Halo!

Tapak Tapak Jejak Gajahmada - Chapter 40

Memuat...
Tapak Tapak Jejak Gajahmada

Chapter 40

"Kamu belum menjawab pertanyaanku, bukan?" bertanya orang tua itu dengan suara yang membentak.

"Bukankah muridmu sudah memberitahukan siapa namaku?" balik bertanya Ki Sandikala kepada orang tua itu dengan penuh senyum. Ki Sandikala memang telah memendam kegentaran hatinya.

Dirinya telah berada di atas segala ketenangan hati dan penuh percaya diri yang tinggi.

"Wajahmu memperlihatkan kemampuan yang tinggi," berkata orang tua renta itu sambil menurunkan kampak besar dari pundaknya.

Ki Sandikala melihat kampak besar itu seolah kayu ringan di tangan orang tua itu.

Tangan kecil yang keriput itu seolah tidak terbebani benda yang sangat berat.

Ki Sandikala dapat menangkap pertanda bahwa orang tua di hadapannya itu memiliki tenaga raksasa, tenaga yang sangat kuat.

"Ayo mulailah menyerang," berkata orang tua itu.

"Umurku lebih muda, merasa malu memulai serangan," berkata Ki Sandikala masih dengan senyum terbuka.

"Baiklah, bila kamu ingin aku yang akan memulai," berkata orang tua, guru dua orang raja penyamun itu, yang langsung memutar kampak besar di tangannya begitu cepat seperti sebuah baling-baling yang ringan.

"Begitu kuatnya tenaga orang itu," berkata Ki Sandikala dalam hati, melihat kampak di tangan orang tua renta itu berputar begitu cepat seperti sebuah baling-baling.

Perlahan orang tua itu melangkahkan kakinya mendekati Ki Sandikala.

Ki Sandikala merasakan sebuah angin panas menyusup keluar dari putaran kampak orang tua itu.

Maka dengan sigap Ki Sandikala telah menghentakkan segenap kemampuan dan kekuatannya. Sebuah hawa dingin yang kuat telah menyelimuti segenap tubuhnya, meredam hawa panas yang memancar keluar dari angin putaran kampak orang tua itu.

Putaran kampak itu sudah semakin mendekati Ki Sandikala, maka tidak ada jalan lain bagi Ki Sandikala selain melenting ke sisi lain sambil menyerang orang tua itu dengan sabetan senjata cakranya tertuju ke sisi pinggang orang tua itu yang terlihat terbuka.

Trang!!!

Ternyata orang tua itu telah mengarahkan kampaknya menangkis cakra Ki Sandikala.

Dan benturan itu memang sangat luar biasa, keduanya langsung terpental beberapa langkah.

Ki Sandikala merasakan getaran pada tangannya sebagai tanda orang tua itu mempunyai tenaga sakti yang sangat tinggi.

"Pantas kedua muridku dapat kamu kalahkan," berkata orang tua itu yang juga merasakan getaran pada tangannya ketika senjata mereka saling beradu.

Di akhir kata-katanya, orang tua itu sudah langsung melompat namun tidak memutar kampaknya. Kali ini ia menyabet setengah lingkaran ke arah leher Ki Sandikala.

Ki Sandikala merasakan angin sambaran yang sangat panas menyusup bersama desing kampak besar yang diayunkan orang tua itu.

Maka tidak ada jalan lain bagi Ki Sandikala selain mengelak dan langsung berbalik menyerang.

Demikianlah pertempuran di antara mereka berdua semakin lama menjadi semakin seru dan cepat.

Hawa panas dan hawa dingin yang keluar melingkupi tubuh mereka masing-masing sepertinya saling menindih.

Ketika berhadapan dengan Ki Narada dan para prajurit Kediri, Ki Sandikala masih sempat mengamati jalannya pertempuran orang-orangnya satu per satu.

Namun, menghadapi orang tua itu membuat Ki Sandikala harus benar-benar mencurahkan segenap perhatiannya. Sedikit lengah saja akan berakibat penyesalan seumur hidup, bahkan nyawa bisa melayang.

Orang tua itu memang seperti seorang yang benar-benar sangat berbahaya. Kampak besar di tangannya seperti kepanjangan anggota tubuhnya, dapat meluncur begitu saja mencari celah-celah terbuka yang sangat berbahaya.

Bukan hanya itu, orang tua itu juga benar-benar cerdik menyerang dengan berbagai tipuan yang sangat menjerumuskan.

Itulah sebabnya, Ki Sandikala tidak dapat lagi mengamati apa yang terjadi pada keadaan dua orang asing yang telah dikeroyok prajurit Kediri dan para pengikut dua raja penyamun itu, ditambah lagi Ki Narada.

Untunglah Putut Prastawa dapat cepat membaca suasana dan tahu apa yang harus dilakukannya. Terlihat ia telah melenting jauh mendekati dua orang asing.

"Kita bertahan beradu punggung bertiga," berkata Putut Prastawa.

Kedua orang asing itu tanggap terhadap apa yang dikatakan Putut Prastawa. Mereka pun telah menjadi satu kesatuan yang utuh dan langsung dapat menyesuaikan diri masing-masing.

Melihat dirinya ditinggalkan begitu saja oleh Putut Prastawa, Ki Regola langsung mengejar, bergabung bersama para pengeroyok, mengepung tiga orang yang saling melindungi diri dan berusaha bertahan.

Tetapi, Ki Narada bukan orang yang bodoh, ia tahu cara menembus dan merusak pertahanan mereka.

Ternyata Ki Narada sudah dapat menilai siapa di antara mereka yang paling lemah. Ia melihat Magucin adalah orang yang paling lemah.

Maka Ki Narada telah memerintahkan lima orang prajurit Kediri membantunya menyerang Magucin.

Langkah dan tindakan Ki Narada ini ternyata memang langsung membuahkan hasil. Pertahanan mereka seperti tertembus dan menjadi sangat kacau.

Di sisi lain, Ki Regola telah mengunci Putut Prastawa dengan serangan yang gencar.

"Bergerak!" berteriak Putut Prastawa.

Yongki dan Magucin sepertinya langsung dapat menangkap makna perkataan Putut Prastawa.

Mereka langsung bergerak berputar memecahkan serangan dan berganti-ganti lawan.

Demikianlah mereka terus bergerak berputar, bukan hanya sekadar bertahan, bahkan kadang senjata mereka berhasil melukai beberapa prajurit dan pengikut dua raja penyamun itu.

Namun, cara mereka ternyata memiliki sedikit kelemahan: tenaga mereka menjadi cepat terkuras.

Itulah yang dipikirkan Ki Narada yang sangat cerdik dan licik itu.

Ki Narada, Ki Regola, bersama semua pengikut dan para prajurit Kediri terus menekan Putut Prastawa dan dua orang asing itu.

Sementara itu, di sisi lain, Endang Trinil, Menak Koncar, dan Menak Jinggo tidak sempat melihat keadaan Putut Prastawa dan dua orang asing yang tengah bekerja keras untuk tetap bertahan menghadapi para pengeroyoknya.

Endang Trinil, Menak Koncar, dan Menak Jinggo memang harus bekerja keras menghadapi lawan-lawan mereka yang tampaknya punya pengalaman lebih dari mereka bertiga.

Tapi berkat ketekunan dan tempaan selama di padepokan yang sangat keras, mereka telah diantarkan menjadi orang-orang muda yang telah utuh mewarisi ilmu perguruan mereka.

Pertempuran di hutan Ranu Regola itu telah membuat mereka menjadi semakin matang, dapat menyesuaikan diri, melihat langsung gerak lawan yang sangat berbeda.

Semakin lama mereka dapat mengenali unsur gerakan lawan; diam-diam, dengan kecerdasan dan olah pikir yang jernih, mereka tengah mencoba sebuah cara mengalahkan lawan mereka.

"Ulet sekali anak muda ini," berkata Ki Pane dalam hati, sangat penasaran setelah sekian ratus jurus tidak juga dapat melumpuhkan Menak Koncar yang masih dapat dikatakan sangat belia.

"Anak muda ini sangat cerdas," berkata sang pemilik penginapan dalam hati yang merasa penasaran telah banyak membuat tipu daya dalam serangannya, namun Menak Jinggo tidak mudah dikelabui, bahkan telah menyibukkan dirinya dengan serangan-serangan yang sangat berbahaya.

Di antara Menak Koncar dan Menak Jinggo, hanya Endang Trinil yang sangat tertekan.

Serangan dua orang lelaki kembar itu memang tidak begitu menyulitkannya, tetapi olok-olok kedua orang lelaki kembar itulah yang membuat telinganya menjadi panas.

Kadang dari mulut kedua orang lelaki kembar itu keluar kata-kata kotor dan nyeleneh yang berakibat Endang Trinil tidak lagi dapat mengendalikan diri.

Syukurlah bahwa sebuah kejadian yang nyaris mengancam nyawanya telah menyadarkan ia untuk berhati-hati dan tidak terbawa hanyut amarah yang membuat ia kehilangan kendali.

Semua yang tengah bertempur di hutan itu pasti telah mendengar dentuman pohon tumbang, tidak hanya sekali.

Suara itu berasal dari benturan senjata Ki Sandikala dan orang tua, guru dari dua raja penyamun itu, yang meleset dari sasarannya.

Kedua raksasa kanuragan itu memang telah bertempur dengan dahsyat, dan telah mencari jarak yang terpisah dari yang lain.

Batang semak perdu di sekeliling mereka sudah menjadi rata, hangus terbakar.

Daun-daun pohon di sekitar mereka juga langsung layu terkena angin hawa panas dan dingin silih berganti.

Suasana di sekitar mereka sudah menjadi tanah lapang yang rata, terbakar hangus dan kering.

Ki Sandikala memang harus menekan segala kekhawatirannya atas apa pun yang dialami keluarganya, juga dua orang asing yang sudah menjadi sahabatnya.

Ki Sandikala harus mencurahkan segenap pikirannya menghadapi orang tua yang memang berilmu sangat tinggi itu.

Dan Ki Sandikala memang tidak boleh memiliki dua pikiran yang bercabang.

Namun, perasaan dan pikiran Ki Sandikala sekali ini memang harus bercabang manakala sayup-sayup terdengar suara seruling yang begitu bening menyusup ke dalam gendang telinganya.

Sebagai seorang yang sudah punya banyak pengalaman hidup, dirinya dapat mengukur dan menduga bahwa peniup seruling itu pasti adalah seorang yang sakti.

Karena suara seruling itu sendiri sepertinya sengaja dilepaskan dan terdengar menghentakkan dada.

"Siapakah gerangan peniup seruling itu? Apakah dari golongan para penyamun?" bertanya-tanya Ki Sandikala dalam hati penuh kekhawatiran, bukan mengkhawatirkan keselamatannya, tetapi keselamatan semua orang yang ikut bersamanya.

Hanya berpikir sedikit tentang suara seruling telah membuat Ki Sandikala lengah, nyaris sebuah angin panas yang tajam hampir saja menebas lehernya.

Untung, Ki Sandikala dapat bergerak cepat merendahkan badannya dan langsung balas menyerang agar tidak menjadi bulan-bulanan serangan orang tua berilmu tinggi itu.

Suara seruling kembali terdengar semakin jelas.

Tetapi Ki Sandikala tidak mengulangi kesalahannya, pikirannya tidak lagi terpecah oleh suara seruling itu.

Namun suara seruling itu sudah menjadi begitu dekat.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment