Halo!

Tapak Tapak Jejak Gajahmada - Chapter 39

Memuat...
Tapak Tapak Jejak Gajahmada

Chapter 39

"Anak manis, sebaiknya kamu lepaskan senjata itu dan kita tinggalkan tempat ini untuk bersenang-senang," kata salah seorang dari lelaki kembar itu.

Melihat dua lelaki kembar mendekatinya dan mengatakan hal yang kurang sedap didengar, Endang Trinil langsung mencibirkan bibirnya.

"Siapa yang ingin bersenang-senang dengan dua orang jelek seperti kalian?" ujar Endang Trinil dengan sikap tegak, siap melayani kedua pengeroyoknya.

Kedua lelaki kembar itu tersenyum memandang sikap Endang Trinil yang tidak merasa takut menghadapi mereka. Padahal, mereka adalah dua pria bersenjatakan kapak dengan wajah menyeramkan, meski tidak sejelek yang dikatakan oleh Endang Trinil.

"Kami memang tidak cukup tampan, tetapi akan membuatmu selalu merindukan kami," kata salah seorang dari keduanya. Setelah dilihat dari dekat, Endang Trinil baru bisa membedakan mereka; pria yang lebih cerewet itu memiliki tanda tahi lalat di ujung hidungnya.

"Aku memang akan selalu merindukan ujung cakra ini mencium hidung kalian," sahut Endang Trinil yang langsung memutar cakranya untuk menyambar kedua lelaki kembar tersebut.

Suasana di hutan itu telah berubah menjadi pertarungan yang riuh. Keadaan semakin ramai manakala dua puluh orang prajurit Kediri dan tujuh orang pengikut penyamun menyerang dua orang asing yang belum memiliki lawan tanding.

Dua orang asing yang dikenal bernama Magucin dan Yongki itu saling beradu punggung untuk bertahan dari serangan para pengeroyoknya. Kali ini yang mereka hadapi bukan hanya penyamun yang kasar, tetapi juga para prajurit Kediri yang tahu cara berkelompok dalam menghadapi lawan. Akibatnya, kedua orang asing itu harus bekerja keras agar tetap bertahan.

Ki Sandikala yang sedang menghadapi pamannya sendiri dapat melihat satu per satu anggota keluarganya menghadapi lawan masing-masing. Ia menarik napas panjang tanpa rasa khawatir akan keselamatan keluarganya, terutama Endang Trinil yang dilihatnya sangat tangguh meski menghadapi dua orang kembar sekaligus.

Namun, mata Ki Sandikala menunjukkan keterkejutan dan kekhawatiran manakala melihat kedua orang asing tersebut kewalahan menghadapi dua puluh prajurit dan tujuh penyamun sekaligus. Tanpa disadari, ia meningkatkan tataran ilmunya beberapa tingkat, membuat serangannya menjadi begitu cepat dan dahsyat bagi Ki Narada.

"Gila! Ilmunya sudah melampaui ayahnya sendiri dua puluh tahun yang silam," batin Ki Narada sambil menghindari serangan maut yang hampir merobek kulit perutnya.

Kembali Ki Narada bersiul panjang. Ternyata siulan itu merupakan tanda untuk memanggil beberapa prajurit Kediri agar membantunya. Sepuluh orang prajurit Kediri datang mendekat dan langsung ikut mengeroyok Ki Sandikala.

Ki Sandikala agak bernapas lega melihat tekanan terhadap dua orang asing sahabatnya itu berkurang karena sebagian pengeroyok berpindah menyerang dirinya bersama Ki Narada.

"Jangan hanya sepuluh orang, datangkan lebih banyak lagi agar semakin meriah," tantang Ki Sandikala sambil tersenyum mengelak dari serangan para prajurit.

Pakk! Bukkk!

Ternyata ucapan Ki Sandikala bukan sekadar olok-olok. Dengan kecepatan yang sulit diikuti mata, tangan dan kakinya berhasil merobohkan dua orang prajurit yang lengah. Ki Narada merasa sangat gusar melihat kemampuan Ki Sandikala yang tidak menyusut, bahkan semakin tangkas melesat ke sana kemari seperti seekor burung manyar laut yang menyambar ikan.

Kepungan para prajurit serta serangannya seolah hanya menghalau daun kering yang beterbangan, tidak menyulitkan Ki Sandikala sedikit pun. Bahkan, Ki Sandikala masih menyempatkan diri untuk sekilas mengamati Endang Trinil yang tengah menghadapi dua lawan kembarnya.

Ki Sandikala tersenyum melihat bagaimana Endang Trinil menyibukkan kedua lawannya dengan putaran cakra. Meskipun para pengeroyoknya memiliki kemampuan olah kanuragan yang cukup tinggi, ternyata tidak mudah menghadapi Endang Trinil. Gadis manis yang sehari-harinya tampak begitu manja itu berubah menjadi seperti macan betina saat memainkan cakranya. Kedua lelaki kembar itu kini menjadi hewan buruan yang menunggu saat kelengahan.

Ki Sandikala juga sempat melihat bagaimana Putut Prastawa menandingi Ki Regola, salah satu raja penyamun yang dulu pernah dikalahkannya. Ki Sandikala melihat peningkatan ilmu Ki Regola dibandingkan beberapa tahun yang lalu, namun Putut Prastawa dapat melayaninya dengan baik. Ki Sandikala dapat mengukur bahwa tataran ilmu Ki Regola masih di bawah Putut Prastawa, terutama dalam hal kecepatan gerak.

