Halo!

Tapak Tapak Jejak Gajahmada - Chapter 66

Memuat...
Tapak Tapak Jejak Gajahmada

Chapter 66

"Apakah Putu Risang sudah mencapai tataran setinggi itu?" tanya Mahesa Amping dalam hati dengan perasaan berdebar penuh ketidakpercayaan atas apa yang disaksikannya.

"Bagaimana anak itu berlatih hingga mampu mencapai tingkat itu dengan begitu pesat?" gumam Mahesa Amping dalam hati, matanya tidak berkedip, terus mengamati kejadian selanjutnya.

Mahesa Amping melihat Putu Risang berdiri tegak menghadap sebuah batu besar. Dengan napas yang tertahan, Mahesa Amping menyaksikan pemuda itu menarik napas dalam-dalam, seolah ingin menghirup seluruh udara dan memenuhi rongga dadanya. Masih dalam keadaan berdebar, ia melihat Putu Risang mengangkat cambuk pendeknya perlahan ke atas hingga ujung cambuknya menjuntai di belakang kepala. Putu Risang kemudian menghentakkan cambuk pendeknya dengan gerakan sendal pancing.

*Deg!*

Telinga Mahesa Amping yang tajam, meski dari kejauhan, mampu menangkap suara hentakan cambuk Putu Risang yang begitu berat dan bertenaga.

"Luar biasa," puji Mahesa Amping dalam hati, tak menyangka tataran ilmu Putu Risang sudah sedemikian tinggi.

Di dekat Mahesa Amping, Ki Sandikala terlihat menggeleng-gelengkan kepala sebagai tanda kekaguman. Sementara itu, Menak Koncar berdiri mematung, tampak terkejut melihat apa yang terjadi. Putu Risang telah menunjukkan kemampuannya; hanya dengan satu hentakan sendal pancing, tanpa menyentuh sasaran secara langsung dari jarak tiga langkah, sebongkah batu sebesar setengah tubuh kerbau hancur menjadi abu yang terbawa hanyut oleh derasnya air.

Putu Risang berdiri sejenak mengatur napas, lalu mengikat kembali cambuk pendeknya di pinggang. Ia memandang ke arah Menak Koncar dengan senyum tipis.

"Bagaimana, Kakang Menak Koncar? Apakah pertandingan ini sudah selesai?" tanya Putu Risang.

"Maafkan aku yang buta ini. Aku tidak melihat gunung tinggi di depan mata," jawab Menak Koncar mengakui bahwa kemampuan ilmunya jauh di bawah Putu Risang. "Terima kasih telah memilih cara bertanding seperti ini. Apa jadinya jika sasaran cambukmu adalah diriku sendiri?"

"Akulah yang seharusnya meminta maaf karena telah merebut hati Endang Trinil," ujar Putu Risang sembari mendekat.

"Tidak perlu meminta maaf. Hari ini aku bangga karena ternyata Endang Trinil tidak salah pilih. Kamu memang orang yang tepat baginya," sahut Menak Koncar sambil memegang bahu Putu Risang dengan penuh keikhlasan seorang kesatria.

"Aku berharap apa yang kita perbuat malam ini berlalu. Mari kita lupakan seolah tidak pernah terjadi apa-apa," timpal Putu Risang.

Tanpa perlu dorongan, kedua pemuda itu berpelukan. Mereka saling mengikhlaskan dan memaafkan, menghilangkan segala ganjalan di antara keduanya. Di atas sana, bulan bersinar temaram, menebarkan kedamaian.

Hari itu, masih tersisa dua puluh sembilan hari menjelang purnama kedua. Pagi hari di Bumi Majapahit sudah ramai oleh penduduk yang beraktivitas. Sebagian orang pergi ke sawah untuk memeriksa padi yang mulai bunting, sementara yang lain berkumpul di tanah lapang untuk berlatih sebagai pasukan khusus. Begitulah cara masyarakat Majapahit yang sedang tumbuh; mereka sadar bahwa sekuat apa pun pasukan, ketahanan pangan tetap menjadi fondasi utama.

Di tepian sungai kecil berbatu, tiga anak kecil bermain melompat dari satu batu ke batu lainnya dengan riang. Di dekat mereka, Pendeta Gunakara duduk bersila di atas batu besar, mengawasi tingkah laku Gajahmada yang sedang berlari bersama Adityawarman dan Jayanagara.

"Anak itu tumbuh melampaui usianya," gumam Pendeta Gunakara. Ia memperhatikan Gajahmada yang meski usianya lebih muda, memiliki fisik yang menandingi Adityawarman dan Jayanagara. Pendeta Gunakara yakin, kelak Gajahmada akan tumbuh lebih besar dan lebih kuat dari orang kebanyakan.

"Nyi Nariratih datang menjemput mereka?" tanya Pendeta Gunakara tanpa menoleh saat menyadari seseorang mendekat.

"Terima kasih telah membimbing anak-anak berlatih ketahanan dan keseimbangan," ucap Nyi Nariratih.

"Ketahanan dan keseimbangan mereka sudah sangat baik. Saatnya mengenal olah gerak kanuragan selagi tubuh mereka masih lentur. Kita harus meminta pertimbangan Senapati Mahesa Amping mengenai garis perguruan mana yang akan diperkenalkan kepada mereka," jawab sang pendeta.

"Benar, nanti malam kita bicarakan hal ini kepada Tuanku Senapati," sahut Nyi Nariratih.

Malam harinya, di pendapa pasanggrahan, Mahesa Amping berdiskusi dengan Nyi Nariratih dan Pendeta Gunakara.

"Ketika berada di Tanah Wangi-wangi, mereka sudah diperkenalkan dasar kanuragan oleh Ratu Anggabhaya yang memiliki akar perguruan yang sama denganku. Berdasarkan hal itu, akan lebih mudah bagi mereka melalui jalur perguruanku," ujar Mahesa Amping.

"Siapa yang akan membimbing mereka?" tanya Nyi Nariratih.

"Putu Risang adalah pembimbing yang tepat," jawab Mahesa Amping.

Nyi Nariratih menerima keputusan itu dengan senang hati. Ia merasa terhormat jika putranya, Gajahmada, diwariskan ilmu dari garis perguruan Mahesa Amping. Setelah pertemuan itu, mereka menunggu kepulangan Putu Risang yang sedang berada di sungai. Mahesa Amping yakin bahwa Putu Risang tidak hanya sekadar memperbaiki *pliridan* (perangkap ikan), tetapi juga terus mengasah kekuatannya.

Dugaannya benar. Hingga sepertiga malam, Putu Risang terus menempa diri, mengukur kecepatan dan daya lontar cambuknya. Ketika ia tiba di pendapa, Mahesa Amping dan Pendeta Gunakara masih menunggunya.

"Duduklah," perintah Mahesa Amping.

Keesokan paginya, Putu Risang memutuskan untuk tidak membangunkan ketiga anak tersebut agar mereka bisa beristirahat lebih lama. Ia pergi sendiri ke sungai di tepi hutan Maja.

"Hari ini banyak ikan yang terjebak," gumam Putu Risang dengan gembira saat melihat perangkapnya penuh. "Cukup untuk makan dua kali."

Ia mengambil ikan-ikan tersebut dan memasukkannya ke dalam korang yang dibawanya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment