Chapter 49
"Tuan Guru Mahesa Amping telah menugaskan diriku di tempat yang berbeda," kata Putu Risang kepada Endang Trinil sambil kembali berpamit untuk masuk ke dalam.
Terlihat Nyi Nariratih dan Endang Trinil tersenyum menutup bibir ketika Putu Risang menghilang di balik pintu pringgitan. Dua orang wanita, apalagi yang dibicarakan oleh mereka selain masakan? Ternyata mereka memang tengah membicarakan masakan khas daerah asal masing-masing.
Pembicaraan mereka terhenti ketika melihat Putu Risang muncul dari dalam. "Aku pamit ingin menjenguk Adityawarman, Jayanagara, dan Mahesa Muksa yang tengah bersama Pendeta Gunakara bermain di pinggir hutan," kata Putu Risang kepada Nyi Nariratih.
"Kalau begitu, aku sekalian pamit diri, mumpung ada teman searah perjalanan," kata Endang Trinil kepada Nyi Nariratih.
"Bila ada waktu, aku akan membuatkan untukmu Bubur Menggah Bali," kata Nyi Nariratih kepada Endang Trinil yang terlihat tengah menuruni anak tangga pendapa, tempat Putu Risang telah menunggu untuk berjalan bersamanya.
Tidak banyak pembicaraan antara dua anak muda itu selain sepatah dua patah kata selama di perjalanan.
"Apakah kamu kerasan tinggal di bumi Majapahit ini?" tanya Putu Risang memecah kecanggungan.
"Tinggal di bumi Majapahit sangat menyenangkan. Bagaimana dengan Kakang Putu Risang sendiri?" tanya balik Endang Trinil.
"Aku merasa kerasan, namun terkadang rindu dengan kampung halaman," kata Putu Risang datar.
"Pasti rindu dengan para gadis Bali, tentunya," goda Endang Trinil dengan senyum manis.
Putu Risang sempat melihat senyum itu meski tidak begitu lama; tiba-tiba saja jantungnya berdegup tidak menentu. "Aku merindukan kampung halaman," sahut Putu Risang kembali.
"Kampung halaman apa gadis Bali?" tanya Endang Trinil lagi dengan gaya menggoda yang membuat wajah Putu Risang memerah seperti kepiting rebus.
Endang Trinil merasa kasihan melihat pemuda yang pemalu itu, sehingga ia tidak lagi menggoda. Putu Risang merasa aman, jantungnya kembali normal, hanya langkahnya terasa mengambang di udara. Ia merasa diselamatkan ketika mereka menemui jalan simpang menuju Pasanggrahan Mahesa Amping dan jalan menuju ke tepi hutan.
"Terima kasih telah menemaniku," kata Endang Trinil ketika mereka berpisah.
"Inikah rasanya berjalan berdekatan dengan seorang gadis?" kata Putu Risang dalam hati.
Ketika sudah sampai di tepi hutan Maja, hati Putu Risang berdetak penuh kagum. Ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri tiga anak lelaki kecil telah dapat naik ke atas pohon berbatang besar dengan cara melompat; dengan dua kali menjejak, mereka sudah dapat langsung berdiri di atas dahan yang mendatar. Tinggi dahan itu sekitar empat kali tinggi badan orang dewasa, namun dengan beraninya ketiga anak lelaki itu turun kembali dengan cara melompat. Sementara itu, berdiri tidak jauh dari mereka, seorang berjubah pendeta yang ternyata adalah Pendeta Gunakara.
Putu Risang tidak segera mendekati mereka, melainkan duduk di bawah sebatang pohon rindang tidak jauh dari sana.
"Kemarilah," perintah Pendeta Gunakara kepada ketiga anak itu. Mereka dengan patuh menghentikan permainan dan berlari mendekatinya.
"Aku akan tambahkan permainannya. Sambil terjun melompat, kalian harus dapat menangkap batu kecil yang aku lemparkan," kata Pendeta Gunakara dengan wajah penuh senyum.
Ketiga anak itu kembali ke permainan mereka. Kali ini, mereka melompat sambil menangkap batu yang dilemparkan Pendeta Gunakara. "Pendeta Gunakara telah melatih mereka dasar ilmu meringankan tubuh yang hebat dan melatih keseimbangan," gumam Putu Risang dari tempat duduknya.
"Tuan Mahaguru kecilku benar-benar mempunyai bakat yang luar biasa," kata Pendeta Gunakara dalam hati sambil memperhatikan Gajah Mada atau Mahesa Muksa, yang dipercayakan sebagai titisan guru besarnya, Pendeta Jamyang Dawa Lama dari Tibet. "Pada waktunya, semoga aku dapat membawanya ke Wihara, tempat para paman guruku masih menunggu kabar gembira ini."
Matahari semakin condong ke barat, membuat tanah di hutan itu menjadi teduh. "Permainan hari ini sudah cukup, besok kita lanjutkan kembali. Kasihan Kakang Putu Risang sudah lama menunggu kalian," kata Pendeta Gunakara tanpa menoleh ke arah Putu Risang. Putu Risang mengagumi ketajaman pendengaran Pendeta Gunakara. Sambil tersenyum, ia berdiri menanti mereka mendekat, lalu mereka berjalan pulang bersama.
"Lama sekali kalian bermain," sambut Nyi Nariratih dari atas pendapa. "Seorang prajurit tadi datang memberi kabar bahwa kamu diminta malam ini datang ke Pasanggrahan utama," katanya kepada Putu Risang.
"Terima kasih, Nyi. Nanti malam aku akan ke sana," jawab Putu Risang. Ia sudah bisa memperkirakan panggilan itu terkait tugas rahasia dari Raden Wijaya yang pernah dibicarakan Mahesa Amping beberapa hari lalu.
Ketika senja berakhir dan malam tiba, Putu Risang berpamit kepada Nyi Nariratih dan Pendeta Gunakara. Meski tahu dirinya ditunjuk untuk tugas rahasia, ia belum tahu ke mana dan apa tugas tersebut. Namun, sebagai pemuda yang telah ditempa oleh Mahesa Amping dalam olah kanuragan maupun olah kejiwaan, ia melangkah dengan tenang dan mantap menuju pasanggrahan utama.
"Selamat datang, anak muda. Aku memang menunggumu," sapa Raden Wijaya.
"Maafkan hamba bila telah membuat Tuanku menunggu," kata Putu Risang.
"Mungkin sebagian sudah diberitahukan oleh Mahesa Amping. Malam ini aku hanya akan memperjelas tugas rahasia ini," ucap Raden Wijaya. Secara terinci, Raden Wijaya menjelaskan bahwa Putu Risang harus berangkat sendiri ke Kediri untuk menemui Ratu Turuk Bali, permaisuri Raja Jayakatwang.
"Kamu harus dapat menemui permaisuri Ratu tanpa seorang pun yang mengetahui. Katakan kepadanya pesan dariku bahwa sebelum purnama kedua, ia harus menjauhi Kediri," perintah Raden Wijaya sambil memberikan petunjuk perjalanan.
Malam itu juga, Putu Risang kembali ke pasanggrahan Mahesa Amping. Kepada Nyi Nariratih dan Pendeta Gunakara, ia bercerita telah mendapat tugas rahasia, meski tidak memerinci pesan untuk Ratu Turuk Bali.
"Aku berdoa untukmu, semoga selalu diberikan keselamatan," ucap Nyi Nariratih.
"Aku juga berdoa, semoga kamu selalu diberikan kesehatan dan kekuatan lahir batin," tambah Pendeta Gunakara.
Keesokan harinya, saat hari masih pagi, Putu Risang telah siap melakukan perjalanan. "Selamat jalan, anak muda," kata Pendeta Gunakara sambil melambaikan tangan saat Putu Risang menuntun kudanya menuju gapura luar. Angin sejuk pagi hari membelai rambutnya yang bersanggul ringkas saat ia telah berada di punggung kuda.
Ketika melewati jalan di bumi Majapahit, ia masih melihat para lelaki berlatih di tanah lapang. "Bila tidak ada tugas rahasia ini, mungkin aku telah berkumpul bersama mereka," gumam Putu Risang sambil menoleh ke arah tanah lapang yang dipenuhi orang-orang yang sedang melakukan latihan khusus.