Chapter 72
"Kalau kami adalah pencuri, lalu apa julukan kalian yang ingin merebut barang curian kami? Apakah seorang perampok besar?" kata Paman Ragil sambil tertawa. Ia tidak merasa takut sedikit pun saat menghadapi orang-orang di bawah panggungan yang datang dengan ancaman.
"Habisi mereka berdua," perintah orang perlente itu kepada para pengikutnya yang tampak seperti kawanan penjahat.
Para pengikut orang perlente itu segera melangkah mendekati panggungan yang tingginya setinggi orang dewasa. Namun, langkah mereka terhenti ketika tiba-tiba terdengar suara bentakan yang sangat keras dan penuh wibawa.
"Jangan bergerak!"
Tiba-tiba berkelebat tiga sosok bayangan yang entah muncul dari mana, berdiri tidak jauh dari mereka.
"Akulah yang paling berhak memiliki keris pusaka Nagasasra. Semoga kamu dapat menyerahkannya dengan baik-baik, wahai anak muda," kata salah satu dari ketiga orang yang datang dengan cara aneh—seperti terbang tanpa menginjak rumput—itu. Ilmu lari yang hebat tersebut membuat sepuluh orang yang sudah lebih dulu tiba di sana ternganga dan merasa gentar. Namun, Putu Risang tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun.
"Mengapa kamu merasa paling berhak memiliki keris pusaka Nagasasra?" tanya Putu Risang tenang.
"Dengarlah, wahai anak muda. Kamu pasti akan dengan sukarela menyerahkan barang curianmu jika mengetahui siapa aku. Orang-orang di tempatku sangat menghormatiku, hingga tidak ada yang berani menyebut nama asliku tanpa menyambung julukan. Namaku adalah Mandralalo, Si Tangan Sakti Berdarah Biru," ucap orang itu dengan bangga, berharap nama dan gelarnya membuat lawannya gentar.
Namun, Putu Risang baru pertama kali mendengar nama itu. Wajahnya tidak berubah, bibirnya tetap menyunggingkan senyum tipis.
"Apakah kamu benar-benar berdarah biru sebagaimana julukanmu?" tanya Putu Risang.
"Ayah dari ayah mertuaku adalah seorang bangsawan asli," jawab orang itu. Mendengar jawaban tersebut, Putu Risang terpingkal-pingkal. Paman Ragil pun tertawa lebih keras lagi.
"Pagi ini aku sarapan banyolan yang membuat perutku kenyang hingga malam nanti," ujar Paman Ragil sambil memegang perutnya.
"Mengapa kalian tertawa?" tanya Si Tangan Sakti Berdarah Biru kepada orang-orang di bawah panggungan, yang ternyata kini juga ikut tertawa.
"Bagaimana kami tidak tertawa mendengar pengakuan dirimu yang berdarah biru hanya dari garis ayah mertuamu?" sahut si orang perlente.
"Sesali dirimu karena telah menertawakanku," ucap orang itu. Seketika ia berkelebat dan sudah berdiri di depan orang perlente tersebut sambil mencengkeram leher bajunya. Orang perlente itu gemetar ketakutan, sementara para pengikutnya terpana dan tidak berani bertindak. Namun, cengkeraman itu terlepas saat terdengar suara yang bergema dari segala penjuru, menandakan pemilik suara memiliki tenaga cadangan yang sangat tinggi.
"Dasar orang-orang bodoh yang tidak tahu diri! Aku, Ketua Padepokan Pancawangi, adalah yang berhak memiliki keris pusaka itu," gema suara tersebut.
Orang-orang di sekitar pun menutup telinga, sementara tiga orang yang baru tiba memegangi dada mereka karena tekanan tenaga dalam yang hebat.
"Aji Gelap Ngampar Ki Gendon, Ketua Padepokan Pancawangi," gumam Paman Ragil khawatir.
Kekhawatiran Paman Ragil terbukti saat muncul seorang tua di atas tandu yang dipikul empat orang, diikuti sekitar seratus orang pengikut dari arah barat puncak hutan Bukit Cemara. Begitu tandu diturunkan, orang tua berambut putih itu melompat turun dengan jumawa.
"Ki Gendon yang terhormat, aku menawarkan kesepakatan damai. Aku akan membayar berapapun yang kamu minta asalkan keris itu diberikan kepadaku," ucap orang perlente kepada Ki Gendon.
Ki Gendon tersenyum dingin, lalu bergerak secepat kilat mencengkeram leher orang perlente itu. Hawa dingin yang hebat terpancar dari tangan Ki Gendon hingga membuat orang perlente itu jatuh lemas dengan wajah membeku.
"Sangat kejam," komentar Putu Risang.
"Aku akan bertindak lebih kejam lagi kepada siapa pun yang tidak tunduk. Sekali lagi, akulah yang paling berhak," ancam Ki Gendon.
"Sayang sekali, keris itu kudapatkan dengan susah payah, maka aku tidak akan memenuhi keinginanmu," jawab Putu Risang datar.
Ki Gendon tertawa keras hingga memekakkan telinga, namun Putu Risang dan Paman Ragil berhasil meredam getaran suara itu dengan tenaga dalam mereka. Putu Risang, yang merasa kasihan melihat orang-orang di sekitarnya menderita akibat ilmu Ki Gendon, memutuskan untuk ikut tertawa dengan tenaga dalam yang setara. Suara tawa Ki Gendon pun lenyap tertelan bumi.
"Hebat, di usiamu yang masih muda kamu sudah bisa meredam Aji Gelap Ngampar-ku," puji Ki Gendon. "Namun, jangan bangga dulu."
Tiba-tiba, bagian hitam mata Ki Gendon hilang, menyisakan warna putih seluruhnya yang tampak sangat menakutkan. Putu Risang bersiap siaga. Seketika, bumi di sekitar mereka terguncang hebat seolah dunia akan berakhir.