Halo!

Tapak Tapak Jejak Gajahmada - Chapter 51

Memuat...
Tapak Tapak Jejak Gajahmada

Chapter 51

"Jangan gembira dulu dengan sedikit keberuntunganmu," kata kawannya sambil melepas golok dari pinggangnya.

Namun, belum sempat orang itu berbuat apa pun, tiba-tiba dirasakannya kedua pipinya seperti dibenturkan oleh batu besar.

"Plok!" terdengar suara tamparan.

Dengan mata terbelalak tidak percaya, orang itu memegang sebelah pipinya yang terasa sakit sekali. Ternyata, darah segar telah keluar sedikit dari bibirnya dan ia memuntahkan sebuah gigi yang tanggal akibat tamparan keras dari Putu Risang, yang pergerakannya benar-benar tidak diketahui bagaimana bisa begitu cepat.

Si cacat kening melihat semua itu dengan mata terbelalak, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja disaksikannya.

"Pasang telinga kalian lebar-lebar. Aku murid tunggal 345 Kera Sakti Seribu Bayangan. Orang-orang memanggilku sebagai Kera Sakti Berdarah Dingin. Aku memang biasa membunuh orang tanpa berkedip. Mulai saat ini, akulah penguasa di atas Bukit Cemara ini. Pergilah kalian sebelum pikiranku berubah," ujar Putu Risang dengan wajah penuh wibawa, meski di dalam hatinya ia tertawa kecil karena asal menyebut julukan yang mungkin dapat menggetarkan kedua begundal di depannya. Ternyata, sesumbar Putu Risang membuahkan hasil; kedua orang itu dengan penuh rasa takut segera meninggalkan tempat tersebut.

Putu Risang masih menyunggingkan senyum saat melihat kedua orang itu sudah pergi jauh dan menghilang di balik jalan yang menurun. Ia pun segera naik ke atas punggung kudanya, bersiap melanjutkan perjalanan. Namun, tiba-tiba telinganya mendengar suara tawa yang bergema dari berbagai penjuru mata angin. Putu Risang tersadar bahwa pemilik suara itu pastilah orang yang berilmu sangat tinggi.

Ia melompat dari atas kudanya, berusaha mencari sumber suara tersebut, tetapi tidak menemukannya. Tiba-tiba suara tawa itu berhenti. Putu Risang pun bersiaga penuh, penuh kewaspadaan menanti apa yang akan terjadi.

Dengan mata dan pendengaran yang tajam, Putu Risang melihat sesosok tubuh keluar dari balik gundukan batu besar tidak jauh dari tempatnya berdiri. Sosok itu adalah seorang yang sudah sangat tua, mengenakan baju serba hitam dengan rambut yang sudah memutih, begitu pula kumis dan jenggotnya yang telah menyatu.

"Selama ini, aku, si Kera Sakti Tanpa Bayangan, tidak pernah punya murid. Namun hari ini, ada seorang bocah tengik mengaku murid tunggalku," kata orang tua itu sambil berjalan mendekati Putu Risang.

Putu Risang terkejut bukan main karena tanpa sengaja telah menyebut sebuah nama, dan ternyata orang yang dimaksud benar-benar ada. Nama itu ia ucapkan hanya secara sembarangan untuk menakuti kedua begundal tadi.

"Maafkan aku, tadi aku hanya asal bicara. Ternyata nama itu memang ada," ujar Putu Risang sambil merangkapkan kedua tangan di depan dada sebagai tanda permintaan maaf dan penghormatan.

"Sengaja atau tidak, kamu harus mempertanggungjawabkannya," jawab orang tua itu dengan pandangan mata yang sangat tajam ke arah Putu Risang. Cahaya dari sorot matanya terasa menusuk dan menekan dada pemuda itu.

"Lepaskan cambukmu, aku ingin tahu sejauh mana kamu dapat memainkannya," perintah orang itu. Putu Risang seperti tersihir, ia segera melepas cambuk dari pinggangnya.

Orang tua itu berdiri dengan posisi tubuh rendah, benar-benar mirip seekor kera jantan yang ganas bersiap menerkam mangsanya. "Tunjukkan kemampuan puncakmu!" teriaknya sambil melesat melenting mendekati Putu Risang dengan kedua tangan tertuju ke arah kepala pemuda itu.

Melihat serangan yang cepat tersebut, Putu Risang sadar lawannya bukan orang sembarangan. Ia mengerahkan seluruh kecepatan untuk bergeser jauh menghindari serangan, lalu menyerang balik dengan sabetan cambuk ke arah kaki orang tua itu membentuk setengah lingkaran.

"Hebat!" puji orang tua itu sambil melompat ke atas menghindari ujung cambuk. Putu Risang terkejut karena orang tua itu tidak hanya menghindar, melainkan langsung melesat secepat terbang mendekatinya dengan kedua tangan yang mengancam akan mencengkeram paha kanannya.

Putu Risang, murid terkasih dari Mahesa Amping dan Empu Dangka, adalah pemuda tangguh yang tidak mudah menyerah. Namun, menghadapi orang tua itu membuatnya terguncang; untuk pertama kalinya ia berhadapan dengan lawan yang memiliki jurus aneh, sangat cepat, serta tidak terduga.

Ia kembali bergeser jauh menghindari terkaman kedua tangan orang tua itu dan segera melakukan serangan balik. Sebuah lecutan "sendal pancing" yang cepat diarahkan ke lawan. Kali ini, Putu Risang melepas seluruh kemampuan dan kecepatannya karena ia tahu sedikit saja lengah akan berakibat fatal bagi dirinya.

Orang tua itu kembali menunjukkan kelincahannya, hanya bergeser sedikit untuk mendekat, lalu kakinya meluncur mengancam pinggang Putu Risang. "Bagus, tunjukkan seluruh kemampuanmu!" bentaknya. Dengan segenap kemampuan, Putu Risang berhasil menghindari tendangan keras itu.

Serang-menyerang terus berlangsung. Putu Risang dengan cambuknya berusaha menjaga jarak, sementara orang tua itu selalu berusaha merapat. Putu Risang mengerahkan seluruh kemampuan puncaknya untuk mengimbangi lawannya, namun serangan orang tua itu benar-benar berbahaya. Kekuatan orang tua itu sama sekali tidak tampak menurun, bahkan semakin lama semakin dahsyat menekan pertahanan Putu Risang.

Putu Risang merasakan tekanan serangan yang datang seperti ombak bergulung tanpa henti, menguras seluruh tenaganya. Peluh membasahi wajah dan tubuhnya, sementara sang lawan masih seperti sedia kala, tidak berpeluh sedikit pun. Orang tua itu bahkan terus meningkatkan tataran ilmunya satu tingkat lebih tinggi.

Akhirnya, dalam sebuah gebrakan, Putu Risang kehabisan tenaga saat sebuah tangan yang kuat mencengkeram ujung cambuknya. Tangan itu seperti besi yang menjepit erat.

"Akh!" suara tertahan keluar dari bibir Putu Risang saat orang tua itu hanya dengan satu hentakan berhasil merampas cambuknya.

"Sebuah cambuk yang bagus," ucap orang tua itu sambil mengamati senjata di tangannya. "Katakan sejujurnya, apa hubunganmu dengan Empu Dangka?"

"Beliau adalah guru kami," jawab Putu Risang seolah tersihir untuk berkata jujur.

"Sudah kuduga. Ternyata hari ini aku masih bisa bermain-main dengan jurus ilmu cambuknya," kata orang tua itu sambil melemparkan cambuk ke arah Putu Risang.

"Anda mengenal guruku?" tanya Putu Risang sambil menangkap kembali cambuknya.

"Gurumu adalah sahabatku, tapi ia masih punya hutang satu pukulan kepadaku," jawab orang tua itu. Kilatan tajam di matanya meredup, garis wajahnya kini membias penuh rasa murung dan kegelisahan.

"Guruku punya hutang satu pukulan? Aku tidak mengerti," kata Putu Risang. Orang tua itu membuka sedikit pakaian di dadanya, memperlihatkan bekas luka segaris telunjuk orang dewasa di dada kanannya.

"Empu Dangka melukaimu?" tanya Putu Risang.

"Bukan hanya melukai, tapi telah mengubah semua jalan hidupku."

"Mengubah jalan hidupmu?" Putu Risang semakin penasaran.

"Pertanyaanmu memancingku untuk bercerita. Simpan saja pertanyaanmu untuk gurumu, beliau pasti akan menceritakan tentang aku dan tidak akan lupa tentang diriku," ucap orang tua itu. Ia kemudian berjalan meninggalkan Putu Risang sendirian.

"Orang tua yang aneh," gumam Putu Risang sambil memandang langkah orang tua itu yang menjauh dan menghilang di jalan menurun.

Putu Risang tersadar bahwa dirinya masih memiliki tugas. Ia segera melompat ke atas punggung kudanya dan membiarkan hewan itu berjalan sesukanya, sementara benaknya masih dipenuhi pikiran tentang orang tua yang baru saja dijumpainya. Putu Risang kini seperti seekor elang muda yang mulai terbang jauh keluar dari sarangnya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment