Chapter 41
Ki Sandikala tidak habis berpikir ketika suara seruling itu sudah benar-benar sangat dekat. Ia tidak menduga sedikit pun melihat orang tua, guru dua raja penyamun, seperti seorang yang melihat hantu di siang bolong. Dan tiba-tiba saja, orang tua itu telah melompat menjauh dengan cepatnya, langsung menghilang di keremangan semak dan pohon kayu hutan yang lebat.
Putut Prastawa, Menak Koncar, Menak Jinggo, dan Endang Trinil juga mendapatkan keterkejutan sebagaimana Ki Sandikala. Sebab, tanpa ucapan apapun, lawan mereka, para penyamun itu, telah pergi menghilang, menyusup di kegelapan hutan Ranu Regola. Saat itu, lawan mereka yang tertinggal hanya Ki Narada dan para prajurit Kediri.
Melihat sekutunya telah pergi, Ki Narada dapat menghitung kekuatannya, meski lebih banyak dalam hal jumlah, namun tidak akan mampu menghadapi Ki Sandikala dan keluarganya. "Biarkan mereka pergi," berkata Ki Sandikala kepada Menak Koncar dan Menak Jinggo yang tengah mencoba mengejar para prajurit Kediri bersama Ki Narada pergi berlalu.
Agak kecewa juga Menak Koncar dan Menak Jinggo dengan perintah ayahnya itu, jiwa muda mereka nampaknya masih belum dapat diredam dan sangat menggebu-gebu. Tapi suara ayah mereka, Ki Sandikala, yang sangat mereka hormati, seperti air dingin yang menyiram api jiwa muda mereka.
Sementara itu, suara seruling sudah menjadi jelas terdengar. Bukan main kagetnya semua yang hadir di dalam hutan itu, tidak sama sekali menyangka ketika melihat siapa yang keluar dari kerimbunan semak-semak sambil meniup sebuah seruling dari bambu. Siapakah gerangan peniup seruling yang membuat keheranan semua orang di dalam hutan itu? Ternyata, yang keluar dari kerimbunan semak belukar itu sambil masih meniup seruling adalah seorang anak lelaki yang masih berusia sekitar enam tahun.
Tapi Ki Sandikala, yang mempunyai ketajaman pendengaran, dapat membedakan suara seruling yang dimainkan oleh anak kecil itu sangat berbeda dengan suara yang pertama kali didengarnya. Terlihat anak itu telah menurunkan seruling dari bibirnya sambil memandang penuh senyum kepada semua orang yang tengah menatapnya.
"Suara serulingmu begitu merdu, bolehkah mbakyumu ini mengenal namamu?" berkata Endang Trinil sebagai seorang wanita satu-satunya, merasa tersentuh melihat seorang anak lelaki kecil muncul ditengah hutan sendiri dengan paras yang begitu rupawan, tidak merasa takut dikelilingi orang-orang yang belum dikenalnya.
Namun, belum sempat anak kecil itu menjawab pertanyaan Endang Trinil, dari semak belukar tempat dimana anak kecil itu keluar, terlihat seorang lelaki yang cukup gagah dengan bentuk wajah sangat mirip sekali dengan anak lelaki itu, terutama senyumnya. Lelaki yang baru keluar dari semak belukar itu memang sedang berjalan mendekati mereka sambil tersenyum.
Air muka lelaki itu begitu segar dan terlihat sangat bersahabat, siapapun yang memandangnya akan langsung menyukainya. "Bukan maksudku bersembunyi, tapi para penyamun itu telah berjanji kepadaku akan menggorok sendiri lehernya dengan kampaknya sendiri bilamana bertemu denganku," berkata lelaki itu sambil masih tersenyum.
"Aku jadi mengerti mengapa para penyamun itu langsung berlari menghilang ketika mendengar suara seruling tuan," berkata Ki Sandikala sambil merapatkan kedua tangannya, diikuti oleh semua orang yang ada di hutan Ranu Regola. "Suara seruling tuan telah menolong kami, apakah kami boleh mengenal nama tuan?" berkata kembali Ki Sandikala kepada lelaki itu yang sudah memastikan bahwa orang dihadapannya pasti bukan orang sembarangan karena telah membuat para penyamun seperti melihat hantu, begitu takutnya.
"Namaku Mahesa Murti, dan ini putraku Mahesa Darma," berkata lelaki itu diringi senyum begitu menyejukkan. "Sebuah kebanggaan dapat berkenalan dengan seorang guru ketua dari Padepokan Bajra Seta," berkata Ki Sandikala.
"Padepokanku di sebuah tempat terpencil dan bukan sebuah Padepokan yang besar, bagaimana tuan dapat langsung tahu bila aku berasal dari Padepokan Bajra Seta?" bertanya Mahesa Murti merasa heran kepada Ki Sandikala yang langsung dapat mengenal jati dirinya.
"Dua orang sahabatku adalah cantrik dari Padepokan Bajra Seta, sering bercerita punya seorang guru yang begitu sangat dicintai dan dikagumi," berkata Ki Sandikala kepada Mahesa Murti tersenyum dan dapat membaca pikiran Mahesa Murti yang merasa heran dirinya dapat langsung menebak jati dirinya.
"Kalau boleh tahu, siapakah dua orang sahabatmu itu?" bertanya Mahesa Murti merasa penasaran. "Mahesa Amping dan Raden Wijaya adalah dua orang sahabatku itu," berkata Ki Sandikala penuh senyum.
Terlihat Mahesa Murti menarik nafas panjang seperti tengah terenyuh mendengar dua orang cantrik kebanggaannya itu yang sudah begitu lama tidak berjumpa, banyak kabar angin tentang keberadaan mereka berdua saat itu. Namun, ketika Ki Sandikala menyebut nama Mahesa Amping dan Raden Wijaya sebagai sahabatnya, Mahesa Murti begitu gembira akan mendapat cerita yang bukan kabar angin lagi tentang kedua cantrik kesayangannya itu.
Kembali Ki Sandikala dapat membaca pikiran dan perasaan Mahesa Murti. "Mari kita berbincang-bincang di atas rumput kering itu," berkata Ki Sandikala sambil menunjuk sebuah tempat yang memang sangat menyenangkan, cukup untuk mereka bersama meriung dan tentunya dapat lebih saling mengenal.
Sebelum memulai pembicaraannya, Ki Sandikala memperkenalkan dirinya, memperkenalkan anggota keluarganya satu persatu, juga Magucin dan Yongki sebagai kawan seperjalanannya itu. Ki Sandikala adalah seorang yang sangat pandai mengerti keinginan dan pikiran seseorang meski baru saja dikenalnya.
Dan pembawaannya dapat membuat siapapun yang baru mengenalnya akan menjadi sangat cepat akrab. Sementara itu, Mahesa Murti juga punya pembawaan yang hampir sama. Maka tidak terasa Mahesa Murti merasa sudah mengenal Ki Sandikala begitu lama, padahal mereka baru hari itu saling mengenal.
Akhirnya Ki Sandikala bercerita tentang awal perjumpaannya dengan Mahesa Amping. "Anak muda itu punya ilmu yang sangat luar biasa, jujur bahwa aku bukan tandingannya," berkata Ki Sandikala bercerita tentang awal pertemuannya dengan Mahesa Amping.
"Namun jiwa anak muda itu punya rasa kasih seluas samudra, itulah sebabnya aku yang tua ini dapat dikatakan banyak belajar darinya," berkata kembali Ki Sandikala. Ki Sandikala banyak bercerita tentang petualangannya bersama Mahesa Amping, antara lain berada langsung di saat-saat suasana berkabung hancurnya Kotaraja Singasari yang hangus terbakar.
"Kejayaan Singasari sudah berakhir," berkata Mahesa Murti sambil menarik nafas panjang. "Saat ini kami telah berjanji untuk berada di belakang Raden Wijaya berjuang merebut kembali tahta Singasari yang hilang," berkata Ki Sandikala bercerita tentang beberapa persiapan perjuangan mereka saat itu di Tanah Ujung Galuh.
"Terima kasih telah bercerita banyak tentang keadaan dua orang cantrikku, tapi nampaknya ada yang terlupakan, yang kutahu mereka selalu bertiga," berkata Mahesa Murti sambil menduga-duga mengapa Ki Sandikala tidak menyinggung seorang lagi dari mereka.
"Haduh, pasti yang tuan maksudkan itu Ranggalawe?" berkata Ki Sandikala sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Apakah dirinya saat ini ada di Tanah Ujung Galuh?" bertanya Mahesa Murti dengan wajah gembira bahwa Ki Sandikala nampaknya juga mengenal Ranggalawe.
"Benar, saat ini Ranggalawe juga berada di Tanah Ujung Galuh," berkata Ki Sandikala kepada Mahesa Murti yang terlihat menarik nafas lega bahwa Ranggalawe juga berada di Tanah Ujung Galuh. "Jadi saat ini kalian dalam perjalanan menuju Tanah Ujung Galuh, titip salamku kepada mereka bertiga dan katakan kepada mereka bahwa dalam waktu dekat aku akan berkunjung ke Tanah Ujung Galuh," berkata Mahesa Murti sambil matanya melihat cakrawala di atas hutan Ranu Regola, dimana matahari telah mulai bergesar turun.
"Pasti akan kusampaikan salam tuan, mereka pasti senang bahwa tuan akan datang menemui mereka," berkata Ki Sandikala. "Bilasaja tidak bersama putraku ini, pasti akan senang bersama kalian berjalan menuju Tanah Ujung Galuh," berkata Mahesa Murti sambil berdiri.
"Terima kasih telah bercerita tentang tiga orang cantrikku itu," berkata kembali Mahesa Murti nampaknya akan siap-siap melanjutkan perjalanannya. Ki Sandikala menatap Mahesa Darma yang masih memegang seruling bambunya, "Pasti kelak akan menjadi seorang yang tangguh sebagaimana Mahesa Amping," berkata Ki Sandikala dalam hati.
Tanah di hutan Ranu Regola memang masih terang, namun sudah semakin teduh karena sinar matahari telah bergeser turun. Terlihat Mahesa Murti dan putranya Mahesa Darma telah berjalan, diiringi tatapan mata Ki Sandikala dan rombongannya.
"Seorang manusia yang sederhana, tidak ada yang menyangka begitu tinggi ilmu yang dimiliki, yang kutahu muridnya Mahesa Amping sudah begitu luar biasa," berkata Ki Sandikala seperti kepada dirinya sendiri, namun suaranya jelas didengar oleh semua keluarganya, juga Magucin dan Yongki.
Keduanya akhirnya menghilang ditelan kerimbunan hutan Ranu Regola yang memang sangat pepat. "Kudengar tadi tuan menyebut seorang yang bernama Raden Wijaya, sebanarnya kedatangan kami ke Kotaraja Singasari adalah untuk menemuinya," berkata Yongki kepada Ki Sandikala.
"Darimana kalian mengenal nama Raden Wijaya?" bertanya Ki Sandikala. "Kami punya seorang saudara seperguruan yang pernah datang ke Kotaraja Singasari, dialah yang meminta kami datang menemui Raden Wijaya sebelum membuat tindakan apapun atas diri Raja Kertanegara," berkata Yongki kepada Ki Sandikala.
"Apa yang akan kalian perbuat atas diri Raja Kertanegara?" bertanya Ki Sandikala. "Kaisar kami yang dipertuan Agung Maharaja Kubilai Khan telah menjatuhkan titahnya untuk menghukum Raja Kertanegara atas penghinaan seorang utusannya, saudara seperguruan kami itulah utusan yang dicederai telinganya," berkata Yongki memberikan penjelasannya kepada Ki Sandikala.
"Kalian datang berdua ke Kotaraja untuk menghukum Raja Kertanegara?" bertanya kembali Ki Sandikala.