Ki Sandikala juga menyadari bahwa Putut Prastawa belum mengerahkan kemampuan ilmu yang sebenarnya, yakni melepas tenaga cadangan yang dapat membekukan darah lawannya, sebuah ilmu andalan dari Perguruan Teratai Putih.

Kembali Ki Narada menjadi gusar ketika seorang prajurit Kediri terlempar terkena angin pukulan cakra Ki Sandikala. Meski cakra itu masih berjarak sekitar lima jari dari tubuhnya, hawa pukulannya begitu kuat hingga menyayat perut prajurit itu layaknya pedang tajam.

Beberapa orang prajurit Kediri mundur karena ngeri melihat kawan mereka terlempar sambil memegangi perut yang berdarah, padahal mereka tahu senjata cakra Ki Sandikala tidak menyentuh tubuhnya. Ternyata Ki Sandikala sengaja memperlihatkan sebagian kemampuannya agar lawan menjadi gentar.

"Jangan mundur, serang bersama!" teriak Ki Narada kepada para prajurit Kediri sambil menerjang Ki Sandikala dengan cakra di tangannya.

Trang!

Dua buah cakra beradu di udara. Ki Sandikala telah membenturkan senjatanya pada cakra di tangan Ki Narada. Ki Narada membelalakkan matanya; tenaga benturan Ki Sandikala ternyata telah menggetarkan telapak tangannya hingga terasa perih dan panas. Jika tidak digenggam dengan erat, senjata itu pasti sudah terlepas.

"Gila!" umpat Ki Narada sambil memandang tangannya yang perih. Perasaannya semakin gusar dan diam-diam ia menyesal telah memilih Ki Sandikala sebagai lawan.

"Apakah pertempuran ini masih dilanjutkan?" tanya Ki Sandikala kepada Ki Narada sambil tersenyum melihat para prajurit yang menyerangnya mulai merasa jerih.

"Kenapa kalian semua berhenti?" teriak Ki Narada kepada para prajurit Kediri yang terdiam bingung. Di dalam hati mereka memang sudah tertanam rasa gentar melihat ketangguhan Ki Sandikala yang sekokoh gunung batu.

"Orang itu bukan hantu, daging dan kulitnya sama seperti kita!" seru Ki Narada lagi kepada para prajurit yang keberaniannya sudah mulai menciut.

"Jangan dipaksakan bila mereka sudah tidak ada keinginan bertempur. Mari kita bertarung berdua tanpa bantuan mereka," ujar Ki Sandikala dengan senyum.

Ucapan Ki Sandikala berhasil membakar kemarahan Ki Narada. Ditambah lagi rasa malu di hadapan para prajurit Kediri, ia berusaha menghentakkan rasa gentar dan keraguannya sendiri. Ki Narada berusaha memaksakan diri, terpacu oleh rasa malu yang besar.

Namun, langkah kaki Ki Narada seolah terhambat manakala di dekatnya berdiri seorang tua renta yang memanggul sebuah kapak besar. Bentuk kapak itu sendiri tidak umum, jauh lebih besar dibandingkan kapak biasa, dan terlihat sangat kontras di atas pundak orang tua yang kurus kecil itu.

"Carilah lawan lain, biarlah orang ini menjadi kawan bermainku," kata orang tua renta itu sambil tertawa terkekeh, memperlihatkan mulutnya yang sudah tidak bergigi.

Ki Narada merasa mendapat kesempatan untuk menyelamatkan mukanya. Tanpa menunggu lama, ia segera melompat berpindah tempat menuju ke arah dua orang asing, diikuti para prajurit Kediri yang memang sudah kehilangan keberanian menghadapi Ki Sandikala.

Ki Sandikala memperhatikan orang tua renta di hadapannya. Sekilas, ia melihat seleret cahaya merah menyala yang tersorot dari kedua mata lelaki tua itu. Ki Sandikala menyadari bahwa sorot mata itu adalah pertanda bahwa lawan di hadapannya memiliki tenaga cadangan kuat yang diperoleh dengan cara keji, seperti meminum darah bayi segar sebagaimana penganut ilmu hitam memupuk kekuatan.

"Manusia keji," batin Ki Sandikala sambil menatap orang tua itu dengan penuh kebencian. Di dalam pikirannya terbayang puluhan bayi tak berdosa yang menjadi korban kebiadaban nafsu iblis tersebut.

"Selamat datang, Guru. Cincang orang itu yang telah menghina perguruan kita. Dialah orang yang bernama Nambi," teriak Ki Pane yang merasa gembira melihat gurunya datang.

"Jadi, kamu orang yang telah mengalahkan kedua muridku?" tanya orang tua renta yang dipanggil guru oleh Ki Pane itu.

Ki Sandikala tidak langsung menjawab. Pikirannya terbagi antara kekhawatiran melihat Ki Narada dan para prajurit Kediri yang mengeroyok kedua sahabatnya, sementara ia sendiri harus berhati-hati menghadapi tokoh golongan hitam yang nampaknya bukan orang sembarangan.

Ki Sandikala menggenggam senjata cakranya lebih kuat. Namun, sebagai seorang yang selalu berlindung di bawah kekuasaan Yang Maha Melindungi, ia telah memasrahkan segenap jiwa dan raganya, memusatkan segala kemampuan dengan bersandar kepada Sang Pemilik kekuatan itu sendiri.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment