Halo!

Tapak Tapak Jejak Gajahmada - Chapter 69

Memuat...
Tapak Tapak Jejak Gajahmada

Chapter 69

"Raja Jayakatwang telah memulai perangnya, telah melepas berita palsu untuk mengacaukan rencana rintisan kita semula," ujar Raden Wijaya melanjutkan perkataannya.

"Pada bulan kedua, para pemimpin padepokan yang bermimpi untuk mendapatkan wahyu keraton akan datang membawa kekuatan masing-masing ke bumi Majapahit ini. Di saat kita baru akan memulai sebuah gerakan, Raja Jayakatwang memang telah mencoba mendahului serangannya, bukan dengan tangannya sendiri," tutur Ki Sandikala mencoba menguraikan pemikirannya.

"Itulah yang akan terjadi di bumi Majapahit ini," sahut Raden Wijaya membenarkan ucapan Ki Sandikala.

"Mereka hanya ingin mengalihkan perhatian kita, menyerang dengan cara gelap. Harus ada sebuah cara yang dapat membelokkan serangan itu sebelum hari purnama kedua," usul Mahesa Amping mencoba mencari solusi.

"Aku setuju dengan usul Tuan Senapati untuk membelokkan serangan gelap itu," kata Ki Sandikala mendukung pendapat Mahesa Amping.

"Dengan apa kita membelokkan serangan mereka?" tanya Raden Wijaya, seolah melempar kembali persoalan tersebut untuk ditanggapi oleh dua orang kepercayaannya.

"Membelokkannya sebagaimana mereka menyerang, dengan berita palsu," jawab Mahesa Amping. "Kita sebarkan berita palsu bahwa keris Nagasasra sudah dicuri orang."

"Sebuah cara yang hebat," puji Ki Sandikala.

"Dan kita harus melakukannya sebelum purnama ini tiba," tambah Raden Wijaya menyetujui sekaligus memberikan batasan waktu.

"Yang ada dalam pikiranku sekarang adalah siapa yang akan menjadi badal, siapa yang akan kita korbankan menjadi kambing hitam sebagai pencuri palsu ini?" tanya Mahesa Amping.

Pertanyaan Mahesa Amping membuat Ki Sandikala dan Raden Wijaya terdiam. Suasana di atas pendapa Pasanggrahan Raden Wijaya menjadi hening seketika. Setiap kepala mencoba mencari sosok yang bersedia secara sukarela melakoni peran sebagai seorang pencuri. Seseorang yang dengan sadar dan berani dikambing hitamkan.

Lama, keheningan itu terasa begitu panjang seperti daun kering yang jatuh mengambang di udara malam yang dingin. Semua orang yang berada di pendapa itu tampak berpikir keras. Tiba-tiba, suara Mahesa Amping memecahkan keheningan.

"Aku mendapatkan sebuah nama. Aku mengenalnya dengan baik dan kuyakini dia pasti bersedia menjalankan tugas yang kita berikan," ucap Mahesa Amping kepada Raden Wijaya dan Ki Sandikala.

"Siapakah menurutmu yang pantas melaksanakan tugas itu?" tanya Raden Wijaya, tampak tidak sabar.

"Putu Risang. Aku yakin anak muda itu dapat melaksanakannya," jawab Mahesa Amping.

"Apakah perlu malam ini kita memanggil Putu Risang?" tanya Raden Wijaya.

Mahesa Amping tidak langsung menjawab. Ia menarik napas panjang seolah ingin melepas keraguannya. "Biarlah aku sendiri yang memberikan penjelasan langsung kepadanya agar tidak seorang pun mengetahui rahasia ini kecuali kita bertiga."

Sementara itu, malam semakin larut. Lampu pelita bergoyang tertiup angin yang menusuk kulit. Mahesa Amping, Ki Sandikala, dan Raden Wijaya terus membicarakan detail rencana agar lakon yang diperankan Putu Risang berjalan sempurna.

"Mereka, para pemimpi yang haus takhta itu, akan beralih perhatiannya kepada Putu Risang. Pada saat yang sama, kita dapat menumpas mereka. Sekarang atau nanti, mereka tetap saja perusuh seperti sekumpulan burung pemakan bangkai yang menanti dua harimau bertarung; selalu diuntungkan tanpa berbuat apa-apa," ujar Raden Wijaya memberikan arahan untuk sandiwara yang akan dimainkan besok pagi.

Malam itu juga, setelah kembali ke pasanggrahannya, Mahesa Amping menemui Putu Risang di biliknya secara diam-diam. Ia memberikan penjelasan tentang lakon yang harus diperankan oleh anak muda itu.

"Semoga hamba tidak mengecewakan Tuan Senapati," ujar Putu Risang.

"Pagi ini, kamu harus sudah menghilang dari bumi Majapahit," perintah Mahesa Amping.

Ketika malam mendekati ujungnya, sebuah bayangan menyelinap keluar dari pasanggrahan Mahesa Amping. Suasana malam yang dingin membantu menyembunyikan langkahnya saat ia masuk ke kegelapan hutan Maja. Bayangan itu hilang seperti tertelan bumi.

Pagi harinya, bumi Majapahit gempar oleh berita hilangnya keris pusaka Nagasasra. Berita itu menyebar dari mulut ke mulut dengan cepat, tak ubahnya biji ilalang yang dibawa paruh burung. Berkat kepandaian orang-orang Raden Wijaya, kabar tersebut sampai ke telinga para ketua padepokan yang telah berencana datang ke Majapahit pada bulan kedua.

Berita itu menjadi santapan hangat di pasar, tempat ronda, hingga sawah ladang. Seperti lazimnya kabar yang tersebar, selalu ada bumbu penyedap yang ditambahkan. Konon, pencurinya adalah orang sakti yang sempat bertempur dengan Raden Wijaya. Akhirnya, desas-desus pun menyebutkan bahwa pencuri sakti itu tidak lain adalah Putu Risang, murid tunggal dari Kera Sakti Tanpa Bayangan yang sering terlihat di sekitar hutan Bukit Cemara.

Di manakah Putu Risang saat itu? Ternyata, dia adalah bayangan yang menyelinap keluar sebelum pagi tiba. Kini, anak muda itu sudah berada di hutan Bukit Cemara, tampak tengah mencari seseorang. Dialah orang tua yang menamakan dirinya Kera Sakti Tanpa Bayangan.

Tidak lama kemudian, Putu Risang menemukan orang tua itu sedang duduk bersandar di sebuah pohon besar. Pendengaran sang kakek yang tajam segera menangkap langkah kaki Putu Risang. Ia menoleh.

"Entah mengapa, aku punya firasat bahwa kita pasti akan bertemu lagi," ujar orang tua itu.

"Aku memang sengaja datang mencarimu, Kek," sahut Putu Risang.

"Mencariku? Membutuhkanku?" tanya orang tua itu sambil bermalas-malasan.

"Aku perlu meminta izin untuk sementara waktu tinggal di sini," kata Putu Risang.

Orang tua itu tertawa terpingkal-pingkal. "Tempat ini begitu luas dan aku bukan pemiliknya. Mengapa anak muda meminta izin kepadaku?"

Putu Risang tersenyum, lalu duduk di dekat orang tua itu dan menceritakan apa yang dialami serta tugas yang harus diembannya. Orang tua itu tertawa panjang mendengar cerita tersebut.

"Jarang sekali ada manusia yang mau melakoni peran sebagai pencuri gadungan, dan kamu menerimanya," kata orang tua itu di sela tawanya.

"Aku telah berjanji untuk melaksanakannya dengan baik," tegas Putu Risang.

Orang tua itu menghentikan tawanya. Wajahnya berubah menjadi serius. "Aku akan bersamamu, anak muda. Budi Empu Dangka begitu besar. Hari ini kuanggap telah sedikit mengurangi rasa terima kasihku. Aku siap bersamamu menghadapi setiap bahaya yang datang."

"Terima kasih," ucap Putu Risang terharu.

"Simpan dulu ucapan terima kasihmu. Yang kubutuhkan pagi ini adalah pengganjal perutku yang sudah berbunyi," sahut orang tua itu sambil tersenyum.

Mendengar itu, perut Putu Risang pun ikut terasa lapar. "Aku akan segera mencari pengganjal perut," ujar Putu Risang sambil beranjak masuk ke dalam kelebatan hutan.

Ia melihat sepasang ayam hutan sedang bercinta tidak jauh dari sana. Dua buah kerikil kecil terlepas dari genggamannya dan meluncur cepat.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment