Halo!

Tapak Tapak Jejak Gajahmada - Chapter 64

Memuat...
Tapak Tapak Jejak Gajahmada

Chapter 64

Dilihatnya keduanya tampak tidak mengerti arah pembicaraannya.

"Panglima besar itu menerima permintaan Tuanku Raden Wijaya. Namun, aku yakin sekali sebagaimana keyakinan Tuanku Raden Wijaya bahwa pada saatnya panglima besar itu akan mengingkari persetujuannya," ujar Mahesa Amping menyampaikan pemikirannya kepada Pendeta Gunakara dan Putu Risang yang masih terlihat belum mengerti ke mana sebenarnya arah pemikiran Mahesa Amping.

"Keingkaran panglima besar pasukan Mongol itu sudah diperhitungkan oleh Tuanku Raden Wijaya. Itulah sebabnya, jauh-jauh hari beliau telah menugaskan Ki Sandikala untuk menyiapkan sebuah pasukan khusus," kata Mahesa Amping sambil tersenyum menatap Pendeta Gunakara dan Putu Risang yang tampaknya sudah dapat mengerti arah pembicaraan Mahesa Amping.

"Sebuah rencana yang hebat," kata Pendeta Gunakara.

"Bersyukurlah bahwa bersama kita ternyata ada seorang pemikir ulung. Semua rencana itu adalah hasil pemikiran Ki Sandikala," kata Mahesa Amping menjelaskan bahwa pemikiran rencana besar itu adalah buah pikir dari Ki Sandikala.

"Belakangan kuketahui bahwa orang tua yang sederhana itu ternyata memiliki garis darah Raja Erlangga. Di tangannya sendiri berada sebuah benda wahyu keraton, sebuah keris pusaka milik Raja Erlangga, Keris Nagasasra, yang sudah lama tidak terdengar lagi keberadaannya. Dan dengan penuh keikhlasan, ia telah menyerahkan keris pusaka itu kepada Tuanku Raden Wijaya," ujar Mahesa Amping kembali.

Suasana di atas pendapa itu pun seketika menjadi hening. Tampaknya mereka tengah berada di dalam angan-angan masing-masing. Apa yang ada dalam benak Putu Risang saat itu? Ternyata pikiran Putu Risang jauh melayang ke Kotaraja Kediri, sebuah tempat yang belum lama disinggahi; sebuah kotaraja yang damai, dipenuhi rumah-rumah besar yang elok di sepanjang jalan.

Kemudian, bayangan pikiran Putu Risang berganti kepada sebuah gambaran huru-hara yang besar. Sebuah peperangan besar melanda kotaraja; tangis dan jeritan pilu terdengar dari mereka yang berduka. Bayangan dalam benak Putu Risang seakan melihat beberapa rumah di kotaraja itu terbakar api besar, menyisakan abu dan puing-puing kayu yang hangus.

"Purnama kedua sudah tidak akan lama lagi," kata Mahesa Amping membuyarkan lamunan Putu Risang.

Perkataan Mahesa Amping itu kembali membawa angan-angan Putu Risang ke sebuah peperangan hebat antara dua pasukan yang berseteru, diiringi hiruk-pikuk dan denting suara senjata beradu, juga suara rintihan menyayat hati dari beberapa prajurit yang terluka.

"Aku berharap pada saat kami pergi ke medan pertempuran, Tuan Pendeta dapat menjaga keluarga kami di Bumi Majapahit ini," kata Mahesa Amping kepada Pendeta Gunakara.

"Aku akan menjaganya sebagaimana menjaga keluargaku sendiri," jawab Pendeta Gunakara.

"Terima kasih," ujar Mahesa Amping kepada Pendeta Gunakara.

Kembali suasana di atas pendapa itu menjadi hening, masing-masing tengah mengembara dalam angan dan bayangan pikirannya sendiri-sendiri.

"Ternyata aku tidak bisa bergeser sedikit pun dari garis hidupku sendiri, datang ke sebuah peperangan demi peperangan. Namun, peperanganku kali ini adalah sebuah perjuangan bangsa, perjuangan sebuah bangsa untuk meraih kedamaian abadi. Kebanggaanku dalam peperangan itu adalah bahwa aku ada bersama sebuah cita-cita membangun kemandirian dan kesejahteraan bangsa," kata Mahesa Amping, kemudian ia terdiam sejenak.

"Tahukah kalian apa yang telah membakar diriku sekembalinya dari perundingan dengan panglima pasukan asing itu?" tanya Mahesa Amping.

Terlihat Putu Risang dan Pendeta Gunakara tidak menjawab; mereka tahu bahwa Mahesa Amping sendirilah yang akan menjawab pertanyaannya.

"Panglima besar pasukan itu meminta sebuah kesepakatan yang sangat berat untuk diterima oleh Tuanku Raden Wijaya. Apakah permintaannya itu? Tidak lain adalah sebuah permintaan agar Tuanku Raden Wijaya menyanggupi bahwa kelak bila kemenangan berada di pihak mereka, Tuanku Raden Wijaya sebagai penguasa baru di Jawadwipa harus tunduk patuh kepada kekuasaan besar Yang Dipertuan Agung Kaisar Kubilai Khan. Setiap tahun harus menyampaikan upeti, serta memberi keamanan dan perlindungan kepada para pedagang mereka untuk masuk lebih jauh lagi ke nusa timur matahari, hingga ke tanah Gurun tempat tumbuhnya pala," kata Mahesa Amping.

"Itulah yang membakar diriku, menghalalkan diriku ikut dalam peperangan ini," tambah Mahesa Amping.

Kembali suasana di atas pendapa itu hening; masing-masing kembali dalam alam pikirannya sendiri. Sekali-sekali terdengar suara katak yang tercekik, mungkin setengah tubuhnya sudah berada di mulut seekor ular belang di sebuah semak-semak. Keheningan suasana awal malam di atas pendapa pasanggrahan Mahesa Amping kembali mencair ketika Putu Risang meminta diri untuk pergi ke sebuah sungai kecil di dekat persawahan Bumi Majapahit.

"Aku ingin membangun pliridan di sungai kecil, pasti pliridan yang lama sudah rusak tergilas hujan. Mereka pasti senang melihat kubangan sudah dipenuhi banyak ikan yang terjebak," kata Putu Risang yang langsung berdiri pergi ke belakang untuk mengambil cangkul.

"Semoga besok aku akan menikmati masakan pecak gabus yang nikmat," kata Pendeta Gunakara mengiringi langkah kaki Putu Risang yang tengah berjalan ke arah pintu butulan.

Malam nampaknya sudah menyelimuti bumi Majapahit di sebuah sungai kecil, tempat Putu Risang tengah membangun sebuah pliridan baru, sebuah gundukan tanah berlubang tempat air memancur ke atas. Air mancur yang segar itu akan memancing keinginan beberapa ikan yang langsung melompat dan terjebak di sebuah kubangan tanah liat yang licin dan basah.

"Siapa yang punya kecerdikan membuat pliridan ini?" kata Putu Risang dalam hati, menatap bangunan pliridan yang baru saja diselesaikannya dengan senyum kepuasan, berharap besok pagi akan melihat banyak ikan terjebak di lubang itu.

"Yang pasti seorang ayah yang senang melihat anak-anaknya makan ikan dengan lahapnya," kata Putu Risang dalam hati membayangkan kehidupannya nanti sebagai kepala rumah tangga. Bayangan seorang istri di benak Putu Risang saat itu pastilah seorang gadis manis pemilik senyum menawan itu, Endang Trinil.

Namun, tiba-tiba saja pendengaran Putu Risang yang cukup terlatih, terutama setelah mendalami ilmu rahasia pusaka pertapa Gunung Wilis, menangkap suara langkah kaki.

"Semula aku tidak yakin kamu akan datang ke sungai kecil ini," kata seseorang pemilik langkah kaki itu ketika sudah dekat dengan Putu Risang.

"Kakang Menak Koncar sengaja datang ke sungai ini untuk menemui aku?" tanya Putu Risang kepada seorang lelaki yang ternyata adalah Menak Koncar, salah seorang putra Ki Sandikala.

"Benar, aku memang datang ke sungai kecil ini hanya untuk menemuimu," kata Menak Koncar dengan suara datar.

"Mengapa tidak menunggu besok? Aku tidak ke mana-mana," kata Putu Risang dengan sikap penuh tanda tanya, belum dapat menduga apa kepentingan Menak Koncar menemui dirinya.

"Aku ingin pembicaraan kita tidak diketahui oleh siapa pun," kata Menak Koncar masih dengan suara yang sangat dingin dan datar.

"Adakah sesuatu yang begitu penting harus dibicarakan kepadaku di malam ini?" tanya Putu Risang masih dalam ketidaktahuan.

"Pembicaraan kita berhubungan dengan Endang Trinil," kata Menak Koncar sambil menatap wajah Putu Risang dengan tatapan mata yang sangat tajam.

"Ada apa dengan Endang Trinil?" tanya Putu Risang dengan hati penuh rasa tanya.

"Aku ingin kamu menjawab pertanyaanku, bukan bertanya," kata Menak Koncar masih dengan suara yang datar dan dingin.

"Aku akan mencoba menjawab pertanyaanmu," kata Putu Risang yang mulai tersinggung dengan sikap Menak Koncar yang dingin itu, apalagi ternyata pembicaraan itu berhubungan dengan Endang Trinil. Terlihat Putu Risang telah membawa dirinya ke sosok sejatinya, seorang pemuda yang tidak pernah mengenal rasa takut.

"Bagus, pertanyaan pertamaku adalah apakah kamu mencintai Endang Trinil?" tanya Menak Koncar kepada Putu Risang, diam-diam mengakui bahwa sikap Putu Risang sangat jantan di depannya.

Putu Risang tidak langsung menjawab. Ia merasa aneh bahwa di malam sesepi ini, Menak Koncar datang menemuinya hanya untuk menanyakan perasaan hatinya kepada Endang Trinil. Tapi, ia tidak ingin membuat Menak Koncar terlalu lama menunggu jawaban darinya.

"Aku memang mencintainya," kata Putu Risang singkat, ingin segera mendengar tanggapan Menak Koncar.

"Bagus, ternyata kamu cukup jantan menjawab pertanyaanku itu," kata Menak Koncar dengan senyum kecut.

"Hanya sebuah pertanyaan ini sehingga Kakang Menak Koncar menemui diriku?" tanya Putu Risang dengan sikap penuh kehati-hatian, menduga-duga ke mana arah tujuan Menak Koncar.

"Bukan hanya pertanyaan ini, aku sengaja datang menemuimu untuk mengatakan bahwa aku juga telah lama mencintainya," kata Menak Koncar kepada Putu Risang masih dengan tatapan mata yang tajam seperti menusuk langsung ke rongga dada.

Terlihat Putu Risang terhentak, tidak menduga bahwa Menak Koncar ternyata memiliki perasaan yang sama dengannya, sama-sama mencintai Endang Trinil. Tapi, Putu Risang tidak ingin Menak Koncar mengetahui perasaannya yang terguncang. Ia menarik napas dalam-dalam.

"Semua keputusan berada di tangan Endang Trinil," kata Putu Risang mencoba mengendalikan perasaan dirinya.

"Endang Trinil sudah memutuskan, bahwa dirinya hanya mencintaimu," kata Menak Koncar langsung menyambung perkataan Putu Risang seperti sudah tahu apa yang akan dikatakan oleh pemuda itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment