Halo!

Tapak Tapak Jejak Gajahmada - Chapter 47

Memuat...
Tapak Tapak Jejak Gajahmada

Chapter 47

Sesungguhnya, penguasa Tanah Jawa saat inilah yang telah menyemai sendiri petakanya, atas ulah dan perbuatan merekalah yang telah melukai telinga saudara kita Mengki.

"Dan aku akan bersedia menjadi sahabat armada Kaisarmu, menuntun kalian lewat sungai dan darat untuk menghancurkan sang angkara, penguasa Tanah Jawa itu," berkata Raden Wijaya kepada kedua tamu asingnya itu.

"Perkenan Tuanku menjadi sahabat yang dapat mengantar kami menunaikan tugas kami di Tanah Jawa ini adalah sebuah kehormatan," berkata Yongki sambil merangkapkan kedua tangannya, diikuti oleh Magucin. Mereka nampaknya merasa gembira mendengar semua ucapan dari Raden Wijaya.

"Katakan kepada pemimpin kalian di Bandar Pelabuhan Rembang, sandarkanlah armada kalian di Bandar Tanah Ujung Galuh ini. Kami akan merasa senang menyambut kedatangan kalian sebagai sahabat," berkata Raden Wijaya.

"Semua yang Tuanku katakan akan kami sampaikan kepada pimpinan kami," berkata Yongki. "Secepatnya kami akan kembali ke bandar Rembang agar keresahan penduduk di sana tidak berkepanjangan," sambungnya.

"Secepatnya pula kami akan menjadi tuan rumah yang baik bagi armada kalian," berkata Raden Wijaya penuh senyum kegembiraan. Di dalam hatinya terasa lega telah menuntaskan keresahan penduduk Rembang, sebuah upaya yang seharusnya menjadi tanggung jawab para penguasa Tanah Jawa saat ini. Tapi demi kemanusiaan dan tanggung jawab pribadinya atas segala penderitaan orang di sekitarnya, membuat Raden Wijaya merasa ikut peduli.

"Malam ini kami bermaksud mohon pamit diri, besok pagi kami akan segera kembali di mana armada kami tengah menunggu," berkata Yongki.

"Kami berdoa untuk keselamatan kalian berdua, sayangnya malam ini kami terpaksa menahan kalian berdua untuk sekadar menikmati jamuan yang telah siap di hadapan kita ini," berkata Raden Wijaya sambil melemparkan pandangannya kepada semua yang hadir di pendapanya sebagai sebuah tanda bahwa hidangan jamuan makan malam itu juga untuk semua yang hadir di pendapa pasanggrahannya.

Demikianlah, malam itu suasana di pasanggrahan Raden Wijaya terasa penuh kehangatan senda gurau. Kadang Raden Wijaya mencuri pandang penuh bahagia melihat bahwa semua sahabatnya telah berkumpul di pemukiman barunya. "Mereka bersatu di atas tanah perdikan ini untukku," berkata Raden Wijaya dalam hati, penuh kebahagiaan dan haru berada di antara para sahabatnya yang setia.

Dan malam pun telah lama menyekap batang-batang pohon di sekitar Pasanggrahan Raden Wijaya, menyelimutinya dengan warna hitam malam. Semilir angin dingin terasa silih berganti mengusap tubuh siapa pun yang ada di atas pendapa Pasanggrahan utama itu.

"Malam pertama di atas tanah pemukiman baru," berkata Raden Wijaya kepada Ki Sandikala sebagai orang terakhir yang meninggalkan pendapa pasanggrahannya.

"Kita akan menyambut pagi esok bersama," berkata Ki Sandikala kepada Raden Wijaya.

Ketika Ki Sandikala sudah tiba di pasanggrahannya sendiri, terlihat Ki Sandikala sudah berada di dalam kamarnya, tengah duduk di bibir peraduannya sambil memangku sebuah kotak kayu hitam. Perlahan Ki Sandikala membuka kotak kayu hitam itu, sebuah cahaya merah memancar keluar dari balik kotak kayu hitam itu.

"Saatnya pusaka wahyu keraton ini berada di tangan pemiliknya yang sebenarnya. Semoga dengan Keris Nagasasra ini mampu menyinari jiwa Raden Wijaya menemukan Sang Raja Sejati di dalam dirinya, sebagai pengayom yang dihormati dan dipatuhi, sebagai raja adil di bumi," berkata Ki Sandikala dalam hati sambil memandang keris yang masih berada di dalam kotak kayu hitam itu.

Perlahan Ki Sandikala menutup kembali kotak kayu hitam itu, terlihat dirinya seperti menarik napas panjang dan perlahan melepaskannya, sepertinya tidak ada beban lagi menghimpit rongga dadanya. "Dan aku akan menjadi penjaga abadi di sisi Raden Wijaya sepanjang hidup ini," berkata kembali Ki Sandikala dalam hati sambil kembali menarik napas panjang.

Namun Ki Sandikala tidak juga dapat tertidur di pembaringannya. Mata dan pikirannya jauh terbang melayang ke sebuah peperangan yang begitu besar, perang yang akan terjadi antara pasukan Kediri dengan pasukan Raden Wijaya yang dibantu armada besar pasukan Mongolia yang sebentar lagi akan datang bergabung.

"Garis kehidupan begitu penuh rahasia, siapa yang mampu menahan atau berlari dari guratan nasib ini. Dan aku hanya seorang hamba yang begitu lemah di hadapan-Mu, wahai Gusti yang Maha Perkasa. Semoga hamba dapat menerima dan selalu mensyukuri apa pun titah-Mu," berkata Ki Sandikala sambil berbaring.

Dan malam di atas bumi Majapahit saat itu memang begitu senyap. Cahaya bulan malam menyinari sembilan pasanggrahan yang terhubung satu dengan lainnya dengan jalan setapak yang terlindung dan dibatasi oleh pagar batu dan pintu gapura yang terukir begitu indah, dipenuhi aneka tanaman bunga berbagai rupa.

"Istana Singasari begitu megah, tapi tidak seindah berada di Bumi Majapahit ini," seorang prajurit penjaga kepada kawannya, memandangi segerombol bunga soka yang berjajar sepanjang jalan setapak.

"Kita seperti berada di Taman Nirwana," berkata kawannya, menyambung perkataan prajurit penjaga itu.

"Apakah kamu sudah pernah berada di Taman Nirwana?" berkata prajurit penjaga itu sambil melirik penuh canda.

"Kamu benar, aku memang belum pernah mati," berkata kawannya sambil tertawa kecil.

Demikianlah, dua prajurit penjaga itu telah kembali ke gardu ronda mereka, menunggu malam yang sebentar lagi akan pergi berganti pagi. Dan rembulan di atas bumi Majapahit sepertinya sudah terkantuk-kantuk pucat, bergelantung terhalang kerindangan sebuah pohon Maja tua di sisi sebuah gardu ronda.

"Hari ini kita berdiri di atas tepi pantai, di atas guratan garis nasib yang Maha Agung," berkata Ki Sandikala kepada Raden Wijaya dan Mahesa Amping, sambil memandang jauh ke ujung sebuah perahu bercadik di mana di atasnya berdiri Magucin dan Yongki melambaikan tangan.

"Tugas kita di dunia ini hanya menjalaninya, itulah arti syukur yang sebenarnya," berkata Mahesa Amping sambil tersenyum, menyambung perkataan Ki Sandikala.

"Menikmati sebuah perjalanan panjang," berkata pula Raden Wijaya sambil tersenyum.

Demikianlah, terlihat tiga tokoh utama penguasa Bumi Majapahit itu terlihat berjalan beriring menuju benteng besar Tanah Ujung Galuh. Nampaknya ada banyak hal yang akan mereka perbincangkan menjelang kedatangan armada pasukan besar Mongolia dari Tanah Rembang.

Ketika telah tiba di pendapa benteng Tanah Galuh, mereka bertiga sudah langsung membuat berbagai rencana besar, mulai dari penerimaan armada besar pasukan Mongolia sampai rencana serangan besar dari dua pasukan sekutu ini mengepung Kerajaan Kediri. Namun mereka juga membicarakan beberapa hal penting yang mungkin akan terjadi menjelang usainya peperangan.

"Apa yang akan kita berikan seandainya penguasa Mongolia meminta terlalu banyak dari Tanah Jawa ini?" berkata Ki Sandikala, meminta pertimbangan Mahesa Amping dan Raden Wijaya.

"Aku terlahir dan hidup di Tanah Jawa ini, garis nasibku dipercaya menjaga dan melindunginya. Tidak akan kuberikan sedikit pun tanah ini bagi siapa pun yang akan memerasnya seperti seekor sapi betina," berkata Raden Wijaya dengan penuh semangat.

"Artinya kita harus punya kekuatan yang besar, sebuah tenaga cadangan yang dapat kita gerakkan di waktu yang tepat," berkata Ki Sandikala sambil memberikan beberapa rencananya secara rinci, terutama menjelang akhir peperangan.

"Sebuah rencana akhir yang hebat," berkata Mahesa Amping, seakan menyetujui buah pikiran dari Ki Sandikala.

Namun belum usai pembicaraan mereka bertiga, datang kepada mereka seorang prajurit yang menyampaikan ada beberapa keluarga dari pulau Tanah Wangi-Wangi telah datang ikut berlayar bersama Jung Singasari. Bukan main gembiranya hati Raden Wijaya dan Mahesa Amping mendengar kabar itu. Akhirnya yang ditunggu datang juga.

Terlihat seorang pendeta tua datang bersama dua orang wanita. Terlihat tiga orang bocah kecil berjalan lincah di sisi pendeta tua itu.

"Ayah..!" berkata salah seorang bocah kecil itu sambil berlari mendekap Mahesa Amping.

"Ayah!!!" berkata pula salah seorang bocah kecil yang lain kepada Raden Wijaya, yang langsung mendekapnya penuh kegembiraan.

Dan suasana di atas pendapa Benteng Tanah Ujung Galuh itu telah dipenuhi rasa suka cita penuh kebahagiaan, pertemuan keluarga, pertemuan para sahabat yang terpisah jarak dan waktu kini telah dipertemukan. Pendeta Gunakara banyak bercerita tentang keadaan mereka selama di Pulau Tanah Wangi-wangi. Tentang kehidupan Ratu Anggabhaya di hari tuanya yang nampaknya telah menemukan dunianya menjadi seorang petani biasa yang begitu sangat bahagia.

"Ratu Anggabhaya titip salam untuk kalian," berkata Pendeta Gunakara di tengah-tengah ceritanya.

"Bukankah ini Tuan Putri Gayatri?" berkata Mahesa Amping sambil memandang ke arah seorang gadis muda yang baru tumbuh mekar, berparas manis sangat elok rupawan. Mendengar ucapan Mahesa Amping, secara bersamaan semua orang yang ada di atas pendapa itu langsung melayangkan pandangannya ke arah gadis itu. Duhai, sungguh siapa pun terkesima memandang wajah gadis putri jelita itu yang semakin bertambah eloknya ketika sebuah senyum manis tersungging sedikit di ujung bibirnya seperti lukisan hidup, tidak membuat jemu untuk terus memandangnya.

"Dari Pulau Tanah Wangi-wangi telah tumbuh berkembang sekuntum bunga yang harum penuh pesona. Nyi Ratu Kertanegara meminta aku untuk menjaganya di sepanjang perjalanan. Semoga kiranya dapat menjadi hiasan menyempurnakan taman putri Pasanggrahan Tuanku Raden Wijaya," berkata Pendeta Gunakara dengan wajah penuh senyum memandang Raden Wijaya.

"Mewakili Tuanku Raden Wijaya, kami menerima dengan penuh suka cita dan kebanggaan titipan sembah kasih dari Nyi Ratu Kertanegara."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment