Halo!

Tapak Tapak Jejak Gajahmada - Chapter 34

Memuat...
Tapak Tapak Jejak Gajahmada

Chapter 34

"Janji itu sudah berakhir bersama kematian ayahmu," kata Ki Narada tanpa merasa malu sedikit pun.

"Apakah Paman bermaksud memperbaharui perjanjian itu?" tanya Ki Sandikala dengan tenang.

Meskipun disampaikan dengan bahasa yang wajar, perkataan itu didengar Ki Narada sebagai sebuah tantangan terbuka. Ki Narada memandang Ki Sandikala dari ujung kaki hingga kepala. Ki Narada seperti melihat kakaknya hidup kembali dalam tubuh Ki Sandikala. Sorot matanya bening seperti telaga yang sangat dalam. Tiga puluh tahun yang lalu, Ki Sandikala sudah menjadi seorang pemuda yang tangguh.

Melihat ketenangannya, Ki Narada memiliki kepastian bahwa Ki Sandikala pasti mewarisi semua ilmu ayahnya, bahkan mungkin sudah mengembangkannya jauh di atas ayahnya. Itulah sebabnya Ki Narada tidak langsung mengambil keputusan. Apalagi di sebelahnya ada seorang putut yang sudah lama berguru di Padepokan Teratai Putih. Ki Narada sempat melihat bagaimana Putut Prastawa menunjukkan ilmu meringankan tubuhnya yang nyaris sempurna ketika turun dari pohon Pujo.

"Jangan khawatirkan bahwa kami berdua akan turun bersama," kata Ki Sandikala, seolah dapat membaca keraguan Ki Narada.

Ki Narada tersenyum getir mendengar perkataan Ki Sandikala. "Aku tidak akan mundur meski kalian turun berdua. Karena aku datang bersama lima puluh orang prajurit pilihan dari Kediri," kata Ki Narada sambil bersuit panjang. Suara siulan panjang itu ternyata adalah tanda memanggil para prajurit Kediri yang selama itu bersembunyi di berbagai tempat. Dan kelima puluh orang prajurit Kediri telah berdiri di belakang Ki Narada.

"Menyerahlah Nambi, serahkan segera keris itu. Kamu boleh telah mewarisi seluruh ilmu perguruan kita, aku tidak tahu apakah kamu sudah mampu melebihi kemampuan ayahmu. Namun setidaknya aku masih dapat bermain lama bertempur bersamamu. Sementara pututmu itu meski dapat terbang, tapi tenaganya akan habis melayani lima puluh orang prajurit," kata Ki Narada sambil tertawa merendahkan. Tawa yang sangat menyakitkan hati.

Namun Ki Sandikala, yang telah banyak mengetahui kelicikan pamannya, malah tertawa datar. "Bagaimana bila aku bertukar lawan, Paman menghadapi Putut Prastawa?" kata Ki Sandikala.

"Aku akan cepat merobohkannya, setelah itu akan kubantai kamu seorang diri bersama lima puluh orang prajurit," kata Ki Narada sambil bertolak pinggang, seolah sengaja menekan Ki Sandikala dengan kata-katanya.

Ki Sandikala menarik napas panjang. Sampai saat ini, ia belum tahu sejauh mana perkembangan ilmu pamannya. Namun, ia tetap menenangkan perasaannya, tidak terganggu sedikit pun oleh sikap pamannya yang sengaja ingin mengaduk-aduk perasaannya dan memberikan tekanan dengan kata-katanya. Ki Sandikala tidak punya rasa takut sedikit pun. Yang dikhawatirkan adalah kemungkinan banyaknya orang yang terluka, juga kemungkinan dirinya berbenturan dengan orang yang sedarah, pamannya.

Kekhawatiran Ki Sandikala semakin menjadi-jadi ketika dua orang pemuda berlari mendekatinya. "Tiga ratus orang cantrik siap di belakang ayah," kata salah seorang dari pemuda itu, yang sengaja mengeraskan suaranya agar terdengar oleh Ki Narada. Ternyata pemuda yang berkata itu adalah Menak Koncar, datang bersama adiknya, Menak Jinggo.

Ketika mendengar Ki Sandikala akan bermalam di pondokannya, kedua kakak beradik itu sudah merasa curiga pasti ada sesuatu yang disembunyikan oleh ayah mereka. Maka, mereka berdua telah berjaga bersembunyi di sekitar pondokan. Ternyata kecurigaan mereka terbukti saat melihat Ki Sandikala keluar di tengah malam. Dan mereka berdua berhasil mengikuti Ki Sandikala. Dari persembunyian mereka, mereka dapat melihat dan mengamati apa yang dilakukan oleh Ki Sandikala. Mereka juga melihat kehadiran Ki Narada di sekitar tanah itu bersama para prajurit Kediri. Itulah sebabnya Menak Koncar memerintahkan adiknya, Menak Jinggo, untuk kembali ke padepokan guna membangunkan para cantrik menghadapi segala kemungkinan yang bisa terjadi.

Kehadiran dua orang pemuda kakak beradik bersama tiga ratus para cantrik Padepokan Teratai Putih memang telah membuat cemas hati Ki Narada. Ki Narada, yang seumur hidupnya selalu berjalan dengan perhitungan untung dan ruginya, pada saat itu memang tengah berpikir keras.

"Jangan menyesal bila pada suatu saat aku akan datang kembali menghancurkan Padepokanmu dan merebut keris Nagasasra dari tanganmu," kata Ki Narada sambil memberi isyarat kepada prajuritnya untuk mundur.

"Paman tidak perlu datang, karena akulah yang akan mengunjungi Paman di Kotaraja Kediri," kata Ki Sandikala sambil tersenyum pada saat terakhir kali bertatap muka dengan Ki Narada, yang sudah langsung berbalik badan pergi bersama prajuritnya menghilang di kegelapan malam.

"Terima kasih, kalian telah menggagalkan kekerasan terjadi di tanah ini," kata Ki Sandikala kepada kedua putranya. "Juga telah membebastugaskan Pamanmu, Putut Prastawa, untuk tidak berkeliaran lagi sepanjang hari di tanah sekitar candi ini," kata Ki Sandikala kembali, dengan senyum khasnya yang tidak pernah lepas dari bibirnya, memandang ke arah Putut Prastawa.

Terlihatlah sebuah rombongan besar beriring di penghujung malam itu menuju Padepokan. Hari itu mereka merasa bersyukur tidak terjadi apa pun. Hanya mengorbankan rasa kantuk yang sepertinya telah kembali mengusik mata mereka.

"Apakah ayah masih akan beristirahat di pondokan?" tanya Menak Koncar dengan sedikit menggoda kepada ayahnya. Ki Sandikala tersenyum mendengar perkataan yang menggoda dari putranya itu. "Sebentar lagi malam akan berakhir, ada beberapa hal yang akan ayah bicarakan bersama Pamanmu, Putut Prastawa, di pendapa," kata Ki Sandikala sambil mengajak Putut Prastawa naik ke panggung pendapa.

Demikianlah, malam memang akan segera berakhir. Hampir semua para cantrik telah kembali masuk ke bilik masing-masing untuk melanjutkan rasa kantuknya yang masih tersisa. Sementara itu, Ki Sandikala masih bersama Putut Prastawa di atas pendapa, seperti dua orang sahabat yang sudah lama tidak berjumpa. Seperti sapuan ombak, atau seperti air pancuran di musim penghujan. Warna pagi sudah menjadi terang tanah.

Para cantrik sudah berkumpul di sanggar terbuka. Mereka tengah mendengarkan beberapa wejangan dari Ki Sandikala, guru mereka yang sudah begitu lama meninggalkan mereka. Ki Sandikala berusaha membuka hati dan pikiran para cantriknya dengan menyampaikan suasana pecahnya keluarga istana Singasari.

