Chapter 38
"Mari kita bantu mereka," kata Ki Sandikala memberi persetujuan untuk membantu dua orang asing itu.
Terlihat Ki Sandikala tanpa senjata di tangan telah menerjang kumpulan para pengeroyok itu. Akibatnya, dua orang sudah terlempar terkena terjangan awalnya. Menak Koncar yang sudah tidak sabar langsung merobohkan seorang lawannya. Tidak ketinggalan, Putut Prastawa dan Menak Jinggo juga telah ikut terjun ke tengah pertempuran dan langsung mengurangi jumlah para pengeroyok.
Yang tidak terduga adalah Endang Trinil. Walaupun seorang wanita, ia tidak mau kalah dengan yang lainnya dan turut turun tangan. Terjangan pertamanya membuat seorang pengeroyok terlempar terkena tendangan kaki mungilnya yang ternyata tidak kalah kuat dengan tenaga laki-laki biasa, bahkan lebih kuat lagi karena dilambari tenaga cadangan meski tidak sepenuhnya dikerahkan. Siapa pun yang terkena pukulan dan tendangan gadis manis ini langsung terjengkang tidak mampu bangkit lagi.
Bukan main kagetnya para pengeroyok itu menghadapi lima orang pendatang baru tersebut. Pertempuran pun menjadi terpecah dan seimbang. Namun, pertempuran itu tidak berlangsung lama. Ki Sandikala dan anggota keluarganya dengan cepat melibas satu per satu pengeroyok hingga jumlah mereka terus menyusut. Beberapa orang pengeroyok terlihat sudah berbaring tidak mampu lagi membantu kawannya. Ki Sandikala dan anggota keluarganya ternyata bukan tandingan mereka.
Dua orang asing itu sudah tidak tertekan lagi; mereka dapat melayani lawannya satu lawan satu. Sisa tujuh orang pengeroyok memang sudah bukan lawan yang berat lagi bagi mereka. Ketujuh orang pengeroyok itu pun tahu apa yang harus mereka lakukan: lari. Mereka sepertinya sangat mengenal keadaan hutan itu sehingga dengan cepat menghilang menyusup di tengah kerapatan hutan.
"Terima kasih telah menolong kami, entah apa jadinya bila saja tidak ada kalian," kata salah seorang dari orang asing itu yang mempunyai ciri mata agak sipit sambil merangkapkan kedua tangannya penuh rasa terima kasih.
"Namaku Magucin, dan ini kawanku, Yongki. Kita pernah bermalam di tempat yang sama," kata seorang lagi yang memperkenalkan dirinya.
"Kami dari Padepokan Lamajang, orang-orang biasa menyebutku Ki Sandikala," kata Ki Sandikala sambil memperkenalkan anggota keluarganya satu per satu kepada kedua orang asing itu.
"Senang berkenalan dengan kalian," kata Yongki dengan wajah gembira dapat berkenalan dengan lima orang penolongnya itu.
"Kalau boleh tahu, hendak ke manakah tujuan kalian?" tanya Ki Sandikala.
"Kami dari tempat yang sangat jauh. Tujuan kami berdua adalah mengunjungi Kotaraja Singasari," kata Magucin mewakili kawannya.
"Ternyata kita searah perjalanan," kata Ki Sandikala.
Maka, mereka pun bersiap melanjutkan perjalanan bersama. Namun sebelum berangkat, mereka masih sempat mengumpulkan beberapa orang yang masih pingsan.
"Sebentar lagi kaki-kaki kalian dapat segera pulih, jagalah kawan-kawan kalian," kata Ki Sandikala kepada lima orang pengeroyok yang tidak pingsan, namun kakinya terasa tidak mampu berdiri karena tulang yang remuk.
Akhirnya, Ki Sandikala bersama rombongannya yang bertambah dua orang asing itu melanjutkan perjalanan. Di sepanjang perjalanan, mereka menjadi semakin akrab dan mengenal satu sama lain. Hutan Ranu Regola memang sebuah hutan yang cukup luas dan lebat. Mereka belum juga dapat menembus hutan itu setelah setengah hari perjalanan.
Tiba-tiba saja langkah kaki mereka harus berhenti manakala di hadapan mereka berdiri dua orang lelaki berwajah garang yang sepertinya kembar. Sukar sekali membedakan keduanya karena berpakaian serupa dan memegang senjata yang sama, sebuah kapak besar bertangkai kayu panjang. Di belakang mereka adalah tujuh orang yang dikenali sebagai sisa pengeroyok tadi.
"Siapakah di antara mereka pemimpin Padepokan Teratai Putih?" bisik salah seorang kembar itu kepada seseorang yang berdiri terhalang di belakang keduanya.
"Orang yang memakai daster hitam itu," kata orang yang ditanya sambil menunjuk ke arah Ki Sandikala.
Ki Sandikala dan keluarganya, juga Magucin dan Yongki, terbelalak melihat siapa orang tua yang berdiri di belakang dua lelaki garang kembar itu. Bagaimana mereka tidak terperanjat? Ternyata orang tua itu adalah pemilik rumah singgah yang kemarin malam begitu ramahnya melayani keperluan mereka. Namun, orang tua yang mereka lihat sekarang sangat berbeda; wajah dan matanya memancarkan raut muka yang sangat dingin, menantang, angkuh, dan tidak ada rasa peduli.
"Hari ini aku telah bermurah hati untuk tidak melumuri kapakku ini dengan darah. Silakan kalian meninggalkan hutan ini," kata salah seorang lelaki kembar itu. "Tapi serahkan kepada kami Keris Nagasasra."
Bukan main kagetnya Ki Sandikala mengetahui orang-orang itu tahu tentang Keris Nagasasra yang memang sengaja dibawanya. Namun, Ki Sandikala tidak memperlihatkan keterkejutannya. Bahkan dengan senyum ramah tanpa rasa takut sedikit pun, ia berdiri di hadapan dua orang kembar itu.
"Mari kita belajar berhitung. Jumlah kalian hanya sepuluh orang. Tujuh orang di belakang kalian pernah lari dari kami," kata Ki Sandikala dengan suara yang sangat tenang.
Kedua orang kembar itu sempat ragu setelah mendengar ucapan Ki Sandikala. Mereka dapat menduga bahwa ketujuh orang di hadapannya pasti bukan orang biasa yang dapat menghalau dua puluh orang anak buahnya. Namun, keraguan kedua orang kembar itu terpecahkan ketika dari kesuraman semak belukar keluar tiga orang dengan langkah penuh percaya diri.
"Jangan dikira kami anak kecil yang belum cakap berhitung. Sejak keberangkatan kalian dari Padepokan Lamajang, kami sudah mulai berhitung," kata salah seorang di antara tiga orang yang baru muncul itu. Ia ternyata sudah dikenal oleh Ki Sandikala sebagai pamannya sendiri, Ki Narada.
Dua orang bersama Ki Narada juga dikenali oleh Ki Sandikala sebagai dua orang raja penyamun yang sering mengganggu penduduk di sekitar lereng Gunung Bromo. Dua orang itu bernama Ki Regola dan adiknya, Ki Pane, dua raja penyamun yang sangat kejam dan tidak kenal rasa kasihan sedikit pun. Ki Sandikala sendiri dalam sebuah pengembaraannya pernah bertempur melawan gerombolan penyamun itu dan pernah berhadapan dengan kedua penyamun tersebut. Ternyata kali ini mereka bergabung bersama pamannya sendiri, Ki Narada.
"Dua puluh orang prajurit Kediri telah mengepung hutan ini, jadi kamu dan rombonganmu tidak mungkin lagi dapat keluar hidup-hidup," kata Ki Narada dengan suara penuh ancaman dan langsung bersuit panjang.
Suitan panjang itu adalah sebuah tanda. Tidak lama berselang, bermunculan dari balik semak-semak dan pepohonan sekitar dua puluh orang prajurit.
"Beberapa tahun yang lalu kami berdua memang dapat kamu kalahkan, tapi kami telah menempa diri untuk dapat mengalahkanmu," kata Ki Regola sambil tertawa terkekeh-kekeh penuh rasa percaya diri, merasa yakin telah melampaui ilmu Ki Sandikala yang pernah mengalahkannya.
Ki Sandikala melayangkan pandangan matanya ke arah keluarganya, juga kepada dua orang asing yang berjalan bersamanya. Ia melihat mata dari semua rombongannya tidak menampakkan kegentaran sedikit pun.
"Ternyata kalian semua memang sedang menunggu perjalanan kami. Izinkan dua orang asing ini keluar dari kepungan kalian, karena mereka berdua tidak ada sangkut pautnya dengan kalian," kata Ki Sandikala kepada Ki Narada yang dianggapnya menjadi pimpinan gerombolan di hadapannya itu.
Namun tanpa diduga-duga, Magucin melangkah berdiri di sebelah Ki Sandikala. "Kami tidak akan pergi, kami siap bertempur sebagai kawan," kata Magucin.
"Terima kasih, tapi ini adalah urusan kami," bisik Ki Sandikala kepada Magucin.
"Kalian telah menolong kami, maka sudah seharusnya kami berdiri bersama kalian," kata Magucin dengan dada tengadah penuh keberanian.
Melihat sikap Magucin, kesabaran Ki Narada seperti terbakar. "Habisi siapa pun yang ada!" teriak Ki Narada dengan suara keras.
Suara Ki Narada menggerakkan semua orang pengikutnya. Para penyamun dan prajurit Kediri langsung mengepung rombongan Ki Sandikala. Serentak mereka menerjang dan memilih lawannya masing-masing. Ki Narada langsung menerjang Ki Sandikala.
Ki Regola yang awalnya akan menerjang Ki Sandikala langsung memilih lawan tanding yang lain. Ia memilih Putut Prastawa yang dianggapnya sebagai lawan yang cukup tangguh. Ternyata penilaiannya tidak salah; Putut Prastawa dapat dengan tangkas melayani serangannya.
"Akulah lawanmu," kata Menak Koncar sambil menghadang langkah kaki Ki Pane.
Melihat ada seorang pemuda yang maju menghadangnya, Ki Pane tertawa panjang. "Pasti kamu putra Ki Sandikala. Biarlah aku mencincang dirimu sebelum mencincang ayahmu," kata Ki Pane sambil langsung menebaskan kapak besar senjata andalannya.
"Anak muda, sayang sekali umurmu akan berakhir di hutan ini," kata orang tua pemilik rumah singgah di hadapan Menak Jinggo.
"Apakah Paman sudah memberikan wasiat siapa yang akan mengurus rumah singgah itu?" balas Menak Jinggo sambil mengeluarkan senjata cakranya, ciri khas dari Perguruan Teratai Putih.
Dua orang lelaki kembar itu merasa gembira melihat Endang Trinil belum mendapatkan lawan bertempur, meski ia sudah bersiap dengan senjata cakra di tangannya.