Halo!

Tapak Tapak Jejak Gajahmada - Chapter 42

Memuat...
Tapak Tapak Jejak Gajahmada

Chapter 42

"Kami tidak datang berdua, tetapi kami datang bersama sepuluh ribu laskar prajurit besar," kata Yongki.

Bukan main terperanjatnya Ki Sandikala serta seluruh anggota keluarganya ketika mendengar perkataan Yongki tentang laskar besarnya itu.

"Baginda Raja Kertanegara telah tiada seiring runtuhnya Kerajaan Singasari. Dan orang yang akan kalian temui saat ini sudah tidak lagi berada di Kotaraja Singasari," ujar Ki Sandikala.

"Aku mendengar bahwa Raden Wijaya adalah sahabat Tuan. Bawalah kami ke mana pun dia berada," sahut Yongki dengan penuh harap kepada Ki Sandikala.

Ki Sandikala pernah mendengar cerita tentang utusan Kaisar Kubilai Khan dari Raden Wijaya, termasuk peristiwa cederanya daun telinga utusan kaisar tersebut. Dalang dari semua itu adalah orang yang kini memegang kekuasaan, Raja Jayakatwang.

"Gusti Yang Maha Agung telah membawa laskar-Nya sendiri kepada Raden Wijaya," batin Ki Sandikala sambil memuji kebesaran Tuhan yang memiliki cara dan garis hidup tidak terduga, di luar rencana manusia.

"Sepertinya kita telah ditakdirkan sebagai teman seperjalanan," kata Ki Sandikala sambil menganggukkan kepala sebagai tanda kesediaan membawa mereka berdua kepada Raden Wijaya.

Matahari sudah semakin bergeser turun di kaki cakrawala ketika rombongan Ki Sandikala terlihat keluar dari Hutan Ranu Regola.

"Di balik bukit cemara itu ada sebuah kademangan yang cukup ramai. Mungkin kita akan bermalam di sana sekaligus mencari kuda tunggangan yang baik," kata Ki Sandikala dengan wajah ceria sambil menunjuk sebuah bukit kecil yang dipenuhi pohon cemara.

Magucin dan Yongki tidak menunggangi kuda mereka; mereka berjalan beriringan sambil menuntun kuda tersebut. Sungguh elok pemandangan di atas bukit cemara manakala matahari telah berada di ujung senja. Hamparan bumi begitu bening dan teduh, memayungi setiap hati yang memandangnya. Sejauh mata memandang, tampak seperti lukisan alam yang indah, mendamaikan setiap jiwa.

Langit senja menyelimuti Hutan Maja yang masih dipenuhi banyak orang yang sepertinya tidak pernah lelah mengukir setiap jengkal tanah hutan itu menjadi sebuah karya kehidupan yang nyata. Tidak jemu mata Raden Wijaya menatap petak-petak sawah dan ladang yang mulai terbentuk, lengkap dengan aliran sungai kecil yang sengaja dibagi rata guna mengairi sawah sepanjang musim.

Adipati Arya Wiraraja ternyata memang telah memenuhi janjinya dengan mengirim orang-orang terbaik. Mereka bukan hanya petarung hebat di medan pertempuran, melainkan juga pekerja yang gigih membuka lahan pertanian.

"Orang-orang dari Padepokan Teratai Putih ternyata bukan hanya pandai memainkan senjata cakranya, tangan mereka juga sangat mahir mengukir batu menjadi arca yang sangat halus," kata Gajah Pagon kepada Raden Wijaya yang menemaninya berjalan menyusuri jalan antar-padukuhan.

Seperti yang dikatakan oleh Gajah Pagon, para pengikut Ki Sandikala memang pematung yang hebat. Mereka telah membuat dinding batu penuh dengan lukisan pahatan halus yang mengelilingi pasanggrahan utama. Mereka juga telah membangun delapan gapura indah sebagai penghubung antara pasanggrahan utama menuju delapan pasanggrahan yang kelak akan dihuni oleh para bebahu dan penguasa tanah perdikan baru di Hutan Maja itu.

"Ki Sandikala memang seorang perancang yang hebat. Semula aku mengira di tanah ini akan berdiri sebuah tanah perdikan sebagaimana yang biasa kita lihat di beberapa tempat. Namun, ternyata yang berdiri di hutan ini mirip sebuah kotaraja baru yang tumbuh berkembang penuh keasrian—sebuah kotaraja yang teduh dan dipenuhi pohon kayu rindang di sepanjang jalan," kata Ki Sukasrana yang juga ikut menemani Raden Wijaya.

"Tanah perdikan ini akan menjadi daerah pertahanan yang kuat," kata Raden Wijaya sambil memandang lukisan dinding batu yang indah.

"Musuh dari mana pun akan mudah terlihat, dan kita hanya perlu menempatkan pemanah ulung di setiap sudut," tambah Gajah Pagon sambil menyapu pandangan ke arah sekitarnya.

"Mari kita kembali ke benteng prajurit," ajak Raden Wijaya ketika suasana mulai gelap karena malam mulai mewarnai langit.

Namun, di tengah perjalanan menuju Tanah Ujung Galuh, mereka menemui seorang prajurit yang sengaja mencari Raden Wijaya. Prajurit itu memberi kabar bahwa telah datang rombongan dari Balidwipa.

"Mahesa Amping dan rombongannya telah datang!" kata Raden Wijaya kepada Gajah Pagon dan Ki Sukasrana dengan wajah ceria mendengar kedatangan sahabat setianya itu.

"Berapa orang yang datang dari Balidwipa?" tanya Raden Wijaya kepada prajurit tersebut.

"Ada sekitar seratus orang," jawab sang prajurit.

"Mahesa Amping pasti bersama orang-orang Padepokan Pamecutan," duga Gajah Pagon.

Raden Wijaya, Ki Sukasrana, dan Gajah Pagon terlihat tengah menyeberangi Sungai Kalimas. Tampaknya mereka tidak sabar menemui sahabat mereka, Mahesa Amping.

"Seratus orang yang baru datang dari Balidwipa mungkin untuk sementara dapat beristirahat di benteng prajurit," kata Ki Sukasrana kepada Raden Wijaya ketika mereka berjalan di Padukuhan Ujung Galuh menuju benteng.

"Selamat datang, wahai sahabatku!" seru Raden Wijaya ketika mereka tiba di benteng dan melihat Mahesa Amping tengah berbincang dengan Ranggalawe.

"Tadinya aku mengira terdampar di pulau lain karena saat aku berangkat, benteng besar ini belum berdiri," kata Mahesa Amping sambil mengagumi pendapa utama yang cukup besar.

Setelah saling menanyakan kabar, Raden Wijaya bercerita tentang pembangunan tanah hunian baru di Hutan Maja. Bukan main gembiranya hati Mahesa Amping mendengar bahwa pembangunan tersebut akan selesai dalam pekan ini.

"Orang-orang dari Madura dan para pengikut setia Ki Sandikala memang pekerja yang penuh semangat," puji Gajah Pagon terhadap hasil kerja mereka.

"Semoga tidak banyak masalah yang timbul dari perbedaan asal-usul mereka yang datang dari tempat berbeda," ujar Mahesa Amping yang memiliki pengalaman mengenai benturan budaya.

"Kadang kebersamaan akan tumbuh ketika dua orang yang berbeda menemui kegetiran yang sama," timpal Ki Sukasrana berbagi pengalaman.

"Saatnya kita melupakan asal-usul mereka dengan memperlakukan mereka secara adil tanpa perbedaan. Saatnya pula kita mempersatukan semua dengan cara pandang yang sama, berjuang demi masa depan bersama," tegas Mahesa Amping.

"Yang paling utama adalah tetap menyembunyikan kekuatan kita sampai waktunya tiba. Kita harus merahasiakan keadaan yang sebenarnya agar penguasa Kediri hanya melihat kita sedang membangun tanah perdikan biasa, bukan sebuah kekuatan tandingan," kata Raden Wijaya.

"Maksud dari perkataan Tuan Senapati kita adalah silakan bagi yang belum berkeluarga untuk mencari gadis desa terdekat sebagai calon istri," kelakar Ranggalawe yang ditanggapi dengan tawa oleh semua orang di pendapa itu.

"Aku akan menunggu siapa yang paling berani melamar anak gadis Ki Bekel Ujung Galuh," tambah Ki Sukasrana, membuat suasana semakin ramai karena gadis itu memang sering menjadi pembicaraan hangat di kalangan prajurit muda.

Ki Sandikala dan rombongannya sudah berada di bawah lereng Bukit Cemara. Di hadapan mereka, terbentang hamparan sawah hijau di bawah langit yang mulai menggelap menjelang malam. Mereka telah melewati regol pintu gerbang Kademangan Pulungdowo.

Namun, saat menyusuri jalan kademangan yang sepi, mereka melihat kerumunan orang di depan sebuah rumah. Rasa penasaran membawa mereka mendekat. Ketika Ki Sandikala dan rombongannya memasuki halaman, terdengar tangisan histeris seorang wanita yang sesekali menyebutkan sebuah nama.

"Apa yang terjadi dengan wanita di dalam rumah itu?" tanya Ki Sandikala kepada seorang lelaki di halaman.

Lelaki itu mengamati Ki Sandikala karena merasa belum mengenalnya. "Kisanak pasti bukan warga kademangan ini," katanya masih memperhatikan tamu tersebut.

"Kami hanya pengembara yang kebetulan lewat," jawab Ki Sandikala. "Apa yang terjadi dengan wanita di dalam sana?" tanyanya mengulang.

"Anak gadisnya diculik oleh para prajurit yang lewat tadi siang," jelas lelaki itu.

"Apakah tidak ada warga yang mencegahnya?" tanya Ki Sandikala.

"Tidak ada seorang pun lelaki di kademangan ini yang berani menghadapi sekelompok prajurit itu," jawabnya dengan nada menyesal karena ia pun merasa tidak berdaya.

"Apakah yang kamu maksudkan sekelompok prajurit Kediri?" tanya Ki Sandikala memastikan.

"Benar, mereka adalah prajurit Kediri," jawab lelaki itu.

Ki Sandikala yakin dengan dugaannya. Pikirannya langsung tertuju pada sekelompok prajurit Kediri yang dipimpin oleh pamannya sendiri, Ki Narada. "Hati dan pikiran Paman Narada sudah jauh dari tuntunan," batin Ki Sandikala.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment