Chapter 57
Rongga lubang itu hanya sebesar tubuh orang dewasa. Hanya dengan melebarkan lututnya, Putu Risang dapat terus menuruni lubang itu.
Cukup lama Putu Risang menuruni lubang tersebut dengan menekan lututnya ke sisi dinding lubang untuk menahan diri agar tidak merosot jatuh ke bawah, ke tempat yang tidak diketahui seberapa jauh dasar dan kedalamannya.
Hingga akhirnya, Putu Risang mendapati rongga lubang itu semakin melebar, dan kaki Putu Risang yang direntangkan pun tidak mampu lagi menjangkaunya. Lubang itu sangat gelap pekat; mata Putu Risang tidak dapat melihat dasar lubang tersebut.
Sementara itu, tenaga Putu Risang sudah dibuat cacat dan tidak lagi memiliki tenaga cadangan. Hanya dengan mengandalkan tenaga wadag yang memiliki daya ketahanan terbatas, ia mencoba tetap bertahan di dalam lubang itu dengan bergelantung di antara kedua kakinya.
Terlihat peluh deras mengalir membasahi sekujur tubuh pemuda itu. Cukup lama Putu Risang bergelantung dan tidak ada niatan untuk kembali naik ke atas mulut lubang. Namun, Putu Risang merasakan tenaganya semakin melemah, sementara dinding lubang terasa semakin licin. Hingga akhirnya, pemuda itu tidak dapat lagi bertahan.
*Bless!*
Kaki dan tubuh Putu Risang terlepas, merosot, dan terjatuh meluncur di antara rongga dinding gua itu. Tubuh Putu Risang terus meluncur, namun keberanian anak muda itu memang patut dibanggakan; ia tidak membiarkan matanya terpejam sedikit pun dan terus mencari jalan. Putu Risang tidak mendapatkan apa pun yang dapat digapai dengan tangannya, hingga akhirnya ia merasakan tubuhnya terhempas di atas air.
*Blum!*
Putu Risang tercebur ke atas air di dasar lubang itu. Seluruh tubuhnya hilang di dalam air. Masih dalam kesadaran utuh, Putu Risang merasakan kakinya telah menyentuh dasar air, maka ia segera menghentakkan kakinya untuk meluncur ke permukaan. Ternyata air itu tidak begitu dalam meski tidak bisa dikatakan dangkal, akhirnya Putu Risang berhasil mencapai permukaan.
Dengan mata terbuka, Putu Risang mencoba menyapu pandangannya untuk melihat sekeliling. Di tengah suasana yang gelap, ia mencoba membiasakan penglihatannya. Akhirnya, sambil berenang terapung, mata Putu Risang mulai terbiasa dengan kegelapan; ia dapat melihat sekeliling dan menangkap arah tepian yang terdekat.
Ternyata Putu Risang terjatuh di atas sebuah lingkaran kubangan mata air yang cukup lebar, yang merupakan dasar lubang gua tersebut. Tak terbayangkan jika dasar lubang gua itu adalah batu cadas, tentu tubuh pemuda itu sudah pasti terhempas dengan keras dan hancur.
Pemuda itu kemudian berada di tepi kubangan mata air dan langsung mengangkat tubuhnya keluar dari air.
"Kubangan mata air," ucap Putu Risang sambil menarik napas panjang, merasa dirinya telah diselamatkan.
Namun, naluri kewaspadaan pemuda itu tetap terjaga. Ia mencoba mengamati keadaan sekitar dan menyadari bahwa dirinya berada di sebuah gua yang cukup luas. Putu Risang terus mengamati setiap sudut gua, hingga tiba-tiba saja matanya tertahan ke suatu tempat.
Bukan main terperanjatnya Putu Risang melihat sesuatu yang begitu aneh. Ia melihat seonggok tubuh dengan kedua tangan dan kakinya yang buntung. Yang lebih membuatnya terperanjat lagi adalah bahwa manusia tanpa kaki dan tangan itu tengah memandangnya. Dua pasang mata itu pun beradu pandang.
"Jangan takut, anak muda. Aku juga manusia biasa sepertimu," ucap pemilik tubuh itu kepada Putu Risang dalam keadaan berbaring.
Suara orang itu begitu ramah, menghilangkan rasa seram di hati Putu Risang. Bahkan, di hati anak muda itu justru tumbuh rasa kasihan. Putu Risang berdiri, berjalan ke arah orang itu, dan duduk di dekatnya. Ia melihat dengan jelas keadaan orang itu yang ternyata seorang pria yang belum begitu tua. Rambutnya panjang dengan sedikit uban. Wajahnya sangat bersih dengan sepasang alis tebal sebagai pertanda seseorang yang cerdas dan mempunyai kemauan keras.
"Pasti wanita berhati iblis itu yang telah memunahkan seluruh tenaga cadanganmu," ucap orang itu. Ia langsung mengetahui keadaan diri Putu Risang, pertanda bahwa ia bukan orang sembarangan.
"Benar, aku tertangkap dan disekap di dalam gua mereka," jawab Putu Risang membenarkan perkataan orang itu.
"Hanya orang yang punya nyali besar saja yang berani terjun lewat sebuah lubang," ujar orang itu sambil memandang Putu Risang penuh kekaguman.
Entah mengapa, Putu Risang langsung menyukai orang itu. "Namaku Putu Risang," ujarnya memperkenalkan diri.
"Orang memanggilku Kumbara," jawab orang itu menyebut namanya.
"Bagaimana Ki Kumbara bisa berada di sini?" tanya Putu Risang.
"Ceritanya sangat panjang, anak muda," jawab Ki Kumbara sambil menarik napas panjang.
"Mari kita berbincang di sudut sana," ajak Ki Kumbara sembari menunjuk dengan kepalanya ke sebuah sudut gua, mungkin merasa kasihan melihat Putu Risang harus membungkukkan kepala saat berbicara.
Putu Risang mengerutkan kening menyaksikan orang itu bergerak dengan cara bergulir menuju sudut gua. Putu Risang pun mengikuti langkahnya. Di sudut gua, Ki Kumbara dengan mudah mengangkat badannya dan bersandar di dinding. Ki Kumbara melempar senyum ke arah Putu Risang yang memandangnya sebagai orang ganjil; Ki Kumbara memaklumi hal itu dan tidak tersinggung.
"Sudah menjadi suratan takdir bahwa aku menjadi seperti ini," kata Ki Kumbara sambil menarik napas panjang, seolah mengumpulkan ingatan untuk memulai cerita tentang bagaimana dirinya terkurung di dalam gua di bawah perut bumi itu.
Ki Kumbara memulai ceritanya dengan mengatakan bahwa ayahnya dan wanita tua itu adalah saudara seperguruan di sebuah padepokan. "Orang menyebut wanita tua itu dengan panggilan Nyi Pruti," ucap Ki Kumbara menyebut nama wanita yang telah menyekap Putu Risang. "Dan keempat lelaki kembar bersamanya adalah para putranya."
Ki Kumbara diam sejenak, matanya memandang ke arah langit-langit di atas kubangan mata air. "Ayahku dan Nyi Pruti punya sifat buruk yang sama; punya kebiasaan mencuri barang dan ilmu milik orang lain. Kebiasaan buruk itulah yang membawa mereka berangkat ke Gunung Wilis setelah mendengar kabar bahwa di lereng gunung itu hidup seorang pertapa sakti yang memiliki kitab pusaka. Entah dengan kelicikan apa, keduanya berhasil membawa lari kitab pusaka milik pertapa itu berupa tujuh buah kulit rontal," lanjut Ki Kumbara.
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan, "Aku tidak tahu apa yang terjadi di antara mereka hingga akhirnya mereka berbagi kitab pusaka itu. Ayahku mendapat dua buah rontal, sementara Nyi Pruti membawa sisanya. Terakhir kuketahui bahwa yang dimiliki ayahku adalah rontal halaman pertama dan terakhir."
Putu Risang menyimak dengan penuh perhatian.
"Rupanya Nyi Pruti tidak sabaran dan langsung mempelajari isi dari rontal yang dibawanya. Ia berisi ajaran olah napas untuk menghimpun tenaga sakti dan tenaga cadangan di dalam diri. Itulah awal nasib buruk yang menyeret diriku terkurung di sini," ujar Ki Kumbara.
"Sebuah cerita yang sangat menarik, lanjutkan, Ki," pinta Putu Risang.
Ki Kumbara tersenyum melihat raut wajah anak muda itu yang tidak sabaran. "Beruntung Nyi Pruti dan keempat putra kembarnya dapat menerapkan ilmu sakti itu. Dalam waktu singkat, hawa sakti mereka meningkat pesat, tapi bersamaan dengan itu pula mereka mendapat penyakit aneh: selalu merasa sangat kehausan. Air tidak mampu melebur rasa dahaganya, dan puncak rasa haus itu dirasakan saat bulan purnama."
"Bersyukur Nyi Pruti punya keahlian ilmu pengobatan yang mumpuni. Ia berhasil menemukan penawar dari penyakit aneh itu. Ada sebuah tanaman buah yang hidup satu-satunya di tempat kamu bertemu dengan mereka. Namun, saat bulan purnama, Nyi Pruti harus menambahnya dengan darah manusia."
"Seorang wanita berhati kejam," sela Putu Risang membayangkan berapa banyak nyawa yang telah melayang di tangan Nyi Pruti.
"Itulah sebabnya mereka tidak pernah jauh dari tanaman itu," kata Ki Kumbara.
Sementara itu, Putu Risang teringat kembali pertemuannya dengan keempat putra Nyi Pruti. "Pantas tenaga sakti mereka begitu luar biasa," batin Putu Risang.
"Namun akhirnya mereka bosan dan jenuh tinggal di tempat terpencil itu. Mereka berniat untuk merebut dua buah rontal milik ayahku yang mereka yakini sebagai jalan kesempurnaan dari ilmu yang telah mereka miliki," pungkas Ki Kumbara.