Halo!

Tapak Tapak Jejak Gajahmada - Chapter 65

Memuat...
Tapak Tapak Jejak Gajahmada

Chapter 65

Putu Risang tampak terkejut. Ia tidak menyangka Menak Koncar langsung menanggapi perkataannya dengan kalimat yang memengaruhi perasaannya.

"Endang Trinil mencintaiku, memilih aku," batin Putu Risang.

"Keputusan ada di tanganmu, menjauhi Endang Trinil atau menerima tantanganku," ujar Menak Koncar.

"Aku menerima tantanganmu," jawab Putu Risang dengan sikap dingin. Ia tidak merasa takut atau gentar sedikit pun menghadapi tantangan tersebut.

"Ternyata aku berhadapan dengan seorang lelaki. Kita bertanding sampai ada yang kalah dan menyerah. Siapa pun yang kalah harus menerima keputusan untuk menjauhi Endang Trinil," kata Menak Koncar dengan penuh keyakinan akan ilmu yang dimilikinya.

"Senjata kadang tidak bermata. Apakah ada cara lain?" tanya Putu Risang, mencoba mencari alternatif selain bertarung dengan senjata.

Namun, ucapan Putu Risang disalahartikan. Menak Koncar menyangka Putu Risang meremehkannya dan merasa takut terluka oleh senjata cambuknya. "Apakah kamu kira aku takut terluka oleh cambukmu?" ujar Menak Koncar dengan nada marah karena merasa diremehkan.

"Maksudku bukan begitu," jawab Putu Risang yang tidak menyangka perkataannya disalahartikan. "Maksudku kita bertanding tanpa harus saling serang, melainkan mengadu kekuatan lewat sebuah batu. Siapa yang dapat memecahkan batu dengan kekuatan lebih besar, dialah pemenangnya."

Menak Koncar memahami maksud Putu Risang. Ia tidak langsung menjawab, melainkan melirik sekilas ke arah cambuk yang melilit di pinggang lawannya. "Aku pernah mendengar cerita bahwa cambuk Mahesa Amping mampu meleburkan batu menjadi abu. Namun, muridnya ini pasti belum sampai ke tataran gurunya. Jangan-jangan ia belum mampu mengerahkan tenaga cadangan dan masih mengandalkan kekuatan fisiknya," batin Menak Koncar sambil mengukur kekuatan lawannya.

Setelah berpikir demikian, Menak Koncar tersenyum menatap Putu Risang. "Baiklah, kita bertanding menguji kekuatan memecahkan batu," ucapnya penuh percaya diri.

"Kapan dan di mana kita melakukannya?" tanya Putu Risang dengan tenang.

"Besok malam saat bulan purnama penuh, kita bertemu di sini dan mencari batu yang sama kuat serta sama besar," ujar Menak Koncar yang yakin dapat mengalahkan Putu Risang dengan senjata andalannya, sebuah cakra.

Tanpa berpamitan, Menak Koncar berbalik dan meninggalkan Putu Risang di tepian sungai kecil itu. Putu Risang menarik napas panjang, mengamati punggung Menak Koncar hingga menghilang di tikungan jalan.

Malam semakin larut. Putu Risang meninggalkan tempat itu, berjalan menapaki pematang sawah. Tatapannya menyapu ujung padi yang mulai bunting. Sebelum sepertiga malam berakhir, ia sampai di halaman pendapa Pasanggrahan Mahesa Amping.

"Semua sudah tertidur," batinnya sambil melangkah menuju bilik di belakang bangunan utama.

Lama Putu Risang terjaga di atas bale-bale, pikirannya terus membayangkan adu kekuatan besok malam. Namun, rasa lelah akhirnya meredupkan pikirannya hingga ia tertidur pulas.

Keesokan harinya, Putu Risang tampak melupakan pertemuan itu dan larut dalam kegembiraan bersama tiga anak kecil yang mengumpulkan ikan di lubang pliridan. Hingga selesai sarapan bersama di pendapa, ia tidak menceritakan apa pun kepada Mahesa Amping maupun Pendeta Gunakara.

Barulah ketika Mahesa Amping pergi menemui Raden Wijaya dan Pendeta Gunakara sedang melatih anak-anak, tersisa Nyi Nariratih dan Putu Risang di pendapa. Saat itulah, Putu Risang tidak sanggup lagi menyimpan masalahnya dan menceritakan seluruh persoalan yang membebani pikirannya.

"Ternyata Menak Koncar juga mencintai Endang Trinil," ujar Nyi Nariratih setelah mendengar penuturan Putu Risang.

"Aku takut persoalan ini berkembang menjadi keretakan hubungan antara Tuanku Senapati Mahesa Amping dengan Ki Sandikala," ungkap Putu Risang khawatir.

"Batasi persoalanmu sendiri agar tidak melebar. Kamu harus berani mempertahankan apa yang ingin kamu miliki; itulah jiwa seorang lelaki. Aku yakin kamu dapat menerima apa pun hasilnya, kalah atau menang," ujar Nyi Nariratih menenangkan.

Di penghujung senja, bulan purnama yang pucat muncul di ufuk langit seolah tidak sabar menyebarkan cahayanya. Di sebuah batu besar di tepi sungai kecil yang deras, Putu Risang telah menunggu dengan sabar.

"Ternyata kamu datang mendahuluiku," sapa seseorang yang mendekat. Ternyata itu adalah Menak Koncar.

"Sejak senja berakhir aku sudah di sini," jawab Putu Risang.

"Mari kita cari dua batu yang sama besarnya," ajak Menak Koncar percaya diri. Mereka pun mendapatkan dua buah batu yang sama besar, masing-masing seukuran setengah tubuh kerbau.

Namun, mereka tidak hanya berdua. Di balik semak-semak, Mahesa Amping dan Ki Sandikala mengamati dari kejauhan. Ternyata Nyi Nariratih tidak bisa tidak menceritakan masalah ini, dan Endang Trinil pun sebelumnya telah menceritakan persaingan antara Menak Koncar dan Putu Risang kepada orang tuanya.

"Siapa yang akan memulainya?" tanya Menak Koncar.

"Kupersilahkan Kakang Menak Koncar untuk memulainya," jawab Putu Risang tanpa rasa gentar.

Menak Koncar memegang senjata cakra andalannya. Putu Risang mengamati lawannya yang mendekati batu besar tersebut. Menak Koncar mengangkat cakranya tinggi-tinggi.

*Duarrrr!*

Suara ledakan keras memekakkan telinga saat cakra menghantam batu. Tanpa berkedip, Putu Risang melihat batu di hadapan Menak Koncar terbelah menjadi lima bagian.

"Sekarang giliranmu menunjukkan kekuatan cambukmu," ujar Menak Koncar dengan bangga, yakin bahwa Putu Risang tidak akan mampu melakukan hal yang sama.

Putu Risang berjalan tenang mendekati batu miliknya. Ia melepas cambuk pendek yang melilit di pinggangnya. Namun, tidak seperti Menak Koncar yang harus berada dekat dengan sasarannya, Putu Risang mengambil posisi yang jauh berbeda.

Menak Koncar mengerutkan kening, menganggap jarak yang diambil Putu Risang terlalu jauh dari jangkauan cambuknya. Ia tertawa dalam hati, menganggap lawannya melakukan kebodohan. Namun, tidak demikian bagi Mahesa Amping yang mengamati dari tempat tersembunyi. Ia menarik napas dalam-dalam, memahami bahwa hanya seorang yang memiliki ilmu tinggi yang mampu mengatur jarak seperti itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment