Halo!

Tapak Tapak Jejak Gajahmada - Chapter 37

Memuat...
Tapak Tapak Jejak Gajahmada

Chapter 37

Sayup-sayup Menak Koncar mendengar lengking anjing liar jauh dari pedalaman hutan Ranu Regola.

Dalam bayangan Menak Koncar, terpikir seekor anak kijang tengah terjebak dalam kepungan anjing-anjing liar. Tidak jauh dari mereka, pasti menunggu serigala lapar yang siap mencuri hasil buruan anjing-anjing liar itu.

Namun, lamunan Menak Koncar buyar manakala di sebelahnya Menak Jinggo bangun dari tidurnya.

"Saatnya Kakang beristirahat," kata Menak Jinggo kepada Menak Koncar.

"Entahlah, mata ini masih belum mengantuk," sahut Menak Koncar kepada adiknya.

Angin dingin malam itu memang cukup membuat sekujur badan menggigil, namun mereka heran melihat orang asing yang masih bersila itu seolah tidak merasakan apa pun. Begitu kagetnya kedua kakak beradik itu manakala orang asing itu menoleh kepada mereka berdua.

Menak Koncar dan Menak Jinggo semakin jelas melihat wajahnya. Wajah itu sangat tampan, hanya matanya yang sipit yang mereka lihat sebagai sebuah keanehan. Namun, secara keseluruhan orang itu memang sangat tampan, apalagi dengan cambangnya yang terlihat tebal, menambah kegagahan pemilik wajah itu.

Hal yang tidak mereka duga sama sekali adalah ternyata pemilik wajah itu dapat tersenyum. Benar, orang asing itu memang telah menyapa mereka berdua dengan sebuah senyuman. Sebagai tanggapan, keduanya membalas pula senyuman itu.

"Apakah kalian juga akan melintasi hutan di depan kita itu?" tanya orang asing itu dengan penuh keramahan, seolah mencairkan keterasingan dan kebekuan suasana di antara mereka.

"Benar, besok kami akan melintasi hutan Ranu Regola itu," jawab Menak Koncar.

"Apakah kalian sudah sering melintasi hutan itu?" tanya orang asing itu lagi.

Mendapat pertanyaan itu, Menak Koncar dan Menak Jinggo saling berpandangan.

"Kami berdua belum pernah melintasi hutan itu," kata Menak Koncar sambil tersenyum tersipu.

Orang asing itu hanya tersenyum mendengar perkataan Menak Koncar. Perlahan, orang itu menggeser badannya dan melayangkan pandangan ke arah hutan Ranu Regola, seolah sedang menembus kegelapan hutan pekat dengan mata dan bayang-bayang pikirannya.

Melihat orang asing itu kembali dalam kesendiriannya, Menak Koncar dan Menak Jinggo mengikuti apa yang dilakukan oleh orang tersebut; masuk ke kegelapan hutan dengan mata khayalnya, berjalan terantuk akar dan semak yang rapat.

Khayal dan lamunan Menak Koncar, Menak Jinggo, serta orang asing itu terputus oleh suara ayam jantan yang terdengar halus dari kejauhan. Sang malam telah berada di ujung pagi, siap pergi ke belahan bumi yang lain.

Menak Koncar sempat melihat kawan orang asing itu sudah terbangun. Menak Koncar melihat bahwa perbedaan di antara keduanya terletak pada kelopak mata mereka. Kawan orang asing itu memang lebih sipit dengan kulit lebih putih seperti lobak. Menak Koncar juga sempat memperhatikan keduanya secara bergantian pergi ke pakiwan untuk bersih-bersih.

Matahari di ufuk timur pagi itu bersinar begitu cerah, membuat wajah semua orang di rumah singgah menjadi begitu ceria. Mereka tengah menikmati pemandangan di pinggir hutan Ranu Regola bersama semangkuk minuman hangat yang menyegarkan.

"Mari Anak Muda, kami berangkat lebih dulu," kata orang asing itu menyapa Menak Koncar sambil melangkah mengikuti kawannya yang telah lebih dulu berjalan ke arah kuda-kuda mereka diikat.

Diiringi pandangan mata Menak Koncar dan keluarganya, kedua orang asing itu berjalan menuntun kudanya ke arah hutan Ranu Regola. Mereka akhirnya menghilang ditelan kegelapan hutan yang dipagari batang kayu tua yang besar dan menjulang tinggi ke langit.

Hari sudah mulai terang tanah ketika Menak Koncar dan keluarganya melakukan persiapan untuk melanjutkan perjalanan. Mereka berpamitan kepada pemilik rumah singgah itu.

"Semoga keselamatan selalu mengiringi perjalanan kalian," kata orang tua pemilik rumah singgah itu melepas kepergian Menak Koncar dan keluarganya.

Terlihat mereka beriringan menyusuri jalan setapak di tengah tanaman semak dan perdu yang membatasi jarak menuju hutan Ranu Regola di bawah cahaya matahari pagi yang cerah. Akhirnya, satu per satu memasuki hutan Ranu Regola menyusuri sebuah jalan setapak, mungkin jejak para pemburu yang sering keluar masuk hutan itu.

Sementara itu, cahaya matahari seperti pedang panjang yang menembus celah dahan, ranting, dan daun, menerangi pandangan di antara keteduhan hutan yang lebat. Bau tanah humus dan daun segar memenuhi perjalanan mereka, beriringan dengan embusan angin sejuk.

Endang Trinil nampaknya menikmati perjalanan itu. Sepanjang jalan matanya tidak jemu memandang pohon-pohon besar yang telah berlumut dan dipenuhi tanaman anggrek berwarna-warni. Jiwa wanitanya seakan ingin meloncat memetik salah satu bunga anggrek hutan itu, tetapi keinginan itu hanya tersimpan di dalam hati, terhalang langkah kaki Menak Koncar di belakangnya yang terus mendesak agar tidak berhenti.

"Lihatlah bunga itu, ada totol hitam di lidah bunganya," kata Endang Trinil yang tidak lagi mampu menahan bibirnya mengagumi bunga anggrek yang tengah mekar.

Menak Koncar dan Menak Jinggo terpaksa harus berhenti dan melemparkan pandangan mata ke arah tangan Endang Trinil yang tengah menunjuk ke sebuah bunga anggrek yang menempel di batang pohon besar berlumut. Putut Prastawa yang sudah berada sekitar lima langkah dari mereka ikut berhenti. Ia hanya tersenyum melihat tingkah Endang Trinil yang berhenti berjalan hanya karena keindahan sebuah bunga anggrek.

Endang Trinil bukan gadis manja yang hanya menuruti perasaannya. Ia pun berlari kecil mengejar Putut Prastawa, diikuti di belakangnya oleh Menak Koncar dan Menak Jinggo. Menak Koncar yang mengetahui keinginan hati saudaranya itu segera memetik beberapa tangkai bunga anggrek sambil berjalan.

"Terima kasih," kata Endang Trinil sambil menerima empat tangkai bunga anggrek pemberian Menak Koncar.

"Aku takut di kehidupan lain kamu akan menjadi semut hutan, hanya karena sangat ingin memiliki bunga itu," kata Menak Koncar di belakang Endang Trinil.

"Asal kamu tidak jadi burung kutilang saja, aku aman jadi semut hutan yang hidup sepanjang hari menikmati keindahan bunga ini," balas Endang Trinil menyambut canda Menak Koncar.

"Sebagai burung kutilang, aku berjanji tidak akan memakan semut hutan," kata Menak Koncar yang disambut tawa tertahan dari Endang Trinil.

"Menak Koncar di kehidupan yang lain menjadi burung kutilang, sementara pamanmu akan jadi burung manyar yang mencari sarang semut," timpal Putut Prastawa menambah canda perjalanan mereka.

Namun, canda dan langkah mereka terhenti ketika mendengar suara berisik; suara langkah kaki yang menginjak semak dan dahan kering, serta suara besi yang saling beradu. Ki Sandikala segera memberi tanda untuk berhati-hati. Mereka berjalan perlahan mendekati arah suara tersebut.

Semakin dekat dengan sumber suara, semakin terdengar jelas apa yang sebenarnya terjadi. Terdengar bukan hanya suara langkah kaki yang menginjak kayu dan dahan, tetapi juga suara orang memaki dan membentak keras dengan bahasa yang sangat kasar.

Langkah Ki Sandikala dan rombongannya terhenti ketika melihat langsung apa yang telah terjadi. Mata mereka memandang sebuah pertempuran sengit antara dua orang yang terlihat saling beradu punggung, bertahan menerima serangan sekitar dua puluh orang bersenjata golok panjang.

Akhirnya Ki Sandikala dan rombongannya mengenali siapa gerangan dua orang yang tengah dikepung itu. Di tangan mereka tergenggam dua bilah pedang perak yang sangat indah berkilat, menahan setiap tebasan golok yang datang silih berganti. Ternyata kedua orang itu adalah dua orang asing yang semalam berada di rumah singgah.

"Manusia lobak, serahkan dua pedang kalian!" teriak salah seorang pengeroyok.

"Pedang ini adalah nyawa kami!" jawab orang yang bercambang sambil menangkis sebuah golok panjang di hadapannya.

Trang!

"Ternyata kalian memilih mampus!" kata pengeroyok lainnya sambil mengarahkan golok menebas ke arah leher.

Trang!

Terdengar suara golok yang beradu. Orang asing yang bermata sipit langsung meluncurkan pedangnya dengan sangat cepat ke arah tangan pemilik golok panjang itu. Bukan main kagetnya pengeroyok itu, dirinya tidak sempat lagi menarik tangannya.

"Akh!" terdengar jeritan dari mulut orang itu ketika pedang menggores jemari yang menggenggam golok. Beruntung ia masih sadar untuk segera melompat mundur, digantikan oleh kawannya yang menyerang lebih ganas karena melihat rekannya terluka.

Sebagai seorang yang ahli, Ki Sandikala dapat mengukur hasil akhir dari pertempuran itu. Ia menilai bahwa suatu saat dua orang asing itu pasti akan kewalahan menerima serangan begitu banyak orang. Mereka akan kehabisan tenaga karena hanya berada dalam keadaan terus bertahan.

Menak Koncar, Menak Jinggo, dan Putut Prastawa menunggu keputusan dari Ki Sandikala. Mereka sangat mengkhawatirkan keadaan dua orang asing itu.

"Ayah, mereka pasti gerombolan penyamun hutan ini," kata Menak Koncar yang sudah tidak sabar untuk segera melompat membela kedua orang asing itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment