Chapter 52
Ternyata di alam luas, begitu banyaknya orang yang memiliki kepandaian yang jauh melampaui dirinya.
"Ternyata kepandaian diriku hanya sekelas sedikit melebihi seorang begundal pasar," kata Putu Risang sambil tersenyum mengingat kembali dua orang begundal tadi yang hendak membawa kabur kudanya.
"Aku harus terus menempa diri," ucap Putu Risang dalam hati, menguatkan hati dan pikirannya untuk selalu menempa diri.
Sementara itu, matahari di hadapan Putu Risang sudah hampir menukik ke barat. Seekor elang jantan terlihat terbang melintas di atas kepalanya, mungkin tengah mencari jalan pulang menemui pasangan betinanya yang tengah mengerami telur-telur mereka di sarangnya.
"Hutan galam," kata Putu Risang dalam hati ketika di hadapannya menghadang sebuah rawa cukup luas yang dipenuhi banyak tumbuhan kayu pohon galam.
Kaki kuda Putu Risang telah terjun berjalan di atas tanah rawa yang berair dangkal, hanya sebatas lutut orang dewasa.
"Semasa mudanya, Tuanku Raden Wijaya benar-benar seorang pengembara sejati, begitu rinci menunjukkan kepadaku jalan menuju Kotaraja Kediri," kata Putu Risang yang merasakan petunjuk dan arahan Raden Wijaya begitu jelas sehingga dirinya tidak merasa sulit menyusuri jalan menuju Kotaraja Kediri untuk pertama kalinya ini seorang diri.
Benar, seorang diri Putu Risang untuk pertama kalinya ke sebuah tempat yang belum pernah didatanginya, meski dalam sebuah mimpi sekalipun.
"Berjalanlah kamu ke arah tenggelam matahari." Perkataan ini begitu sangat dihafalnya; itulah salah satu petunjuk arah yang disampaikan oleh Raden Wijaya kepada Putu Risang.
Sementara itu, matahari sudah mulai bersembunyi rebah di balik gerumbul sebuah hutan di seberang hamparan padang ilalang.
"Padang ilalang," kata Putu Risang dalam hati, menatap sebuah padang ilalang yang cukup luas ketika langkah kaki kudanya mulai menapaki tanah kering meninggalkan tanah rawa.
"Aku akan bermalam di tepi hutan itu," ujar Putu Risang dalam hati sambil memandang ke arah cakrawala langit biru yang sudah mulai meredup.
Demikianlah, ketika Putu Risang telah melewati padang ilalang yang cukup luas, akhirnya ia telah berada di tepi sebuah hutan. Putu Risang mencari tempat yang baik untuk bermalam. Ia mendapatkan sebuah tempat yang baik: sebuah tanah rata di bawah sebuah pohon besar yang cukup rimbun, menghalangi dirinya dari terpaan angin malam yang dingin.
Hari memang masih jauh menjelang malam. Putu Risang tengah duduk sempurna, melakoni sebuah laku rahasia, yaitu cara olah pernapasan untuk memupuk kembali tenaga cadangan. Ia melepas segala alam pikirannya, tertuju hanya pada satu rasa, satu jiwa dalam penyatuan abadi. Putu Risang memang telah menikmati lakunya.
Perlahan, Putu Risang membuka kelopak matanya dan menarik napas panjang. Ia perlahan berdiri dengan sikap siap berlatih, melepaskan beberapa gerakan perlahan, dan semakin lama gerakan itu semakin cepat. Di bawah gelap malam di pinggir sebuah hutan yang sepi, Putu Risang terus berlatih. Ternyata semangatnya telah tumbuh semakin kuat untuk dapat mencapai tataran yang lebih tinggi, terutama ketika dirinya dibenturkan oleh kenyataan pahit bahwa ilmu kepandaiannya masih jauh dari sempurna.
Hingga ketika malam menjadi begitu pekat bersama semilir angin yang cukup dingin, barulah Putu Risang menghentikan latihannya. Ia sudah mulai dapat mengukur sejauh mana kekuatan dirinya, kecepatan geraknya, serta kekuatannya dalam mengungkapkan hawa dingin dan hawa panas yang dapat dilontarkannya.
Tarr!
Putu Risang melecutkan cambuknya ke arah sebuah batu sebesar kepala kerbau dengan kekuatan tenaga cadangan yang penuh. Terlihat batu itu langsung pecah menjadi tiga.
"Aku memang harus terus berlatih," kata Putu Risang sambil menatap pecahan batu di hadapannya. "Aku pernah melihat Tuanku Senapati Mahesa Amping menghancurkan sebuah batu menjadi abu yang beterbangan," katanya dalam hati, mengukur sendiri sejauh mana tataran ilmunya harus ditingkatkan.
Demikianlah di dalam perjalanannya, Putu Risang selalu menyempatkan diri untuk terus berlatih. Perlahan tapi pasti, dengan dasar semangat, sedikit demi sedikit beberapa rahasia yang selama ini terhijab semakin terbuka. Putu Risang mulai menemukan jalur khusus yang lebih terang dan tangkas tentang bagaimana menyerap serta memupuk kekuatan tenaga cadangan yang ada di dalam dirinya. Dengan dasar itu pula, Putu Risang dapat melepaskan kekuatan yang berlipat ganda dari sebelumnya, juga dalam hal meningkatkan kecepatan gerak.
"Guru sejati," kata Putu Risang penuh kegembiraan manakala menemukan cara dan kemudahan baru.
Tarr!
Sebuah batu hancur menjadi banyak pecahan kecil tak berbentuk. Putu Risang berdiri tegap sambil memegang ujung cambuknya. "Masih banyak waktu untukku meningkatkan tataran kemampuanku," ujarnya sambil memandang pecahan batu di hadapannya.
Tidak terasa Putu Risang sudah menempuh perjalanan yang cukup jauh meninggalkan Bumi Majapahit. Hari itu, matahari bulat sudah mulai surut mendekati arah barat cakrawala langit biru, dan Putu Risang sudah berada di sebuah padukuhan yang berada tidak jauh dari Kotaraja Kediri—hanya sejarak satu malam perjalanan.
"Teruslah kamu menyusuri jalan di jalur ini, inilah jalan ke arah menuju Kotaraja," kata seorang penduduk kepada Putu Risang.
Putu Risang tidak bermalam di padukuhan itu, melainkan terus berjalan menyusuri jalan searah menuju Kotaraja Kediri. Seperti hari-hari sebelumnya, Putu Risang selalu mencari tempat untuk berlatih. Ia mendapatkan sebuah hutan kecil yang sepi sebagai tempat untuk beristirahat dan berlatih menjelang sepertiga malam. Sang bulan terlihat mengintip di balik dahan dan ranting, menyaksikan seorang pemuda yang tengah menempa diri. Gerakan pemuda itu seperti bayangan malam, mirip seorang penari, namun semakin lama menjadi semakin cepat sehingga sukar bagi pandangan mata biasa untuk menangkap gerakan itu.
Tarr!
Terdengar sebuah ledakan memecah udara malam. Putu Risang berdiri tegap sedikit merenggang sambil memegang sebuah cambuk pendek yang dibiarkannya jatuh menjuntai menyentuh tanah. Putu Risang merasakan suara cambuknya sudah jauh lebih keras bertenaga. Sementara itu, langit malam di atas hutan sudah semakin berwarna merah; tidak terasa Putu Risang telah menggunakan hampir separuh malamnya untuk berlatih.
Putu Risang berjalan ke arah sebuah batang pohon yang cukup besar dan langsung duduk bersandar untuk melepas kepenatan. Tidak begitu lama, akhirnya Putu Risang terlelap tidur dengan suara napas yang terdengar perlahan.
Warna langit malam perlahan telah berganti kemerahan. Di ujung timur cakrawala, pijar cahaya matahari pagi menyembul, memancarkan warna kuning terang yang semakin melebar. Bersama itu pula terdengar beberapa suara ayam hutan jantan sayup di kejauhan. Satu dua burung kecil terlihat melesat di atas langit hutan yang sudah semakin terang. Putu Risang terbangun dari tidurnya, mencoba menghirup udara pagi di hutan itu yang begitu menyegarkan. Segera, Putu Risang berjalan ke arah kudanya yang diikat di sebuah pohon tidak jauh dari tempatnya beristirahat.
"Kotaraja Kediri tidak jauh lagi," kata Putu Risang sambil mengusap leher kudanya, membiarkan langkah kuda berjalan sekehendak hati menyusuri jalan tanah yang cukup keras. Nampaknya jalan itu sudah begitu sering dilalui orang. Di tengah perjalanan, Putu Risang kadang menemui beberapa pedagang dengan gerobak kudanya dari arah berlawanan.
"Mari kita berpacu," kata Putu Risang sambil menyentakkan kakinya pada perut kudanya. Kuda Putu Risang berlari seperti terbang membelah angin. Udara pagi yang masih segar menambah semangat dan gairah di dalam diri pemuda ini. Kuda Putu Risang semakin jauh berlari menyusuri jalan menuju Kotaraja Kediri.
Sementara itu, mentari terus bergeser mengubah bayang-bayang bumi. Siapa gerangan yang mampu menahan gerak sang surya yang terus merayap di lengkung cakrawala langit terang? Hanya segerombol awan putih kapas yang kadang memayungi para anak gembala dari terik matahari. Perlahan, matahari yang bisu telah jemu turun merayapi tepi ujung barat cakrawala. Cahaya matahari pun semakin meredup, mengukir warna sandikala. Hari telah jatuh di akhir senja ketika kuda Putu Risang memasuki pintu gerbang ujung timur batas kota Kediri.
"Aku harus mencari tempat untuk bermalam," kata Putu Risang ketika langkah kudanya sudah memasuki jalan Kotaraja yang sudah terlihat hampir lengang. Putu Risang melihat beberapa bangunan rumah yang cukup besar dengan pilar penyangga berukir halus dari bahan kayu yang bagus dan kuat. Beberapa rumah megah itu berdiri di kiri kanan jalan Kotaraja Kediri. Hanya satu dua orang yang masih terlihat berjalan.
Akhirnya, setelah bertanya kepada seseorang yang tengah menurunkan gerabah, orang itu mengantar Putu Risang ke rumah sepupunya. "Mabujang itu masih sepupuku, biasa menerima sewa untuk penitipan kuda bagi mereka yang hanya dua-tiga hari di Kotaraja ini," kata orang itu.
Rumah Mabujang memang bukan di pinggir jalan utama. Mereka masuk ke sebuah jalan setapak. "Perkenalkan, sepupuku ini," kata orang itu ketika sampai di rumah Mabujang. Kepada Mabujang, orang itu menyampaikan maksud dan keperluan Putu Risang.
"Orang muda ini perlu tempat tinggal," kata orang itu kepada Mabujang.