Chapter 54
Batu naga perak itu telah mengingatkannya kembali kepada adiknya tercinta, sang Maharaja Singasari, Kertaraja, yang tidak mungkin dapat ditemui lagi. Ia sudah abadi di alam Kharmaphala. Jiwa Ratu Turuk Bali pun seperti terlempar jauh ke sebuah waktu yang begitu menyita hati dan perasaannya, di saat dirinya terentang oleh dua pilihan: memilih keluarga atau pengabdian suci kepada sang suami tercinta.
Kepedihan perasaan Ratu Turuk Bali membuatnya terlempar kembali ke alam nyata hari itu, mengingat dan memecahkan pesan rahasia dari Raden Wijaya yang baru diterimanya lewat seorang utusan, pemuda yang mengaku bernama Putu Risang.
"Mungkinkah sebuah isyarat bahwa Raden Wijaya akan datang ke Kotaraja Kediri bersama bala pasukannya? Sampai kapan pergolakan keluarga ini berakhir?" gumam Ratu Turuk Bali kepada dirinya sendiri, merasa diombang-ambingkan oleh dua perasaan dan dua pilihan yang sangat menyakitkan. Antara pengabdian suci kepada suami dan kecintaannya pada keluarga Tumapel yang telah membesarkannya dengan cinta kasih serta ketulusan hati.
"Ampun, Tuanku Ratu, apakah anak muda itu sudah pergi?" tanya Ki Prasojo. Pertanyaan itu menyadarkan Ratu Turuk Bali dari kebimbangan hatinya. Ratu Turuk Bali tidak langsung menjawab, ia tampak mencoba menarik napas panjang untuk melepas kegundahan.
"Anak muda itu telah pergi," jawab Ratu Turuk Bali setelah mampu menyeimbangkan perasaannya. Ki Prasojo terlihat menarik napas panjang penuh kekhawatiran. Ratu Turuk Bali tidak dapat membaca apa yang dipikirkan oleh pria itu, tetapi kekhawatiran Ki Prasojo terbukti benar. Putu Risang terlihat sudah keluar dari kediaman sang seniman perak tersebut.
Sementara itu, Putu Risang tidak menyadari ada beberapa pasang mata yang mengawasinya. Jarak antara rumah Ki Prasojo dengan kediaman Mabujang memang tidak jauh, namun Putu Risang tidak sadar bahwa ada beberapa orang yang menguntitnya sampai ke sana.
"Sore ini aku akan berangkat meninggalkan Kotaraja," kata Putu Risang kepada Mabujang, seraya menceritakan bahwa urusannya di Kotaraja Kediri telah selesai. Menjelang sore, Putu Risang berkemas untuk melakukan perjalanan pulang ke Bumi Majapahit.
Semilir angin sejuk membelai dedaunan di ujung timur gerbang batas Kota Kediri. Gerumbul awan putih berarak melintasi cahaya matahari, membuat wajah bumi sore menjadi redup dan teduh. Seorang pemuda di atas punggung kudanya tampak melintasi gerbang timur. Dialah Putu Risang yang telah menyelesaikan tugas menyampaikan pesan rahasia Raden Wijaya kepada Ratu Turuk Bali.
Jalan tanah keras yang sering dilalui para saudagar sore itu tampak begitu sepi. Putu Risang belum bersisipan dengan para pedagang yang biasanya datang dan pergi melewati jalur itu. "Waktu datang melewati jalan ini, aku banyak menemui saudagar dengan gerobak kudanya," batin Putu Risang, merasa ada kejanggalan. Ia mulai mempelajari ketajaman panggraitanya, mencoba memahami perasaan yang tiba-tiba muncul dipadukan dengan keadaan kasatmata di hadapannya.
Panggraita Putu Risang terbukti benar. Suara derap kuda di belakangnya terdengar semakin mendekat.
"Berhenti!" bentak seseorang.
Putu Risang merasa suara itu ditujukan kepadanya. Ia membalikkan kudanya menghadap arah suara. Di hadapannya, berdiri sekitar lima belas prajurit Kediri.
"Kembalilah ke Kotaraja, kamu harus kami periksa," ujar salah seorang dari mereka yang tampak menjadi pimpinan pasukan.
"Apakah hamba telah melakukan kesalahan?" tanya Putu Risang dengan suara datar.
"Tidak perlu banyak tanya, ikutlah dengan kami!" gertak pemimpin itu dengan wajah beringas.
"Bagaimana bila aku tidak mau?" balas Putu Risang tenang.
"Kami akan mengikatmu, bahkan mungkin menyeretmu sampai ke Kotaraja!" ancam pemimpin itu.
"Aku ingin tahu apakah prajurit Kediri dapat menyeretku," tantang Putu Risang. Ia menyentak tali kendali dan dengan satu hentakan kaki, kudanya melesat cepat. Kejadian itu berlangsung sangat kilat.
"Kejar!" teriak pemimpin prajurit.
Maka terjadilah kejar-kejaran. Tanah keras bergemuruh oleh tapak kaki kuda, debu mengepul di belakangnya. Matahari yang mulai terbenam membuat suasana adu pacu itu begitu mendebarkan. Kuda Putu Risang tetap melesat di depan tanpa tanding. Pemuda itu tampak penuh semangat, bahkan terlihat menikmati permainan tersebut.
Namun tiba-tiba, Putu Risang menarik kekang kudanya. Sang kuda berhenti seketika dengan dua kaki depan terangkat tinggi. Dua kuda prajurit di belakangnya nyaris menabrak, namun Putu Risang segera melepaskan cambuknya.
*Tar! Tarr!*
Dua lecutan cambuk berselang tipis menumbangkan dua prajurit. Keduanya terlempar dari punggung kuda, jatuh ke tanah, dan pingsan. Putu Risang kembali memacu kudanya.
"Kejar!" seru pemimpin prajurit penuh kemarahan.
Putu Risang terus melesat. Rambut dan pakaiannya berkibar tertiup angin. Tiba-tiba, ia melorot turun ke sisi perut kudanya, hanya berpegang pada tali pelana. Saat prajurit mendekat, Putu Risang menggunakan cambuknya untuk menjerat kaki kuda lawan. Akibatnya, tiga kuda terjatuh bersama penunggangnya yang mengalami cedera.
Putu Risang kembali duduk tegak di punggung kudanya, membiarkan sisa prajurit mengepungnya.
"Serang!" teriak pemimpin mereka.
Namun, cambuk Putu Risang kembali bergerak lebih cepat. Gerakan melingkar cambuk itu menyabet pinggang seorang prajurit hingga ia jatuh merintih. Gerakan kedua, cambuk membelah udara dan menghantam prajurit lain hingga terpelanting dari kudanya. Gerakan ketiga, Putu Risang menggetarkan cambuknya tepat di daun telinga kuda prajurit di belakangnya. Kuda itu meringkik kaget dan berdiri tegak, membuat prajurit penunggangnya terlempar jatuh.
"Cincang pemuda gila ini!" teriak pemimpin prajurit itu, murka melihat anak buahnya jatuh satu per satu.