamaku sebagai petugas sandi yang harus menyamar sebagai seorang pedagang batu aji di sebuah kademangan, kata Gajah Pagon berhenti sejenak, sepertinya tengah mengumpulkan semua kenangannya itu.

Barang daganganku laku keras hingga lima kali lipat dari modal awal yang diberikan kepadaku, kata Gajah Pagon melanjutkan ceritanya.

Dan kamu bingung apakah uang lebih itu harus kamu kembalikan, kata Ki Sukasrana yang sudah menebak alur cerita Gajah Pagon.

Terlihat Gajah Pagon mengangguk sebagai tanda membenarkan perkataan Ki Sukasrana.

Lalu kamu mengembalikan hasil keuntungan daganganmu, kata Ki Sukasrana kepada Gajah Pagon. Terlihat kembali kepalanya.

Gajah Pagon mengangguk. Semuanya, bertanya Ki Sukasrana kepada Gajah Pagon. Terlihat Gajah Pagon tersenyum malu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tidak semuanya, karena sebagian sudah kugunakan untuk biaya pulang kampung. Waktu itu aku rindu sekali untuk bertemu dengan ayahku, kata Gajah Pagon sambil tersenyum malu.

Terlihat giliran Ki Sukasrana yang tertawa sendiri.

Pasti Ki Sukasrana punya cerita lain, kata Gajah Pagon mencoba menebak apa yang dipikirkan oleh Ki Sukasrana.

Bukan cerita yang lain, tapi persis sama. Bedanya uang lebihnya habis kubelanjakan sebuah kalung emas untuk seorang gadis muda kembang desa yang sangat kucintai, kata Ki Sukasrana yang ditanggapi dengan tertawa panjang Gajah Pagon.

Artinya kita pernah berbuat salah, merasa bersalah. Semoga Tuhan Yang Maha Esa memaafkan kesalahan kita, kata Gajah Pagon setelah berhenti tertawa.

Kita memang tidak pernah luput dari kealpaan. Sedikit banyak haram tetap haram, kata Ki Sukasrana kepada Gajah Pagon.

Sejak itu aku tidak berani lagi melakukannya, kata Gajah Pagon seperti seorang yang bersalah.

Bagus, akupun sejak itu tidak lagi berbuat yang sama. Terutama memang aku dipindahkan bertugas di tempat yang berbeda di mana tidak ada kesempatan untuk berbuat itu, dengan kata lain aku ditempatkan di sebuah tempat kering, kata Ki Sukasrana yang ditanggapi dengan tawa panjang. Kali ini lebih panjang dari sebelumnya sampai-sampai Gajah Pagon mengeluarkan air mata tidak mampu menahan ketawanya itu.

Melihat itu Ki Sukasrana jadi ikut tertawa, mereka tertawa bersama.

Langit sudah mulai berwarna merah pagi, kata Ki Sukasrana kepada Gajah Pagon sambil memandang cakrawala langit yang memang sudah mulai berubah warna menjadi merah pagi.

Mari kita kembali ke barak, masih ada waktu untuk tidur meluruskan badan ini, kata Gajah Pagon sambil bangkit berdiri diikuti oleh Ki Sukasrana.

Apakah kita perlu memberitahukan kepada kawan-kawan yang lain, bertanya Ki Sukasrana kepada Gajah Pagon untuk memberitahukan kepada beberapa prajurit lain yang bertugas di bandar Ujung Galuh bahwa mereka akan pulang kembali ke barak.

Tidak perlu, mungkin mereka sudah tertidur di sebuah kedai, kata Gajah Pagon.

Dan pagi itu matahari sudah bosan berhimpit di ujung bumi, perlahan bergeser merenggang membuyarkan cahayanya yang menggantung di ujung daun dan tangkai jagung muda yang terhampar hijau berpetak-petak di sekitar tepian Sungai Kalimas.

Cahaya pagi juga telah rata menebarkan butir-butir peraknya di sepanjang aliran air Sungai Kalimas yang membentang panjang hingga di muaranya.

Cahaya pagi juga telah mengisi rumput hijau di depan barak prajurit yang lapang lewat celah-celah ranting dan daun pohon pulai dan randu alas yang banyak tumbuh di Tanah Ujung Galuh.

Raden Wijaya terlihat tengah bersiap berangkat melihat para pekerja yang tengah membangun sebuah benteng prajurit di Tanah Ujung Galuh.

Namun masih memberikan waktunya untuk mendengar beberapa laporan dari beberapa perwiranya.

Mereka akan berpikir sepuluh kali untuk berhadapan dengan para prajurit kita, kata Raden Wijaya sambil tersenyum kepada Gajah Pagon dan Ki Sukasrana yang masih sempat menyampaikan laporannya mengenai kejadian tadi malam di Bandar Cangu, mengenai sebuah kelompok jawara setempat.

Hamba juga berpikir seperti itu, kata Ki Sukasrana membenarkan pendapat Raden Wijaya.

Sementara itu Ki Bancak yang ditugaskan untuk menangani para tawanan dalam kesempatan itu juga telah menyampaikan laporannya kepada Raden Wijaya.

Dalam beberapa hari ini hamba melihat mereka sudah mulai dapat diajak bekerja sama, meski ada beberapa orang yang nampaknya masih belum menerima kenyataan diri, kata Ki Bancak menyampaikan laporannya kepada Raden Wijaya.

Tanah di sini cukup subur, pada saatnya kita dapat memanfaatkan tenaganya membantu sebagai peladang, kata Raden Wijaya memberikan tanggapannya atas laporan Ki Bancak mengenai para tawanan.

Setelah merasa tidak ada yang dibicarakan lagi, Raden Wijaya berpamit untuk melihat perkembangan pembangunan benteng prajuritnya.

Arah benteng prajurit itu berada di sebelah utara barak.

Terlihat Raden Wijaya berjalan seorang diri menyusuri jalan rumput yang sudah terlihat terjejak karena hampir setiap hari para prajurit melewati dan menginjak rumput itu menuju tanah tempat berdirinya benteng prajurit.

Ketika berjalan pikiran Raden Wijaya jauh melambung ke belakang menengok kembali suasana Kotaraja Singasari ketika masih berjaya sebagai sebuah kenangan yang begitu indah. Kotaraja dipenuhi banyak pedati dan kereta kencana para bangsawan yang hilir mudik melewati jalan-jalan Kotaraja yang selalu ramai sepanjang siang dan malam hari.

Lamunan Raden Wijaya akhirnya terpuruk pada suasana terakhir ketika meninggalkan Kotaraja Singasari yang sepi dihiasi bongkah-bongkah tiang dan kerangka rumah kayu gosong hitam terbakar di kiri kanan jalan.

Dapatkah aku membangun kembali Singasari sebagaimana wujudnya semula, berbicara Raden Wijaya kepada dirinya sendiri yang saat itu seperti terlempar dalam bayang-bayang keterasingan terkucil dalam kesendirian.

Namun perasaan kesendirian itu akhirnya kabur sebagaimana mega-mega di atas langit pagi itu yang terlempar hanyut dihembus angin ke arah utara ketika bayangan satu per satu sahabat setianya muncul dalam benaknya.

Semua gambaran di benak Raden Wijaya memang telah lenyap bersih manakala dihadapannya sebuah bangunan yang belum utuh berdiri telah terlihat tidak jauh lagi dari langkahnya.

Dan semakin dekat maka semakin terdengar suara riuh deru gergaji, suara kayu yang tengah ditancapkan masuk ke dalam bumi, dan suara para pekerja yang terdiri dari para prajurit Singasari dan penduduk asli Tanah Ujung Galuh yang ikut membantu.

Degup jantung Raden Wijaya seperti kembali bergetar, semangatnya telah menjadi semakin bertambah manakala langkahnya sudah semakin dekat dengan bangunan dan suara riuh para pekerja.

Mata Raden Wijaya menatap penuh hati suka cita melihat hari itu hampir seluruh bangunan pagar kayu sudah berdiri di tempatnya, bahkan sudah ada beberapa pekerja yang tengah merangkai panggungan menyatukannya dengan pagar kayu itu.

Di benak mata Raden Wijaya sepertinya sudah melihat panggungan itu sudah berdiri sempurna sepanjang dinding pagar kayu yang tinggi, beberapa prajurit berjalan mengitari jalan di atas panggungan itu.

Bayangan tentang bentuk panggungan yang sudah sempurna di dalam benak Raden Wijaya akhirnya buyar seketika manakala seorang perwira datang mendekatinya.

Ternyata bukan hanya Ki Bekel yang akan meminjamkan kepada kita bahan kayunya, beberapa penduduk ada juga yang menyerahkan bahan kayu yang sudah setahun lebih di perendaman, siap dipergunakan, kata perwira prajurit itu kepada Raden Wijaya.

Sebuah sumbangan yang tak ternilai, kata Raden Wijaya penuh kegembiraan.

Hari ini rencananya kita akan membuat tiang pancang untuk bangunan utama, kata perwira itu sambil menunjuk beberapa orang yang tengah membuat beberapa lubang tempat tiang pancang berdiri di atas lubang-lubang itu.

Raden Wijaya sebagai seorang yang telah membuatkan rancangan gambar kasar bangunan benteng prajurit itu langsung melihat dan memastikan sejauh mana para pekerja dapat menumpahkan gambar rancangannya ke dalam sebuah bangunan yang sebenarnya.

Nampaknya Raden Wijaya terlihat sangat puas sekali ketika memastikan bahwa pelaksanaannya sesuai dengan yang direncanakan.

Dengan jumlah pekerja yang berlimpah, dua pekan lagi bangunan benteng ini pasti telah berdiri, kata Raden Wijaya dalam hati penuh keyakinan.

Namun, pandangan Raden Wijaya tiba-tiba tertarik kepada sebuah langkah seorang lelaki muda yang terlihat setengah berlari masuk dari sebuah celah masuk dinding pagar kayu yang rencananya akan dibuatkan sebuah pintu gerbang.

Raden Wijaya masih melihat lelaki itu terus melangkah setengah berlari mendekati seorang yang tengah memasang tiang-tiang kayu untuk panggungan.

Ada apa Satpram, kata lelaki yang tengah bekerja itu kepada lelaki muda yang datang mendekatinya.

Gawat Ki Jagaraga, kata lelaki muda itu sambil mengatur nafasnya yang masih memburu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment