Halo!

Tapak Tapak Jejak Gajahmada - Chapter 35

Memuat...
Tapak Tapak Jejak Gajahmada

Chapter 35

Putut Prastawa yang tahu ke mana arah pembicaraan Ki Sandikala ikut memanaskan suasana dengan perkataannya, "Hamba telah berbuat jujur, tidak pilih kasih. Seratus orang cantrik yang terpilih adalah para cantrik terbaik di padepokan ini."

"Bagaimana bila ketiga orang itu mengajak kamu beradu tanding, apakah kamu bersedia?" tanya Ki Sandikala tanpa melihat ke arah Menak Koncar, Menak Jinggo, dan Endang Trinil yang masih bertanya-tanya ke mana arah pembicaraan Ki Sandikala.

"Siapa takut dikeroyok tiga orang sekaligus," sahut Putut Prastawa yang tahu maksud dari Ki Sandikala.

Terlihat Ki Sandikala mengarahkan wajahnya ke arah Menak Koncar, Menak Jinggo, dan Endang Trinil yang juga tengah memandangnya.

"Kalian dengar sendiri, pamanmu bersedia dikeroyok oleh kalian bertiga. Inilah kesempatan kalian untuk melampiaskan kekecewaan karena tidak terpilih ikut ke Tanah Ujung Galuh," kata Ki Sandikala kepada anak dan kemenakannya itu.

"Sudah lama tangan ini gatal-gatal ingin menghajar tiga anak manja di padepokan ini," kata Putut Prastawa penuh senyum sambil berdiri dan langsung turun ke halaman.

"Aku juga tidak sabar untuk menghajar pamanku yang pernah menghilang sekian lama," sahut Menak Koncar mewakili saudaranya sembari bangkit berdiri mengikuti langkah pamannya ke halaman padepokan.

Menak Jinggo dan Endang Trinil diikuti Ki Sandikala beriringan turun ke halaman padepokan, tempat Putut Prastawa sudah tegak berdiri seperti seorang jawara menunggu lawan-lawannya. Tanpa perintah apa pun, Menak Koncar, Menak Jinggo, dan Endang Trinil sudah menempatkan diri mengepung Putut Prastawa.

"Anak manis, lihat seranganku," kata Putut Prastawa yang memilih Endang Trinil sebagai sasaran pertama serangan awalnya. Luar biasa cepat serangan Putut Prastawa yang mengarah ke tubuh Endang Trinil seolah tidak main-main. Putut Prastawa memang menyerang dengan tataran ilmu tingkat tingginya.

Ternyata Putut Prastawa tahu betul siapa Endang Trinil yang dipilihnya untuk menerima serangan awal itu. Serangan yang dahsyat dan sangat cepat itu hanya menemui tempat kosong; Endang Trinil sudah melenting menghindar dan langsung balas menyerang. Tanpa menunggu waktu, Menak Koncar dan Menak Jinggo sudah langsung bersama-sama menerjang ke arah Putut Prastawa.

Menghadapi tiga serangan bersamaan tidak membuat Putut Prastawa surut. Dengan lincah ia melompat menghindar dan balas menyerang secara bersamaan dengan kaki dan tangannya ke arah tiga anak muda itu. Demikianlah, pertempuran itu terus berlangsung semakin lama semakin seru. Mereka masing-masing seperti mengetahui ke mana arah serangan dan bagaimana seharusnya menghindar.

Putut Prastawa tidak pernah surut berkelit seperti seekor belut yang melejit meloloskan diri dari serangan tiga anak muda yang terlihat penuh penasaran karena belum juga dapat mengalahkannya. Ki Sandikala yang menonton pertempuran itu tersenyum bangga. Ketiga anak muda itu ternyata sudah jauh berkembang kemampuannya dibandingkan beberapa waktu lalu, meski serangan-serangan mereka masih saja dapat dipatahkan oleh Putut Prastawa yang sudah mempunyai pengalaman lebih banyak.

"Aku akan puas bila kamu dapat menghajar salah satu di antaranya, karena mereka hanya tiga ekor serigala yang datang dari pulau berbeda," kata Ki Sandikala kepada Putut Prastawa.

"Hanya tiga ekor anak serigala," sahut Putut Prastawa sambil menyerang ke arah wajah Endang Trinil.

Ternyata Menak Koncar sangat tanggap akan arti sindiran ayahnya itu, sebagai sebuah isyarat bahwa serangan mereka dilakukan secara terpisah. "Tunjukkan bahwa kita bukan tiga anak serigala, tapi raja serigala penguasa hutan malam!" seru Menak Koncar kepada Menak Jinggo dan Endang Trinil.

Mendengar perkataan Menak Koncar, terlihat Endang Trinil dan Menak Jinggo melenting bersamaan dan berdiri berjajar bersama Menak Koncar. Ketiga anak muda ini seolah tahu apa yang harus dilakukan bersama. Mereka menyerang seperti ombak yang silih berganti tidak pernah berhenti. Tenaga mereka seperti terjaga karena hanya memikirkan sebuah serangan dan menanti serangan selanjutnya.

Ki Sandikala tersenyum melihat tingkah putra dan putri kesayangannya itu. Mereka seakan menjadi satu tubuh dan begitu mengenal kemampuan masing-masing. Ki Sandikala juga masih tersenyum melihat Putut Prastawa yang semakin kewalahan dan tidak dapat membalas serangan sama sekali. Ia hanya terus-menerus menghindar hingga tenaganya semakin susut dan keringat terlihat bercucuran dari tubuhnya.

Dalam sebuah kesempatan yang sangat sempit, Endang Trinil berhasil melibatnya dan langsung menyerang dengan tendangan menggunting yang menyentak kaki Putut Prastawa. Di belakang Endang Trinil, serangan Menak Jinggo sudah menanti. Maka tidak ada jalan lain bagi Putut Prastawa selain mengikuti arah condong dirinya dan langsung berguling di tanah.

"Wow!" puji Ki Sandikala atas kekompakan serangan dua putra dan kemenakannya itu.

"Ternyata keponakanku yang manis ini benar-benar jeli matanya," kata Putut Prastawa yang sudah kembali berdiri.

"Ternyata kalian telah mengenal jiwa di dalam jurus perguruan kita sebagai intisari serangan ular naga. Lima atau enam orang yang bersatu memainkan jurus ini akan menjadi semakin dahsyat," kata Ki Sandikala sambil maju ke tengah untuk menyempurnakan beberapa gerakan yang seharusnya dilakukan. "Dalam satu hari ini kalian bertiga pasti sudah dapat mematangkannya dan menularkannya kepada semua cantrik di Tanah Ujung Galuh," lanjut Ki Sandikala penuh senyum.

"Di Tanah Ujung Galuh?" tanya Menak Koncar, masih meraba-raba maksud perkataan ayahnya.

"Maksudku sudah jelas. Aku tidak memilih kalian di antara seratus cantrik padepokan ini karena aku akan membawa kalian untuk ikut membantu membimbing para cantrik di sana," jelas Ki Sandikala.

Wajah ketiga anak muda itu langsung berubah penuh ceria. "Paman memang suka sekali membuat kejutan-kejutan," kata Endang Trinil dengan wajah manjanya.

"Bukan aku bila tidak membuat kejutan," balas Ki Sandikala sembari menatap gembira kedua putra dan keponakannya. "Dan aku memang tidak mau jauh-jauh dari kalian," tambahnya sambil mengajak mereka naik ke atas panggung pendapa.

Di atas pendapa, Ki Sandikala kembali memberikan pandangan untuk memperkaya pengenalan mereka bertiga tentang jurus perguruan mereka. "Besok pagi aku rasa pamanmu pasti sudah lebih segar menghadapi kalian bertiga," kata Ki Sandikala yang ditanggapi penuh senyum oleh ketiga anak muda itu sambil mengarahkan pandangan ke arah Putut Prastawa.

"Aku berutang tendangan, aku berharap besok sudah dapat melunasinya," kata Putut Prastawa sambil memandang ke arah Endang Trinil yang membalasnya dengan senyum penuh kemanjaan. Begitu manis.

"Kapan kita berangkat ke Tanah Ujung Galuh?" tanya Menak Jinggo yang sepertinya sudah tidak sabar membayangkan perjalanan yang menyenangkan.

"Dua atau tiga hari lagi," jawab Ki Sandikala. "Kita berjalan dalam kelompok-kelompok kecil agar tidak menimbulkan kecurigaan pihak lawan."

"Sepanjang perjalanan aku akan menikmati masakan keponakanku yang manis ini," kata Putut Prastawa menggoda Endang Trinil.

"Sepanjang perjalanan tidak ada pemuda yang berani menggodanya karena ia dikelilingi empat ekor serigala," timpal Ki Sandikala ikut menggoda. "Dua serigala tua, dua lagi serigala muda."

"Dan aku putri bulannya yang diasuh oleh keluarga serigala," sahut Endang Trinil dengan senyum manjanya, tampak begitu menyegarkan siapa pun yang melihatnya.

Sang putri malam telah bersembunyi di balik pohon suren besar di sebelah barat padepokan di saat Menak Koncar, Menak Jinggo, dan Endang Trinil telah hanyut dibawa mimpi jauh hingga ke Tanah Ujung Galuh. Sementara itu, Tanah Ujung Galuh seolah tidak pernah tertidur. Perahu-perahu besar dari berbagai nagari datang dan pergi membongkar barang dagangannya. Para buruh sibuk memanggul barang seolah tidak kenal letih, diiringi suara genit para wanita penghibur malam yang begitu menggoda, membuat mata lelaki tidak pernah jemu mengisi hari sepanjang malam di Bandar Ujung Galuh itu.

Hingga akhirnya sang fajar menyingsing di atas Tanah Ujung Galuh. Sudah dua hari ini di Tanah Ujung Galuh berdatangan secara bergelombang para prajurit dari Kotaraja Singasari yang sengaja ditarik untuk bergabung. Kedatangan mereka bertepatan dengan selesainya pembangunan benteng besar yang berdiri di atas Tanah Ujung Galuh. Di tempat itulah para prajurit memenuhi barak-barak yang tersedia. Delapan ribu prajurit telah memenuhi Tanah Ujung Galuh.

Sudah dua hari itu pula berdatangan secara bergelombang orang-orang yang dikirim oleh Adipati Arya Wiraraja sesuai janjinya. Untuk sementara mereka ditempatkan di barak lama yang masih sangat sederhana. Begitu riuh rendah suasana di Tanah Ujung Galuh.

"Kupercayakan dua ribu orang dari Pulau Madura kepadamu, wahai saudaraku Ranggalawe," kata Raden Wijaya kepada Ranggalawe di pendapa agung benteng baru mereka pagi itu.

"Hari ini aku akan membawa mereka, mengubah padang ilalang menjadi hamparan sawah ladang yang hijau," sahut Ranggalawe penuh semangat.

"Kita berbagi tugas. Aku akan mengerahkan para prajurit untuk menebang beberapa batang pohon di hutan Maja untuk bahan kayu tempat tinggal baru para penghuni tanah perdikan," kata Raden Wijaya.

Demikianlah, hari itu adalah hari pertama mereka membuka hutan Maja sebagai tanah perdikan baru. Mereka bekerja dengan penuh semangat karena di dalam hati mereka telah dipenuhi sebuah keyakinan baru. Di atas tanah yang mereka bangun, terdapat harapan baru bagi mereka sendiri dan masa depan mereka.

"Ki Sandikala begitu rinci membuat gambar pakem hunian baru," kata Gajah Pagon kepada Ki Sukasrana yang ikut bersama Raden Wijaya memilih daerah mana saja di hutan itu yang perlu diambil batang kayunya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment