Chapter 32
Kedua anak muda itu ternyata putra Ki Sandikala. Menak Koncar yang terlihat berkulit agak kehitaman itu adalah putra pertamanya. Adiknya yang lebih muda mempunyai kulit lebih terang, sangat mirip wajahnya dengan Ki Sandikala, bernama Menak Jinggo.
"Paman kalian telah bercerita tentang kedatangan Ki Narada bersama prajurit Kediri di padepokan ini," kata Ki Sandikala.
"Mereka tidak menemukan yang mereka cari, pusaka leluhur kita Keris Nagasasra," kata Menak Koncar dengan wajah penuh amarah terpendam.
"Aku telah menyimpannya dengan baik. Syukurlah mereka tidak melakukan kekerasan di padepokan ini," sambung Ki Sandikala.
"Bila saja Paman Putut Prastawa tidak menghalangi, sudah kutantang mereka satu persatu," kata Menak Jinggo dengan perasaan penuh kecewa.
"Eh, di mana pamanmu itu, Putut Prastawa?" tanya Ki Sandikala kepada kedua putranya mengenai seorang putut yang sangat dipercaya. Namun, kedua putranya itu tidak langsung menjawab; mereka tampak saling berpandangan satu dengan yang lainnya.
"Paman Putut Prastawa tidak pernah terlihat lagi sehari setelah kedatangan Ki Narada," jawab Menak Koncar.
Bukan main kagetnya Ki Sandikala. Pikirannya langsung tertuju kepada Keris Nagasasra. Hanya dirinya dan Putut Prastawa yang tahu di mana keberadaan keris tersebut. Namun, di hadapan kedua putranya, Ki Sandikala tidak memperlihatkan keterkejutannya.
"Mungkin mendadak ada keperluan yang berkaitan dengan keluarganya," kata Ki Sandikala dengan suara datar, berusaha bersikap seolah tidak merasakan ketegangan.
Akhirnya Ki Sandikala melupakan sejenak masalah Keris Nagasasranya ketika dari arah pringgitan datang seorang gadis muda berlari kecil ke arahnya.
"Kukira Ki Lamang di belakang berbohong bahwa Paman Nambi telah datang," kata gadis muda itu sambil bersimpuh penuh hormat di hadapan Ki Sandikala yang dipanggilnya paman tersebut.
Gadis muda ini memang keponakan Ki Sandikala dari pihak istrinya. Ia tinggal di padepokan sejak bayi karena kedua orang tuanya meninggal bersamaan akibat musibah penyakit aneh yang melanda daerah mereka. Sejak saat itu, ia diasuh oleh keluarga Ki Sandikala. Kini, bayi itu sudah tumbuh dewasa. Wajah dan segala perangainya sangat mirip dengan mendiang istri Ki Sandikala. Itulah sebabnya Ki Sandikala sangat menyayangi gadis muda itu. Endang Trinil, begitulah nama gadis manis yang rupawan tersebut.
"Duhai putriku yang jelita, rindu pamanmu ini dengan senyummu," kata Ki Sandikala menggoda Trinil. Terlihat Trinil tersenyum manja dan langsung duduk bersama di pendapa.
Baru saja Ki Sandikala ingin menggoda Trinil lagi, dua orang cantrik yang kebetulan melihat pembicaraan di atas pendapa datang mendekat. Bukan main gembira hati mereka ketika melihat Ki Sandikala telah kembali. "Kami tidak tahu Tuan Guru sudah datang," kata salah seorang cantrik menyambut kedatangannya.
"Pamanku baru datang, sebaiknya para cantrik dikabari setelah pamanku cukup beristirahat," kata Endang Trinil kepada dua orang cantrik itu yang dijawab dengan anggukan kepala.
"Benar apa yang dikatakan Endang, aku memang belum bersih-bersih," kata Ki Sandikala sambil berdiri dan melangkahkan kakinya masuk ke pringgitan.
"Aku akan menyiapkan pakaian bersih untuk Paman," kata Endang Trinil mengiringi langkah Ki Sandikala.
Malam itu langit begitu bersih memayungi Padepokan Teratai Putih. Terlihat para cantrik berbondong-bondong datang satu per satu mengucapkan selamat datang kepada guru tercinta yang sudah lama meninggalkan padepokan.
"Besok aku akan bercerita lebih panjang lagi di sanggar," kata Ki Sandikala kepada para cantriknya. Mereka akhirnya mengerti bahwa lantai pendapa itu bisa saja jebol jika mereka semua berhimpit di sana secara bersamaan. Akhirnya, satu per satu para cantrik merasa cukup hanya dengan menyapa kedatangan Ki Sandikala.
Di pendapa itu akhirnya tinggal beberapa orang tua. Dalam pertemuan itu, mereka sempat membicarakan Putut Prastawa yang tidak diketahui kabarnya. Namun, Ki Sandikala sepertinya berusaha mencari topik pembicaraan lain untuk meredakan ketegangan hatinya.
"Seperti yang kita ketahui bersama, keluarga Istana Singasari telah pecah menjadi dua kubu. Pasti ada beberapa orang yang mencari keuntungan di atas keadaan yang mulai meruncing ini, di antaranya adalah pamanku sendiri, Ki Narada," kata Ki Sandikala berbincang mengenai keadaan yang terjadi di Jawadwipa.
"Inilah saatnya kita berbakti kepada tanah kita sendiri, membela keluarga Istana Singasari pewaris tanah leluhur ini. Dan aku telah berjanji kepada putra keluarga Istana Singasari yang bernama Raden Wijaya untuk membawa para cantrik padepokan ini berdiri di belakangnya," lanjut Ki Sandikala.
"Kami percaya dan mendukung sepenuh hati apa pun keputusan Tuan Guru," kata salah seorang cantrik penuh semangat.
Angin malam yang dingin berhembus menggoyangkan pelita di atas pendapa padepokan. "Tuan Guru baru saja tiba, kami harus tahu diri," kata salah seorang cantrik mewakili rekan-rekannya sambil berdiri untuk berpamitan.
"Besok aku akan melihat sampai di mana kemajuan kalian selama aku tidak ada di padepokan ini," kata Ki Sandikala melepas para cantriknya yang tengah menuruni anak tangga.
Setelah para cantrik pergi, pendapa itu terasa lengang. Hanya ada kedua putranya dan Ki Lamang yang menemani. "Malam ini aku akan beristirahat di pondokku," kata Ki Sandikala meminta Ki Lamang untuk membersihkan dan merapikan pondokan yang sudah lama ditinggalkan itu.
Menak Koncar dan Menak Jinggo saling berpandangan, merasa asing karena ayah mereka yang baru tiba justru memilih bermalam di pondok sendiri, bukan di kamar bangunan utama. Namun, mereka mencoba menepis keganjilan itu; mungkin ayah mereka ingin menenangkan diri dengan menyepi di pondok seperti yang biasa dilakukan.
Tidak lama kemudian, Ki Lamang datang kembali mengabarkan bahwa pondok sudah dirapikan. "Aku akan ke pondokku," kata Ki Sandikala kepada Menak Koncar dan Menak Jinggo sambil berdiri. Ki Sandikala menuruni anak tangga pendapa diantar oleh Ki Lamang menuju pondoknya. Ki Lamang hanya mengantar sampai ke depan pintu, lalu berpamitan untuk beristirahat.
Ki Sandikala masuk ke dalam pondok. Ia melihat tidak ada yang berubah di dalamnya. Namun, pikirannya melayang membayangkan bahwa Paman Narada pasti sudah memeriksa tempat itu pula. Ki Sandikala segera merebahkan diri di atas balai-balai bambu. Matanya terpejam, namun pendengarannya yang tajam tetap terjaga. Ia tengah menanti saat yang tepat untuk memastikan bahwa semua penghuni padepokan telah tertidur.
Malam itu langit dipenuhi bintang, meski rembulan sepotong terhalang awan. Halaman padepokan sudah sangat lengang ketika sesosok bayangan melesat keluar dari gerbang. Sosok itu bergerak cepat di antara bayangan semak dan pepohonan, menuju sebuah candi yang tidak jauh dari Padepokan Teratai Putih, hanya terhalang sebuah bukit kecil.
Semilir angin berembus mengusir awan yang menghalangi wajah bulan. Sosok bayangan yang kini berdiri di depan candi itu tampak jelas, ia adalah Ki Sandikala. Ketika mendengar kabar hilangnya Putut Prastawa, perasaan Ki Sandikala langsung tertuju pada Keris Nagasasra. Ia menghubungkan hilangnya Putut Prastawa dengan keberadaan keris tersebut. Namun, ia menyembunyikan kegelisahan itu di hadapan putra-putra dan para cantriknya. Itulah sebabnya ia meminta bermalam di pondok agar bisa keluar secara leluasa.
Mengapa Ki Sandikala begitu gelisah? Ternyata beberapa tahun silam, Ki Sandikala ditemani Putut Prastawa telah menyembunyikan Keris Nagasasra agar pusaka itu tidak jatuh ke tangan yang salah. Sengaja disembunyikan di luar padepokan untuk mengecoh pengejar. Perhitungannya terbukti benar ketika Ki Narada tidak menemukan apa pun di dalam padepokan.
Ki Sandikala dengan penuh hormat merangkapkan kedua tangannya di depan pintu gapura candi. Itu adalah pura suci tempat disemayamkannya abu leluhurnya, Dewi Kili Suci. Perlahan ia melangkah masuk, menuruni anak tangga candi dalam kegelapan, hingga berdiri di depan sebuah lingga yang di belakangnya terpahat patung Ganesha.
Mata Ki Sandikala yang terlatih dapat melihat dengan jelas meski di dalam bilik candi yang gelap. Tiba-tiba, dengan sekali ayunan tubuh, ia melenting hinggap di atas pundak patung Ganesha tersebut. Ternyata bagian kepala patung Ganesha itu tidak menyatu dengan badannya. Dengan mudah Ki Sandikala menggeser batu besar berbentuk kepala gajah itu.
Ia segera merogohkan tangannya ke dalam cekungan rongga leher patung tersebut. Seketika Ki Sandikala terperanjat; benda yang dicarinya telah lenyap!
"Keris Nagasasra sudah tidak ada di tempatnya," batin Ki Sandikala sambil menarik napas panjang, berusaha menenangkan guncangan di hatinya. "Aku mengenal Putut Prastawa sejak kecil, mungkinkah dia telah mengkhianatiku?"