Chapter 67
"Ikan petik besar," kata Putu Risang sambil mengambil ikan petik tersebut.
Terbayang di matanya wajah Gajahmada yang akan menikmati ikan petik itu dengan bumbu palapa.
"Mahesa Muksa pasti senang sekali," ucap Putu Risang dengan penuh kegembiraan, membayangkan Gajahmada—yang dipanggilnya Mahesa Muksa—tengah menikmati ikan petik berbumbu palapa itu.
"Pagi ini hasil tangkapanmu lumayan banyak," kata Pendeta Gunakara kepada Putu Risang yang baru saja melangkah naik ke tangga pendapa.
"Penjaga sungai itu mungkin hari ini banyak berbelas kasih kepadaku," jawab Putu Risang yang disambut tawa oleh Pendeta Gunakara.
"Aku tidak melihat Tuanku Senapati," tanya Putu Risang kepada Pendeta Gunakara tentang keberadaan Mahesa Amping yang tidak terlihat di pendapa pagi itu seperti biasanya.
"Seorang prajurit baru saja datang, meminta Tuanku Senapati untuk datang ke pasanggrahan Raden Wijaya," jelas Pendeta Gunakara mengenai keberadaan Mahesa Amping.
"Tangkapanmu banyak sekali," ujar Nyi Nariratih kepada Putu Risang saat ia berada di dapur belakang, sedang menunggu perapian sambil melihat ikan yang dibawa Putu Risang.
Demikianlah, setelah membersihkan diri di pakiwan, Putu Risang terlihat bergabung menemani Pendeta Gunakara yang sendirian di atas pendapa.
"Pagi ini kamu akan membawa anak-anak ke tepi hutan?" tanya Pendeta Gunakara kepada Putu Risang.
"Benar, aku akan membawa mereka ke sana, ke tempat yang sama sebagaimana Tuan Pendeta membawa dan melatih mereka selama ini," jawab Putu Risang kepada Pendeta Gunakara.
"Sanggar terbuka membuat mereka tidak mudah lelah," ujar Pendeta Gunakara kepada Putu Risang, menyetujui pilihan tempat tersebut.
"Aku akan datang menyusul," kata Pendeta Gunakara melepas kepergian mereka.
"Aku akan menyiapkan masakan yang enak untuk kalian," seru Nyi Nariratih di ujung pagar pendapa sambil melambaikan tangan kepada mereka yang sudah melangkah di halaman depan.
"Ikan petik bumbu palapa, Bunda," sahut Gajahmada penuh manja kepada ibundanya, Nyi Nariratih.
Terlihat Nyi Nariratih dan Pendeta Gunakara masih mengikuti langkah kaki mereka yang sudah melewati gerbang gapura pasanggrahan dan menghilang di sebuah tikungan jalan setapak.
"Anak itu telah melampaui anak seusianya dalam perkembangan tubuhnya," kata Pendeta Gunakara kepada Nyi Nariratih, menanggapi pertumbuhan Gajahmada yang memang terlihat lebih besar dari anak-anak seusianya.
"Sudah menyamai tubuh Adityawarman dan Jayanagara yang terpaut beberapa tahun darinya," sahut Nyi Nariratih menanggapi perkataan Pendeta Gunakara.
"Sebentar lagi aku akan menyusul mereka ke tepi hutan Maja," kata Pendeta Gunakara, menyampaikan niatnya untuk melihat hari pertama mereka berlatih di bawah bimbingan Putu Risang. Ia percaya Putu Risang mampu melakukannya dengan baik, sebagaimana dirinya dahulu pernah membimbing Mahesa Amping bersama Empu Dangka di Padepokan Pamecutan, Balidwipa.
"Aku akan ke belakang, menyiapkan makan siang kita," ujar Nyi Nariratih kepada Pendeta Gunakara yang sudah duduk kembali di atas pendapa.
Ketika Nyi Nariratih sudah tidak terlihat lagi di balik pintu butulan, Pendeta Gunakara duduk bersimpuh di atas lantai pendapa. Matanya menerawang jauh menembus gerbang gapura pasanggrahan.
"Titisan Jamyang Dawa telah mulai tumbuh. Dapatkah kiranya aku membawanya ke wihara sebagai guru besar kami kembali?" gumam Pendeta Gunakara dalam hati. Ia merasa ragu dapat membawa Gajahmada kembali ke wiharanya sesuai tugas yang dibebankan kepadanya oleh paman-paman gurunya di sebuah wihara di Tibet, yang sangat jauh dari Jawadwipa.
"Masih banyak waktu untukku bersamanya menunggu saatnya tiba. Aku akan selalu menjaganya sebagaimana aku menjaga Jamyang Dawa hingga di ujung usianya," batin Pendeta Gunakara kembali. Ia membayangkan saat-saat akhir menjelang kematian guru besarnya itu, yang berpesan bahwa ia akan menitis kembali di tempat yang jauh, di sebuah nusa nirwana yang ternyata adalah Nusa Dewata, Balidwipa.
Pendeta Gunakara telah menemukan titisan guru besarnya itu terlahir dari seorang wanita bernama Nyi Nariratih, istri seorang pendeta muda bernama Darmayasa.
"Tuanku Mahesa Amping pasti dengan ketinggian ilmunya telah menghilangkan tanda hitam di pundak anak itu, tetapi tidak di mataku," lanjut Pendeta Gunakara dalam hati, teringat saat pertama kali menemukan Gajahmada di Padepokan Pamecutan.
Sementara itu, masih di bumi Majapahit, di pasanggrahan Raden Wijaya, Mahesa Amping sedang berbincang-bincang dengan pemimpin muda bumi Majapahit itu, Raden Wijaya.
"Dari beberapa padepokan yang mendukung pergerakan kita, hari ini sudah berdatangan bergabung di bumi Majapahit ini. Tahukah kamu, di antara mereka ada beberapa orang cantrik dari Padepokan Bajra Seta?" ujar Raden Wijaya kepada Mahesa Amping dengan senyum penuh kegembiraan.
Bukan main gembiranya Mahesa Amping mendengar berita bahwa ada beberapa cantrik dari Padepokan Bajra Seta ikut bergabung. Padepokan tersebut memiliki kenangan khusus bagi mereka karena di sanalah dirinya, Raden Wijaya, dan Ranggalawe dibesarkan.
Di padepokan itulah mereka mengenal olah kanuragan untuk pertama kalinya. Di sana pula mereka mulai belajar tentang nilai-nilai luhur kehidupan yang sesungguhnya. Maka, Raden Wijaya menyampaikan kepada Mahesa Amping bahwa beberapa orang dari Padepokan Bajra Seta saat itu telah berada di beberapa rumah tinggal yang khusus disediakan untuk mereka.
Dengan hati penuh kegembiraan, Mahesa Amping meminta izin kepada Raden Wijaya untuk menemui mereka. "Aku tak sabar dan begitu rindu untuk segera melihat wajah mereka," ucap Mahesa Amping kepada Raden Wijaya.
Mahesa Amping segera keluar dari pasanggrahan diantar oleh seorang prajurit untuk menemui para cantrik Padepokan Bajra Seta. Begitu sampai, ia merasa sangat gembira. Ternyata, Padepokan Bajra Seta telah mengirim seratus cantrik terbaiknya. Di antara mereka, ada dua orang yang sangat dikenalnya, yaitu Mahesa Semu dan Muntilan.
"Kakang Mahesa Semu!" seru Mahesa Amping sambil memeluk kakak seperguruannya itu dengan penuh haru.
"Gusti Yang Maha Agung telah mempertemukan kita kembali," kata seorang lelaki setengah tua memandang ke arahnya.
"Paman Muntilan!" panggil Mahesa Amping setengah berteriak sambil memeluk orang itu.
"Coba tebak, apakah kamu masih mengenalnya?" ujar Mahesa Semu kepada Mahesa Amping sambil memperkenalkan seorang pemuda tanggung di hadapannya.
"Kamu pasti Mahesa Darma," kata Mahesa Amping sambil memeluk anak muda di hadapannya yang ternyata adalah Mahesa Darma, putra tunggal Mahesa Murti.
"Kalian bertiga ikutlah tinggal bersamaku," ajak Mahesa Amping kepada ketiganya.
"Ternyata kemenakanku ini sudah punya sarang yang tetap," goda Muntilan yang ditanggapi dengan tawa dan senyum oleh Mahesa Amping.
Demikianlah, Mahesa Amping membawa Mahesa Semu, Muntilan, dan Mahesa Darma ke pasanggrahan, lalu memperkenalkan ketiganya kepada Nyi Nariratih dan Pendeta Gunakara.
Sementara itu, di tepi Hutan Maja, terlihat tiga anak laki-laki tengah berlatih dengan penuh semangat di bawah pengawasan seorang pemuda. Putu Risang, pemuda yang diminta Mahesa Amping untuk membimbing Gajahmada, Adityawarman, dan Jayanagara, tampak tersenyum bangga mengawasi gerak ketiga anak itu yang begitu luwes dan gesit.
Putu Risang mengagumi gerakan mereka yang sudah begitu sempurna. Ternyata, selama di Pulau Tanah Wangi-wangi, ketiga anak itu telah dilatih langsung oleh guru yang hebat, yakni Ratu Anggabhaya sendiri.
"Aku hanya memberikan sedikit perubahan," batin Putu Risang sambil melihat gerakan ketiga anak itu. Mereka memiliki garis perguruan yang sama dengannya, tetapi telah disempurnakan oleh Mahesa Amping dan Empu Dangka.
"Mereka adalah anak-anak yang cerdas serta tangkas. Suatu saat nanti, aku yakin mereka akan menjadi orang-orang hebat yang dapat mengukir sejarah panjang di bumi ini," gumam Putu Risang. Ia yakin masa depan ketiga anak bimbingannya itu akan cemerlang; sinar di wajah mereka memancarkan cahaya batin yang hanya dimiliki oleh pemimpin sejati.
"Setiap hari aku harus pergi ke sawah, makan siang di saung bersama istri dan anak-anak tercinta, hidup di rumah sederhana," lamun Putu Risang membayangkan kehidupannya kelak.
Namun, tiba-tiba bayangan itu buyar saat terbayang sebuah peperangan di depan matanya.
"Mungkinkah suatu saat nanti akan ada bumi yang damai tanpa peperangan?" tanya Putu Risang kepada dirinya sendiri.
"Setiap manusia yang merasa mampu akan mencari dan berlomba merebut takhta. Selama itu pula, peperangan tidak akan pernah surut," renungnya kembali.
Hati dan pikiran Putu Risang akhirnya kembali ke saat itu, di tepi Hutan Maja. "Hari sudah menjadi begitu terik," batinnya sambil melihat matahari yang mulai merayap di puncaknya.
"Kita sudahi dulu latihan ini. Apakah kalian tidak lapar?" tanya Putu Risang kepada ketiga anak itu yang langsung dijawab dengan anggukan kepala bersamaan.