Halo!

Tapak Tapak Jejak Gajahmada - Chapter 62

Memuat...
Tapak Tapak Jejak Gajahmada

Chapter 62

"Aku menyerah," kata orang tua aneh itu dengan napas terputus-putus.

"Aku juga sudah jemu bermain," sahut Putu Risang sembari melilitkan cambuknya kembali ke pinggang dengan senyum kegembiraan.

"Aku seperti tidak berhadapan dengan anak muda yang dulu pernah kurebut cambuknya," ujar orang tua itu sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal dengan wajah penuh rasa penasaran.

"Terima kasih telah meluangkan waktunya," pamit Putu Risang sambil melompat ke atas punggung kudanya.

Masih sambil menggaruk-garuk kepala, orang tua itu memandang langkah kuda Putu Risang hingga menghilang di jalanan yang menurun.

Ketika matahari telah terbenam di penghujung senja, langkah kaki kuda Putu Risang sudah berada di jalan Padukuhan Maja. Putu Risang merasa jaraknya ke Bumi Majapahit sudah sangat dekat. Entah mengapa, semakin mendekati Bumi Majapahit, ada debar yang ia rasakan.

Debar perasaan rindu? Entahlah. Putu Risang masih belum menyadari perasaan apa yang selalu timbul di hatinya, membaur dengan keinginan bertemu dengan semua kerabat dekatnya di Bumi Majapahit.

Wajah Endang Trinil terus terbayang di antara lintasan wajah Mahesa Amping, Pendeta Gunakara, Nyi Nariratih, dan ketiga bocah nakal yang selalu bersamanya seharian penuh. Memang ada debar yang berbeda ketika wajah Endang Trinil tiba-tiba melintas dalam pikirannya.

Hingga akhirnya, Putu Risang memasuki Bumi Majapahit saat malam telah tiba. Getaran debar jantungnya terasa kencang tak terkendali. Ia tidak memikirkan apa pun selain kegembiraan karena telah kembali di depan pasanggrahan Mahesa Amping dan keluarganya.

Temaram warna pelita malam bergantung di atas pendapa pasanggrahan ketika Putu Risang tengah mengikat tali kendali kudanya.

"Putu Risang," sapa seorang lelaki berwajah tampan, Mahesa Amping, yang berdiri menjenguknya di batas pagar pendapa. Terlihat seorang tua mengikuti langkah Mahesa Amping, yakni Pendeta Gunakara.

"Senang dapat melihatmu kembali," ujar Mahesa Amping sambil memeluk Putu Risang penuh kerinduan.

"Doa kami selalu menyertaimu, wahai anak muda," sambung Pendeta Gunakara dengan wajah penuh kegembiraan.

"Bawa kudamu ke belakang. Setelah bersih-bersih, aku ingin mendengar cerita perjalananmu," perintah Mahesa Amping.

Ketika malam mulai larut, suasana di pendapa pasanggrahan keluarga Mahesa Amping masih dipenuhi suara kegembiraan. Putu Risang menceritakan semua yang ia rasa dan temui dalam perjalanan tugas pertamanya sebagai utusan rahasia Raden Wijaya. Namun, mengenai kitab pusaka pertapa Gunung Wilis, ia sengaja merahasiakannya. "Pada suatu saat, aku akan bercerita kepada Tuanku Senapati Mahesa Amping," janji Putu Risang dalam hati perihal ilmu rahasia yang tidak sengaja didapat dari Ki Kumbara di dalam sebuah gua.

Keesokan harinya, Mahesa Amping membawa Putu Risang menghadap Raden Wijaya. Bukan main gembiranya Raden Wijaya mendengar pesan tersebut telah sampai langsung kepada Ratu Turuk Bali.

"Apapun keputusannya, aku sudah merasa tidak berdosa lagi sebagai seorang kemenakan," kata Raden Wijaya sambil menarik napas panjang. Ia memahami betapa sulit posisi Ratu Turuk Bali yang harus berdiri di dua kubu yang sama-sama dicintainya: antara suami dan keluarga yang telah membesarkannya.

"Kami bermaksud hendak ke tanah lapang melihat kesiapan pasukan Ki Sandikala," ujar Mahesa Amping kepada Raden Wijaya.

"Tadinya aku ingin mengajakmu ke Benteng Tanah Ujung Galuh untuk membicarakan kesepakatan antara kita dan panglima besar pasukan Mongol," jawab Raden Wijaya. Putu Risang menangkap bahwa armada besar bangsa Mongol itu sudah tiba di Bandar Tanah Ujung Galuh. Namun, ia tidak bertanya apa pun.

Mahesa Amping dan Putu Risang pun berjalan menuju tanah lapang untuk menemui Ki Sandikala yang sedang menempa pasukan khusus. Di sana, mereka juga bertemu Menak Koncar, Menak Jingga, serta Putut Prastawa. Mata Putu Risang tertuju pada seorang gadis yang berdiri bersama mereka: Endang Trinil.

Saat Mahesa Amping bercakap-cakap dengan Ki Sandikala, Endang Trinil mendekati Putu Risang. "Kapan Kakang Putu Risang datang?" tanya gadis itu.

"Kemarin malam," jawab Putu Risang singkat dengan jantung berdebar kencang.

"Aku bosan di sini. Apakah Kakang bersedia mengantar aku ke Bandar Tanah Ujung Galuh?" tanya Endang Trinil.

"Aku bersedia," jawab Putu Risang. Meski hatinya merasa gembira, ia juga merasa canggung berjalan bersama seorang gadis. Endang Trinil tampak senang sekali dan segera meminta izin kepada Ki Sandikala. Setelah mendapat restu, mereka berjalan beriringan menuju Bandar Tanah Ujung Galuh.

Kecanggungan Putu Risang perlahan terkikis oleh canda ceria Endang Trinil. Saat tiba di Padukuhan Ujung Galuh, mereka melihat beberapa prajurit berjaga. Endang Trinil menjelaskan bahwa prajurit asing di bandar itu dikenal kasar dan sering berbuat onar, itulah sebabnya Raden Wijaya menempatkan penjagaan ketat.

Sesampainya di Bandar Tanah Ujung Galuh, mereka melihat sekitar tiga belas perahu asing yang sangat besar. Suasana di bandar itu sangat ramai. Tiba-tiba, seorang prajurit asing yang tercium aroma minuman keras menghampiri mereka.

"Duhai anak manis, tunjukkan padaku di mana tempat tinggalmu agar aku bisa mampir nanti malam," goda prajurit asing itu.

Putu Risang hendak menarik tangan Endang Trinil untuk menjauh, tetapi ia terkejut melihat sikap sang gadis. Endang Trinil justru tersenyum genit, "Mengapa harus menunggu nanti malam? Itu terlalu lama."

Prajurit asing itu segera menyambar tangan mungil Endang Trinil. Namun, dengan gerakan sangat cepat, Endang Trinil memutar pergelangan tangan pria asing itu dan menghentakkannya hingga membuat si prajurit terhuyung ke depan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment