Halo!

Tapak Tapak Jejak Gajahmada - Chapter 25

Memuat...
Tapak Tapak Jejak Gajahmada

Chapter 25

Mendengar ucapan lelaki muda itu, orang yang dipanggil Ki Jagaraga itu langsung menyandarkan tiang kayu yang dipegangnya.

"Katakan ada apa," kata Ki Jagaraga sambil melihat lelaki muda itu yang sudah tidak lagi terengah-engah.

"Andika tengah bertengkar dengan Lontara," kata lelaki muda itu.

"Lontara, putra Ki Balap itu?" tanya Ki Jagaraga, yang dijawab dengan anggukan kepala lelaki muda itu.

"Mari kita ke sana," kata Ki Jagaraga sambil berjalan melangkah, diikuti lelaki muda di belakangnya.

"Aku ikut kalian," kata Raden Wijaya yang secara kebetulan mendengar semua percakapan mereka.

Mendengar perkataan itu, Ki Jagaraga berhenti sebentar, menghadapkan dirinya penuh hormat kepada Raden Wijaya.

"Maaf, Tuan Senapati, ini hanya pertengkaran kecil anak muda. Hamba tidak keberatan bila Tuan Senapati ingin ikut bersama kami," kata Ki Jagaraga sambil melepas senyum yang sedikit dipaksakan.

Maka terlihat mereka bertiga beriringan melangkah keluar dari area itu, diikuti beberapa pasang mata penuh keheranan dari orang-orang yang melihat kepergian mereka.

Dalam perjalanan, Ki Jagaraga bercerita singkat tentang apa yang telah terjadi sebelumnya.

"Andika adalah putraku yang belum lama ini telah mempersunting seorang gadis dari padukuhan seberang, tepatnya Padukuhan Randu," kata Ki Jagaraga memulai ceritanya.

"Ternyata, Lontara, pemuda dari Padukuhan Randu, masih menyimpan rasa sakit hati atas perkawinan mereka," kata Ki Jagaraga lagi sambil mempercepat langkah kakinya.

"Kami baru saja memulai menyiangi rumput di ladang jagung, tiba-tiba Lontara sudah datang mengusik kemarahan Andika," kata lelaki muda itu ikut bercerita sambil ikut mempercepat langkah kakinya, berjalan agak di muka untuk menunjukkan di mana mereka terakhir bertemu.

"Sudah banyak orang," kata Ki Jagaraga dengan wajah cemas melihat ke arah keramaian orang di sebuah jalan Padukuhan Ujung Galuh.

Terlihat mereka sudah mendekati pusat keramaian itu.

Ki Jagaraga segera menyibak kerumunan orang.

Bukan main kagetnya, bahwa di tengah kerumunan itu terlihat sebuah perkelahian antara putranya, Andika, dengan seorang pemuda lain yang dikenalnya bernama Lontara.

Ki Jagaraga menarik napas lega melihat putranya, Andika, tampaknya sudah berada di atas angin.

Sebagai seorang yang mengerti kanuragan, di mana Ki Jagaraga adalah seorang ayah sekaligus guru kanuragan putranya, ia dapat melihat Andika tampaknya sudah menguasai pertempuran.

Terlihat lawannya, seorang pemuda dari Padukuhan Randu, sudah semakin terdesak.

Buk!!!

Ki Jagaraga melihat pukulan Andika berhasil menghantam dada Lontara yang langsung terlempar ke belakang dan jatuh.

"Bangkitlah bila kamu masih sanggup berdiri," kata Andika mendekati Lontara yang masih berbaring kesakitan sambil memegangi dadanya yang masih terasa sesak.

"Cukup! Aku mengaku kalah, aku tidak akan mengganggu kalian lagi," kata Lontara yang sepertinya telah mengakui kekalahannya dengan pasrah.

"Anak bodoh!!" tiba-tiba seseorang mendekati Lontara. Ia tidak lain adalah Ki Balap, yang terlihat berwajah keras dengan badan yang begitu kekar, dan dari sela pakaian luriknya terlihat banyak bulu di dadanya.

"Ayah, ini adalah pertandingan kami, dan kami telah memenuhi perjanjian kami," kata Lontara yang sudah dapat bangkit duduk, meminta ayahnya tidak mencampuri urusan mereka.

"Kamu memang sudah kalah karena kemalasanmu berlatih, sekarang akulah yang akan menghajar anak ini agar semua orang tahu garis perguruan kita tidak mudah dikalahkan," kata Ki Balap sambil memerintahkan orangnya membantu memapah Lontara menyingkir dari arena.

Mendengar perkataan Ki Balap kepada putranya itu, Andika menjadi tegang. Menghadapi Lontara saja ia harus mengerahkan seluruh kemampuannya, apalagi dengan Ki Balap yang ia tahu mempunyai tataran yang lebih mapan dibandingkan putranya.

"Jadi kamu yang bernama Andika, jangan merasa besar kepala telah mengalahkan putraku," kata Ki Balap sambil memandang Andika dengan bola matanya yang seperti ingin menelannya bulat-bulat.

Bertambah teganglah hati Andika memandang tatapan mata Ki Balap yang tajam penuh kemarahan.

Tak ada cara lain untuk menghindari bertempur dengan orang tua itu yang diketahui memiliki kemampuan lebih dibandingkan Lontara.

Namun, sebagai seorang pemuda yang banyak ditempa untuk bersikap ksatria oleh ayahnya, ia telah berusaha menguatkan semangatnya.

"Aku akan berusaha sekuat kemampuanku, kalah atau menang, aku sudah berusaha," kata Andika mencoba menguasai perasaan hatinya.

Namun ketegangan Andika tidak juga melentur meski sudah berusaha untuk menguasai dirinya.

Hingga akhirnya seorang lelaki berdiri di sampingnya, dan terlihat ketegangan di wajah Andika sedikit mengendur.

"Ayah...," kata Andika lirih sambil menolehkan wajahnya kepada lelaki yang berdiri di sampingnya, yang tidak lain adalah Ki Jagaraga.

"Ki Balap, ini adalah urusan anak muda. Kulihat mereka telah menyelesaikan urusannya sendiri," kata Ki Jagaraga dengan suara yang penuh ketenangan hati, mencoba mengetengahkan persoalan kepada Ki Balap agar tidak memperpanjangnya.

"Aku menangkap dari ucapanmu bahwa urusan anak muda ini telah selesai, dan sekarang menjadi urusan kita berdua?" kata Ki Balap dengan wajah kerasnya yang semakin menyeramkan.

"Aku berkata yang sebenarnya, Ki Balap, ini hanya urusan dua orang anak muda," kata Ki Jagaraga masih mencoba untuk tidak ikut terpancing menyelesaikan urusan itu dengan kekerasan.

Namun, perasaan Ki Jagaraga seperti sebuah belanga yang diaduk-aduk, kaget bercampur kecemasan manakala melihat Ki Balap memberi tanda dengan tangannya.

Ternyata tanda dari Ki Balap adalah sebuah isyarat untuk orang-orangnya agar datang mendekat.

Bukan main cemasnya Ki Jagaraga melihat sekitar tiga puluh orang telah berdiri di belakang Ki Balap.

"Ki Balap telah membesarkan sebuah urusan kecil. Apakah Ki Balap tidak menjadi khawatir bila warga Padukuhan Ujung Galuh bersikap sama dengan berdiri di belakang kami?" kata Ki Jagaraga kepada Ki Balap.

Namun, perkataan Ki Jagaraga dijawab dengan derai tawa yang panjang.

"Yang kutahu bahwa tidak ada seorang pun di Padukuhan ini yang bisa memegang senjata dengan baik selain kamu dan anakmu," kata Ki Balap sambil tertawa tergelak-gelak.

Ki Jagaraga mencoba melihat berkeliling. Dilihatnya beberapa tetangganya yang ada di tempat itu semakin mundur menjauh, bahkan ada beberapa orang yang diam-diam telah menghilang pergi, takut terbawa-bawa, apalagi melihat banyaknya orang di belakang Ki Balap.

"Aku memberi kesempatan kepadamu, Ki Jagaraga, panggillah wargamu untuk membantumu," kata Ki Balap sambil tertawa tergelak-gelak melihat tidak satu pun warga Padukuhan Ujung Galuh yang maju mendekati Ki Jagaraga.

Namun, ternyata Ki Jagaraga memiliki sikap yang berbeda. Dirinya merasa senang bahwa tidak ada satu pun warganya yang datang membantu.

Dengan begitu, tidak akan ada korban sia-sia di pihaknya.

"Ini adalah urusan pribadi keluarga kami, tidak ada sangkut pautnya dengan warga Padukuhan Ujung Galuh," kata Ki Jagaraga dengan nada suara yang begitu tenang, sepertinya ia merasa tidak gentar menghadapi Ki Balap dan orang-orangnya.

Namun, sikap Ki Jagaraga ditangkap lain oleh Ki Balap, yang merasa bahwa Ki Jagaraga belum mengenalnya, belum mengetahui sepak terjangnya selama ini.

"Orang seperti kamu memang harus diberi pelajaran, agar mengenal siapa aku sebenarnya," kata Ki Balap dengan wajah penuh kemarahan.

"Aku sudah mengenal siapa Ki Balap sebenarnya, seorang mantan perompak yang telah tergusur, seorang mantan perompak yang tidak memiliki lahan karena di mana-mana ada prajurit Singasari yang siap mengamankan setiap jengkal tanah dan daratan Bumi Singasari," kata Ki Jagaraga dengan suara yang keras membuat wajah Ki Balap semakin terbakar merah. Namun, ia tetap berusaha mengendalikan dirinya.

"Bagus, ternyata kamu sudah tahu siapa aku. Dan tentunya warga Padukuhan ini juga telah tahu siapa aku dan orang-orangku. Itulah sebabnya tidak ada satu pun yang datang membantumu," kata Ki Balap disertai suara tawanya yang tergelak-gelak.

"Aku datang di belakang Ki Jagaraga," tiba-tiba seorang lelaki seusia Ki Jagaraga berkata. Ia terlihat keluar dari kerumunan orang banyak, langsung melangkah berdiri di samping Ki Jagaraga.

Pada saat itu, sebenarnya Raden Wijaya yang telah menyaksikan keributan itu dari awal sudah akan melangkah ke depan untuk membantu Ki Jagaraga.

Namun, langkahnya diurungkan ketika ia melihat seorang lelaki yang sangat dikenalnya mendahuluinya, yang tidak lain adalah Ki Sandikala.

Ki Jagaraga yang melihat ada orang berdiri di sampingnya menjadi merasa khawatir.

"Aku belum mengenal siapa Kisanak, namun kuingatkan, bahwa urusan ini sangat berbahaya, menyingkirlah," kata Ki Jagaraga dengan suara lirih dan perlahan.

Namun, Ki Sandikala menjawab ucapan Ki Jagaraga dengan suara yang lantang, sepertinya berharap Ki Balap dan orang-orangnya mendengar.

"Aku memang baru beberapa hari tinggal di Tanah Ujung Galuh ini. Tapi aku merasa berkewajiban bahwa apa pun yang terjadi di atas tanah ini akan menjadi urusanku pula. Meskipun tanganku tidak pernah belajar bagaimana memegang senjata yang benar, tapi aku sudah sejak kecil dapat mengerti bagaimana menggunakan cangkulku," kata Ki Sandikala sambil mengangkat tinggi-tinggi cangkulnya yang telah dipersiapkan sejak kemunculannya.

Ki Balap dan orang-orangnya terlihat tersenyum memandang Ki Sandikala.

Mereka berpikir, apa yang dapat dilakukan petani dengan cangkulnya itu.

"Apakah kamu membawa badikmu?" berbisik Ki Jagaraga kepada Andika sambil melepaskan sebuah badik yang terselip di pinggangnya.

Sebuah pisau pendek agak melengkung, namun terlihat begitu berkilat, menandakan ketajamannya.

"Aku selalu membawanya, Ayah," kata Andika lirih, ikut mengeluarkan badiknya juga.

Melihat lawannya telah mengeluarkan senjatanya, terdengar Ki Balap berteriak keras.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment