Halo!

Tapak Tapak Jejak Gajahmada - Chapter 36

Memuat...
Tapak Tapak Jejak Gajahmada

Chapter 36

Gambar yang dibuat oleh Ki Sandikala di atas lembaran lontar itu memang begitu terinci, memudahkan mereka memilih di mana seharusnya jalan sebuah Padukuhan, di mana seharusnya berdiri lima sampai enam hunian sebagai kelompok babakan desa. Dari babakan desa yang tersebar itulah terbentuknya sebuah Padukuhan yang tertata begitu rapi.

Awan di langit selalu berubah setiap saat dan waktu. Begitulah, awan langit di atas Hutan Maja terus berubah sepanjang waktu setiap saatnya. Seperti Raja Samaratungga menunggu batu demi batu tersusun menjadi sebuah candi yang megah, candi Borobudur. Seperti itulah Raden Wijaya menunggu pengentasan tanah perdikannya di atas Hutan Maja.

Dua ratus empat puluh satu hari itu telah mulai terlihat petak-petak sawah seperti tercetak rapi, dialiri sungai dan parit kecil, dan pada hari yang lain sudah tumbuh beberapa hunian di antara jalan desa dan jalan padukuhan yang tertata rapi di antara rindangnya Hutan Maja. Sayangnya, semua itu hanya ada dalam lintasan bayang-bayang lamunan Raden Wijaya. Pada kenyataannya, semua itu perlu waktu dan kerja.

"Hari ini sudah datang secara bergelombang para cantrik dari Padepokan Teratai Putih," berkata Raden Wijaya kepada Gajah Pagon dan Ki Sukasrana ketika mereka menjelang sore hendak kembali ke benteng prajurit setelah sehari penuh berada di padukuhan hutan Maja. "Ki Sandikala sendiri pasti saat ini masih dalam perjalanan, mungkin beliau lewat jalur darat sambil melihat-lihat perkembangan beberapa tempat," berkata Gajah Pagon menyambung perkataan Raden Wijaya.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Gajah Pagon, Ki Sandikala memang masih dalam perjalanan menuju Tanah Ujung Galuh lewat jalur darat. Tidak seperti para cantriknya yang telah berangkat mendahului lewat jalur laut, Ki Sandikala telah memutuskan untuk berangkat menuju Tanah Ujung Galuh melewati jalur darat. Hal ini dilakukan guna melihat lebih dekat perkembangan setiap daerah setelah pecahnya kekuatan Singasari.

Di samping juga untuk memberi tambahan wawasan kepada dua orang putranya, Menak Koncar dan Menak Jinggo, yang sejak kecil tidak pernah pergi jauh dari Padepokannya. Perjalanan mereka menjadi penuh warna karena bersama mereka ada seorang gadis manis yang mulai tumbuh dewasa, Endang Trinil.

Sore itu mereka telah memasuki sebuah padukuhan yang berbatasan dengan hutan Ranu Regolo, sebuah hutan hitam lebat yang sangat luas berada di sebuah lembah di antara Gunung Bromo dan Gunung Semeru. Jarang sekali orang yang berani melewati hutan itu bila tidak ada kepentingan yang sangat mendesak. Ada sebagian orang mengatakan bahwa di Hutan Ranu Regolo sangat angker karena tempat hunian para lelembut.

Hutan Ranu Regolo juga ditakuti karena dipenuhi begitu banyak binatang buas, srigala, dan kawanan anjing hutan di malam hari. Dan di siang harinya banyak sekali harimau yang berkeliaran mencari mangsa. Namun, di antara keangkeran serta binatang buas di hutan Ranu Regolo, ada satu lagi yang membuat setiap orang mengurungkan niatnya melewati hutan itu dan memilih mencari jalan lain meski harus memutar lebih jauh.

Semua orang pasti membenarkan bila dikatakan bahwa hutan Ranu Regolo juga sebagai sebuah sarang penyamun. Tapi, apapun bahayanya, Ki Sandikala bersama keluarga kecilnya akan melewati hutan itu. Suasana di jalan padukuhan itu masih terang, tanah bulat matahari kuning masih bergantung di barat lengkung langit.

"Ada sebuah rumah singgah di ujung Padukuhan ini, kita bisa bermalam di sana," berkata Ki Sandikala yang sepertinya sudah mengenal padukuhan itu. Namun, langkah kaki mereka seperti tertahan ketika di belakang mereka terdengar suara langkah kaki kuda berlari melewati mereka dan meninggalkan debu yang mengepul.

Mereka melihat sepintas dua orang penunggang kuda telah melewati mereka dan semakin menjauh meninggalkan mereka. Hampir semua mempunyai kesan yang sama terhadap kedua penunggang kuda itu, mereka melihat kedua penunggang itu pastinya dua orang asing yang terlihat dengan pakaian yang dikenakan. Juga, dua buah pedang panjang yang melintang di punggung kedua orang itu sangat bagus berkilat warna perak yang tidak lajim dimiliki oleh orang pribumi.

"Sebuah sarung pedang yang indah, pasti pedang di dalamnya tidak kalah indahnya," berkata Menak Jinggo sambil masih memandang kedua orang berkuda yang sudah semakin jauh dari pandangan mereka. "Pakaian mereka pasti dari bahan yang halus, bahan pilihan," berkata Endang Trinil sambil memegang bahan pakaian yang dikenakannya, yang hanya dari sebuah bahan kasar yang bisa dikatakan sudah tidak baru lagi.

"Jangan-jangan mereka dua orang pangeran yang sedang mencari sang putri bulan," berkata Menak Koncar yang disambut tawa. Meski hari masih terang, namun suasana jalan Padukuhan itu sudah begitu sepi. Hanya terkadang mereka mendapati satu dua orang tengah membelah kayu di pelataran rumahnya. Sementara di sebelah kanan mereka terlihat petak-petak sawah yang masih kering.

Saat itu memang tengah memasuki musim pancaroba di padukuhan yang mereka singgahi. "Di saat musim pancaroba ini, biasanya para lelaki pergi bekerja sebagai penderap di daerah lain yang tengah panen padi. Mungkin itulah sebabnya padukuhan ini menjadi begitu sepi," berkata Putut Prastawa. "Kadang mereka pergi sekeluarga bersama sebagai penderap," berkata Ki Sandikala ikut menyambung perkataan Putut Prastawa.

Tidak terasa, sambil berbincang, rumah singgah yang mereka tuju sudah semakin dekat. Rumah singgah adalah sebuah rumah yang sengaja dibangun untuk orang-orang yang sengaja akan melintasi hutan Ranu Regola. Dulu, banyak pedagang yang menggunakan rumah singgah ini untuk bermalam sambil menunggu beberapa orang agar mereka dapat melintasi hutan Ranu Regola bersama.

Tapi, saat ini sedikit sekali, bahkan tidak lagi ditemui para pedagang yang datang singgah, mungkin karena hutan Ranu Regola sudah tidak aman lagi bagi mereka. Matahari sudah semakin redup ketika mereka berlima sampai di rumah singgah itu. "Bukankah mereka dua orang penunggang kuda pemilik pedang indah itu?" berkata Endang Trinil.

Perkataan Endang Trinil mengingatkan mereka kembali kepada dua orang penunggang kuda dengan pedang indahnya yang telah mendahului mereka di jalan padukuhan. Seorang lelaki tua pemilik rumah singgah itu telah datang menyambut mereka berlima, membawa mereka ke sebuah bale bambu yang lain bersebelahan dengan dua orang berkuda yang nampaknya juga akan melintasi hutan Ranu Regola.

"Kami juga menyediakan penganan untuk persediaan selama di perjalanan," berkata lelaki tua itu ketika membawa makanan dan minuman hangat kepada Ki Sandikala dan rombongannya. "Terima kasih, Ki, siapkan penganan untuk kami berlima," berkata Ki Sandikala kepada orang tua itu.

"Dulu, tempat ini sangat ramai disinggahi para pedagang yang akan melintas ke Hutan Ranu Regola, para prajurit Singasari saat itu masih sering berkeliling melakukan penjagaan," berkata orang tua itu. "Semoga perjalanan kalian tidak mendapatkan gangguan," berkata kembali orang tua itu, sepertinya penuh rasa khawatir.

"Apakah keadaan hutan Ranu Regola saat ini tidak aman lagi?" bertanya Ki Sandikala penuh selidik. "Saat ini, jarang sekali ada yang berani melintas di hutan itu, kabarnya ada sekelompok penyamun yang menjadikan hutan itu sebagai hunian mereka," berkata orang tua itu, seperti ragu dan agak takut, seperti berharap tamunya itu berpikir ulang untuk melintasi hutan Ranu Regola.

Tapi, apa yang diucapkan oleh Ki Sandikala membuat hatinya cukup lega. "Mudah-mudahan para penyamun itu tidak mengganggu kami, karena kami tidak membawa apapun yang dianggap cukup berharga," berkata Ki Sandikala. Ketika hari sudah mulai beralih menjadi malam, pemilik rumah singgah itu menawarkan Endang Trinil beristirahat di dalam rumah.

"Ada bilik kosong di rumah ini hanya khusus untuk seorang wanita," berkata orang tua itu menawarkan. "Terima kasih, Ki, anak gadisku ini memang tidak boleh begadang sampai jauh malam," berkata Ki Sandikala bercanda, meski dia sendiri mengetahui Endang Trinil bukan lagi gadis biasa yang manja, tapi sudah banyak ditempa, punya ketahanan yang bahkan melampaui lelaki biasa.

Sambil mencibirkan bibirnya yang tipis, Endang Trinil terlihat mengikuti orang tua itu masuk ke dalam rumah. Sementara itu, dua orang asing yang duduk berseberangan di bale bambu yang lain masih belum juga bertegur sapa, sepertinya tidak memperdulikan kehadiran Ki Sandikala dan rombongannya.

Mungkin mereka beranggapan Ki Sandikala dan rombongannya sebagai seorang pribumi biasa, atau memang mereka merasa tidak perlu berbagi apapun, layaknya orang asing yang ingin bertanya begitu banyak hal yang ingin diketahui. Atau, mereka mungkin begitu banyak menyimpan rahasia? Ketika malam sudah semakin larut, dua buah bale bambu yang hanya berjarak dua langkah kaki itu masih juga seperti dua buah pulau yang terpisah.

Salah seorang dari lelaki asing itu terlihat sudah tertidur pulas, sementara temannya masih tetap duduk bersila, seperti tengah melatih pernapasan. Diam-diam, Menak Koncar yang mendapat giliran berjaga di malam itu sempat melirik orang asing yang tengah duduk bersila itu.

Menak Koncar dapat mengukur usia orang itu masih sekitar empat puluhan. Sebuah cambang yang lebat membuat orang itu terlihat sangat tampan, wajah seorang lelaki sejati. Menak Koncar juga sempat melihat wajah orang asing yang sudah tertidur pulas, kulitnya lebih pucat lagi dari pada temannya.

Diam-diam, Menak Koncar juga dapat membedakan kedua orang itu bahwa kelopak mata orang yang masih duduk itu meruncing sipit, sebuah ciri jenis kelopak mata yang baru kali ini dilihatnya. Ada memang sedikit keinginan Menak Koncar untuk pindah ke bale bambu di sebelahnya hanya untuk sekedar menyapa, bertanya ini itu, tapi keinginan itu ditundanya melihat orang yang tengah duduk bersila itu nampaknya memang sedang menikmati kesendiriannya.

Akhirnya, Menak Koncar telah mengalihkan pandangan matanya ke arah hutan Ranu Regola di hadapannya yang terlihat seperti raksasa hitam pekat berdiri menyeramkan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment