Halo!

Tapak Tapak Jejak Gajahmada - Chapter 56

Memuat...
Tapak Tapak Jejak Gajahmada

Chapter 56

Masih dalam keadaan sangat sakit, Putu Risang merasa ingin muntah menyaksikan pemandangan di hadapannya. Dengan mata kepala sendiri, ia melihat keempat orang itu masing-masing memegang satu kaki kuda.

Brett!

Dengan sekali hentakan, kaki kuda itu terlepas hingga ke pangkal paha. Darah kuda berceceran dan mengucur deras. Yang lebih menjijikkan bagi Putu Risang adalah keempat orang kembar itu dengan lahap mengunyah daging kuda tersebut mentah-mentah.

"Manusia liar," batin Putu Risang sembari terus memperhatikan mereka menghabiskan daging kaki kuda itu.

Putu Risang menyadari bahwa dirinya telah berhadapan dengan empat orang yang sangat sakti namun liar. Hal itu tampak jelas dari bola mata mereka yang berkilat buas. Bulu kuduk Putu Risang bergidik manakala tatapan keempat orang itu tertuju kepadanya.

"Darah manis, darah manis," ucap mereka berbarengan sambil menunjuk ke arah Putu Risang.

Namun, Putu Risang bukanlah orang yang lemah. Dengan menguatkan diri menahan rasa sakit di punggungnya, ia memaksakan diri untuk berdiri, siap menghadapi apa pun yang terjadi. Ia melangkah sedikit ke depan dengan kaki merenggang, bersiaga. Bersamaan dengan itu, keempat orang kembar tersebut juga melangkah mendekatinya.

Tiba-tiba, keempat orang itu melesat begitu cepat di luar perkiraan Putu Risang. Dalam sekejap, tangan dan kaki Putu Risang sudah berada dalam genggaman mereka. Ia dicengkeram oleh empat pasang tangan yang sangat kuat hingga tidak kuasa meronta sedikit pun. Putu Risang pasrah; ia membayangkan tubuhnya akan terpecah empat seperti kuda kesayangannya.

"Pecah empat!" hanya itu yang terpikirkan olehnya. Ia memejamkan mata, bersiap menahan rasa sakit saat bagian tubuhnya ditarik lepas. Namun, baru saja ia memejamkan mata, terdengar sebuah bentakan yang memekakkan telinga.

"Lepaskan!" suara itu terdengar keras dan melengking.

Putu Risang terkejut dan membuka matanya. Seketika, cengkeraman keempat orang kembar itu mengendur.

Bukk!

Tubuh Putu Risang jatuh ke tanah.

"Kalian bodoh! Biarkan manusia itu tetap hidup agar kita bisa menikmati darah manisnya kapan saja," ujar seseorang dengan suara melengking.

Putu Risang menoleh dan mendapati pemilik suara itu adalah seorang wanita tua. Keempat orang kembar itu mundur secara bersamaan, tampak ketakutan terhadap wanita tersebut. Wanita tua itu kemudian mendekati Putu Risang. Wajahnya penuh kerutan dengan rambut putih panjang terurai hingga ke pinggang. Sorot matanya sangat tajam, membuat siapa pun yang memandangnya akan merasa ngeri.

Tanpa disangka, wanita itu bergerak secepat kilat. Tiba-tiba, jari tangannya yang dingin menyentuh tengkuk Putu Risang, melumpuhkan seluruh tubuh pemuda itu. Meski begitu, diam-diam Putu Risang mencoba mengerahkan tenaga cadangan dan hawa murninya untuk menembus urat darah yang ditutup oleh wanita itu.

"Ternyata kamu punya sedikit hawa murni," ujar wanita itu sambil tersenyum tipis. Senyumnya sangat menakutkan, mencerminkan pribadi yang dingin dan kejam tanpa belas kasihan.

Tiba-tiba, wanita itu meremas pergelangan tangan dan kaki Putu Risang dengan sangat keras. Pemuda itu hanya bisa meringis dalam hati karena tenggorokannya pun ikut lumpuh. Ia merasa tenaga wadag dan tenaga cadangannya terkuras habis.

"Bawa manusia ini ke dalam gua. Jaga sampai tiba saatnya bulan purnama agar kita bisa berpesta menikmati darahnya," perintah wanita itu.

Putu Risang diseret seperti seonggok daging buruan oleh salah satu orang kembar ke dalam gua yang tidak jauh dari tempat itu. Ternyata mereka tinggal di dalam gua tersebut. Putu Risang diseret hingga ke ujung gua yang buntu, lalu ditinggalkan sendirian dalam keadaan tidak berdaya.

Meski tenaganya terkuras, Putu Risang masih mampu mengamati keadaan sekitar. Cahaya samar dari mulut gua membantunya melihat bahwa lantai di sekitarnya dipenuhi tulang-belulang manusia.

"Di sinilah mereka membantai korbannya," batin Putu Risang. Ia membayangkan bahwa cepat atau lambat, dirinya akan menjadi korban berikutnya. "Ternyata petualanganku hanya sampai di sini," lanjutnya pasrah.

Perlahan, suasana gua menjadi gelap gulita seiring datangnya malam. Putu Risang tidak mampu lagi melihat atau mendengar apa pun karena rasa kantuk dan kelumpuhan saraf yang menyerangnya.

Malam berganti pagi. Para penghuni gua mulai terbangun dan bergerak keluar, termasuk Putu Risang yang masih berada di ujung gua. Seiring berjalannya waktu, daya lumpuh dari totokan wanita tua itu mulai memudar. Putu Risang perlahan mulai mampu menggerakkan anggota tubuhnya dan menyandarkan punggung ke dinding gua.

Matanya kembali menyisir isi gua. Selain tulang-belulang, hanya ada lima buah mangkuk yang terbuat dari batu.

"Mangkuk tempat darah," pikirnya ngeri.

Putu Risang adalah pemuda yang tabah. Ia tidak ingin menyerah begitu saja. Matanya terus mencari jalan keluar hingga pandangannya tertuju pada seekor tikus. Tikus itu berlarian di sekitar gua, mengendus tulang, hingga akhirnya masuk ke dalam sebuah lubang di sisi seberang tempat Putu Risang duduk.

"Sebuah lubang," gumamnya saat melihat tikus itu menghilang ke dalam lubang sebesar tubuh orang dewasa tersebut.

Putu Risang yakin para penghuni gua sedang berada di luar. Tanpa berpikir panjang, ia memaksakan diri mendekati lubang itu. "Siapa tahu ini jalan untuk lepas dari mara bahaya," batinnya. Tanpa ragu, Putu Risang segera menuruni lubang tersebut.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment