Chapter 53
Demikianlah, malam itu Putu Risang telah mendapatkan tempat untuk bermalam bagi dirinya dan kudanya di Kotaraja Kediri. Malam itu, Putu Risang tidak berlatih sebagaimana malam sebelumnya, namun ia menyempatkan diri berlatih olah laku sebelum berbaring tidur. Sementara itu, di langit Kotaraja Kediri, bulan belum bulat sempurna. Udara malam cukup dingin, membuat siapapun di malam itu memilih berdiam diri di kamar dan mengunci rapat-rapat rumah mereka.
Malam itu Putu Risang dapat beristirahat dengan cukup, meski hanya tidur ayam sepanjang malam. Seperti itulah para ksatria pengembara yang selalu terjaga di mana pun berada. Pendengarannya selalu waspada meski mata sudah terpejam. Demikianlah para ksatria menjaga dirinya, baik di tengah hutan sepi maupun di kotaraja yang ramai. Namun, malam itu tidak ada sesuatu pun yang terjadi hingga pergantian pagi.
Pagi itu, Kotaraja Kediri masih diselimuti kabut, sebuah tanda bahwa kotaraja akan menjadi sangat cerah sepanjang hari.
"Silakan dinikmati minuman hangatnya," kata Mabujang kepada Putu Risang di awal pagi itu di atas sebuah balai-balai bambu.
"Terima kasih," jawab Putu Risang sambil mengangkat mangkuk minuman hangatnya.
Dari Mabujang, banyak sekali keterangan yang didapat Putu Risang tentang suasana dan keadaan Kotaraja Kediri.
"Ki Prasojo adalah seniman perak yang sangat terkenal di Kotaraja Kediri. Konon, banyak saudagar yang sengaja datang kemari hanya untuk menunggu karyanya," ujar Mabujang ketika ditanya tentang kerajinan perak di kotaraja yang saat itu sudah dikenal sebagai pusat pengrajin perak.
"Para putri raja pasti sering mendatangi tempatnya," kata Putu Risang.
"Kamu benar, aku sering melihat kereta kencana istana datang ke rumah seniman itu," tambah Mabujang.
Hari itu, Putu Risang berniat mendatangi rumah Ki Prasojo. Tidak susah memang mencari rumahnya. Dengan sedikit petunjuk dari Mabujang, akhirnya Putu Risang dapat menemukan rumah yang berada di ujung pasar Kotaraja Kediri itu.
"Ada yang dapat kubantu, wahai anak muda?" tanya Ki Prasojo ketika menerima kedatangan Putu Risang.
"Ada sedikit keperluan, mudah-mudahan Ki Prasojo dapat membantu," ujar Putu Risang dengan penuh senyum menanggapi keramahan Ki Prasojo.
"Mudah-mudahan aku dapat membantumu," sahut Ki Prasojo masih dengan sikap ramahnya.
Putu Risang mengeluarkan sebuah kotak kecil berukir dari balik pakaiannya. Bukan main terperanjatnya Ki Prasojo setelah melihat batu liontin di dalam kotak itu. Putu Risang memberikan batu tersebut kepada Ki Prasojo untuk diamati lebih jelas.
"Aku mengenal sekali benda ini dan tidak mungkin salah. Aku ikut membantu ayahku mengukir hiasan naga di atas batu ini ketika kami masih tinggal bersama di Kotaraja Singasari," kata Ki Prasojo sambil memandang Putu Risang dengan wajah penuh keheranan, menduga-duga siapakah gerangan anak muda di hadapannya itu.
Putu Risang menerima kembali liontin batu itu. Ia diam-diam memperhatikan bayangan seekor naga di dalam batu tersebut, ditambah hiasan perak berukir naga yang melingkarinya, kian menambah keindahannya. Itulah benda yang dititipkan oleh Raden Wijaya ketika hendak berangkat dari Bumi Majapahit menuju Kotaraja Kediri.
"Benda ini yang kutahu dipesan langsung oleh Pangeran Kertarajasa saat itu, sebelum dirinya menggantikan ayahnya, Maharaja Singasari," ujar Ki Prasojo, tak mampu menahan rasa penasarannya. Ia ingin penjelasan mengapa benda itu berada di tangan anak muda tersebut.
"Ceritanya panjang," kata Putu Risang penuh senyum.
"Aku perlu bantuan Ki Prasojo. Benda ini akan kuserahkan kepada Sri Ratu Turuk Bali, sang permaisuri," ucap Putu Risang dengan suara datar sambil memperhatikan raut wajah Ki Prasojo.
"Mengapa tidak langsung saja kau berikan di istana?" tanya Ki Prasojo.
"Aku hanya orang biasa, bagaimana mungkin dapat diterima di istana?" jawab Putu Risang.
Ki Prasojo mengangguk-angguk, tanda mengerti alasan Putu Risang. "Dua hari lagi Sang Permaisuri akan datang ke rumahku, ada pesanannya yang sudah siap diambil," ujar Ki Prasojo mencoba mencari jalan keluar.
"Terima kasih. Dua hari lagi aku akan datang kemari untuk menyerahkannya langsung kepada Sang Permaisuri," kata Putu Risang penuh kegembiraan.
Demikianlah, Putu Risang pamit kepada Ki Prasojo. Selama dua hari, Putu Risang tinggal di rumah Mabujang. Tidak banyak yang dilakukannya selain berjalan-jalan di sekitar pasar atau berkeliling kotaraja untuk menghilangkan kebosanan. Untuk menggembirakan hati Mabujang, ia selalu membawa buah tangan. Ternyata, Mabujang sangat menyukai kehadiran anak muda ini karena Putu Risang tidak pelit dibandingkan tamu-tamu lainnya.
Namun, perhitungan Putu Risang ternyata tidak semudah yang dikira. Hal ini bermula dari perkataan Ki Prasojo kepada menantunya, seorang perwira prajurit Kediri.
"Kemarin ada seorang anak muda membawa batu naga yang indah. Aku tidak habis pikir mengapa benda berharga itu akan diserahkan langsung olehnya kepada Sang Permaisuri," kata Ki Prasojo kepada menantunya.
Ternyata menantunya itu adalah perwira petugas sandi yang segera menangkap ada sesuatu di balik semua itu. "Jangan-jangan pemuda itu petugas sandi penguasa Tumapel," ujarnya dengan penuh kecurigaan dan dendam kepada orang-orang Tumapel.
Ki Prasojo menyesal telah menceritakan hal itu. Sebagai orang asli Tumapel, ia sendiri sebenarnya telah melupakan permusuhan itu, meski dirinya dulu adalah korban penjarahan prajurit Kediri yang memporak-porandakan Kotaraja Singasari dan menyaksikan ayahnya tewas.
Hari yang ditunggu pun tiba. Matahari pagi mulai naik merayapi cakrawala di atas Kotaraja Kediri. Sebuah kereta kencana yang ditarik empat ekor kuda berhenti di depan rumah Ki Prasojo. Seorang wanita bergaun sutra turun dari kereta; dia adalah Ratu Turuk Bali.
"Pesanan Tuanku Permaisuri sudah kami siapkan," kata Ki Prasojo. Sebagai sesama orang Tumapel, hubungan Ki Prasojo dan Ratu Turuk Bali memang cukup akrab.
"Cincin ini akan kuberikan untuk menantuku," ujar Sang Ratu sambil mengamati barang pesanannya.
"Maafkan hamba, Tuanku Ratu. Kemarin ada seorang pemuda membawa batu naga. Katanya, dia ingin menyerahkan benda itu langsung kepada Tuanku," lapor Ki Prasojo.
"Batu naga?" tanya Ratu Turuk Bali, teringat pada liontin berukir naga tersebut.
"Benar, itulah yang dibawa pemuda itu," jawab Ki Prasojo.
"Apakah aku harus menunggu?" tanya Ratu Turuk Bali.
Belum sempat Ki Prasojo menjawab, pemuda yang ditunggu itu muncul. "Inilah pemuda yang akan menyerahkan benda itu," kata Ki Prasojo memperkenalkan Putu Risang.
"Ampun, Tuanku Ratu. Hamba adalah utusan Raden Wijaya, datang menghadap untuk menyerahkan benda ini," kata Putu Risang dengan penuh hormat.
"Adakah pesan dari keponakanku itu?" tanya Ratu Turuk Bali yang dapat menerka bahwa urusan ini sangat penting.
Wajah Putu Risang menjadi ragu karena keberadaan Ki Prasojo.
"Katakanlah apa pesannya. Ki Prasojo adalah orang kita sendiri dari Tumapel, aku yakin ia dapat merahasiakannya," ujar Ratu Turuk Bali yang membaca keraguan tersebut.
"Ampun, Tuanku Ratu. Biarlah hamba masuk ke dalam sebentar," kata Ki Prasojo yang merasa sungkan.
"Terima kasih, Ki Prasojo," jawab Ratu Turuk Bali.
Setelah Ki Prasojo masuk, Putu Risang berbisik, "Ampunkan hamba. Raden Wijaya hanya berpesan agar Tuanku Ratu segera menjauhi Kotaraja Kediri sebelum datangnya bulan purnama kedua."
"Siapa namamu?" tanya Ratu Turuk Bali saat Putu Risang hendak pamit.
"Nama hamba Putu Risang," jawab Putu Risang sambil merangkapkan kedua tangan sebagai penghormatan terakhir.