"Empu Bharada telah meramalkan bahwa suatu waktu Daha dan Jenggala akan bersatu kembali, akan menjadi Nagari yang lebih luas dari Kerajaan Kahuripan sendiri lewat tangan keturunannya. Akulah darah keturunan Empu Bharada. Di tubuhku juga mengalir darah Erlangga lewat putri tercintanya, Sanggrama Wijaya Tunggadewi," kata Ki Sandikala, berhenti sebentar sambil menyapu pandangannya kepada wajah-wajah para cantriknya.

Ucapan Ki Sandikala memang sempat membingungkan para cantriknya. Di kepala mereka telah timbul dugaan bahwa Ki Sandikala sendiri yang akan tampil merebut kekuasaan. "Jangan salah artikan perkataanku. Memang aku akan berada dalam kancah memersatukan kerajaan yang telah terpecah ini, tapi tidak mengatasnamakan diriku sebagai darah Erlangga, melainkan aku sebagai darah Empu Bharada yang akan berjuang memersatukan kembali Daha dan Jenggala sebagaimana Empu Bharada berjuang di sisi murid tunggalnya, raja Erlangga, merebut kembali Kerajaan Kahuripan," kata Ki Sandikala kembali, seolah dapat membaca arah pikiran para cantriknya dan mencoba meluruskannya.

Terlihat Ki Sandikala tersenyum menatap wajah beberapa cantriknya yang sudah mulai mengerti arah pembicaraannya. "Apakah kalian akan berada di belakangku ikut berjuang memersatukan kembali tanah yang terpecah ini?" tanya Ki Sandikala, yang langsung disambut suara gegap gempita para cantriknya. "Kami siap. Kami akan berada di belakang Tuan Guru!!" kata mereka saling tumpang tindih, hampir dari semua cantrik yang ada, sehingga suasana di sanggar terbuka itu menjadi begitu riuh.

Setelah suasana mulai mereda, Ki Sandikala melanjutkan perkataannya, "Pada saat ini, dari berbagai persekutuan Padepokan Teratai Putih yang tersebar di Jawadwipa dan Balidwipa akan mengirimkan seratus orangnya langsung menuju Tanah Ujung Galuh. Hari ini aku juga akan memilih seratus orang di antara kalian," kata Ki Sandikala, yang kembali disambut suara riuh para cantriknya yang berharap mereka salah satu dari seratus orang itu.

Demikianlah, pada hari itu juga Ki Sandikala, dibantu oleh Putut Prastawa, telah memilih para cantrik terbaik di antara mereka. Pada saat yang sama, Ki Sandikala juga telah menghibur beberapa cantrik yang merasa kecewa tidak terpilih ikut bersamanya ke Tanah Ujung Galuh. "Jangan berkecil hati. Dimanapun kita berada, tugas dan pengabdian kita sama. Tetaplah kalian berlatih dan menjaga padepokan ini. Pada suatu waktu mungkin aku akan memerlukan diri kalian," kata Ki Sandikala kepada beberapa cantrik yang tidak terpilih.

Di antara para cantrik yang kecewa, ada tiga orang yang kekecewaannya sangat jelas terlihat dari raut wajah mereka yang masam. Namun Ki Sandikala pura-pura tidak mengetahuinya. Endang Trinil, Menak Koncar, dan Menak Jinggo adalah ketiga orang yang merasa kecewa tidak dipilih oleh Ki Sandikala. Wajah masam itu masih tampak ketika malam telah datang dalam kebersamaan mereka di atas pendapa padepokan.

"Apakah kamu tidak merasakan ada tiga orang berwajah masam sepanjang hari?" kata Ki Sandikala, penuh senyum, kepada Putut Prastawa yang ikut hadir di atas pendapa malam itu, di antara Menak Jinggo, Menak Koncar, dan Endang Trinil.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment