Chapter 48
"Semoga bunga ini dapat tumbuh berkembang di taman hati Pasanggrahan baru, bumi yang masih basah, bumi Majapahit baru," ucap Ki Sandikala yang dapat memaknai kiasan pendeta Gunakara sebagai bentuk perjodohan antara Raden Wijaya dengan Putri Gayatri.
Demikianlah, suasana penuh kegembiraan di atas pendapa benteng Tanah Galuh itu bertambah meriah ketika perjamuan datang menyempurnakan pertemuan keluarga tersebut.
Sementara itu, kehangatan cahaya matahari semakin menjauhi bumi, meninggalkan rumput hijau yang terbentang di halaman muka Benteng Tanah Ujung Galuh.
"Kalian adalah orang termuda di atas tanah baru ini, kalian akan lebih lama dari kami memandang cakrawala langit bumi Majapahit," ujar Mahesa Amping kepada Gajah Mada, Adityawarman, dan Jayanagara ketika mereka tengah merapat di tepian Kalimas.
"Kayu papan lantai pendapaku sudah tidak sabaran menunggu kedatangan kalian malam ini," kata Raden Wijaya kepada rombongan iring-iringan yang terbagi dalam beberapa kelompok. Putri Gayatri bersama Pendeta Gunakara ikut Ki Sandikala langsung ke pasanggrahan. Nampaknya ketiga bocah kecil itu sudah tidak bisa lagi dipisahkan.
Akhirnya, sang senja perlahan menarik tirai bumi, dan malam mulai mengembangkan layar hitamnya memenuhi panggung bumi Majapahit.
"Kita terlahir sebagai ksatria penjaga bumi pertiwi, dan kita tidak akan pernah sedikit pun berbagi kekayaan kepada bangsa asing," tegas Ki Sandikala di pendapa Pasanggrahan Raden Wijaya pada malam itu.
Hadir di pendapa Pasanggrahan Raden Wijaya beberapa tokoh bumi Majapahit selain Ki Sandikala dan Raden Wijaya, antara lain Mahesa Amping, Gajah Pagon, Ki Sukasrana, Argalanang, dan Ranggalawe. Mereka tengah mempersiapkan rencana terkait kedatangan armada besar pasukan Mongolia yang sebentar lagi akan berlabuh di Bandar Tanah Ujung Galuh.
"Besok kita sebarkan kabar tentang upacara perkawinan antara Raden Wijaya dan Putri Gayatri. Kabar ini akan membuat para penguasa Kediri merasa aman untuk sementara waktu sehingga tidak ada tindakan gegabah dari pihak Raden Wijaya. Kita sebarkan undangan itu menjelang berakhirnya musim angin barat laut, dua kali bulan purnama lagi," kata Ki Sandikala sambil merinci usulannya.
"Sebuah rencana yang gemilang, mengusir anjing dengan membawa armada serigala, dan kita hanya perlu beberapa obor untuk mengusir serigala yang kelelahan," puji Ranggalawe.
"Kita perlu mengajak beberapa kerabat kita di padepokan yang dapat kita yakini kesetiaannya," saran Mahesa Amping.
"Para cantrik Padepokan Bajra Seta pasti akan berada di belakang kita," jawab Ki Sandikala, mengingat pertemuannya dengan pemimpin padepokan itu, Mahesa Mukti.
"Siapa yang siap berada di Tanah Ujung Galuh ini?" tanya Raden Wijaya.
"Tuanku Raden Wijaya harus ikut dalam penyerangan ke Kediri agar pihak pasukan Mongolia tidak mencium rencana kita. Biarlah aku yang tinggal di Tanah Ujung Galuh sebagai obor yang akan memaksa para serigala menjauh," jawab Ki Sandikala.
"Aku dan Gajah Pagon dalam waktu dekat ini akan menemui beberapa ketua padepokan di Singasari. Mudah-mudahan mereka dapat membantu kita," ujar Mahesa Amping.
Demikianlah, para tokoh bumi Majapahit itu terus menyempurnakan rencana merebut kembali kekuasaan Tanah Jawa yang kini berada di tangan Raja Jayakatwang. Mereka akan menggunakan pasukan Mongolia sebagai garda depan untuk melumat kekuatan Kediri, sementara setengah pasukan cadangan Raden Wijaya tetap menunggu di Bandar Ujung Galuh.
Sang dewi malam telah rebah di barat cakrawala, temaram cahaya kuningnya menerangi daun pohon Maja tua di sisi gardu ronda, di saat sebagian penghuni bumi Majapahit telah terlelap.
Fajar menyingsing cerah di ujung timur bumi Majapahit. Di tanah lapang telah berkumpul para lelaki dari Madura maupun cantrik dari Padepokan Teratai Putih. Ki Sandikala, Putut Prastawa, Menak Koncar, dan Menak Jingga membagi orang-orang tersebut menjadi tiga kelompok di bawah pimpinan masing-masing.
Di Padukuhan Tanah Ujung Galuh, prajurit disiagakan untuk menjaga keselamatan warga, terutama para wanita, karena ada kabar bahwa prajurit Mongol sangat liar.
"Perang akan membawa penderitaan. Tugas kita adalah membawa peperangan tanpa banyak penderitaan. Jalur sungai adalah jalan paling aman bagi pasukan besar Mongol menuju Kediri," kata Raden Wijaya kepada Mahesa Amping dan Gajah Pagon yang akan berangkat mencari dukungan ke Singasari.
"Kita berjalan di bawah genggaman Gusti Yang Maha Agung," ucap Mahesa Amping. Setelah melepas kepergian mereka, Raden Wijaya melangkah menuju tanah lapang untuk melihat latihan pasukan cadangan.
Raden Wijaya kagum melihat persiapan pasukan cadangan yang dipimpin Ki Sandikala, yang ternyata sedang berlatih peperangan di atas air menggunakan alat rintangan, serta para pemanah yang berlatih dengan panah api.
"Sebuah persiapan yang hebat," puji Raden Wijaya.
"Kita harus mengenal alam, waktu, dan keadaan cuaca. Di atas keadaan itulah kita bisa unggul," jawab Ki Sandikala.
Latihan berlangsung hingga matahari bergeser dari puncaknya, kemudian diistirahatkan untuk pembagian ransum di dapur umum.
Sementara itu, Endang Trinil, keponakan Ki Sandikala, berjalan menuju Pasanggrahan Mahesa Amping. Ia disambut oleh Putut Risang di bawah tangga pendapa.
"Apakah Bibi Nariratih ada di dalam?" tanya Endang Trinil.
Putut Risang memanggil Nyi Nariratih, ibunda Gajah Mada (Mahesa Muksa). Dengan ramah, Nyi Nariratih mengajak Endang Trinil duduk di pendapa. Ketika Putut Risang ingin ikut duduk, Nyi Nariratih menolak dengan gaya seorang ibu.
"Kami ada pembicaraan khusus kaum hawa," ujar Nyi Nariratih.
Saat Putut Risang hendak berpamit masuk, Endang Trinil bertanya, "Kakang Putut Risang tidak ikut latihan di tanah lapang?"