Halo!

Tapak Tapak Jejak Gajahmada - Chapter 55

Memuat...
Tapak Tapak Jejak Gajahmada

Chapter 55

Jumlah prajurit Kediri itu sudah dapat dihitung dengan jari, hanya tersisa enam orang.

Terlihat Putu Risang memutar perlahan kudanya hampir separuh lingkaran untuk mengawasi serangan yang mungkin datang secara tiba-tiba.

"Tidak leluasa bertempur seorang diri di atas kuda," ucap Putu Risang dalam hati sembari menerobos jalan yang terbuka dari kepungan para prajurit berkuda.

"Mari kita bertempur di atas tanah keras," ujar Putu Risang yang langsung melompat dari punggung kudanya.

Melihat itu, enam orang prajurit tersebut langsung ikut melompat dari punggung kuda mereka. Dengan pedang panjang telanjang di tangan, mereka segera mengurung Putu Risang. Tanpa perintah apa pun dari pemimpin mereka, para prajurit itu langsung menyerang Putu Risang.

Ternyata Putu Risang bukan pemuda biasa. Dirinya telah lama digembleng oleh dua orang sakti, Mahesa Amping dan Empu Dangka. Bukan main geramnya keenam prajurit itu karena merasa penasaran; pemuda itu begitu alot dan sukar sekali ditundukkan. Putu Risang memang tidak langsung membalas menyerang, ia hanya mengandalkan kecepatan geraknya untuk melompat dan menghindar dari kepungan serta serangan para prajurit.

Apa yang ada dalam pikiran Putu Risang? Ternyata serangan para prajurit Kediri itu dianggapnya sebagai teman berlatih. Sebuah pikiran yang sangat nakal dari seorang Putu Risang, padahal pedang tajam yang berseliweran di sekitar tubuhnya adalah hal yang sangat berbahaya.

Kenakalan Putu Risang semakin menjadi-jadi manakala ujung cambuknya secara tepat menyambar kulit pergelangan tangan pemimpin prajurit itu, yang tampak paling bernafsu untuk segera meringkusnya. Pemimpin prajurit itu merasakan pergelangan tangannya sakit luar biasa seperti disengat kumbang api. Tanpa disadarinya, pedang yang tengah diayunkan ke kepala Putu Risang terlepas begitu saja. Belum lagi pedang itu jatuh ke tanah, dengan cepat ujung cambuk Putu Risang telah melibat dan menariknya. Dalam hitungan kedipan mata, pedang itu telah berpindah tangan ke genggaman Putu Risang.

Bukan main terperanjatnya hati pemimpin prajurit itu. Namun, belum hilang rasa terperanjatnya, pedang di tangan Putu Risang sudah mengancam kulit lehernya.

"Perintahkan kepada semua anak buahmu untuk melempar senjata mereka!" ucap Putu Risang dengan nada keras mengancam.

"Lemparkan senjata kalian!" perintah pemimpin prajurit itu kepada anak buahnya dengan peluh sebesar jagung menetes, penuh rasa takut yang amat sangat.

Mendengar perintah pimpinannya, segera semua prajurit yang tersisa melemparkan pedang dari genggaman mereka ke tanah.

"Perintahkan kepada semua anak buahmu naik ke atas kuda dan kembali ke Kotaraja," kata Putu Risang lagi dengan ujung pedang masih menempel di kulit leher pemimpin prajurit itu.

Tanpa menunggu perintah kedua kalinya, pemimpin prajurit itu segera memerintahkan anak buahnya melakukan apa yang diminta Putu Risang. Penuh keraguan, para prajurit itu naik ke punggung kuda dan segera pergi meninggalkan Putu Risang serta pimpinan mereka.

"Sedikit saja kau bergerak, pedang ini akan menembus batang lehermu," ujar Putu Risang dengan wajah dan suara penuh ancaman.

"Kasihanilah aku," pinta pemimpin itu dengan wajah penuh iba, harap, dan ketakutan.

Melihat wajah pemimpin prajurit itu yang begitu mengiba, Putu Risang tidak tega hati lagi. "Pergilah," ucap Putu Risang.

Mendengar perkataan itu, pemimpin prajurit tersebut seperti mendapatkan kembali nyawanya yang hampir melayang. "Terima kasih, terima kasih," ucapnya sambil membungkuk-bungkuk menjauhi ujung pedang dari kulit lehernya.

Putu Risang tersenyum sendiri melihat debu mengepul di belakang kuda pemimpin prajurit yang telah lari menjauh kembali ke Kotaraja Kediri. Bulan masih terlihat terpotong. Langit malam menggelantung memayungi bumi yang senyap, hanya dengung suara malam yang terus mengisi pekatnya hutan berbukit.

Terlihat seorang pemuda berjalan menuntun seekor kuda. Ketika pemuda itu berada di atas tanah lapang di antara jalan mendaki, sedikit sinar bulan menerangi wajahnya yang ternyata adalah Putu Risang. Dengan terpaksa, Putu Risang memilih jalan memutar untuk menghindari jalan yang biasa dilalui banyak orang. Ia memilih melintasi bukit dan hutan agar para prajurit Kediri tidak dapat mengikutinya.

Setelah merasa melewati perjalanan yang cukup jauh, Putu Risang berniat untuk beristirahat. Ia bersandar di sebuah batu besar, terhindar dari terpaan angin dingin malam. Perlahan, warna langit berangsur-angsur berubah kemerahan dipancari cahaya kuning keemasan dari ujung timur bumi; fajar memang baru terbangun mengintip di lengkung langit.

Terdengar suara ayam hutan sayup-sayup di kejauhan saling bersahutan. Putu Risang mulai menggeliat membuka matanya, namun pendengarannya yang terlatih menangkap beberapa suara. Ia segera bersembunyi di sela-sela batu, sementara kudanya diikat di tempat yang tersembunyi.

"Jejaknya menuju ke arah ini," ujar seseorang yang berjalan paling depan diikuti beberapa orang lainnya.

"Para prajurit Kediri," batin Putu Risang sembari mengintip dari sela batu.

Terdapat sekitar dua puluh prajurit Kediri yang sedang berjalan, dipimpin oleh seorang ahli pencari jejak. Putu Risang menarik napas panjang manakala para prajurit itu melewati tempatnya bersembunyi. Ketika dianggap keadaan sudah aman dan mereka sudah pergi jauh, Putu Risang keluar dari persembunyiannya dan segera mengambil kudanya.

Putu Risang menuntun kudanya berjalan menyimpang dari arah para prajurit Kediri, masuk lebih dalam lagi ke dalam hutan, lalu menghilang ditelan kelebatan rimba di keremangan pagi yang dingin.

Matahari pagi mulai naik merayapi langit, cahayanya menembus sela-sela dedaunan di kedalaman hutan. Jalan yang ditempuh Putu Risang kini sedikit mendaki, melewati sebuah bukit. Akhirnya, ia merasa lega ketika kerapatan pohon berkurang dan tiba di tanah datar dengan beberapa pohon yang tumbuh di antara sela batu cadas.

Putu Risang berdiri di atas puncak bukit yang cukup tinggi, dihadapannya terdapat jalan menurun yang terjal berupa tanah cadas berbatu. Dengan susah payah, ia menuruni jalan itu sambil menuntun kudanya. Putu Risang berjalan sangat hati-hati karena terkadang harus melintasi sejengkal tanah berbatu dengan jurang menganga di bawahnya. Tidak terbayangkan apa yang akan terjadi jika seseorang terjatuh di sana. Syukurlah, akhirnya Putu Risang tiba di dasar jurang dengan selamat bersama kudanya.

Ia kini berada di tanah lapang berbatu yang tandus, tempat yang jarang didatangi manusia. Sementara itu, matahari sudah berada di titik tinggi dan cahayanya terasa menyengat tubuh. Putu Risang menaiki kudanya, melangkah perlahan menyisir celah bukit untuk mencari arah jalan pulang menuju Bumi Majapahit.

"Seekor kuda!" teriak seseorang.

Entah dari mana, tiba-tiba muncul empat orang berbadan tinggi besar di hadapan Putu Risang. Putu Risang terkejut melihat keempat orang itu memiliki tubuh dan wajah yang nyaris serupa.

"Kembar empat," batin Putu Risang sembari turun dari kudanya.

Keempat orang kembar itu berjalan semakin dekat. "Menyingkir dari kudamu!" perintah salah seorang di antaranya.

Tiba-tiba, salah satu dari mereka mencengkeram tangan Putu Risang. Bukan main kuatnya cengkeraman itu, seperti menjepit pergelangan tangan sang pemuda. Putu Risang adalah orang yang kuat dan terlatih menggunakan tenaga cadangannya, namun di hadapan orang ini, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Meski telah mengerahkan seluruh tenaga cadangannya, cengkeraman itu tidak dapat dilepaskan. Tenaga orang itu benar-benar perkasa, seperti terhimpun dari lima ekor kuda kuat.

Seperti melempar ranting kering, tubuh Putu Risang dilempar begitu saja hingga terpental jauh menimpa batu cadas besar.

*Buk!*

Suara tubuh Putu Risang yang membentur batu cadas terdengar nyaring. Ia meringis menahan rasa sakit yang hebat di punggungnya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment